Rabu, 26 Maret 2014

Teguran Magrib

SORE Selasa (25/ 03/ 14) itu saya ke stand bazar dan pameran MTQ. Ini kali kedua kesempatan datang dan melihat-lihat. Kaena sibuk, memang tidak selalu ada waktu walaupun hati mau. Sebelumnya pergi dengan isteri hanya dapat melihat beberapa stand saja. Belum semua sempat melihat-lihatnya. Makanya sore itu saya kembali membawa isteri untuk melihat-lihat lagi.

Mungkin keasyikan menyaksikan begitu hebatnya stand-stand pameran bersempena MTQ (Musbaqoh Tilawatil Quran) ke-5 Provinsi Kepri di Karimun itu saya lupa kalau waktu solat magrib sudah hampir sampai. Segera saya mengajak isteri untuk segera pulang ke rumah dari pada nanti kemalaman dan terpaksa lagi magrib di jalanan (masjid yang ada di jalan, bukan masjid dekat rumah) seperti pengalaman sebelumnya. Kami berusaha terburu-buru menuju parkir untuk mengambil mobil. Saya pikir sebentar lagi akan terdengar azan dari kejauhan.

Saya tentu saja semakin ingin cepat-cepat meninggalkan lokasi parkir. Pasti akan menjadi masbuk jika pun terkejar solat berjamaah di masjid atau musolla kalau tidak berusaha cepat. Dalam kekalutan waktu yang terjepit itu saya melakukan kesalahan ketika berusaha memutar arah mobil. Saat saya memundurkan mobil itu ternyata saya tidak awas kalau di belakang ada mobil lain. Zuzuki Ertiga warna putih itu tersenggol sedikit dan menyebabkan bagian belakangnya yang beradu dengan bagian belakang mobil saya sedikit rusak. Asesoris warna merah yang menempel di bagian mobil itu pecah dan lepas dari tempatnya.

Saya berusaha melihat dan seorang tukang parkir yang melihat saya mengatakan kalau mobil putih itu sedikit lecet. Padahal mobil saya juga mengalami lecet catnya. Saya berusaha menenangkan tukang parkir itu. Pemilik mobilonya saya tidak melihat waktu itu. Saya minta tukang parkir itu tenang saja. Dan setelah membayar uang parkir saya berusaha pergi. Tapi saya tinggalkan pesan jika pemilik Ertiga itu tahu, katakan saja saya.

Rupanya si pemilik mobil itu tahu dan berusaha mengejar saya yang menuju ke arah jalan besar sana. Sekitar 200-an meter dari situ, saya melihat --melalui kaca spion-- mobil putih itu di belakang saya sambil membunyikan klakson. Saya tahu itu adalah dia maka saya berhenti menjelang ke jalan raya Teluk Air itu. Lalu kami berdebat sebentar. Dia minta saya bertanggung jawab. Saya tegaskan kalau saya akan bertanggung jawab. Tapi karena mau magrib, saya minta diselesaikan besoknya saja. Lalu saya meninggalkan nomor HP saya. Dan kami sepakat besok (Rabu) kembali bertemu.

Bagi saya, peristiwa ini adalah musibah kecil yang menjadi peringatan buat saya. Seharusnya saya tidak lagi di lokasi pamaeran menjelang magrib itu. Tapi karena asyik dan lupa akhirnya membuat saya terburu-buru waktu memutar mobil. Dan terjadilah peristiwa itu. Ah, mungkin Tuhan memberi peringatan, kata saya dalam hati menjelang sampai di rumah. Akhirnya saya juga tidak sempat ke masjid untuk berjamaah.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan