Selasa, 14 Januari 2014

Hati-hati Maulid Nabi

"Bukan keinginan memperingati Hari Lahir Nabi saja yang utama tapi jauh lebih utama adalah kewajiban melahirkan semangat baru untuk memajukan dan mengembangkan sekaligus mengamalkan akidah yang telah ditinggalkan baginda Rasulullah. Menguatkan dan mengokohkannya dalam keyakinan, itulah kunci bukti kita memperingati." Kalimat itu adalah bunyi status yang saya tulis di akun facebook saya pada pagi Selasa (14/ 01/ 14) bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1435. Sekedar berpesan singkat kepada para sahabat di mana saja yang sempat membaca status itu.

Ternyata kalimat itu tidak terlalu ramai yang mengunjunginya. Itu saya simpulkan dari temana-teman yang menandainya. Yang memberi status like tidak sebarapa. Hanya 20-an orang saja setelah setengah ditayangkan. Tapi yang benar-benar mengunjungi dan membacanya, entahlah. Tuhanlah yang tahu persis. Itu saya tidak tahu dan tidak perlu juga saya pikirkan. 

Ada yang ingin saya ulas dari status itu dalam catatan ini. Pertama, adanya keinginan kita sebagai muslim untuk memperingati hari kelahiran nabi kita. Walaupun tidak ada alquran atau hadits yang menyuruh apalagi mewajibkan memperingati namun setiap tahun datangnya peringatan Hari Milad Nabi Muhammad, 12 Rabiul Awal (Tahun Hijriyah) maka setiap itu pula adanya keinginan untuk memperingatinya. 

Terlepas adanya perbedaan pandangan perihal perlu-tidaknya peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw tapi faktanya selalu diadakan peringatan-peringatan itu. Berbagai acara diadakan: dari pengajian, tablig akbar sampai lomba bernuansa agama. Bahkan peringatan ini tidak hanya di desa-desa atau setingkat kecamatan, malah sampai ke kabupaten, provinsi dan tingkat Pusat.

Salahkah itu? Tidak ada yang salah selama maksud diadakannya peringatan-peringatan itu semata-mata untuk kesempatan belajar dan mempelajari agama yang diwariskannya. Momen hari baik bulan baik, jika umat ingin mengadakan acara-acara pengajian yang disejalankan dengan peringatan hari bersejarah itu tentu saja tidak ada salahnya. Satu-satunya yang dikhawatirkan para ulama hanyalah jika peringatan-peringatan itu justeru mendatangkan mudharat dan atau berbau mengultuskan Rasulullah. Selama tujuan peringatan itu semata memperdalam pengetahuan agama, tentulah itu baik-baik saja.

Hal kedua yang perlu mendapat perhatian dalam status itu adalah bahwa peringatan saja tidaklah cukup. Justeru yang lebih utama adalah bagaimana semangat peringatan itu mampu memajukan dan mengembangkan sekaligus mengamalkan akidah yang diwariskan nabi. Jangan sampai esensi ajaran yang diajarkannya malah semakin jauh dari kehidupan sehari-hari. Menjadi pemikiran, bagaimana menempatkan kenyataan banyaknya kelakuan dan tindakan yang bertentangan dengan ajaran yang ditinggalkan nabi?

Tindakan dan perbuatan koruptif, misalnya, bukankah ini sudah nyata-nyata haram? Menyuap dan disuap juga  jelas ditegaskan kalau tindakan itu haram. Tapi mengapa begitu tidak mudahnya memberantasnya? Dan yang melakukan korupsi, suap-menyuap dan lain-lain yang sejenis itu juga orang-orang yang mengaku beragama. 

Di sinilah pentingnya mengubah persepsi akan perlu-tidaknya peringatan kelahiran nabi ini. Jangan semata-mata sekadar memperingati saja. Apalagi, jika peringatan-peringatan itu malah dijadikan ajang cari nama dan pencitraan diri menjelang Pemilu. Dengan alasan memberi sumbangan untuk peringatan Maulid Nabi, ternyata target yang sebenarnya adalah untuk mencari suara pemilih menjelang Pemilu. Nauzubillah. Jika ini yang terjadi, dosa ria dan penyalahgunaan wewenang malah akan menimpa kita.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan