Jumat, 29 Agustus 2014

Panas atawa Hujan, Sama Tak Enaknya

Antrian di musim panas
INI pengalaman pasca jumatan, hari ini, Jumat, 29 Agustus 2014. Pengalaman yang tidak enak. Tapi tidak ada kaitannya dengan solat Jumat. Walaupun terjadinya di hari mulia itu, tapi sama sekali tidak berkaitan dengan jumatan yang baru satu setengah jam sebelumnya saya tunaikan. Pengalaman ini adalah pengalaman 'menyakitkan' di SPBU Karimun siang menjelang petang tadi. Masih kisah itu-itu juga: SPBU tempat orang menggerutu.

Beberapa kali saya sebenarnya sudah merasakan betapa susahnya mendapatkan bensin premium di Karimun ini. Untuk mengisi 4-5 liter premium ke tangki vespa 'butut' saya diperlukan waktu antrian satu sampai satu setengah jam. Suatu kali saya antri menanti giliran mendapatkan minyak hingga hampir dua jam. Begitu menyakitkan. Waktu begitu lama harus terbuang percuma hanya untuk mengisi bensin untuk empat-lima hari ke depan. Syukurnya vespa itu lebih banyak saya pakai untuk ke masjid saja. Hanya sesekali saja dipakai ke pasar atau ke sekolah. Jadi, agak lama juga giliran mengisi kembali.

Benar-benar menderita dibuatnya jika harus berlama-lama di sepanjang jalan Poros itu. Tapi mau bagaimana lagi. Di 'jalanan' pangkalan liar seperti selama ini tidak ada lagi orang menjual bensin. Pemerintah Karimun sudah membuat kebijakan untuk melarang semua kios-kios liar tanpa izin itu. Padahal selama ini, masyarakat kecil itu cukup membantu pemilik motor. Sayangnya, beberapa oknum pengcer perimum itu menyalahgunakan kesempatan. Mereka sering menjual minyak dengan harga yang sangat tinggi. Masyrakat pun protes. Belum lagi mereka selalu menyedot minyak bersubsidi di SPBU untuk kepentingan pribadi. Kini meerka sudah tak bisa berjualan lagi. Tapi akibatnya, masyarakat lainnya juga bertambah kesulitan mendapatkan premium untuk sepeda motor.

Kembali ke antri di SPBU yang pernah saya alami, saya benar-benar sangat kesal. Ketika beberapa kali saya antri pada jam-jam cuaca masih panas, waduh begitu terasa panasnya terik matahari. Rasanya badan kita terbakar oleh tusukan sinar matahari. Waktu satu setengah jam adalah waktu yang sangat lama untuk berpanas-ria.

Tapi hari Jumat ini, pengalaman antrian yang saya rasakan adalah menderita di waktu hujan. Kebetulan saat ini sudah masuk musim hujan. Selepas solat jumat siang tadi, saya memaksa untuk ikut antri. Saya ingat, vespa saya itu sudah beberapa hari ini kekurangan bensin. Jarum ampre minyaknya sudah empat yang lalu berada di garis merah. Artinya, minyaknya sudah sampai ke batas cadangan. Jika terlambat mengisinya, bakal akan mendorongnya di hari-hari ke depan. Makanya hari ini saya memaksa untuk ikut antri.

Karena dari rumah tidak hujan, saya tidak membawa persiapan apapun untuk antisipasi hujan. Ternyata baru beberapa menit berdiri antri, gerimis turun dan langsung diikuti hujan. Para pengantri berlarian ke pinggir jalan, berlindung di bawah pokok-pokok yang lebdat daunnya. Ada juga yang berteduh ke rumah kaca, kantor SPBU itu.

Saya sendiri, berusaha juga untuk berteduh di bawah pokok itu. Tapi itu tidak menutup habis guyuran hujan ke badan kita. Kepala dan baju saya mulai lembab dan basah oleh hujan yang lewat di sela-sela dedaunan tempat kami berteduh. Tapi mau bagaimana lagi. Saya tidak ingin berlari ke rumah itu karena sudah cukup ramai orang di situ. Saya bertahan saja di pinggir jalan Poros dengan tumbuhan pokok-pokok penghijau itu. Saya bertahan saja dalam derita di bawah guyuran hujan itu.

Ternyata sama saja tidak enaknya antara panas dengan hujan ketika sedang antri. Walaupunm suasananya sejuk, tapi hati tetap terasa panas memikirkan dan merasakan antrian yang begitu lama. Ah, kapan lagi kita akan dapat merasakan antrian yang tidak terlalu lama? Entahlah!***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman