Selasa, 19 Agustus 2014

Diayun Gelombang Laut Alai

Menyusuri Laut Alat
SUDAH lama tidak ke Alai, Kundur --ini nama lama, ketika saya masih di Tanjungbatu Kundur 20 tahun silam-- yang sekarang sudah bernama Kelurahan Alai, Kecamatan Ungar. Di Alai, 20-an tahun silam lumayan banyak kenangan bersama siswa/ wi SMA Negeri Tanjungbatu --kini bernama SMA Negeri 1 Kundur-- tempat saya pertama kali ditempatkan sebagai pegawai negeri. Selama sembilan tahun --1985-1993-- mengabdi sebagai guru, selanjutnya menjadi Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Moro.


Kedatangan siang tadi ke Alai adalah dalam rangka memenuhi undangan peresmian pernikahan Ibu Zarina (guru SMA Negeri 3 Karimun) yang kebetulan di sana kampung halamannya. Bersama 34 orang teman --guru/ pegawai SMA Negeri 3 Karimun-- saya menghadiri acara peresmian pernikahan itu. Dari Karimun kami berangkat dengan kapal Citra Mandiri. Sampai di pelabuhan Tanjungbatu, kami langsung disambut oleh  boat pancung yang biasa menjadi alat transport laut Tanjhungbatu- Alai. Setiap satu boat, diisi 7-9 orang.

Duh, perjalanan di atas boat mirip sampan ini benar-benar mengingatkan saya ketika pertama kali saya ke Alai 20-an tahun dulu itu. Bersama para siswa/ wi SMA Negeri Tanjungbatu, kami berlibur ke Alai, salah satu tempat wisata di Kecamatan Kundur selain Pantai Sawang dan Pantai Lubuk . Di Alai memang ada lokasi wisata yang terkenal dengan Batu Limau. Di tepi pantai itu ada beberapa batu yang sangat besar dengan berbentu limau (jeruk) yang oleh orang Alai disebut sebagai Batu Limau. Dan lokasi itu sampai hari ini dinamakan dengan Lokasi Wisata Batu Limau. Selain batu berbentuk limau, juga ada batu berbentuk kemaluan dalam ukuran yang sangat besar. Itulah sebabnya tempat ini menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang.

Kenangan masa lalu itulah yang membayang dalam pikiran dan perasaan saya ketika saya dan beberapa orang teman lainnya menyusuri laut Alai dari Tanjungbatu. Karena angin tidak seberapa, maka boat pancung yang kami tumpangi hanya berayun lansam saja. Tidak menakutkan sama sekali. Ayunan yang lembut itulah yang membuat perasaan saya mengalir ke masa lalu itu. Kami sangat senang dan nyaman dengan ayunan yang lembut itu. Ayunan gelombang nan lembut itu, membuat kami berani bersenda guran di atas boat. Ah, kenangan ini memang tidak mudah untuk kembali melukiskannya. Selamat menempuh hidup baru, Bu Zarina. Kami hadir untuk memberi doa restu.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan