Rabu, 30 Juli 2014

Sungai Kampar itu Masih Jernih (2)

SEKITAR pukul 13.00 (Sabtu) itu saya dan isteri sudah istirahat di rumah Kak Syamsinar (almh) itu. Opy, anak saya yang paling bungsu yang kebetulan ikut bersama saya dan isteri juga istirahat di rumah itu. Bersama Rahmat dia ngobrol di ruang tengah sementara saya dan isteri istirahat di ruang depan. Sebelumnya kami melaksanakan sholat zubur karena mobil kami tidak berhenti (istirahat)di perjalanan dari Butun tadi.

Sekitar pukul 15.00, sesuai janji dengan Khairul Amri kami bersiap-siap menuju kampung halaman. Khairul Amri --wartawan Riau Pos, Pekanbaru-- itu adalah ponakan saya, anak kandung Kak Syamsinar yang dulu sekolah (MTs) tinggal bersama di Tanjungbatu. Dia menjemput kami ke Jalan Pangeran Hidayat dengan mobil avanza miliknya. Kami berharap nanti akan mandi sore (menjelang berbuaka puasa) di Sungai Kampar yang jernih itu. Sudah terbayang oleh saya sejuknya air sungai yang mengalir deras di belakang rumah orang tua saya.

Sayangnya, karena dari Pangeran Hidayat kami harus terlebih ke rumah Syamsiah (adik saya yang paling bungsu) untuk menjemputnya ikut bersama ke kampung, dan dari rumahnya yang cukup jauh itu kembali lagi ke rumah Khairul Amri untuk menjemput anaknya Fia yang juga mau ikut ke kampung, akhirnya jadwal berangkat kami agak tertunda. Solat Asar harus kami tunaikan di rumah Syamsiah karena waktu sudah beberapa menit yang lalu masuknya waktu itu. Padahal tadinya berpikir akan melaksanakan solat di kampung saja.

Lewat pukul lima sore baru kami akhirnya berangkat meninggalkan kediaman Khairul Amri untuk menuju Kampung Kabun alias Limau Manis. Menurut perkiraan saya, jarak ke kampung sana akan dapat ditempuh dalam waktu 40-an menit. Artinya masih ada sisa waktu kurang lebih setengah jam menjelang berbuka di kampung halaman. Ternyata perkiraan saya itu meleset. Saya tidak tahu bahwa kemacetan di jalan itu tidak hanya khas kota-kota besar (termasuk Pekanbaru yang saya saksikan tadi siang)  tapi juga di jalan raya Pekanbaru- Bangkinang yang dulu sangat lengang. Begitu macetnya jalan itu sampai-sampai Khairul ketik menyetir mobilnya haris sedikit menyenggol sebuah mobil lain pada saat akan memotong mobil tersebut. Kami agak khawtir juga dengan kejadian itu.

Akhirnya beberapa menit menjelang berbuka puasa baru kami sampai di Binuang, Kabun, Airtiris yang kini sudah bernama Desa Limau Manis Kecamatan Kampar itu. Kami sama sekali tidak sempat lagi mandi apa lagi pergi ke sungai menjelang berbuka itu. Berarti dari pagi (bahkan dari malamnya) saya dan isteri belum mandi hari itu. Niat kami ingin mandi di jernihnya air sungai sore itu tidak kesampaian. Tidak lama, sirene pertanda waktu berbuka sudah masuk, sudah berbunyi. Kami semua berbuka di rumah Syamsiar, adik saya yang satu lagi. Syamsiar adalah anak ketiga dari kami lima bersaudara. Suasana gerah karena masih berkeringat dan baju yang sudah tidak nyaman lagi, tidak menghalangi kami berbuka puasa sore itu. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan