Rabu, 11 Desember 2013

Kisah Nyata di Saat Rapat: Susahnya Menjadi Kembaran

KISAH-kisah aneh tapi nyata dari dua orang yang kembar sudah sering terdengar. Tapi apakah Anda pernah menyaksikannya langsung? Jika Anda adalah kembaran saudara Anda, apakah pernah mengalaminya? Mungkin di antara kita ada yang sudah pernah melihat langsung dan mungkin juga ada yang sekedar mendengar ceritanya saja.



Konon, ada kisah dua orang kembar yang jika salah satunya filek atau flu, maka yang lainnya juga ikut filek atau flu. Jika salah sakit perut maka yang satunya juga akan ikut sakit perut. Jika salah satunya ingin makan atau minum maka yang satunya lagi juga ingin makan dan minum. Dan jika salah seorang jatuh cinta kepada seseorang, apakah kembarannya juga akan merasakan hal yang sama? Boleh jadi.

Tapi yang saya saksikan langsung beberapa hari lalu adalah kisah seorang ibu guru yang mengeluh sakit yang ternyata disebabkan oleh kembarannya yang sedang sakit pada saat itu. Anehnya, kembarannya itu tidak berada di tempat yang sama. Si guru ada di sekolah sementara kembarannya ada di rumah sakit bersalin.

Pagi --Sabtu, 07/ 12/ 13-- itu ada rapat di sekolah, SMA Negeri 3 Karimun. Rapat diadakan dengan agenda persiapan Ujian Semester Ganjil yang akan dilaksanakan pada 16 Desember nanti. Kepala Sekolah memimpin rapat setelah sebelumnya seluruh warga sekolah melaksanakan Senam Kesegaran Jasmani Sabtu Pagi. Rapat ini mengambil waktu Gotong Royong (Goro) pasca senam dan kegiatan eskul yang jadwalnya sehabis Goro. Rapat sengaja dilaksanakan karena ada juga agenda lain selain persiapan ujian semester.

Setengah jam rapat berjalan, sepertinya tidak ada kejadian yang aneh. Tapi ternyata ada seorang guru yang sejak rapat dimulai sudah menunjukkan kegelisahannya. Mukanya tampak seperti menahan kesakitan. Dia tidak tampak tenang dalam rapat itu. Sebagian besar rekan-rekan guru sama sekali tidak menganggap ada hal yang aneh dengan Ibu Guru itu.

Tapi rupanya satu dua orang rekan guru yang dekat duduk dengan Ibu Dewi, begitu dia disapa, sudah tahu kalau ibu guru yang mengampu Mata Pelajaran (MP) Geografi itu tengah menanggung rasa sakit. Dia tampak selalu menekan bagian bawah perutnya. Di situlah rasa sakit yang dia rasakan itu. Dan rasa sakit itu ternyata ada hubungannya dengan saudara kembarnya yang pada saat yang sama tengah berjuang dalam kesakitan yang mungkin lebih dahsyat. Kembaran Ibu MP Geografi itu tengah berjuang untuk melahirkan anaknya di Rumah Bersalin RAP Karimun.

Seorang guru tiba-tiba maju ke depan, menghadap pimpinan rapat. Dia memberitahukan kepada Kepala Sekolah bahwa Ibu Dewi yang duduk di bagian belakang, minta izin untuk tidak ikut rapat. Dia ingin istirahat saja di salah satu ruang. Kata guru yang memberi laporan bahwa Ibu Dewi sedang merasakan sakit yang amat berat juga karena saudara kembarnya saat itu tengah akan melahirkan di rumah sakit. Begitu kurang lebih dilaporkan kepada sidang rapat. Akhirnya ibu itu diizinkan untuk keluar ruang rapat dan istirahat saja di temapat lain.

Saat itu saya teringat cerita aneh tapi nyata yang selama ini saya dengar berhubungan dengan orang-orang kembar. Saya juga ingat anak-anak kembar ketika masih kecil yang oleh orang tuanya dengan bangga memperlakukannya secara sama. Jika memakaikan baju, biasanya bajunya dibuat sama warna dan disainnya. Jika dia wanita dan memakai kucir rambut, maka kedua-duanya bisanya diberi kucir yang sama.

Perlakuan yang sama ini di satu sisi memang kelihatan bijaksana karena seolah-olah orang tuanya memperlakukan anaknya yang kembar itu secara sama pula. Di sisi lain terkadang bagi orang lain membuat pakaian dan --biasanya wajahnya juga sama-- perlakuan yang sama itu menyulitkan untuk menegur atau memanggilnya. Walaupun namanya juga terkadang dimirip-miripkan, tapi tetap ada sedikit perbedaannya. Dan perbedaan yang sedikit itulah yang membuat sulit orang untuk menyapanya.

Saya ingat, ada pesan dari seorang teman yang kebetulan juga memiliki anak (laki-laki) kembar. Katanya untuk membuat anak-anak kembar tidak saling terpengaruh satu sma lainnya adalah dengan memperlakukan si kembar secara berbeda sejak kecil. Pak Heri, begitu teman saya itu dipanggil menyebutkan bahwa dua orang anak laki-lakinya yang kebetulan berprofesi sama: sebagai polisi. Tapi katanya, keduanya anaknya itu sama sekali tidak saling terpengaruh secara kijiwaan antara satu dengan lainnya.

Tip yang dipesankannya, disamping tidak boleh memperlakukannya secara sama persis (pakaian, nama, makanan dll) juga katanya dengan cara memisahkan ari-ari anak-anak ini ketika baru saja lahir. Jika salah satu dikuburkan maka yang lainnya sebaiknya dihanyutkan saja di sungai. Dengan demikian keduanya tidak akan saling terpengaruh secara kejiwaan. Benarkah? Buktinya, memang keduan anaknya tidak ada saling terpengaruh sejak kecil dulu. Saat ini katanya, satu anaknya bertugas di Palembang dan yang satunya lagi di Pulau Jawa. Keduanya memang bertugas di kepolisian tapi dengan satuan yang juga tidak sama. Pendidikannya juga tidak di tempat yang sama.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan