Rabu, 02 April 2014

Selamat Jalan, Sahabat Pramuka

ANTARA percaya dan tidak, saya mendapat telpon dari salah seorang guru. Ibu Desi yang menelpon saya bertanya, "Pak, Pak Maliknya dibawa kemana? Ke Gg. Awang Nur apa ke Buru?" Pertanyaan via HP itu saya terima pada pukul empat kurang sepuluh, hari Rabu (02/ 04) ini. Saya masih menyetir mobil menjelang ke rumah setelah dari SPBU yang sudah ditutup karena kehabisan stok BBM saat Ibu Desi menelpon.


Dalam kebingungan, saya balik bertanya, "Malik? Malik mana?" Saya belum ngheh dengan pertanyaan itu. "Malik, Pak. Malik pramuka itu!" Jawab dari seberang. Semakin penasaran, saya terus bertanya. "Mengapa, Malik?" Ibu Desi menjelaskan kalau Malik, sekretaris II Kwarcab Karimun itu telah tiada sejak siang tadi. Akhirnya saya jawab bahwa saya tidak tahu. Saya belum mendengar apapun perihal Malik, sahabat saya itu. Sebagai salah seorang Wakil Ketua Gerakan Pramuka Kwarcab Karimun, saya benar-benar terpukul mendengar berita itu.

Dalam waktu yang sama, di HP yang satunya lagi, masuk sebuah SMS yang bertanya perihal keberadaan Malik juga. SMS itu menanyakan dimana Malik saat itu. Saya benar-benar bingung. Akhirnya saya mencoba menelpon langsung Pak Arif Fadhillah, Ketua Harian Kwarcab Karimun. Sedihnya, dua kali saya call kedua-duanya 'ditolak' dengan nada operator dari seberang, "Nomor yang anda tuju sedang sibuk!"

Saya benar-benar bingung. Antara percaya dan tidak, saya teringat satu hari sebelumnya (Selasa, 01/ 04) saya baru saja bertemu dengan Abdul Malik di Gedung Olahraga Badang Perkasa. Kebetulan saya akan menghadiri rapat Evaluasi MTQ Provinsi yang diadakan di Gedung Olahraga tertutup itu. Saya tidak melihat ada tanda-tnada apapun mengenai Malik. Kami bersalaman setelah saya menyapanya yang tengah duduk di kursi kerjanya. Malik adalah salah seorang pagawai di Kantor Pemuda Olahraha Kabupaten Karimun. Di kwarcab dia adalah tangan kanan Pak Dul ynag sekretaris umum itu.

Sampai di rumah baru saya dapat informasi bahwa Malik pada saat itu sudah di pelabuhan. Beberapa saat lagi dia akan diberangkatkan ke Buru, kampung halanmannya. Saya ingin ikut tapi tidak terkejar lagi. Kapal pembawa mayatnya baru saja berangkat mening galkan pelabuhan Karimun pada saat saya menerima telpon dari Ikhwan, Bendahara Kwarcab Karimun. Saya benar-benar sedih. Sedih karena kehilangan sahabat pramuka sekaligus sedih karena tidak dpat ikut bersama mengantarnya ke Buru sana.


Selamat jalan, sahabat pramuka. Selamat menghadap Tuhan yang Mahaesa. Percayalah, Dialah Sang Pengasih dan Penyayang kita. Jika ada amal-ibadah yang sudah dibuat ketika di dunia, percayalah itu akan diterima juga. Tindak-tanduk dan ibadah itu tidak akan kemana-mana. Hanya itu sesungguhnya deposito dan tabungan kita. Yang tersimpan di bank atau di brangkas akhirnya ‘kan tinggal juga. Siapa sangka nyawa itu pergi begitu tiba-tiba. 

Kami yang engkau tinggalkan, akan terus mengingat jasa-jasamu khususnya di kepramukaan Karimun. Kami juga akan mendoakanmu, semoga sahabat diterima-Nya di sisi-Nya dengan baik dan tenang. Entah akan berjumpa entah tidak, tapi pasti kami akan menyusul sahabat. Tapi kita akan berjumpadi mana, entahlah. Hanya ada dua rumah kita: syurga atau neraka. Sekali lagi, selamat jalan sahabat pramuka!*** 

1 komentar:

Silakan