Jumat, 10 Mei 2013

Menjual Orang Miskin

PERSOALAN naik atau tidaknya BBM (Bahan Bakar Minyak) selalu dikatakan demi rakyat miskin. Pemerintah dan beberapa pengamat mengatakan harga BBM di Indonesia terlalu murah (karena memang disubsidi) sementara pengguna BBM bersubsidi ternyata justeru orang-orang kaya. Artinya yang menyedot subsidi dari APBN itu adalah orang kaya. Orang miskinnya hanya dapat sedikit saja.

Karena subsidi dikatakan tidak tepat sasaran maka kenaikan BBM harus segera dilaksanakan. Lebih dari itu, subsidi BBM diperkirakan suatu saat dapat menjebol APBN. Jika itu terjadi malapetaka akan menimpa bangsa ini. Jadi, kenaikan harga minya itu merupakan keniscayaan yang tidak mungkin ditolak.

Tapi ternyata tarik-ulur naik-tidaknya BBM tidak juga kunjung selesai. Pemerintah mengatakan harus naik tapi partai politik sebagai lembaga yang memiliki perwakilan di DPR tidak jelas suaranya. Suatu hari mereka mengatakan BBM sudah sewajarnya dinaikkan saja karena hanya dinikmati oleh orang kaya saja. Tapi di hari yang lain mereka juga menolak dengan alasan menambah miskin orang miskin. Itu menganiaya rakyat miskin. Begitu sebagian beralasan.

Sementara waktu berjalan, subsidi juga terus berjalan dan minyak malah kian langka. Di banyak SPBU BBM-nya malah selalu habis. Kalaupun ada, antrinya sungguh sangat panjang dan lama. Pembeliannya juga dibatasi lagi. Sungguh kisruh BBM ini sudah tidak proporsional lagi. Nuasa politiknya semakin tinggi.

Memperhatikan trik dan intrik berkenaan naik-tidaknya harga BBM ini sepertinya lebih kepada pencatutan nama dan status orang miskin di negeri ini. Dengan alasan membantu rakyat miskin, para politisi itu berkoar agar jangan dinaikkan harga BBM. Tapi di sisi lain, justeru para politisi dan orang kaya itu pula yang lebih banyak menyedot BBM. Bahkan oknum pejabat pun ikut-ikut menyelundupkan BBM untuk dijual lebih mahal.

Lalu mau sampai kapan BBM itu akan dipertahan seperti saat ini sementara sebenarnya baik Pemerintah maupun para politisi oposisi itu lebih tepat hanya menjual nama rakyat miskin saja. Toh mereka juga yang terus memakai BBM murah itu. Tidakkah mereka (politisi oposisi dan orang-orang kaya) itu lebih baik berhenti membeli BBM murah (premium) dan pindah saja ke pertamax untuk membuktikan bahwa mereka memang tidak ikut-ikutan berebut jatah orang miskin?

Jika mereka mau seperti itu, pastilah rakyat akan bersimpati dan boleh jadi akan memilih partai mereka karena mereka terbukti tidak ikut memporot jatah rakyat miskin itu. Sanggupkah mereka (orang kaya dan politisi) itu tidak ikut menikmati premium bersubsidi untuk mobilnya? Kita tunggu.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan