Minggu, 24 Agustus 2014

SBY, Belajarlah ke Mega



PASCA penetapan pasangan Jokowi-JK oleh MK menjadi presiden terpilih Pilpres 2014, tranding berita berputar haluan dari dua poros Prabowo-Jokowi dan pasangannya ke satu poros, Jokiwi-JK saja. Berita Prabowo mulai redup. Banyak komentar, gagasan, dan usul-saran yang muncul di koran-koran dan media lainnya untuk pasangan Jokowi-JK. Salah satu yang cukup menyita  perhatian banyak orang adalah kemungkinan bertambahnya dukungan partai politik ke Jokowi-JK.


Komentar dalam bentuk gagasan 'tambahan pendukung koalisi' tidak hanya datang dari pengamat yang selalu kelihatan sangat hebat memberi masukan. Tapi komentar juga datang dari politisi, baik yang berdiri sebagai pendukung maupun politisi partai yang tergabung dalam tim Merah-Putihnya Prabowo. Beberapa pengurus partai pendukung utama, PDI Perjuangan kecuali Mega telah memberikan statemennya bahwa beberapa partai pengusung Prabowo bisa saja beralih haluan. Surya Paloh dan Muhaimin, memang kelihatannya 'gamang' untuk berkomentar masalah sensitif ini.
Tapi gencarnya media menyuarakan kemungkinan bertambahnya partai politik untuk mendukung Jokowi-JK bisa saja dengan makna dan misi bermacam-macam. Secara politis, tentu saja berkaitan dengan pentingnya dukungan parlemen yang kuat kepada pemerintahan nanti. Walaupun sistem presidensial tidak mengenal partai oposisi sebagai lawan politik Pemerintah, ternyata para pengamat tetap menyuarakan perlunya menambah kekuatan parlemen untuk Jokowi. Jokowi sendiri tidak tampak terlalu bernafsu untuk memikat hati politisi lawan kontestasi Pilpres lalu itu. Sebagai pekerja, dia lebih banyak diberitakan bekerja.
Beberapa tokoh PDI Perjuangan yang cukup rajin menyuarakan kemungkinan penambahan 'amunisi politik' itu antara lain Tjahjo Kumolo, Pramono Anung, Mararuar Sirait dan beberapa orang lainnya. Baru-baru ini, Ara (sapaan Mararuar Sirait) bahkan semakin terang-terangan menyebut kemungkinan bergabungnya partai pendukung Prabowo ke kubu Jokowi. Dengan memakai istilah ' telah terjadi dinamika politik' antar partai pendukung yang berseberangan, Ara ingin mengatakan bahwa akan ada partai politik yang akan menyeberang. Dua kejadian, putusan MK dan pelantikan presiden akan mampu mengubah kekuatan pendukung Jokowi, kurang lebih begitu dia mengatakan.

Partai politik yang oleh pengamat paling mungkin akan mendukung Jokowi adalah Partai Demokrat (PD), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan dua partai lain --Golkar dan PAN-- yang sedikit lebih kecil kemungkinannya. PD dan PPP dianggap berpeluang besar karena dikatakan oleh pengamat dukungan kedua partai ini kepada Prabowo sebenarnya tidak solid. Bahkan beberapa tokohnya secara pribadai tapi terang-terangan mendukung Jokowi-JK. Tapi dua partai terakhir dianggap berpeluang lebih kecil karena faktor ketua umumnya yang tidak akan mudah goyang ke 'seberang'.

Nah, saya hanya ingin memberi pikiran dan perasaan saya ke PD yang dikomandani oleh SBY yang masih presiden saat ini. Meskipun saya bukan anggota partai manapun (karena masih PNS, hehe) tapi jujur saja, sebelum kisah duka politisi Demokrat tersandung kasus korupsi, saya paling berharap banyak ke partai berlambang bintang mersi ini untuk membangun negeri. Meskipun SBY dianggap peragu, macam 'anak-anak' kata Mega dan cap negatif lainnya oleh pengamat dan rakyat, tapi harus diakui dari enam presiden Indonesia yang sudah dicatat sejarah SBY terbilang sukses dan aman-aman saja dalam  pemerintahannya. Dan pengamat menganggap keselamatan pemerintahan SBY di dua periode pemerintahannya itu adalah karena adanya dukungan partai politik yang cukup. Makanya Jokowi diharapkan juga oleh pengamat ada penambahan dukungan selain partai yang sudah ada saat ini. Mega-Surya-Muhaimin-Wiranto-Sutyoso sepertinya dianggap belum akan mampu melawan politisi di seberang. Dan rentan menjadi pengganggu pemerintahan.

Saya berharap ke SBY, biarlah tetap berada di luar pemerintahan setelah memerintah dua periode. Belajarlah ke Bu Mega yang konsisten dengan cap 'oposisi' di partainya selama ini. Banyaknya rayuan, baik dari dalam partai (seperti Ruhut si kutu looncat) maupun dari luar partai seperti dari pengamat itu, janganlah membuat Anda tergoda. Orang yakin, posisi PD masih tetap di bawah kendali SBY dan SBY pula yang akan menentukan tarik-ulur perlu-tidaknya PD masuk ke poros Jokowi. Sekalilagi, belajr ke  Mega. Lima tahun tidaklah lama.

Ingatlah sikapm Mega yang selama ini bertahan untuk tidak berkompromi sedikitpun dengan Anda yang nyata-nyata sudah menjadi presiden. Tidak perlu diulas di sini, bagaimana sikap Mega selama sekian tahun ini kepada SBY. Malah ada anggapan kalau Mega tidak pernah bisa menerima kenyataan kalau mantan anak buahnya itu adalah presiden. Yang  jsuteru harus diambil hikmahnya adalah bahwa rakyat terbukti memilih Jokowi yang diusulkan PDI Perjuangan. Dan Mega adalah kunci atas majunya Jokowi itu. Di luar pemerintahan spertinya lebih baik untuk membangun PD dalam lima tahun ini. Tapi terserahlah. Orang kecil macam saya, tak perlu juga terlalu didengar, hehe. Salam hormat, Pak SBY.***
Dimuat juga di:  http://politik.kompasiana.com/2014/08/24/sby-belajarlah-ke-mega-682470.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman