Senin, 02 Desember 2013

Disiplin Hanya Bisa dengan Hati, Bukan dengan Absensi

ADA banyak cara yang dipakai sekolah untuk membuat warganya berdisiplin seperti hadir tepat waktu. Melihat peserta didik masih banyak yang terlambat, terkadang sekolah menggunakan pendekatan tegas dengan menutup pintu pagar --misalnya--  pada jam yang sudah ditentukan. Tapi bagi sekolah yang belum atau tidak berpagar tentu saja cara ini tidak mungkin.


Persoalan kurang disiplin kehadiran di sekolah ternyata tidak selalu hanya monopoli peserta didik (siswa). Ternyata pendidik (guru) atau tenaga kependidikan (pegawai) juga ada yang tidak atau belum disiplin. Masih banyak yang sering suka datang terlambat dan pulang ke rumah lebih cepat. Tidak sesuai jadwal. Sedihnya, ketika mengisi daftar hadir (absesnsi) banyak pula para pendidik dan atau tenaga kependikan ini yang tidak jujur. Misalnya, datang terlambat tapi tetap diisi jam datangnya dengan waktu seolah-olah tepat waktu. Begitu pula ketika kembali pulang. Sudah nyata duluan ngacir pulang, tapi di daftar hadir tetap saja diisi jam sebagaimana mestinya alaias seolah-olah tidak terlambat.

Karena gagal, lalu sekolah membuat kebijakan baru dengan mengganti buku tanda tangan/ paraf daftar hadir dengan bentuk lain. Kini bukti tanda tangan datang dan pulang tidak lagi menggunakan buku absensi. Sudah diganti dengan penggunaan kartu absensi. Setiap guru wajib memasukkan kartu kehadirannya ke mesin absensi yang akan mencatat secara otomatis kapan seorang guru/ pegawai datang atau kembali pulang. Jadi, tidak lagi memakai tanda tangan atau paraf. Sudah disiplin? Ternyata belum juga.

Terbukti ada pula guru atau pegawai yang kartu identitas untuk bukti hadirnya tidak dimasukkan sendiri. Ada guru atau pegawai lain yang memabantunya untuk mencolokkan kartu itu ke mesin absensi. Begitu juga ketika akan pulang ke rumah. Bersekongkol dengan piket atau penjaga mesin absensi adalah penyebab utama kegagalan caqra ini. Guru atau pegawai yang curang tetap saja melakukan pelanggaran dengan datang terlambat atau kembali ke rumah lebih awal dari jam yang sudah ditentukan.

Lalu sekolah membuat gebrakan baru. Mesin absensi diganti dengan model 'cap jempol'. Artinya para guru/ pegawai tidak bisa lagi mewakilkan absensinya kepada guru atau pegawai lain. Cap jempol tidak bisa dikirim atau diwakilkan. Tapi apakah sudah akan disiplin? Belum tentu juga. Bagi guru atau pegawai yang memang tidak mau disiplin tetap saja cara absensi seperti ini tidak akan efektif. Dia akan tetap mencari celah untuk tidak berada di sekolah walaupun mungkin saja cap jempolnya sudah diisi.

Biasanya para guru/ pegawai yang curang ini akan tetap saja mencari jalan bagaimana untuk tidak berada di sekolah. Masih banyak alasan yang bisa dibuat: entah mengirimkan surat, mencari alasan-alasan dan banyak lainnya. Intinya memang tidak akan bisa disiplin walau dengan model absensi apapun.


Sesungguhnya disiplin itu ada di hati. Artinya absensi yang akan membuat seseorang itu berdisiplin atau tidak, sebenarnya akan ditentukan oleh hati masing-masing. Absensi itu sebenarnya memang hanya bisa dengan hati, bukan dengan absensi. Tidak ada pada kertas, kartu atau pada model cap jempol itu. Maka jika sekolah ingin warganya (siswa, guru dan pegawai) berdisiplin maka disiplinkanlah hatinya. Hanya hati masing-masinglah yang akan mampu mengatur diri masing-masing pula. Mengatur dan memimpin diri sendiri jauh lebih mudah dari pada memimpin orang lain. Ingin disiplin? Disiplinkanlah hati masing-masing. Sekolah tidak perlu membuat berbagai instrumen untuk memastikan kehadiran guru atau pegawai. Hatinyalah yang perlu dibersihkan agar mau melakukan yang baik dan benar. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman