Minggu, 29 Desember 2013

Jokowi Cawapres, Aduh Jangan

FENOMENA Jokowi membuat banyak tokoh politik bagaikan merana. Tidak hanya lawan-lawan PDI-P, partai pengusung Jokowi  yang tidak suka tapi di internal partai merah itu juga tidak kurang yang sewot melihat Jokowi bak meteor di blantika perpolitikan Indonesia. Syukurlah, kekuatan Mega dengan pengaruhnya yang masih dominan berhasil membuat keberadaan Jokowi di internal PDI-P tidak menimbulkan riak apapun. Dugaan Mega merasa tersaingi oleh Jokowi juga tidak dibesar-besarkan media.

Sementara (Nenek) Mega tidak juga menegaskan bahwa dia tidak lagi akan maju sebagai Capres PDI-P padahal mandat partai 'wong cilik' itu diserahkan sepenuhnya ke dia untuk menunjuk, penggemar Jokowi terus-menerus melambungkan gubernur berbadan kurus itu. Di berbagai media, terutama media sosial, Jokowi terus dipuji-puja walaupun juga ada yang menghina. Yang pasti nama Jokowi terus berkibar di atas puncak elektabilitas para calon yang sudah mendeklarasikan dirinya. Bahkan jauh meninggalkan elektabiltas Mega sendiri.

Di satu sisi, isteri almarhum Taufik Kiemas itu tentu senang karena partainya secara tidak langsung akan terbawa nama 'hebat' Jokwi tapi di sisi lain, di hati terdalamnya juga gusar karena ternyata keberadaan Jokowi dalam gerbong PDI-P tidak serta-merta mengerek nama bosnya di elektabiltas Capres. Jokowi berkibar di puncak memang karena dirinya sendiri. Nama Jokowi malah jauh lebih di atas dari pada Megawati. Ini jelas tidak mudah diterima oleh pemilik kuasa tunggal partai itu.

Belakangan, berita hangat yang disuburkan media adalah kemungkinan Jokowi diduetkan dengan Mega dalam Capres-Cawapres 2014 nanti. Artinya Jokowi akan diplot saja sebagai Cawapres. Padahal nama Jokowi itu naik justeru dalam posisi Capres. Elektabilitas Jokowi sebagai Capres yang tidak pernah tertandingi oleh siapapun membuat fenomena Jokowi semakin fenomenal saja. Berita dan analisis tentang Jokowi, baik sebagai Gubernur DKI yang diulas bersama Ahok maupun sebagai pribadi yang digadang-gadang pendukungnya untuk maju sebagai presiden RI nanti, membuat nama Jokowi terus melambung tinggi.

Jika para pendukung Jokowi saat di tanya, apakah mendukung Jokowi sebagai Capres atau sebagai Cawapres, dapat dipastikan bahwa yang diinginkan adalah Jokowi sebagai Capres. Bukan sebagai Cawapres. Bahkan diduetkan dengan Megawati sekalipun, pendukung Jokowi akan kecewa karena yang diharapkan adalah posisi RI-1. Hanya di posisi itu Jokowi akan berkekuatan penuh mengelola negara ini sebagaimana dia mengurus DKI yang penuh masalah itu.

Mega yang  di satu sisi sudah diharapkan sebagian besar para pendukungnya untuk lengser secara terhormat namun  di sisi lain sang Ketua Umum ini juga tidak secara eksplisit menyatakan akan lengser demi partai atau akan maju terus, membuat peta Capres-Cawapres di PDI-P memang masih mengambang. Dan Mega sepertinya memang sengaja mengambangkan keputusan tentang hal penting ini. Dia selalu mengatakan bahwa Capres PDI-P akan diumumkan setelah Pemilu Legislatif nanti. Akan ada Munas partai lagi untuk memutuskannya. Sampailah opini seperti saat ini berkembang ke arah kemungkinan dia berduet dengan Jokowi. Itu semua disebabkan dia belum membuat ketegasan. Kelihatannya dia menikmati suasana politik seperti itu.

Jika Golkar dengan beraninya memutuskan Abu Rizal Bakri (ARB) sebagai jagonya tanpa Cawapres, Hanura mendeklarasikan Wiranto- Hari T sebagai Capres-Cawapres dan Gerindra memutuskan Prabowo tanpa Cawapres tinggal PDI-P dan Partai Demokrat, partai relatif besar yang belum memutuskan. Hanya saja strategi keduanya juga berbeda. Partai Demokrat melakukan konvensi terbuka untuk memutuskan jagonya sementara PDI-P malah sepenuhnya diserahkan ke Mega untuk menunjuk siapa calonnya. Akankah menunjuk orang lain atau dirinya sendiri, anggota dan pengurus partai lainnya tidak berhak menggugatnya. Itulah khasnya PDI-P.

Tapi jika mengikuti arus suara di media, sepertinya tingkat keterpilihan Mega memang tidak akan bisa lagi diatas para capres lainnya. Fakta dua kali dia maju dan tidak pernah dipilih rakyat secara mayoritas, akan menjadi kartu mati Mega di Pemilu 2014 nanti. Apakah karena itu lalu muncul ide menggandengkannya dengan Jokowi yang namnaya lagi di atas awan? Boleh jadi begitu cara pandang pendukung Mega. Bagaimanapun, orang-orang sepuh di partai banteng seperti Tjahjokumolo, dkk selalu mengatakan Bu Mega masih pemimpin terbaik. Apakah karena sekedar 'ambil muka' atau benar-benar di hatinya? Itulah politik.

Sebagai penyuka Jokowi, saya memandang tidak tepat jika Mega memaksakan kehendaknya untuk maju menjadi Capres dengan memaksakan Jokowi sebagai Cawapres. Itu akan menjadi bumerang buat partai. Sebagian anggota dan pengurus begitu ramai yang berharap Mega turun terhormat, nanti akan terang-terangan memberontak. Belum lagi penggemar Jokowi non partai yang juga akan balik kanan mencari Capres lain yang lebih muda dan fresh untuk memimpin negara besar ini. Jadi, jika Jokowi ingin digandengkan dengan Ibu Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri alias Ibu Mega yang sudah berusia hampir kepala tujuh (lahir 23.01.47) itu, aduh janganlah. Paling tidak menurut saya. Kasihan Jokowi dan PDI-P sendiri.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman