Selasa, 26 Agustus 2014

Bagerja Empat Lima itu Dikotori



BAGERJA, ya maksud saya Lomba Gerak Jalan. Setiap tahun, bersempena peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) RI di bulan Agustus seperti saat ini, selalu ada lomba gerak jalan (bagerja) yang diikuti siswa maupun umum. Mulai dari kelas 8 km, 17 km sampai ke kelas jauh, 45 km diperlombakan.
Angka-angka 17, 8 dan 45 itu merujuk ke tanggal sakti hari proklamasi kemerdakaan RI, 17.08.1945  alias 17 agustus 1945 itu. Selain nilai-nilai kompetisi anak-anak muda  bagerja juga menanamkan karakter dan semangat berbangsa dan bernegara. Pemenerintah yang diwakili panitia pelaksana, memberikan hadiah kepada para pemenangnya sebagai bentuk apresiasi dan  penyemangat.

Dari tiga kelas yang diperlombakan, kelas jauh 45 km merupakan yang paling bergengsi di mata peserta. Hadiahnya juga diberikan dengan nilai yang lebih besar dari pada gerak jalan 8 km atau 17 km. Tapi yang lebih menaikkan gengsi bagerja kelas 45 itu adalah karena jarak tempuh yang sangat jauh itu. Sejauh 45 km harus diselesaikan. Itu sudah kurang lebih sama dengan cabang maraton dalam lomba atletik. Tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya orang-orang pilihan yang dapat dan boleh ikut. Risiko bagerja 45 juga cukup tinggi.

Maksud yang terselip dari lomba ini adalah bagaimana menanamkan cinta Tanah Air dengan semangat proklamasi 1945, para peserta bagerja diharapkan menghayati makna perjuangan yang sudah dilakukan para pahlawan bangsa itu. Beratnya medan tempur dengan perjalanan beratus bahkan beribu kilo meter yang ditempuh para pejuangan Tanah Air dapat sedikit dirasakan oleh para peserta bagerja. Dengan begitu, rasa cinta ke bangsa dan tanah air itu akan terus kokoh di sanubari anak-anak bangsa, khususnya generasi muda. Sungguh mulia tujuan bagerja 45 ini.

Belakangan, semangat empat lima yang melekat pada bagerja 45 itu sudah luntur bahkan sengaja dirusak dan dikotori. Nilai-nilai perjuangan yang dibawa misi bagerja 45 kini benar-benar dirusak dan dikotori oleh peserta dan juga panitia. Sejak beberapa tahun lalu, saya mendengar bahwa untuk meraih kemenangan dalam bagerja 45 tidak lagi menggunakan norma-norma kejujuran dan kebenara. Nilai-nilai sportivitas olahraga yang diembannya sengaja dirusak sendiri oleh peserta dan panitia. Saya sebut peserta karena nyatanya mereka yang melakukan. Saya sebut panitia karena panitia ternyata tutup mata saja atas kecurangan ini.

Sekadar diketahui, ternyata lomba yang bernilai mulia dengan segala peraturan dan ketentuan yang sudah ditetapkan, sengaja dirusak oleh pesertanya. Maksud diadakannya lomba yang berat ini adalah agar peserta merasakan betapa berat dan jauhnya perjalanan 45 km itu. Setiap peserta sudah tentu wajib menempuh jarak yang sudah ditentukan itu. Dan seharusnya tidak boleh ada penggantian peserta untuk keseluruhan jarak itu. Tapi ternyata dalam perjalanan, di tempat-tempat yang sepi, para peserta ini oleh guru pembinanya diganti dengan peserta lain untuk regu yang sama. Maksudnya agar perserta ini nanti mampu sampai di finis.
Karena bagerja ini memang sengaja dilakukan di malam hari (start biasanya tengah malam dan finis di pagi hari) maka tentu saja ada banyak tempat-tempat gelap dan sepi dalam route yang dilalui. Di situlah para peserta yang dianggap tidak akan mampu, diistirahatakan dalam mobil dan tempatnya diganti oleh peserta lain. Dan beberapa kilo menjelang finish, kembali peserta ini dimasukkan untuk kelihatan jumlah pesertanya tetap utuh.

Inilah kecurangan yang setiap tahun selalu saya suarakan. Ini tidak bagus dalam pembinaan karakter dan mental anak-anak. Mereka pada umumnya adalah para peserta didik yang dalam tanggung jawab guru (pembina) keserhariannya di sekolah. Di tangan gurulah tanggung jawab pembinaan karakternya. Bagaimana kecurangan ini dilakukan dengan sengaja dan terencana? Inilah yang saya maksud bahwa semnagat empat itu telah dikotori. Masuh perlukan bagerja dilakukan?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan