Rabu, 11 Juni 2014

Satu Jam Saja di Batam

Demo Anti Syiah di Halam Kantor Bupati Karimun
BERMULA dari demo anti Syi'ah yang dilakukan oleh Forum Pembela Ahlussunnah Waljamaah (FPAW) Karimun hari Selasa (10/ 06) kemarin, lalu berlanjut dengan dialog antara perwakilan FPAW dengan Pemerintah Karimun di ruang rapat Kantor Bupati Karimun, terungkap kerja-kerja MUI (Majelis Ulama Indonesia) Karimun yang terbengkalai. Atas desakan perwakilan forum Pemerintah dan pengurus MUI merasa ikut bersalah.

Inti masalah yang dipersoalkan oleh peserta demo itu adalah bukti tindakan tegas Pemerintah Karimun terhadap keberadaan aliran syiah yang ada di Karimun. Mereka dengan tegas dan berapi-api meminta agar Pemerintah Karimun menertibkan dan atau melarang syiah berada di kabupaten 'berazam' ini. Menurut para pendemo, syiah sudah jelas sesat dan sudah meresahkan masyarakat. Lalu mengapa pemerintah tidak bertindak juga? Pemerintah ini lembek, MUI ini tak ada guna, begitu bunyi pernyataan peserta demo di siang terik itu.

Lebih jauh para orator demonstran itu mengancam akan bertindak lebih keras dengan caranya sendiri jika Pemerintah atau polisi tidak bertindak menertibkan syiah. Inilah yang mengkhawatirkan bupati, wakil bupati dan sekda yang kebetulan ikut dalam pertemuan itu. Pemerintah tidak ingin keadaan kondusif yang sudah ada saat ini tidak sampai rusak oleh tangan-tangan anarkis. Itulah sebabnya mereka diterima untuk berdialog di ruang rapat yang mewah itu. Bupati ingin semuanya damai dan berjalan dengan baik.

Pada rapat yang juga dihadiri oleh Kapolres dan Kajati Karimun, disepakati kalau Pemerintah akan bertindak jika ada legalitas yang sah, misalnya adanya fatwa sesat dari MUI. Oleh karena itu, MUI yang sejak dua bulan sebelumnya sudah berencana akan mengirimkan surat berisi 'pernyataan sikap menolak' dari masyarakat muslim atas keberadaan syiah, berjanji akan segera mengirimkan surat tersebut. Dan pada pertemuan itu, perwakilan forum meminta waktu yang pasti dari Pemerintah dan MUI Karimun untuk melakukan tanggung jawabnya.

Itulah sebabnya, satu hari sesudah demo itu, Rabu (11/ 06) ini saya --selaku sekretaris MUI Karimun-- berusaha menyelesaikan surat-surat yang diperlukan itu. Setelah ke sekolah dari pukul tujuh hingga pukul 08.30 pagi, lalu saya beralih meja ke Kantor MUI, di Gedung Jamiatulbirri Masjid Agung Karimun untuk menyelesaikan surat-surat tersebut. Saya harus bekerja langsung karena staf sekretaris sudah tidak ada lagi. Setengah hari menyelesaikan surat-menyurat lalu saya harus ke Batam untuk meminta tanda tangan Ketua MUI yang kebetulan saat ini berada di Batam. Dia menjadi bagian dari Kafilah MTQ Provinsi Kepri. Dia baru akan kembali ke Karimun setelah MTQ Nasional ke-25 itu selesai.

Agar tidak berlama-lama menunggu maka saya pergi langsung ke Batam membawa surat itu. Sehabis zuhur, saya meluncur ke pelabuhan untuk menyeberang ke Sekupang Batam. Pukul 14.45 saya sudah sampai di Sekupang dengan menumpang very Dumai Line. lalu meneruskan perjalanan dengan teksi ke Hotel Vista di Batam Center. Pak Azhar, Ketua MUI itu ada di sana. Jadi, saya harus ke sana membawa surat yang akan dikirimkan ke Bupati, Gubernur dan Ketua MUI Provinsi Kepri.

Setelah ditandatangani dan ngobrol sebentar, saya kembali ke Sekupang Batam. Pukul 15.45 saya sudah kembali naik kapal. Ternyata kapalnya sama dengan yang tadi, Dumai Line. Pukul 16.00 kapal sudah bergerak meninggalkan pelabuhan Sekupang. Saya merasa senang walaupun cukup lelah karena bola-balik Karimun- Batam dalam waktu yang cukup pendek. Satu jam saja saya di Batam, demi surat-surat itu. Semoga tidak sia-sia kerja yang melelahkan ini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan