Kamis, 31 Juli 2014

Sungai Kampar itu Masih Jernih (3)

MALAM ini, saya dan isteri akan bermalam (menginap) di rumah adik saya, Syamsiar. Setelah berbuka tadi dan mandi selepas magrib, baru terasa segarnya badan ini. Makan malam bersama --Syamsiar dan anak-anaknya, Syamsidah (adik saya yang lainnya) dan anak-anaknya, Khairul Amri dan seorang anaknya-- terasa enak sekali. Menu lauk pantau (sejenis ikan sungai) yang dimasak asam pedas, sungguh terasa enak. Menu lauk dan sayur (krabu) yang disiapkan Syamsiar malam ini mengingatkan saya masa-masa kecil dulu. Inilah kebiasaan masakan tradisi di rumah orang tua saya.

Sambil istirahat selepas makan malam, kami berbicara berbagai hal. Dari saling bertanya tentang kabar dan kesehatan sampai kepada hal-hal ringan lainnya. Kami belum berbicara masalah-masalah yang berat dan penting lainnya. Sebenarnya memang ada yang akan kami bicarakan malam ini seperti sudah saya sampaikan lewat telpon sebelum sampai di kampung.

Tidak lama kami mengobrol itu. Pukul 19.20 itu kami bersiap-siap mau ke masjid. Ternyata selama Ramadhan ini tidak lagi ada solat Isya dan tarwih di surau Binuang yang berjarak hanya 20 meter dari rumah tua, rumah peninggalan orang tua itu. Menurut adik saya, disepakati bahwa untuk tarwih tahun ini dipusatkan di masjid saja. Jadi, surau Binuang dan surau Kobuo Botiang yang selama ini juga menyelenggarakan solat Isya dan tarwih selama Ramadhan, sudah tidak lagi melaksanakannya.

Sebelum selesai azan Isya saya dan Khairul Amri sudah sampai di masjid yang berjarak kurang lebih 400-an meter dari rumah itu. Setelah azan tentu saja melaksanakan solat sunah qobla Isya dan selanjutnya solat Isya. Dan yang mengejutkan saya malam ini, oleh beberapa orang jamaah meminta saya menjadi imam solat tarwih. Saya tidak menduga karena untuk solat Isyanya sudah diimami oleh imam setempat. Biasanya, jika pun saya diminta menjadi imam, akan diberitahukan sebelum solat Isya. Ketika solat sudah berlangsung, saya mengira bahwa imam itu akan meneruskan memimpin solat tarwihnya.

Tentu saja saya tidak akan menolak menjadi imam. Saya ingat, setiap saya berkesempatan pulang kampung, saya memang selalu ditawarkan untuk menjadi imam solat berjamaah di masjid atau di surau di kampung itu. Sebagai mantan guru mengaji di kampung, dulunya, saya tentu tidak mungkin menolak tawaran seperti itu. Dan malam ini, walaupun jumlah rakaat solatnya 23 (20 tarwih plus 3 witir) saya tetap tidak akan menolak. Di masjid Ubudiyah, dekat tempat tinggal saya di Meral Karimun memang hanya 8 rakaat saja. Tapi saya sendiri sudah terbiasa melaksanakan solat tarwih 20 rakaat itu.

Kurang lebih satu jam pelaksanaan solat Isya dan tarwih plus tausiah singkat oleh salah seorang siswa di kampung itu, jamaah pun bubar. Ada yang melanjutkan tadarus di masjid itu dan lebih banyak yang kembali pulang ke rumah. Saya sendiri kembali ke rumah dengan naik motor bersama Khairul Amri.

Sampai di rumah, kembali kami minum-minum alakadarnya sambil mengobrol. Kesempatan ini, sesuai rencana kami --anak-beranak-- memang akan membicarakan persoalan emas peninggalan orang tua (ibu) saya yang selama ini kami kelola dengan tujuan dimanfaatkan bersama. Emas itu merupakan peninggalan Ibu saya yang ternyata ketika berpulang ke rahmatullah beberapa waktu lalu itu, dia meninggalkan perhiasan emas sebanyak 12 emas. Dan kami sepakat emas itu tidak akan dijual tapi akan kami kelola (pinjam-pakai) oleh siapa saja di antara kami yang memerlukannya.

Eams itu dapat dipinjam oleh kami (anak dan cucunya) untuk keperluan masing-masing dengan kesepakatan harus tetap dikembalikan dalam jangka waktu tertentu. Jika mampu, dikembalikan dengan kelebihan seberapa mampu. Dan kini, emas yang awalnya hanya 12 emas itu kini sudah menjadi 17 emas selama berbreapa tahun dipinjam secara bergiliran. Emas itulah yang kami diskusikan kembali tata cara peminjamannya.

Selain membicrakan persoalan emas warisan itu saya juga menyempatkan memberi nasihat kepada seluruh anak-anak kemenakan dan adik-adik yang hadir. Secara khusus kembali saya mengingatkan kesepakatan dalam keluarga besar ini bahwa yang berkecukupan wajib membantu keluarga yang berkehidupan sederhana. Bantuan secara khusus untuk pendidikan minimal sampai tingkat SLTA tetap dijalankan. Misi ini sudah dijalankan sejak saya menjadi pegawai negeri. Saya adalah satu-satunya waktu itu yang menjadi pegawai negeri. Sejak itu pula keluarga besar kami sepakat untuk saling membantu dalam hal pendidikan.

Pembicaraan malam ini memakan waktu lumayan lama. Anak Syamsiar, anak Syamsidah dan Syamsiah semuanya berkumpul di rumah itu. Mnejelang tengah malam itu, mereka tetap serius mendengarkan nasihat saya. Saya dan Khairul yang saling mengisi nasihat, mengingatkan betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga. Hanya dengan pendidikanlah kita akan mampu menjalani kehidupanm dengan baik. Tepat pukul 24.35 barulah kami istirahat untuk tidur. Saya teringat, besok saya akan mandi ke sungai yang tidak jauh di belakjang rumah sana. Sore tadi memang belum jadi berkesempatan mandi di sungai karena kemalam sampai di kampung. (bersmabung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman