Rabu, 24 September 2014

Tulis Saja Apa yang Terjadi

Pengauatn Kasek
SELAMA beberapa hari mengikuti kegiatan Penguatan Kepala Sekolah (SMP, SMA dan SMK) di Hotel Alisan, ternyata tidak hanya materi penguatan yang disampaikan oleh Pak Tri Harsono Ujianto dan Pak Narta dari Solo itu saja yang didapatkan. Materi yang lebih banyak bersinggungan langsung dengan tugas dan fungsi Kepala Sekolah itu memang sangat terasa dan menyadarkan para pengelola sekolah akan kewajibannya.


Tapi dari beberapa obrolan di luar diskusi materi penguatan, seorang teman sempat membicarakan perihal kebiasaan menulis di kalangan Kepala Sekolah khususnya, di kalangan guru pada umumnya. Saya memang selalu merespon dengan antusias jika ada rekan guru yang berbicara tentang tradisi menulis ini. Saya tahu kalau tingkat dan kemampuan menulis para guru sangatlah rendah. Bukan hanya di Karimun malah secara nasional juga sangat memprihatinkan kemauan dan kemampuan menulis plus membaca para guru.

Kepada Kepala Sekolah yang sudah lama bergolongan IV/a (Guru Pembina) itu sengaja saya tunjukkan beberapa tulisan saya yang ada di blog pribadi. Saya tahu, kebanyakan para guru, khususnya Kepala Sekolah yang ada di daerah ini, rata-rata sudah bergolongan IV/a dalam waktu yang sudah cukup lama. Bahkan ada guru atau Kepala Sekolah yang sudah naik pangkat sejak 17 tahun silam. Saya sendiri tenggelam di golongan itu selama 16 tahun. Sungguh tidak mengenakkan.

Penyebab dari macetnya kenaikan pangkat tersebut disebabkan oleh kemampuan menulis guru yang sangat rendah. Padahal menurut ketentuan, seorang guru tidak dapat mengajukan kenaikan pangkatnya jika tidak bisa membuat karya tulis sebagai bentuk pengembangan profesi. Diperlukan 12 point untuk kenaikan pangkat dari golongan IV/a ke IV/b. Ini berdasarkan ketentuan lama yang saat ini sudah diubah dengan Permeneg PAN-RB No 16/ 2009 yang kewajiban menulis itu malah sudah diwajibkan sejak dari golongan III/b ke III/c.

Oleh karena itulah, rekan Kepala Sekolah yang bertugas di Pulau Kundur ini cukup bersemangat juga ketika saya membicarakan perihal pentingnya menulis di sela-sela diskusi kegiatan Penguatan Kasek itu. Ketika saya menunjukkan hasil tulisan saya yang sudah ratusan judul di blog ini, dia spontan memuji. "Bapak memang rajin menulis," katanya. "Saya nak membuat judul saja kadang sulit," tambahnya. Saya sebenarnya malu dipuji begitu. Apalagi jika diingat begitu terlambatnya saya naik pangkat ke IV/b tersebab karya tulis. Ah, itu tidak masalah. Memberi semangat kepada rekan-rekan seperjuangan itu perlu, kata saya dalam hati.

Spontan saya mengatakan bahwa jika benar-benar ingin serius belajar dan melaksanakan kegiatan tulis-menulis, maka tulis sajalah apa yang sudah dialami. Ini awal pertama yang dapat dilakukan. Jika ada pengalaman, tulislah pengalaman itu. Terserah saja, mau ditulis di buku (manual) atau mau ditulis di PC atau laptop juga bisa. Malah lebih bagus jika mau menulis di laptop secara online yang bisa langsung dibaca orang pada waktu yang sama. Ada banyak blog sosial yang bisa kita manfaatkan untuk menayangkan karya tulis kita. Tulisan kita bisa dinikmati pembaca lainnya.

Bagaimanapun, budaya menulis yang masih sangat rendah di kalangan guru ini memang perlu juga menjadi perhatian Kepala Sekolah. Dan saya selalu mengingatkan rekan-rekan Kepala Sekolah untuk terus-menerus memotivasi para guru untuk menulis. Sekali lagi, tulislah apa yang terjadi di sekitar kita. Pengalaman pribadi, malah lebih mudah untuk mengulangnya dalam bentuk tulisan. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan