Jumat, 10 Januari 2014

Memagar HIV/ AIDS di Sekolah, Bisakah?

TIBA-tiba saja saya risau mendengar penjelasan dokter itu. Ahad (15/ 12) hampir sebulan yang lalu, kebetulan ada acara arisan kelompok ISHAJ 1427 --sebuah kelompok silaturrahim haji di Karimun-- di rumah saya. Pertemuan bulanan ini memang bergilir di rumah-rumah anggota yang berjumlah 20 KK itu. Bulan Desember ini giliran di rumah saya tempat pertemuannya.


Seperti biasa, selalu ada acara tambahan selain solat berjamaah, berdoa, makan dan tentu saja mencabut undian arisan. Dan acara tambahan kali ini adalah pencerahan bidang kesehatan oleh dokter yang kebetulan menjadi salah seorang anggotanya. Pak dr. Suharyanto --begitu nama dokter ini-- akan memberikan materi HIV/ AIDS selalin juga menerima pertanyaan perihal penyakit lain.

Yang membuat bulu roma saya berdiri adalah ketika dia menjelaskan bahwa penyakit HIV/ AIDS itu saat ini sudah sangat dekat dengan kita. Terutama ibu-ibu yang tidak berdosa, justeru semakin terancam oleh virus yang belum ada obatnya ini. Menurut data yang disampaikan oleh Pak Dokter yang menjadi tim kesehatan haji ketika kelompok kami berangkat haji pada tahun 2006/ 2007 lalu bahwa saat ini justeru pengidap HIV/ AIDS adalah ibu-ibu rumah tangga yang tak berdosa. Mereka ternyata tidak menyadari kalau mereka sudah terjangkiti virus berbahaya itu.

Bagaimana mereka bisa terjangkiti? Itulah yang merisaukan. Semua kami yang mendengar keterangan dokter itu benar-benar risau. Karena ternyata virus itu datang dari para suami yang tanpa diketahui oleh para isterinya bahwa para suami itu telah melakukan perbuatan terkutuk itu. Mereka melakukannya dengan para WTS di lokalisasi. Di rumah, mereka dilayani dengan baik oleh para isteri sementara di luar sana mereka melakukannya dengan wanita-wanita yang sebagian besar (bahkan semuanya) sudah mengidap penyakit HIV/ AIDS. Betapa malangnya menjadi isteri yang bersuami hobi 'jajan'.

Sebagai guru, saya membayangkan bahwa suatu saat nanti akan muncul berita yang lebih menakutkan, ada siswa yang terjangkiti penyakit ini. Dari mana? Ya, dari ibu-ibu yang mengidap HIV/ AIDS dan melahirkan keturunan (anak) yang ternyata juga terjangkiti penyakit yang sama. Siapakah yang mau disalahkan jika nanti akan ada data yang menerangkan bahwa beberapa orang siswa terjangkit penyakit menakutkan ini? Dapatkah sekolah memagar dirinya dari terjangkiti penyakit HIV/ AIDS?


Sesungguhnya informasi ini tidak sekedar akan membahayakan ibu-ibu yang tidak berdosa itu. Bagaimana seorang ibu yang kesehariannya hanya di rumah mengurus rumah tangga dan anak-anaknya, tiba-tiba saja dia mengidap penyakit ini yang dia terima dari suami yang ternyata diam-diam jajanan di lokalisasi atau di tempat-tempat entah di mana. Lalu dari hubungan 'baik' suami isteri ini lahir pula anak yang ternyata ikut menderita juga. Dan jika usianya panjang, tentu akan sampai di sekolah pula. Inilah yang merisaukan. Informasi doketer itu benar-benar harus menjadi perhatian oleh semua pihak. Harapannya, bagaimana penyebaran HIV/ AIDS ini segera menjadi perhatian dan sama-sama dicarikan solusinya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan