Senin, 13 Mei 2013

Tim Ivenstigasi Pembocor UN, Perlukah?


DALAM acara  Kick Andy di salah satu televisi swasta  bertopik ‘Mahalnya Sebuah Kejujuran’ Andy F. Noya, sang pembawa acara berhasil mengorek dan membuktikan betapa bobroknya pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di beberapa sekolah selama ini. Apa yang selalu ditegaskan Pemerintah (Kemdikbud) bahwa UN berjalan dengan baik, aman dan tertib ternyata tidaklah benar. Sekolah yang menyebut dirinya bersih dan selalu dapat melaksanakan UN dengan benar juga hanya isapan jempol belaka. Kita tercengang mendengarnya.


Dengan menampilkan Nurhidayatussolihah (Aya) salah seorang mantan peserta UN yang saat ini sudah menjadi seorang mahasiswa di semester enam Andy leluasa mengorek simpanan borok itu. Aya –begitu dia disapa-- tidak saja mencerita betapa dia berusaha untuk jujur dalam UN sehingga harus ikut UN sampai tiga kali dalam tiga tahun baru lulus tapi dia juga menceritakan pengalaman di sekolahnya yang waktu itu diduga terlibat membocorkan soal. Aya yang terkenal sebagai siswa cerdas dan selalu ikut berbagai akitiviatas sekolah memang menjadi buah bibir waktu itu karena dia tidak lulus. Padahal rekan-rekannya yang menurut pandangan guru berprestasi di bawah Aya malah lulus. 

Kata Aya pada acara Kick Andy yang disiarkan pada Jumat malam (10/ 05) lalu itu, di sekolahnya waktu itu tiba-tiba saja banyak kertas tergeletak yang ternyata berisi kunci jawaban. Juga ada kunci jawaban yang dikirim lewat SMS ke HP (Hand Phone) masing-masing. Kunci jawaban itu konon memang dibuat oleh sekolah dengan tim yang sudah dibentuk Kepala Sekolah. Sebagai sekolah terkenal dan selalu menjadi favorite Kepala Sekolahnya memang selalu merasa siswanya wajib lulus 100 persen dalam UN. Dan cara yang ditempuh Kepala Sekolah ternyata dengan setiap tahun membentuk tim sukses UN di sekolahnya. Selama itu Kepala Sekolah merasa akal bulusnya selalu dapat disimpan. Padahal siswa yang dulu bisa menyimpan rahasia kotor itu, suatu saat setelah tamat akan membuka mulutnya seperti Aya malam itu.

Andy juga menampilkan seorang guru yang dengan tegas menolak kebijakan sekolah untuk membocorkan soal UN. Guru ini berani menolak tentu saja dengan risiko disisihkan (diberhentikan) dari sekolah tempat dia mengabdi. Lelaki Batak yang jujur dan berintegritas itu seperti kita tahu, akhirnya memang berhenti dari sekolah tersebut sebagai guru. Dia tidak mendapat dukungan atas sikap tegarnya itu.

Kisah sekolah membocorkan soal sebenarnya bukanlah cerita baru dan tidak juga sesuatu yang aneh lagi. Sejak Pemerintah menjadikan hasil UN sebagai salah satu dari empat kriteria kelulusan maka sejak itu pula sekolah berusaha memaksakan agar hasil UN sesuai dengan keinginan sebagai syarat kelulusan. Tiga syarat lainnya sekolah dapat merekayasa hasilnya sementara hasil UN ditentukan oleh hasil pemindaian tim yang ditentukan Pusat, maka sekolah berusaha menyiasati pelaksanaan UN agar anak-didiknya mendapatkan nilai yang akan meluluskan itu. Sedihnya, cara yang dipergunakan sekolah adalah dengan melakukan kecurangan itu.

Sebenarnya strategi dan tugas sekolah untuk mendapatkan nilai terbaik dalam UN tidak perlu dengan merusak UN. Seharus usaha meluluskan peserta didik dalam setiap ujian adalah dengan mengefektifkan proses pembelajaran di sekolah itu sendiri. Pemerintah berkewajiban memenuhi sarana prasana dan tenaga pendidik dan kependidikan sesuai standar yang sudah ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan (PP No 19 Tahun 2005) dan selebihnya menjadi tanggung jawab sekolah. Standar proses yang akan menentukan berhasil-tidaknya peserta didik meraih kompetensi yangn ditetapkan, sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Tapi tidak dengan mencurangi pelaksanaan ujian.

Oleh karena itu, atas segala kecurangan yang sudah terjadi selama ini (seperti dibuktikan dalam acara Kick Andy) itu sejatinya menjadi pemikiran Kemdikbud untuk menyelesaikannya. Jika harus membentuk tim investigasi agar diketahui siapa dan mengapa kecurangan itu tentu tidak ada salahnya. Semoga dengan demikian usaha untuk membiasakan semua pihak bias jujur dalam setiap ujian (Nasional) dalam terwujud. Mungkinkah?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan