Rabu, 01 Januari 2014

Mengapa Membuka Tahun dengan Dosa?

PERTANYAAN itu muncul setelah seharian ini saya membaca pesan-pesan di facebook teman-teman tentang ramainya anak-anak muda yang merayakan malam tahun baru 2014 dengan hura-hura berbuat dosa. Berbuat dosa? Ya, berbuat dosa. Mereka berjoget laki-perempuan bercampur baur. Berjingkrak-jingkrak seperti orang kesurupan. Ah, apa iya?


Sebuah status berbunyi begini: tadi malam,, banyak orang yg gembira, tertawa, dalam merayakan pergantian tahun. tapi dihari ini,, banyak yang menangis, sedih,, cemas , gelisah, menyesal.. kenapa ??? uang habis dengan percuma, miras membawakan mereka berada dirumh sakit, seks bebas menambah deretan panjang anak lahir tanpa bapak. Saya kutip utuh bunyi status itu dengan huruf miring. Kalimat terakhir dari status itu sungguh menakutkan.

Masih ada beberapa komentar yang memperkuat status-status semacam itu. Intinya, ternyata pergantian tahun telah disalahgunakan oleh beberapa orang anak manusia dengan cara salah. Mereka merayakannya di tempat-tempat tertentu yang gelap dan tersembunyi. Hanya dua orang atau beberapa orang saja dengan maksud dan tujuan yang sama. Konon kisahnya, di malam menjelang datangnya tahun baru itu bolehlah menyerahkan kehormatan kepada orang yang disayang. Huih, sungguh menakutkan.

Orang yang disayang itu tidak lebih dari seorang lelaki yang dianggap menyayanginya. Seorang wanita, tidak menyesal menyerahkan mahkota paling berharga yang dimilikinya kepada lelaki yang katanya menyayanginya. Sungguh cara berpikir yang sangat keliru. Apakah dia tidak berpikir bahwa perbuatan itu bukan saja berdosa karena memang belum menikah, tapi lebih dari itu cara berpikir seperti itu akan merusak sikap dan cara pandang itu sendiri.

Sebenarnya tidak ada yang perlu dirayakan dengan datangnya tahun baru itu. Apalagi jika yang merayakannya adalah seorang muslim. Tidak ada ajaran agama yang menyarankan apalagi memerintahkan untuk memperingati tahun baru Masehi itu. Jika pun ingin menjadikan pergantian tahun sebagai peringatan untuk diri sendiri, boleh saja. Itu berarti, yang harus dilakukan adalah instrokpeksi diri, apakah kita sudah melakukan tindakan dan perbuatan yang baik selama ini. Apakah kita sudah membuktikan bahwa kita bertanggung jawab atas amanah yang diberikan Tuhan atas kehidupan yang kita terima ini?

Tidak harus membuka tahun baru (tahun baru apa saja: Islam, Kristen, Budha, China, dst) dengan berhura-hura berbuat dosa. Silakan memperingatkan dirinya di awal tahun baru atas perbuatan dan tindakan yang sudah dilaksnakan selama ini. Jika terlanjur berdosa, minta ampunlah. Jika kurang amal-ibadah, lanjutkan dan tingkatkan saja amalannya. Itulah yang benar, bukan dengan membuat dosa. Nauzubillah!***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan