Sabtu, 29 Maret 2014

Jangan Ragu, Anakku

PAGI Sabtu (29/ 03) ini saya berkesempatan memberi motivasi kepada seluruh siswa kelas XII. Sebagai hari terakhir menggunakan kostum baju kurung Melayu (biasanya kostum olahraga) bersempena pelaksanaan MTQ ke-5 Provinsi Kepri di Karimun, siswa/wi hari ini tidak melaksanakan program Senam Pagi Sabtu Pagi. Selepas apel, para siswa (kelas X dan XI) melaksanakan kegiatan eskul yang bersifat teoritis. Sementara kelas XII seperti biasa bersama guru BP/ BK mendengarkan bimbingan dan pengarahan di ruang musolla. Oleh guru BP/ BK saya diminta memberi pengarahan.

Karena topik pengarahan mengenai Ujian Nasional (UN) maka yang pertama saya tanya, apakah para siswa sudah siap untuk menghadapi UN medio April nanti? Ternyata tidak serempak mereka menjawab. Bahkan saya menangkap kesan mereka agak ragu-ragu atas pertanyaan saya itu. Dan saya tidak memkasa menjawab lagi. Saya justeru langsung memberi jawaban sendiri dengan mengajak mereka untuk siap dan siap. Harus tetap siap. Tidak ada kata tidak siap karena waktunya memang hanya tinggal dua pekan saja lagi.

Dalam diskusi selanjutnya, saya menyimpulkan kalau sebagian mereka memang belum benar-benar 'siap tempur' menjelang UN itu. Ketika saya katakan bahwa nilai UN nanti akan menjadi salah satu komponen di samping nilai sekolah (Nilai Rapor plus Nilai US) mereka juga tidak terlalu yakin akan sukses. Keraguan akan UN yang selalu menakutkan, membuat mereka bertambah ragu. Mungkin mereka terlalu sering menerima informasi 'menakutkan' dari pada menyenangkan berkaitan dengan UN.

Inilah salah satu kegagalan sebenarnya dari para guru. Kesalahan menyampaikan informasi tentang UN dan segala seluk-beluk pelaksanaannya oleh guru membuat masih ada siswa yang terlalu takut UN. Terlalu fokus memikirkan kelulusan membuat mereka malah tidak fokus mempersiapkan proses kelulusan/ ketidaklulusan itu sendiri.

Sesungguhnya mereka tidak perlu merasa takut. Kelulusan dan atau ketidaklulusan pada hakikatnya adalah konsekuensi dari proses pembelajaran yang sudah mereka lalui selama enam semester sebelumnya. Dalam enam semester (tiga tahun pelajaran) mereka melalui dan melakukan proses pembelajaran untuk Mata Pelajaran yang akan di-UN-kan  itu. Soal UN yang hanya 40-50 soal saja dari sekian banyak materi yang sudah diajarkan, tidak seharusnya membuat mereka takut dan khawatir.

Jika saja proses pembelajaran dilalui dengan baik tahap demi tahap, tidak perlu ada materi yang menakutkan. Jika saja guru mengelola dan memberikan pembelajaran yang baik, tentu saja materi itu akan tuntas terberikan. Jika saja para siswa mengikuti proses pembelajara dengan baik, sudah pasti akan terserap materi pelajaran itu dengan baik. Singkatnya, selama proses pembelajaran siswa dan guru berkesempatan membahas dan mendiskusikan semua materi itu dengan baik maka hasilnya juga akan memuaskan.

Lalu mengapa harus merisaukan UN dengan hanya 40-50 soal yang akan diujikan? Bukankah jika guru atau siswa merasa belum tuntas untuk materi-materiyang selama itu dipalajari, juga sudah dilakukan remidi-remidinya? Jadi, tidak seharusnya ada keraguan oleh para siswa dalam enghadapi UN. Percayalah, anak-anakku. Kalian tidak perlu ragu apalagi takut!***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan