Kamis, 03 April 2014

Jika Anak Bertanya (Bukan) Haknya

SEORANG guru pembina setengah geram berkisah. Katanya dia sangat sedih sekaligus benci. Mereka tidak mengerti dan sama sekali tidak terlibat diri. Tapi sok tahu dan memberi komentar yang tidak perlu. Itu mengganggu perasaan saya. Saya sudah 'bertungkus lumus' bekerja tapi dituduh yang bukan-bukan saja. Ah, benci aku.


Kurang lebih begitu cerocosan mulut guru pembina itu bercerita kepada saya. Kebetulan kami berjumpa pagi Selasa (01/ 04) kemarin di Gedung Olahraga Badang Perkasa, Karimun. Saya datang ke situ sekitar pukul 10.00 WIB sesuai undangan. Tapi para pejabat penting yang konon akan datang belum ada. Kabarnya di Kantor Bupati Karimun ada rapat yang juga diikuti para pejabat di sana. Jadi, menunggu usai rapat di sana baru rapat di Badang Perkasa akan dibuka. Begitu kata salah seorang undangan kepada saya.

Semula saya tidak ngeh dengan apa yang dikeluhkan guru pembina ini. Yang saya tahu, wanita yang sudah tidak lagi berprofesi sebagai guru (pendidik) itu, dalam beberapa bulan menjelang pelaksanaan MTQ (Musabaqoh Tilwatil Quran) ke-5 Provinsi Kepri 2014 di Karimun bertanggung jawab dalam persiapan tari masal untuk acara pembukaan dan penutupan MTQ itu. Sebagai pejabat struktural di Dinas Pariwisata, dia oleh Kepala Dinas Pariwisata --sebagai penanggung jawab tari massal-- ditunjuk mempersiapkan tari itu. Dia harus memastikan bahwa persiapan tari benar-benar sempurna. Itu sebabnya, pagi, siang dan malam dia masih di arena untuk membimbing latihan.

Ada 700-an orang siswa (SLTP/ SLTA) se-Pulau Karimun dipilih untuk mendukung tari kolosal itu. Latihannya sudah dimulau tiga bulan sebelum MTQ dilaksanakan. Setiap pekan mereka latihan sebanyak dua-tiga kali. Bahkan satu bulan menjelang hari H (21 Maret lalu) latihannya ditingkatkan menjadi setiap hari. Latihannya dilaksanakan pada malam hari selain pagi dan siang.

Sesuai penjelasan awal dari pembina, para penari, akan diberi bantuan uang transportasi setiap kali hadir dalam latihan. Dan ternyata, inilah pangkal masalahnya. Sehabis helat MTQ, para penmari mempertanyakan 'honor' mereka. Mereka merasa akan mendapat sejumlah uang dari jerih-payahnya berlatih dan tampil di malam pembukaan dan penutupan. Ada segelintir berita tidak resmi yang mereka dengar bahwa mereka akan mendapat honor lumayan besar. Hitung-hitung mereka, mereka membayangkan akan mendapatkan uang kes antara 600 - 800 ribu rupiah per orang.

Ketika gawe MTQ usai, mereka oleh guru pembina dari sekolah masing-masing hanya mendapat uang sebesar 100-250 ribu rupiah per orang. Inilah yang mereka protes. Mereka konon sampai menulis di facebook perihal keluhan dan protes itu. Celakanya, keluhan di media sosial itu ditanggapi orang-orang yang tidak mengerti persoalan. Justeru tanggapan dari orang-orang yang tidak menerti masalah inilah yang membuat panas telinga pembina.

Menjadi rumit karena ternyatra para penari (anak-anak sekolah) itu berpikir dan bertanya sesuatu yang sebenarnya bukan hak mereka. Mereka --menurut pelatih/ penanggung jawab tari-- merasa akan mendapat honor. Padahal tidak pernah ada janji mendapatkan honor menari. Sebelumnya mereka hanya dijanjikan akan diberi wuang transportasi. Setiap hari akan diberi uang transport sebesar Rp 10.000 (sepuluh ribu rupiah) per siswa. Bukan uang honor. Dan uang transport pun dibayar sesuai dengan data absensi. Artinya bagi siswa yang tidak absen dengan mengisi data kehadiran maka mereka akan dibayar sesuai janji.

Kini persoalannya jelas bahwa anak-anak itu tidak mendapat penjelasan yang benar mengenai hak dan tanggung jawab mereka sebagai peserta tari untuk kegiatan MTQ itu. Tegasnya, mereka bertanya yang sebenarnya bukan haknya. Maka ributlah persoalannya. Dan karena itu pula pada Selasa lalu itu harus ada rapat antara penanggung jawab dengan para penari itu. Hadir juga pejabat teras seperti Wakil Bupati, Sekda dan Kepala Dinas Pariwisata. Syukurnya, dalam rapat itu mereka dapat mendengar langsung informasi yang sebenarnya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan