Selasa, 19 November 2013

Catatan dari Seminar Pendidikan: Jangan Sekadar Angan-angan

ENAM orang narasumber untuk satu hari. Seminar Pendidikan bertajuk "Persiapan SDM Pendidikan dalam Memasuki Asean Communitu 2015" yang dilaksanakan di Karimun, di satu sisi terasa begitu 'wah' tapi di sini lain seminar ini tidak terlalu efektif. Terasa 'wah' karena seminar sehari itu menampilkan sampai enam orang pakar untuk membahas satu topik sementara waktu yang tersedia amat terbatas.

Seminar yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun dan disejalankan dengan agenda acara HUT PGRI ke-68 dan HGN Tahun 2013 Karimun, diikuti oleh para Kepala Sekolah --dari TK s.d. SLTA-- se-Kabupaten Karimun. Dari seminar ini diharapkan lahir pikiran, bagaimana mempersiapkan Sumber Daya Manusia Karimun khususnya, Indonesia umumnya dalam rangka persiapan memasuki Asean Community yang akan diwujudkan pada tahun 2015 nanti. Hanya tinggal satu tahun (2014) saja lagi, negara Asia Tenggara ini akan menyatu dalam berbagai hal.

Para pakar yang diundang dan menjadi panelis dalam seminar ini adalah 1) Dr. Ir. Bima Haria Wibisana, MSIS, PhD (Wakil Kepala Badan Kepegawaian Negara); 2) Dr. Ing. Ir.Yul Yunazwin Nazaruddin, M. Se, DIC (Kepala Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kemdikbud RI) yang diisi/ digantikan oleh L. Manik Mustikohendro (Kepala Bidang Satuan Pendidikan dan Proses Pembelajaran, Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kemdikbud RI); 3) Drs. Kusnar Budi Handaka, M. Bus (Ketua Prodi Adnimistrasi Keuangan dan Perbankan- Program Vokasi, UI); dan 4) H. Darwis Beddu, MA, Ph D (Direktur Lembaga Kajian Otonomi dan Demokrasi, Makassar).

Selain empat ahli dari Pusat itu ada dua lagi dari Daerah, 1) Drs. H. Yatim Mustafa, MPd (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri) dan 2) Dr. H. Nurdin Basirun (Bupati Karimun). Keenam narasumber ini diset untuk dua sesi (pagi dan siang) dalam membahas topik besar di atas. Sungguh besar seminar ini, seharusnya. Tapi waktu yang pendek membuat kesempatan membahasnya menjadi tidak efektif dan malah terasa dangkal.

Acara seremoni pembukaan baru dimulai pukul 09.30 walaupun persiapan sudah dimulai sejak pagi, pukul 08.00 WIB itu. Dari registrasi peserta yang 300-an sampai kepada menunggu para pejabat undangan, membuat acara dibuka agak terlambat. Prosesi pembukaan berlangsung kurang lebih satu jam. Ditambah paparan bupati sebagai pembuka seminar, akhirnya waktu tersisa menjelang istirahat siang semakin sedikit. Pak Bima dan Pak L. Manik yang tampil di sesi pertama tidak terlalu leluasa menggunakan waktu untuk memaparkan materinya. Peserta pun hanya tiga orang yang sempat bertanya.

Di sesi siang (setelah istirahat makan dan solat) kembali seminar dilanjutkan dengan menampilkan tiga orang lainnya. Waktu yang sebenarnya masih tersedia setelah pemaparan materi oleh tiga orang narasumber ternyata malah tidak dimanfaatkan oleh para peserta untuk bertanya. Ini dapat dipahami mengingat waktu-waktu seperti itu sudah tidak efektif lagi untuk berpikir. Kata salah seorang narasumber, "Kalau selesai makan siang, sebenarnya enaknya tidur," sambil bergurau. Mungkin benar juga ucapannya itu. Karena terbukti tidak ada lagi yang bersemangat untuk bertanya. Boleh jadi, masing-masing sudah ingin kembali ke rumah.

Catatan tersisa ini ingin menegaskan bahwa jumlah pemrasaran yang berlebihan dengan konsekuensi biaya yang lumayan besar dalam sebuah seminar yang singkat, ternyata tidak terlalu efektif untuk mewujudkan harapan yang cukup besar ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti, bagaimana Indonesia --Karimun khususnya-- menghadapi dan bersiap diri dari serbuan negara lain di Asia Tenggara (bahkan dunia) setelah berlakunya Asean Community nanti; sudahkah bangsa ini siap sedia memasuki pasar 9 negara Asiang Tenggara lainnya itu pasca berlakunya Comunitas Asean itu nanti? Dan masih banyak pertanyaan lagi.

Pertnayaan-pertanyaan itu belumlah terjawab dalam waktu pembahasan yang sangat pendek itu. Belum lagi bagaimana startegi menghadapi dunia yang semakin mengglobal? Bagi para Kepala Sekolah yang hadir, tentu saja pemikiran tentang perlunya mempersiapkana SDM yang berkualitas itu menjadi tugas yang sangat berat. Bagaimnanapun memang wajib dihadapi dan bersiap diri. Mampukah kita? Harus dicoba dan diusahakan. Tentu saja tidak bisa dengan berpikiran pesisimis. Sikap optimis, seberat apapun ke depannya, tentu tetap harus dilakukan. Jika tidak, dia akan menjadi sekedar angan-angan.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan