Selasa, 03 Juni 2014

Kepala Sekolah Belajar Menjadi Anak-anak

Permainan Seribu Semut
MEMASUKI hari kelima, Selasa (03/ 06) ini, Bimtek Pendidikan Karakter Kepala Sekolah (SLTA) se-Provinsi Kepri di Hotel Aston, Tanjungpinang sudah mulai menampakkan beberapa orang peserta yang mengalami masalah. Masalah utama itu adalah kebugaran tubuh yang mulai menurun. Untuk sesi kegiatan pagi ini, misalnya tiga orang Kepala Sekolah hanya bisa menyaksikan rekan-rekan lain berkegiatan di tepi lapangan sementara rekan-rekan lain berjingkrak-jingkrak di lapangan olahraga.

Hari keempat --Senin, 02/ 06-- kemarin, sebenarnya sudah ada dua orang yang minta izin tidak ikut aktivitas tersebab keluhan badan yang tidak fit. Informasinya, satu orang karena gula darahnya naik melebihi ambang batas dan yang satunya lagi kolesterol yang juga tak terkontrol. Keduanya tentu diizinkan untuk tidak ikut kegiatan walaupun kegiatannya hanya mengikuti sesi ceramah/ diskusi dengan narasumber. Satu orang lainnya, kabarnya karena asam uratnya juga kambuh.

Kemarin itu dengan materi "Peraturan, Kebijakan dan Implementasi Pengelolaan PTK Dikmen" yang disampaikan oleh Ibu Dra. Maria Widiani, MA (Kasubdit Pembinaan SMA Direktorat P2TK Dikmen, Kemdikbud) sejatinya harus diikuti oleh semua peserta yang notabene adalah Kepala Sekolah. Materi ini sangat penting karena menyangkut keberadaan pendidik (guru) dan tenaga kependidikan (pegawai) di sekolah yang dipimpin. Tapi karena sakit itu, ya para sahabat itu terpaksa tidak ikut.

Saya tidak bermaksud mengulas masalah penyakit itu di sini. Pastilah ini hanya masalah yang lazim pada setiap kesempatan pelatihan dengan peserta para Kepala Sekolah. Dengan usia rata-rata di atas 40 atau 50 tahun, tentu saja penyakit-penyakit seperti kolesterol, diabtes, darah tinggi, asam urat dan beberapa penyakit lainnya akan rentan untuk kambuh jika tidak cerdas menjalani kehidupan di hotel dengan makanan yang cenderung banyak lemak. Itu biarlah menjadi perhatian dan pelajaran para petinggi sekolah itu. Ada catatan lain yang justeru menurut saya layak untuk diulas di sini.

Sesungguhnya ada banyak kegiatan yang benar-benar sangat bermanfaat untuk para Kepala Sekolah dalam kegiatan sepekan ini. Meskipun beberapa orang rekan mengatakan bahwa kegiatan ini terasa terlalu banyak unsur bermainnya, namun sesungguhnya dalam permainan itulah para pimpinan sekolah ini dilatih kembali untuk memiliki sikap-sikap mulia yang sangat dibutuhkan ketika memimpin sekolah. Terasa seperti kembali ke fase anak-anak, memang tapi begitulah ternyata cara yang dipakai para trainer dalam memberikan pendidikan karakter ini. Para Kepala Sekolah diminta untuk berpraktik dalam beberapa kegiatan yang mirip bermain-main agar para Kepala Sekolah memiliki dan mengembangkan karakternya untuk kemajuan sekolah.

Beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan bersama trainer dari LP2KS Kemdikbud antara lain misalnya, 1) bermain menara; 2) bermain pesawat; 3) bermain peragaan; 4) bermain de laila de lion; 5) bermain rumah kijang; 6) permainan seribu semut dan banyak lagi. Tidak kurang 13 macam permainan yang sepintas adalah permainan anak-anak, namun harus dimainkan oleh para Kepala Sekolah ini.

Ketika trainer menjelaskan permainan pesawat terbang kertas, tentu saja semua peserta akan teringat bahwa pesawat terbang kertas itu adalah mainan anak-anak kecil. Tapi itu adalah salah satu praktik penerapan karakter yang wajib dibuktikan oleh para Kepala Sekolah. Kepala Sekolah yang sudah tua-tua itu memang harus belajar kembali menjadi 'anak-anak' secara berkelompok. Dengan kerja kelompok (sesuai kelompok suku yang sudah ditetapkan di awal pertemuan) kepala suku tiap kelompok diberi instruksi oleh trainer untuk disampaikan kepada anggota suku. Perintahnya membuat pesawat kertas dengan disain yang sudah ditentukan. Dalam bekerja ada beberapa syarat (perintah aturan) yang wajib dipatuhi. Misalnya tidak boleh bersuara, tidak boleh bertanya dan lain sebagainya. Padahal trainernya selalu menggoda peserta yang sedang bekerja.

Begitu juga ketika mengikuti permnainan menara. Dengan material pipet minuman, setiap kelompok diminta membuat menara setinggi mungkin dengan kokoh dan tentu saja indah. Apakah kelompook ini bisa bekerja sama tanpa bersuara, tanpa menggunakan alat selain pipet dan gunting? Ternyata cukup sulit melewatinya dengan baik dan lancar. Namun itulah yang harus dilakukan oleh para Kepala Sekolah. Setiap permainan memiliki tingkat kesulitan dan tantangan tersendiri. Dan setiap permainan pun memiliki kandaungan nilai-nilai karakter yang baik. Sikap jujur, bersemangat, bekerja sama, tanggung jawab, tenang, kerja keras dan banyak lagi sikap yang dapat dikembangkan dalam permainan ini.

Jadi, tujuan para trainer memberikan berbagai permainan anak-anak itu pada hakikatnya adalah untuk mengembalikan daya ingat para Kepala Sekolah sekaligus menunjukkan bagaimana sikap-sikap mulia itu dilaksanakan. Bagaimana mengimpelementasikannya nanti di satuan pendidikan masing-masing, itulah tujuan utama dari semua permainan tersebut. Semoga saja para Kepala Sekolah dapat menyerapnya dengan baik dan dapat pula mengimplementasikannya di sekolah nanti di sekolah masing-masing.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan