Jumat, 05 September 2014

Sayang Salah Letak

INI pengalaman siswa yang mengaku dan bercerita kepada saya. Menarik, tapi sebenarnya tidak baik. Ini pengalaman yang tidak unik tapi menarik. Harus menjadi perhatian para guru dan peringatan bagi siswa. Ada maksud 'sayang' di dalamnya namun salah meletakkannya.

Syahdan, bertanyalah saya kepada para siswa dalam satu kelas pada suatu pagi. Di hari yang lain juga sudah pernah saya melakukannya di kelas yang lain. Saat itu saya memberi motivasi kepada mereka sebagai pengisi waktu karena guru pada jam itu belum ada. Saya memotivasi mereka bagaimana memeprsiapkan diri menghadapi era persaingan yang sangat keras sekarang dan di waktu-waktu mendatang.

Ketika saya menyebut tentang perlunya kejujuran dan semangat bekerja keras sebagai salah satau modal karakter, saya mencoba bertanya apakah mereka mau jujur jika ditanya sesuatu. Mereka menjawab, akan jujur. Lalu saya bertanya, perihal isu dan berita 'mulut ke mulut' yang menyebutkan bahwa Ujian Nasional (UN) di sekolah-sekolah selalu ada kecurangannya. Kecurangan itu terjadi karena ada guru yang sengaja memberikan kunci jawaban pada saat peserta UN mengikuti UN. Dengan polos mereka mengatakan kejadian yang sebenarnya. Mereka mengaku saja dengan jujur.

Saya mencoba meminta mereka mengangkat tangan, kalau merasa tidak pernah mendapat jawaban yang sengaja diedarkan pada saat mengikuti UN dulu. Saya menanyakan itu kaena mereka masih kelas 10 dan pasti masih teringat kejadian itu. Ternyata tidak ada yang berani mengangkat tangan. Ini kejadian dalam dua kelas yang pernah saya masuk. Tapi dalam satu kelas lainnya, ada dua siswa yang mengatakan kalau dia tidak merasa mendapat jawaban dari siapapun ketika mengikuti UN. Lalu saya tanya, dari mana SMP atau MTs yang bersangkutan. Mereka pun menjelaskan asal sekolahnya. Saya berani menyimpulkan bahwa di banyak sekolah ternyata isu kecurangan UN itu bukanlah isapan jempol belaka. Itu benar-benar terjadi.

Lalu saya mencoba mendiskusikan, mengapa itu terjadi. Ternyata, anak-anak itu dengan polos pula menjelaskan bahwa kejadian itu sebenarnya hanyalah karena sayangnya guru kepada siswanya. Itu pun penjelasan guru yang mereka dengar di sekolahnya. Guru begitu sayangnya kepada para siswanya sehingga dalam ujian yang sangat rahasia, mereka berani menunjukkan jawabannya. Dan itu adalah karena rasa sayang Bapak dan Ibu guru itu. Begitu para siswa itu menjawab sesuai dengan apa yang mereka dengar selama ini.

Lalu saya berpikir, apakah benar para guru meletakkan rasa sayangnya kepada murid-muridnya itu? Haruskah mencurangi ujian yang begitu rahasia dengan alasan rasa sayang? Saya berani mengatakan kalau sayang seperti ini tidaklah pada tempatnya. Ini benar-benar sebuah kesalahan. Dan sayang yang dibuktikan dengan membocorkan UN jelas itu sayang yang salah letak. Sudah saatnya kejadian jelek ini menjadi perhatian pihak sekolah (guru dan Kepala Sekolah) serta harus pula menjadi peringatan bagi para siswa. Jika mereka terus diajar dengan karakter curang ini, maka kecurangan jualah yang akan mereka lakukan kelak di kemudian hari. Nauzubillah!***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan