Kamis, 23 Mei 2013

Bahtera Cinta Berlayar Sudah (Copy Cetakan)

Kisah Nyata Kepergian Isteri Tercinta
BAHTERA CINTA
BERLAYAR SUDAH

M. RASYID NUR

Penerbit
UR Press Pekanbaru
2012


Judul : BAHTERA CINTA BELAYAR SUDAH
Penulis : M. Rasyid Nur
Sampul & Tata Letak : UR Press
Diterbitkan oleh UR Press, Maret 2012
Alamat Penerbit:
Badan Penerbit Universitas Riau
UR Press Jl. Pattimura No. 9, Gobah Pekanbaru 28132,
Riau, Indonesia
Telp. (0761) 22961, Fax. (0761) 857397
e-mail: unri_press@yahoo.co.id
ANGGOTA IKAPI

Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Cetakan Pertama : Maret 2012

Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Nur, M. Rasyid
Bahtera Cinta Berlayar Sudah/M. Rasyid Nur -- Pekanbaru :
UR Press, 2012
218+x hlm. ; 14 x 20,5 cm
ISBN 978-979-792-306

Mengenang Kematian Isteri Tercinta Hj. Rajimawati (Taty)
Cinta dan Sayang
Teruntuk Anak-anak tersayang
Kiky, Ery dan Opy

Pembuka Kisah
USIANYA masih terbilang muda. Tapi hampir semua
kewajiban tertunaikan sudah. Lahir dan batin terselesaikan
dengan indah. Rasanya tiada beban yang dia abaikan.
Menjelang umurnya baru menanjak ke 45 tahun, Yang
Maha Kuasa dan Maha Adil menjemputnya. Tak ada yang
dapat menghalang. Tuhan benar, menunjukkan kekuasaan-
Nya. Cinta dan sayang tak mampu menghalang. Bahtera cinta
itu berlayar sudah.
Sebagai isteri, dia sudah laksanakan kewajiban dengan
utuh: mengasuh, merawat dan membesarkan anak-anak tanpa
cela. Tanpa pembantu ia mengurus rumah tangga. Makanminum
suami dan anak-anak tidak pernah terlalaikan
menyiapkannya. Hanya ketika sakit saja dia tak melakukan
dengan sempurna. Dan itu hal yang seharusnya begitu sebagai
manusia.
Sebagai hamba Allah dia sangat taat bergama. Itu bukan
penilaian subjektif karena dia sudah tiada. Meskipun di awal
bahtera rumah tangga, ilmu dan amal agamanya menjadi
kewajiban dan bersumber dari saya, suaminya namun di
pertengahan dan di ujung perjuangan, dia membuktikan kalau
dia sebenarnya jauh lebih taqorrub kepada-Nya. Itu objektif
adanya.
Bersama suami, alhamdulillah Allah telah mengizinkan
dan memanggilnya menunaikan ibadah haji, kewajiban dan
keinginan setiap muslim-muslimah meskipun tidak semua
berkesempatan pergi. Dia pun ikut berbagai pengajian untuk
melengkapkan ilmu dan pengetahuan yang diberikan suami.
Dia memang isteri teladan yang pergi tanpa ingin
menyusahkan. Selamat jalan sayang.
Karimun, Agustus 2011
M. RASYID NUR

Daftar Kisah
Pembuka Kisah ...............................................................
1. Sore Sabtu Pilu............................................................
2. Perginya Isteri Teladan ................................................
3. Misteri Penyebab Kematian ........................................
4. Minta Mandikan di Kamar .........................................
5. Itukah Pertanda Musibah? ..........................................
6. “Hanya Kematian akan Memisahkan Kita, Neng” .......
7. Cinta Bersemi Melalui Surat .......................................
8. “Abang Harusnya ‘Dah Jadi Duda” ...........................
9. Nikah Gantung .........................................................
10. Pergi Haji ‘Biaya Sendiri’ .........................................
11. Tak Mengeluh di Anak Asuh....................................... 120
12. Misteri Mimpi Pasca Pergi ........................................... 126
13. Surat-surat Itu ................................................................ 131
14. Catatan ‘Sabtu Malam’: “Tenanglah di Sana, Sayang” 197
Tentang Penulis ...................................................................... 21

Kisah ke-1
Sore Sabtu Pilu
TIDAK pernah ada tanda-tanda yang dapat saya
tafsirkan bahwa pada hari Sabtu (16/04/11) itu, sekitar pukul
19.15 WIB akan saya hadapi ujian maha berat seumur hidup
saya, 54 tahun: berpulangnya ke rahmatullah isteri tercinta
yang teramat disayang, isteri teladan, Hj. Rajimawati binti H.
Abdul Mutalib. Sampai pukul 15.15 sore Sabtu itu, yang saya
tahu, dia tidak ada keluhan sakit yang mengkhawatirkan
sedikitpun. Tidak ada keluhan sakit apapun yang dia
sampaikan kepada saya. Selama ini juga tidak ada riwayat sakit
yang membuatnya harus dirawat khusus kecuali ketika
melahirkan anak-anak saya. Ah, sungguh berat cobaan ini.
Tidak pernah saya bayangkan.
Sesungguhnya saya tidak tega menuliskan kisah tragis,
petang menjelang malam itu. Hati dan seluruh tubuh saya
terasa pedih dan perih setiap kali mengingat dan
memikirkannya. Sudah enam hari –ketika coretan awal tulisan
ini dimulai— saya berusaha membungkus duka ini dengan
sekuat hati dan jiwa. Saya masih serasa bermimpi. Saya benarbenar
sedih menerimanya. Rasanya hancur segala pertahanan
jiwa dan semangat yang terbangun selama ini.
Tapi akhirnya saya tulis juga di sini. Dengan linangan
air mata dan isak-sedu tangis yang tertahan, saya berusaha
merangkai kata. Ada banyak kisah teladan yang semoga ada
gunanya untuk siapa saja. Itulah dorongan utama, menuntun
pikiran dan tangan saya menuliskannya. Dia adalah figur
teladan anak-anak saya; termasuk buat saya. Semoga juga bisa
buat siapa saja. Dia adalah sahabat, saudara, dan tetangga bagi
siapa saja: jauh ataupun dekat.
Dalam 25 (dua puluh lima) tahun pernikahan kami,
begitu banyak nilai yang dapat saya petik dari wanita
sederhana ini. Tapi satu hal yang perlu saya katakan, dia
adalah wanita tegar yang teramat patuh buat saya.
Ketaatannya tidak berbelah bagi. Sementara ketegarannya juga
sangat saya kagumi. Ketegaran itu tidak hanya pada
mentalnya yang kuat dan tenang hidup bersama saya yang
hanya seorang guru dengan penghasilan bermula dari Rp
28.000 (dua puluh delapan ribu rupiah) pada tahun 1985, awal
saya menjadi pegawai negeri. Tapi ketegarannya juga tampak
pada pisiknya yang senantiasa sehat dan kuat. Tidak pernah
ada keluhan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab
mengurus rumah tangga. Dan dalam usia begitu muda,
berpisah jauh dari kedua orang tua. Orang tua tinggal di
Pekanbaru sementara dia bersama saya yang bertugas di
rantau, di sebuah pulau nun jauh dari kota Provinsi Riau,
Tanjungbatu Kundur.
Sesungguhnya dia bekerja penuh waktu demi saya dan
anak-anak kami. Kami tidak mempunyai pembantu rumah
tangga mendampinginya mengurus kerja-kerja rumah tangga.
Pada awal membangun bahtera rumah tangga jelas kami tidak
sanggup membayar pembantu. Itu adalah masa-masa sulit
dan menyedihkan dalam ekonomi seorang guru. Waktu itu,
guru hanyalah profesi ‘pelarian’ bagi setiap orang di negeri
ini. Dengan gaji dan penghasilan sangat rendah dibandingkan
profesi lain, menjadi guru memang bukan pilihan saat itu. Ah,
hidup rumah tangga kami memang teramat sulit waktu itu.
Segalanya harus dikerjakan sendiri oleh seorang isteri seperti
dia. Sungguh tidak sebanding, usianya yang teramat muda
dengan tanggung jawab keluarga yang begitu berat. Kesulitan
ekonomi membuat segalanya harus dikerjakan sendiri.
Dan pada saat kehidupan sudah sedikit mapan pun, dia
tetap memutuskan untuk tidak didampingi pembantu dalam
tugas-tugas rumah tangga. Dia adalah ibu rumah tangga yang
utuh. Kebiasaan dalam waktu lama mengurus suami dan
anak-anak secara mandiri telah menempa pisik dan mentalnya
untuk tidak suka bergantung kepada orang lain. Dia mampu
mengatur semua pekerjaan yang sesungguhnya sangat berat
buat seorang wanita. Sepenuhnya dia ibu rumah tangga yang
utuh.
Bahkan untuk mencuci pakaian pun dia tidak
tergantung kepada mesin cuci. Dia lebih yakin kebersihan
cuciannya akan lebih baik dikerjakan dengan tangan sendiri
dari pada menggunakan mesin cuci. Itulah perinsipnya yang
terkadang mengherankan. Sampai akhir hayatnya, dia
bertahan dengan perinsip itu. Padahal dia pasti mampu
membeli mesin cuci tersebut. Dia adalah isteri sederhana.
Kami memang sangat sederhana dan tertempa hidup dalam
kesederhanaan. Apalagi jika diingat hidup susah di awal
berumah tangga.
Di awal kami bersama –tahun 1986-1990 di Tanjungbatu
Kundur— itu bahkan dia ‘nyambi’ membuat kue —bakwan—
dan membuat es bungkus untuk penambah penghasilan saya
yang teramat kecil. Biar begitu badannya tetap sehat. Kami
tetap bisa ikut berbagai kegiatan olahraga terutama senam dan
berjalan minggu pagi. Itulah yang saya tahu tentang sangat
sehatnya pisik dia.
Pernah suatu kali dia harus dirawat di rumah sakit,
diinfus dan diinapkan di Puskesmas Tanjungbatu. Itulah satusatunya
dia menderita sakit yang harus dirawat di rumah sakit.
Saat itu baru saja kami dikaruniai anak kedua. Dalam usia
kurang lebih satu tahun anak kedua kami, dia terkena penyakit
mag. Menurut dokter, magnya agak berat dan harus dirawat
di rumah sakit. Hanya itu yang saya tahu dia menderita sakit.
Kejadian tahun 1989 itu tidak pernah lagi dialaminya sampai
puluhan tahun berikutnya.
Sampai datangnya musibah sore Sabtu itu, dia tetap
sehat-sehat saja. Saya tidak pernah menduga, keluhan sakit
ulu hatinya yang membuatnya juga muntah menjelang waktu
Asar hari Sabtu itu adalah sakit yang memisahkan saya
dengannya malam menjelang Isya’. Keluhan sore itu pun
sudah diperiksa dan diatasi oleh seorang dokter yang sudah
menjadi langganan kami. Justeru hasil diagnosa dokter itu
jualah yang membuat saya sama sekali tidak menduga
kejadian malam, akhir dari kebersamaan saya dan dia.
Dalam 16 tahun terakhir sejak dia melahirkan anak saya
yang bungsu, ketika kami sudah di Moro karena saya dimutasi
ke SMA Negeri 1 Moro rasanya dan seingat saya tidak pernah
dia sakit yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit. Jika
terserang filek atau flu, itu tidaklah terlalu lama
memulihkannya. Tidak selalu harus ke dokter untuk
menyembuhkannya. Hanya pada saat melahirkan anak
terakhir itulah dia mengalami trauma sakit yang amat berat.
Saya tahu kalau melahirkan anak kami yang ketiga itu
memang begitu berat perjuangan yang dilaluinya. Sampai dia
mengatakan kalau dia sudah serasa tidak hidup lagi setelah
melahirkan itu.
Itulah terakhir dia mengalami penderitaan berat. Sakit
melahirkan yang dialaminya sebanyak tiga kali, peristiwa
kelahiran 1994 itu adalah yang teramat berat dia rasakan.
Selepas peristiwa itu sampai datangnya kejadian sore Sabtu
kelabu itu, dia sehat-sehat saja. Saya serasa tertipu oleh
kejadian sore yang ternyata membawa ajalnya.
Sore menjelang Asar Sabtu itu, saya kebetulan sedang
tidak di rumah karena sedang pergi mencuci mobil mengingat
kami sudah berjanji akan keluar Sabtu Malam (malam
Minggu) itu, tiba-tiba saja anak saya Kiky menelpon saya. Saya
masih di simpang Lampu Merah Sungai Lakam saat dia
menelpon itu. Katanya, “Mama tiba-tiba saja seperti kesulitan
bernafas, Pa. Cepatlah pulang!”. Saat itu kurang lebih pukul
tiga sore. Menurut anak saya yang sulung, yang menyaksikan
langsung, mamanya tiba-tiba saja kesulitan bernafas tanpa
sebab yang dipahami anak saya. Sebelumnya –pagi menjelang
siang, hari itu— dia hanya mengeluh penat karena katanya
dia habis mencuci pakaian pagi harinya.
Bagi saya, penat seperti itu sudah selalu dia rasakan dan
selalu pula dia ceritakan kepada saya. Jika dia minta urut
kepada anak-anaknya atau kepada saya, setelahnya toh itu
akan pulih kembali. Tidak hanya karena mencuci pakaian tapi
bila dia berlebihan mengurus rumah (menyapu halaman atau
menyiangi rumput di halaman) dia suka mengatakan penat
dan minta pijit kepada saya. Dan itu adalah hal biasa yang
justeru kami rasakan sebagai bagian kebahagiaan kami selama
ini. Kami saling mengurut/ memijit badan atau memijit kaki
jika masing-masing merasa penat. Bahkan dalam manjanya,
dia selalu minta digosok-gosok punggungnya hingga dia
tertidur di samping saya. Hampir saban malam, sambil
bergurau dia minta digosokkan punggungnya. Kalau sudah
tertidur, terkadang saya duduk lagi untuk bekerja: menulis,
main internet atau tugas-tugas lain yang dapat saya kerjakan
menjelang mata saya mengantuk.
Tapi sore itu dia benar-benar seperti menderita tiba-tiba.
Setelah terus-menerus dipijit anak saya punggungnya dan
diberi minuman bergula yang hangat, akhirnya dia muntah.
Ketika saya sampai di rumah dan menyaksikan langsung, saya
melihat dia sangat lemah. Saya bingung karena tadi saya
tinggalkan tidak ada tanda-tanda dia menderita sakit. Kini dia
tampak lemah. Badannya berkeringat dingin.
Saya berusaha tenang. Saya duduk bersimpuh
berhadapan dengannya. Saya memandang wajahnya. Dia
memang seperti menderita sekali. Saya lap keringatnya
dengan kain setengah basah sambil membersihkan mukanya
yang juga berkeringat. Saya merasa dia sedikit agak tenang
saat itu. Kata anak saya, mamanya baru saja bisa bernafas
dengan tenang setelah muntahnya itu keluar begitu banyak.
Tadinya sungguh mengkhawatirkan, kata anak saya.
Bahkan menurut anak saya dia seperti menyaksikan orang
berjuang dalam sakratulmaut. Itu karena paniknya, anak saya.
Anak saya memang menangis pada saat dia menelpon saya,
sebelum saya sampai di rumah dua puluh menit kemudian.
Saya memberinya air hangat suam-suam. Dia minum hanya
sedikit. Dalam pikiran saya, dia harus segera saya bawa
berobat.
Dalam kegalauan yang saya coba untuk tetap tenang,
saya tanya apakah dia sudah sholat Asar. “Mama sudah
sholat?” Dia jawab, “Belum.” Suaranya tidak terlalu kuat
sambil menggelengkan kepala.
Sehabis sedikit tenang itu, saya tanya, apakah dia bisa
sholat Asar karena saya lihat jam dinding di ruang tengah itu
sudah pukul 15.45. Dia jawab, bisa dengan menganggukkan
kepala. Bahkan dia langsung berdiri. Lalu saya ajak dia ke
kamar dengan memapahnya. Jalannya memang terasa lemah
namun masih lancar melangkah sendiri. Dia bisa berjalan
sendiri. Di kamar dia sholat setelah berwudhuk. Sungguh saya
merasa sedikit tenang melihat dia bisa sholat walaupun saya
suruh dia sholat dengan cara duduk. Islam memang
membolehkan orang sakit melaksanakan sholat dengan cara
duduk jika tidak mampu berdiri. Ada sedikit rasa lega di hati
saya ketika saya menyaksikannya sholat sebagaimana biasa.
Waktu itu dia saya suruh sholat duluan. Saya sengaja
tidak sholat bersama (sebagaimana biasanya kami sholat
berjamaah) karena khawatir terjadi apa-apa. Apalagi
sebelumnya dia masih mau sholat berdiri. Saya takut jika dia
sholat berdiri, dia bisa terjatuh. Itu bisa menimbulkan masalah
lain. Sehabis dia sholat baru saya melaksanakan pula sholat
sendiri. Sholat saya mungkin tidak begitu khusyu’ karena ingin
cepat membawanya berobat.
Selama saya sholat, dia menunggu sambil merebahkan
badannya di atas kasur. Dan sehabis sholat dia minta ambilkan
pakaian dari dalam lemari. Dia minta ganti bajunya dengan
daster kuning.
Selanjutnya dia saya ajak ke rumah sakit. Maksud saya
akan membawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Karimun. Hanya karena sore, dia minta ke dokter praktek saja.
Lalu saya bawa ke tempat praktek Dokter Awang Lim, seorang
dokter senior yang cukup terkenal di Karimun. Dokter
‘keturunan’ ini juga sudah menjadi langganan kami berobat
kalau mengalami persoalan kesehatan yang agak berat selama
ini. Sekali-sekali juga ke dokter lain seperti ke Dokter Zufri
Taufiq.
Saya laporkan ke Dokter Awang Lim kronologis
penderitaan isteri saya seperti diceritakan anak saya. Saya
khawatir dia sakit jantung karena dia selalu menekan bagian
dadanya, kata anak saya. Saya juga katakan kalau dia habis
muntah yang cukup banyak sebelum datang ke rumah sakit
ini. Saya minta dokter memeriksanya dengan baik dan teliti.
Saya tidak ingin terjadi apa-apa pada isteri saya.Tapi hasil
diagnosa dokter itu tidak menyebutkan penyakit yang
mengkhawatirkan isteri saya. Katanya isteri saya tidak ada
riwayat penyakit jantung. “Ibu tidak ada riwayat penyakit
jantung, Pak Guru” jelasnya. Tapi saya melihat dia hanya
membuat kesimpulan berdasarkan data-data lama ibu yang
memang selalu berobat ke klinik Sayang Ibu, miliknya itu.
Dokter Awang Lim juga menjelaskan kalau tensi darah
ibu juga bagus. “Tensi Ibu juga bagus. Tak ada apa-apa, Pak
Guru,” saya ingat kata-kata dokter itu. Dia hanya menyebut
kalau isteri saya hanya sedikit mengalami masalah lambung.
Akhirnya dia hanya memberi obat yang katanya harus
dimakan sebelum makan nasi. Kami pun kembali ke rumah
karena sudah merasa lega berdasarkan penjelasan dokter ini.
Ah, saya merasa tertipu oleh kata-kata dokter yang dengan
percaya diri menjelaskan penyakit isteri saya yang tidak
berbahaya.
Sampai di rumah isteri saya berbaring di kasur. Dia
minta dipijit-pijit badannya yang katanya sangat penat.
“Seluruh persendian saya pegal-pegal, Bang. Tolong dipijit,”
pintanya kepada saya. Saya dan anak saya masih tampak shok
dan berusaha menahan tangis, terus memijit-mijit bagian yang
sakit isteri saya.
Ketika dia minta dicarikan tukang pijit khusus, anak
saya pergi mencarinya. Setelah dipijit oleh Ibu itu dia tampak
semakin lega. Katanya badannya sudah lebih mendingan.
Bahkan isteri saya mengeluarkan angin (kentut) yang
membuat kami bertiga tersenyum geli dan masih sempat kami
bergurau dengan gas berbau itu. Ah, ternyata gurauan ini juga
telah menipu saya. Itu juga gurauan terakhir saya dengannya.
Saya merasa isteri saya tidak apa-apa lagi waktu itu. Saya
merasa tidak ada yang harus dikhawatirkan.
Ketika dia mendengar kumandang azan Magrib, dia
mengingatkan saya. “Bang, itu sudah azan,” katanya. Saya pun
paham kalau dia memang sangat taat melaksanakan ibadah
sholat di awal waktu. Setiap kali masuk waktu sholat dia pasti
akan berhenti beraktifitas apa saja. Dia akan bergegas pergi
sholat. Termasuk sore Sabtu itu.
Saya tanya, apakah boleh sholat ke masjid seperti
biasanya saya memang sholat berjamaah ke masjid, dia
membolehkan. Dia mengatakan akan sholat di rumah. Saya
pun tetap merasa tidak ada kekhawatiran terhadap penyakit
yang tengah dialaminya. Di masjid saya juga tidak punya
firasat apa-apa. Saya sholat sebagaimana biasa, berdoa ikut
imam sebagaimana biasa bahkan saya masih sempat sholat
sunat ba’da Magrib sebagaimana biasa. Saya memang sama
sekali tidak punya firasat apapun tentang isteri saya.
Sampai di rumah sehabis sholat Magrib di masjid, saya
lihat dia sedang terbaring di kasur, kamar kami selama ini.
Saya tanya apakah sudah sholat, dia menjawab sudah. Anak
saya membantunya ke kamar mandi —di kamar tidur— untuk
berwudhuk. Saat dia baring itu, dia kembali minta urut
badannya yang masih penat. Katanya bagian punggungnya
terasa sakit dan penat. Dia tidur memiringkan badannya,
minta dipijitkan bagian punggungnya. Sayapun berbaring
sambil memiringkan badan saya ke arahnya. Saya hanya
berhadapan dengan punggungnya sementara dia menghadap
kea rah lemari palstik, di sebelah kiri kasur kami.
Ada beberapa menit saya memijit-mijit bagian
punggungnya. Saya tidak mendengar dia mengeluh waktu itu.
Dia tidak juga mengatakan apa-apa saat itu. Ternyata ini juga
dugaan dan penilaian saya yang salah. Karena beberapa menit
berikutnya, ketika dia tiba-tiba membalikkan badan ke arah
saya (menelentang) saya melihat mukanya yang pucat. Dia
seperti kesulitan dan tidak dapat bernafas. Suaranya tidak
keluar tapi dia kelihatan mengerang. Saya melihat matanya
terpejam.
Anak saya yang sedari tadi memijit bagian kaki,
terperanjat dan secara reflek menagis sambil memekik
memanggil mamanya. “Mama, mamaa, mamaaa”, berulangulang
dia memanggil begitu. Dia mungkin langsung ingat
pengalamannya sendiri tiga jam sebelumnya. Anak saya yang
bungsu, Opy, yang saat itu asyik main laptop di kamar itu,
terkejut dan langsung ikut membantu. Saya dan anak-anak
saya yang ada dalam kamar bersama, sungguh dalam keadaan
panik. Kami bertiga berusaha membantu dengan
mendudukkannya. Mengurut punggung dan bahunya. Tapi
dia seperti tidak bereaksi.
Saya masih sempat menyuruh Opy, menlepon
abangnya, Ery yang berada di Tanjungpinang. Dalam
kepanikan seperti itu juga saya minta dia menghubungi Pak
Imam Ridwan yang rumahnya tidak seberapa jauh. Tapi tidak
lama dia sudah kembali. Konon Pak Imamnya waktu itu lagi
kenduri.
Akhirnya kami bertiga mengangkatnya. Sungguh terasa
berat. Badan sesehat itu jelas cukup berat buat kami bertiga
yang dalam keadaan panik itu. Setelah berhasil membawa ke
dalam mobil, saya memacu mobil dengan kencang sekali
untuk menuju RSUD Karimun. Hanya dalam perkiraan
sepuluh menit mobil kami sampai di parkir UGD RSUD.
Saya memekik memberi tahu beberapa petugas yang
datang menyongsong mobil kami. Mereka membawa kereta
dorong untuk menyambut isteri saya yang tidak juga siuman
sejak dari rumah tadi. Saya minta secepatnya isteri saya
ditangani. Tapi, ya Tuhan begitu terasa lambannya oleh saya
mereka mengurus dan menolong isteri saya.
Penanganan yang terasa begitu lamban oleh para
perawat di UGD itu membuat saya ingin memekik lagi
rasanya. Tapi saya mencoba menahan tangis. Saya tetap
berdoa, semoga isteri saya bisa selamat. Semoga dia siuman
kembali. Saya merasa dia pasti akan siuman kembali. Hanya
itu yang ada dalam pikiran dan harapan saya. Berulang-ulang
saya berdoa dan mengucapkan asma Allah. Ya Allah,
selamatkan dia. Ya Allah selamatkanlah dia. Berulang-ulang
saya mengucapkannya sambail menyebut nama-Nya.
Namun apa mau dikata, menurut perawat yang
menangani, isteri saya mungkin telah ‘pergi’ beberapa menit
sebelum sampai ke rumah sakit itu. Tangis saya benar-benar
pecah bersamaan tangis anak-anak saya yang saling
berpelukan. Saya, anak-anak saya tersedu menahan pilu. Sore
Sabtu kelabu yang benar-benar pilu dalam hidup saya.***

Kisah ke-2
Perginya Isteri Teladan
SAYA masih tertegun. Serasa tidak percaya apa yang
baru saja diucapkan perawat tadi. “Bapak sabar ya, Pak.”
Kalimat itu bagaikan petir dalam sunyi yang menghancurkan
segala harapan saya. Saya sesungguhnya berusaha mencoba
sabar. Tapi tidak mudah. Ternyata menyuruh dan
mengajarkan orang-orang untuk bersabar ketika memberikan
nasehat kepada seseorang, tidak pula semudah itu
melaksanakannya pada diri sendiri. Saya benar-benar tidak
bisa mempercayai kalau isteri saya telah pergi untuk selamalamanya.
Dia tidak akan pernah kembali lagi. Bahtera cinta
yang sudah ada kini berlayar sudah mengikuti garis yang
ditetapkan-Nya.
Anak-anak saya –Kiky dan Opy— yang kebetulan
mereka berdua saja bersama saya malam itu, masih tersedu
sambil memanggil mamanya. Satu lagi anak saya, Ery, di
Tanjungpinang menyelesaikan kuliahnya di UMRAH. Dia
pasti juga sedang galau saat ini. Beberapa saat sebelum ke
rumah sakit tadi, dia sempat diberi tahu kalau mamanya
dalam keadaan sakit. Tapi belum sempat diberi tahu lebih
detail sakitnya karena buru-buru harus ke rumah sakit. HP
(Hand Phone) yang dipakai untuk menghubunginya dilempar
begitu saja ke atas kasur karena kami bertiga harus segera
melarikan mamanya ke rumah sakit.
Dalam kebingungan seperti itu saya berusaha ingin
menelpon orang-orang yang seharusnya saya telpon untuk
menyampaikan nasib tragis isteri saya. Aduh, HP saya ternyata
tidak ada di saku saya. Saya baru sadar kalau HP itu ternyata
tertinggal di rumah karena tadi memang terburu-buru
membawanya ke rumah sakit. Saya mau minta tolong ke siapa,
saya juga tidak tahu. Saya bingung dan kalut. Cobaan ini
benar-benar berat rasanya.
Akhirnya saya melihat ada salah seorang guru SMA
Negeri 3 Karimun, M. Ridwan menghampiri saya. Pak Iwan,
begitu saya memanggil guru olahraga itu juga dalam keadaan
panik menyaksikan saya yang seperti orang linglung. Dia
bertanya, “Kenapa Ibu, Pak?”
Saya menjelaskan, “Ibu sudah tidak ada, Wan. Ibu sudah
meninggalkan kita, Wan.” Saya menangis tersedu
menyampaikan kalimat-kalimat itu. Duka saya terus
tertumpah. Saya benar-benar merasa hancur. Tak ada lagi kata
yang dapat saya ucapkan.
Saya mendengar Pak Iwan spontan terperanjat dan
seperti orang melolong setelah mendengar saya. Dia ikut
bergegas melihat isteri saya yang sudah terbaring diam di atas
meja dorong itu. Dia pasti tak kan percaya kalau janazah yang
ada di depan saya itu adalah isteri saya yang pada hari Jumat
malam (belum cukup 24 jam berlalu) membezuk isterinya di
RSUD itu. Pasti dia tidak akan yakin itu.
Saya dan isteri saya memang baru saja dari rumah sakit
itu malam sebelumnya. Jumat petang menjelang malam –
sepulang saya dari Singapura— itu saya mendapat SMS dari
Pak Iwan. Dia minta izin untuk tidak mengajar besok, hari
Sabtu. Katanya, isterinya masuk rumah sakit karena gangguan
pada jantung. Ada di lantai VI RSUD, begitu dia memberi
informasi via SMS itu ke HP saya. Pak Iwan memang salah
seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, sekolah yang saya
pimpin sejak awal tahun 2008 lalu. Untuk itu dia memang
harus minta izin jika tidak bisa melaksanakan tugas. Itu
kewajiban seorang guru.
Sore Jumat, ketika saya beritahu kalau isteri Pak Iwan
sedang di rumah sakit, isteri saya yang begitu sehat wal’afiyat
langsung mengingatkan dan mengajak saya melihatnya
malam itu juga. Dia selalu tidak mau menunda-nunda
menjenguk orang sakit. Makanya kami pergi malam itu ke
rumah sakit: membezuk isteri Pak Iwan. Masih terngiang di
telinga saya bagaimana isteri saya bergurau dengan isteri Pak
Iwan yang tengah terbaring dengan tali infus di tangan. “Awak
terlalu capek tuh, Tuhan marah dan disuruh istirahat je,” kata
isteri saya dengan nada bergurau. Itulah cara dia barangkali
menghibur sehabatnya yang tengah sakit. Ibu Pak Iwan adalah
anggota Dharmawanita SMA 3 Karimun yang isteri saya
adalah ketuanya.
Selama ini memang sudah menjadi kebiasaan isteri saya.
Kalau dia mendengar ada teman-temannya di rumah sakit,
atau sedang sakit di rumah, dia pasti akan mengajak saya
untuk melihatnya. Begitu pula jika ada berita kematian, dia
akan meninggalkan pekerjaan lain atau mengatur
pekerjaannya untuk dapat melihat orang-orang yang sudah
menghadap Tuhan itu. Kami selalu berdua pergi menjenguk
orang-orang sakit atau orang-orang yang telah berpulang ke
rahmatullah. Begitu pula untuk pergi menyelesaikan berbagai
hal kami juga selalu berdua.
Orang-orang di Karimun, kota tempat kami bermastautin
dalam sembilan tahun terakhir bahkan menyebut kami,”
Kalau ada Pak Rasyid, pasti ada Ibu.” Saya tidak keberatan
dicap dengan kalimat seperti itu. Saya mencintai dia. Dan
selalu berduaan, adalah salah satu cara oleh saya untuk
membuktikan saling cinta itu. Dialah yang mengisi lahir dan
batin saya selama ini. Saya bangga disebut selalu berduaan
kemana-mana. Bahkan ketika saya memotong rambut pun dia
ikut dengan saya. Dia akan duduk menanti saya di tempat
cukur rambut itu.
Untuk hal ini saya harus jujur bahwa saya dan isteri saya
memang senantiasa pergi berdua. Termasuk untuk bepergian
lainnya kami terus berdua. Pergi ke undangan pesta
pernikahan, kami berdua. Berjalan sore atau kapan saja
sekedar ‘makan angin’ kami tetap berdua. Bepergian ke luar
–daerah— Karimun, jika bukan urusan dinas –karena tugas—
dia juga akan saya bawa bersama. Ke Malaysia, ke Batam, ke
Pekanbaru atau ke mana saja; jika sekedar untuk berjalan-jalan
dia pasti akan bersama saya. Tidak akan pernah saya
tinggalkan dia. Begitulah cara kami membangun cinta kami
berdua. Dari awal membina rumah tangga begitulah adanya.
Bahkan ketika kami berkesempatan menunaikan ibadah
haji pada musim haji 1427 H (Tahun Masehi 2006/ 2007) kami
merasakan betul berbahagianya hidup berdua. Di Madinah,
awal mula sampai di Tanah Suci, ketika keloter (kelompok
terbang) haji kami melaksanakan sholat arbain selama delapan
hari, Selasa (12/ 12/ 2006) sampai Selasa (19/ 12/ 2006) tidak
pernah satu hari pun kami berpisah dari rumah ke masjid atau
sebaliknya. Hanya karena sholat harus berpisah di masjid
Nabawi itu barulah kami berpisah selama dalam masjid. Dan
sesudah sholat atau ketika melaksanakan ziarah ke raudhoh,
ke maqom baqi ‘ atau ke tempat-tempat bersejarah lainnya kami
tetap berdua bersama kawan-kawan lain.
Begitu pula ketika berada di Tanah Suci Mekkah kurang
lebih satu bulan (20/12/2006 hingga 17/01/2007) menanti
datangnya wukuf dan pasca wukuf di Arafah. Selama musim
haji, di Masjid Al-Haram jamaah laki-laki dan perempuan
memang tidak ada hijab (pembatas) saf seperti di Nabawi.
Maka saya dan isteri bukan hanya di sepanjang jalan menuju
masjid atau menuju rumah pemondokan saja kami selalu tidak
terpisahkan, di dalam masjid pun kami mencari tempat yang
tidak terlalu jauh. Saya akan mencari saf yang sama dengan
saf dia. Dia akan mengambil ujung saf sebelah kanan wanita
sementara saya mengambil ujung saf di sebelah kiri laki-laki.
Dengan demikian kami akan tetap berdekatan (dalam satu
shaf yang sama) walaupun dalam masjid sekalipun. Itu
pengalaman manis yang tidak akan pernah terlupakan dan
tidak akan pernah juga akan terulang lagi bersamanya.
Berjalan dari masjid ke rumah pemondokan bahkan
kami berpegangan tangan. Terkadang kami diejek –
bergurau— oleh sesama jamaah satu regu karena seolah-olah
tidak pernah lepasnya tangan kami. Ah jika itu saya
bayangkan, betapa nikmat dan berbahagianya hidup rukun
dalam rumah tangga. Dia benar-benar isteri sejati yang pantas
untuk diteladani.
Saya sesungguhnya tidak ingin berlebihan memberi
predikat teladan kepada isteri saya, Hj. Rajimawati binti Abdul
Mutolib, anak perempuan terbungsu pasangan H. Abdul
Mutolib dan Hj. Ramnah. Tapi itulah yang tepat harus saya
berikan untuknya. Seperempat abad kami bersama, saya tahu
dan mengerti betul karakter dan jiwanya. Saya merasakan
langsung bagaimana dia menjalankan peran seorang isteri, ibu
dari anak-anak saya. Begitu pula perannya di luar rumah
sebagai masyarakat atau sebagai anggota Dharmawanita dan
PKK.
Dalam 24 tahun sejak anak pertama kami, Rizky
Febrinna (Kiky) lahir pada 3 Februari 1987 di Tanjungbatu
Kundur dan anak saya yang kedua, Fahry Errizik (Ery) juga
lahir di Tanjungbatu pada 29 November1988 hingga anak saya
yang ketiga Syarfi Razky (Opy) yang lahir di Moro pada 20
Oktober 1994 dia tidak pernah mengeluh dalam mengasuh,
merawat dan memelihara mereka. Dia begitu tabah dan
cekatan mengurus anak-anak saya. Hanya sekali-sekali saja
saya harus dan dapat membantunya. Selebihnya dialah yang
mengasuh, membesarkan dan mendidiknya menjelang
sampai waktunya masuk TK atau masuk sekolah.
Sebelum kami punya anak, pada awal saya dipercaya
menjadi Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri Tanjungbatu
Kundur –pada tahun 1986— yang memerlukan waktu saya
hampir seharian di sekolah dia tetap tabah sendirian di rumah.
Apalagi ketika sekolah ini membuka kelas siang (double shiff)
karena tidak cukup ruang kelas dan saya ditunjuk menjadi
Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, saya benar-benar
tenggelam seharian di sekolah. Saya hanya berkesempatan
pulang siang sebentar untuk makan. Selebihnya saya harus
ke sekolah lagi. Saya tahu, waktu itu sesungguhnya dia sangat
memerlukan teman karena sudah dalam keadaan hamil anak
saya yang pertama.
Hanya dua bulan menjelang kami mempunyai anak
pertama di awal 1987 itu, dia hanya dan dapat ditemani
emaknya, Ibu Ramnah, mertua saya. Dia datang ke
Tanjungbatu dari Pekanbaru karena isteri saya itu akan
melahirkan. Isteri saya tidak mau pulang ke Pekanbaru, ke
tempat kedua orang tuanya untuk melahirkan. Dia
berperinsip, “Di mana ada suami di situlah melahirkan.”
Sungguh perinsip yang sangat menghargai utuhnya rumah
tangga. Padahal waktu itu, beberapa –guru— teman saya yang
dari Pekanbaru, jika akan melahirkan, dia akan kembali ke
Pekanbaru untuk melahirkan. Tapi isteri saya tetap di
Tanjungbatu, tempat saya bertugas. Ketiga anak kami memang
lahir di mana saya bertugas. Dia memang tidak mau
melahirkan ke Pekanbaru, misalnya, tempat kedua orang
tuanya berada hanya untuk sekedar menyenangkan diri
sendiri.
Kesan lain yang tidak mungkin saya lupakan betapa
berat dan tingginya tanggung jawab isteri saya ini adalah
ketika anak-anak saya (waktu itu baru dua orang) sudah
mendekati masa-masa sekolah. Kiky yang tua sudah minta
sekolah meskipun umurnya baru 4 tahun waktu itu. Melihat
temannya –tinggal— di sebelah rumah kami pergi ke sekolah
tiap pagi, dia pun minta sekolah juga. Setiap pagi sehabis
mandi, Kiky akan berdiri dengan pakaian yang sudah rapi
melihat teman bermainnya pergi sekolah. Itulah sebabnya dia
juga minta sekolah.
Akhirnya kami sepakat mengantarkannya ke TK Pertiwi
yang berlokasi di sekitar belakang Kantor Pos Tanjungbatu.
Jarak rumah kami –di Tanjungsari— ke sekolah itu cukup jauh.
Tidak bisa ditempuh berjalan kaki. Saya tidak ada waktu untuk
mengantar anak saya ke TK itu karena pagi-pagi saya biasanya
sudah ke sekolah. Saya wajib ke sekolah lebih awal karena
tanggung jawab tugas yang diamanahkan Kepala Sekolah, Pak
Supardjo Suk, BA waktu itu. Jadi, isteri saya itulah yang harus
mengurus kedua anak-anak saya pergi dan pulang sekolah.
Saya ingat betul, dialah yang sambil berbelanja pergi
mengantar dan menjemput anak saya ke TK. Yang bungsu,
Ery didudukkan di bagian depan –keranjang besi— sepeda
sanki yang saya beli di rombengan (Sawang) sementara
kakaknya Kiky duduk di belakang. Sepeda itulah yang ada
dan didayung isteri saya setiap pagi mengantar dan
menjemput anak saya ke sekolah. Ah, sayang… kau memang
wanita sejati yang sangat mengerti suami yang masih susah
hidupnya. Tidak berlebihan disebut isteri teladan.
Tapi Sabtu malam itu dia sudah tiada. Dia pergi tanpa
meninggalkan pesan apapun kepada saya. Hanya kebahagiaan
berumah tangga sajalah yang saya rasakan bersamanya
menjelang kejadian ini. Bahkan Jumat malam itu dia pun
masih menunaikan tugasnya sebagai isteri sejati melayani
suami. Adakah kebahagiaan itu sebagai tanda-tanda akan
datangnya ujian ini? Hanya Allah yang Maha Tahu. Yang saya
tahu, Sabtu kelabu itu telah menjadi garis batas terenggutnya
nyawa isteri saya dari dekapan saya. Saya masih tertegun
memandangnya terbaring kaku di meja itu.
Saya minta Pak Iwan menyampaikan berita duka ini
kepada siapa saja. HP saya masih dijemput anak saya ketika
itu. Bersama anak Pak Iwan (menggunakan motor) dia pulang
ke rumah untuk menjemput HP. Karena panik dan ingin cepat
ke rumah sakit (saat dia dia tiba-tiba sesak dan susah bernafas
sehabis sholat magrib) itu dua HP saya dan satu HP isteri saya
tidak sempat terbawa.
Saya melihat Pak Iwan sangat sedih setiap menelpon
seseorang, menyampaikan berita duka ini. Saya ingatkan Pak
Iwan untuk menyampaikan terlebih dahulu ke guru-guru
SMA Negeri 3 Karimun atau kepada siapa saja yang dia ingat.
Kata Pak Iwan, semua orang yang dia hubungi seolah tidak
mau percaya berita kematian itu. Saya percaya kalau orangorang
itu memang tidak akan mudah percaya isteri saya telah
tiada. Dua-tiga hari lalu, malam semalam, bahkan sorenya
ketika saya naik mobil pulang dari dokter Awang Lim, orang
masih menganggap isteri saya sehat-sehat saja di samping saya
duduk menyetir mobil.
Setiap orang yang diberi tahu oleh Pak Iwan, mereka
terkejut. Mereka seperti tidak percaya dengan berita yang
disampaikan. Berulang-ulang diyakinkan barulah mereka
mau percaya. Bahkan ada yang langsung datang ke RSUD
terlebih dahulu, baru mau percaya kalau isteri saya telah tiada.
Begitulah kejadian itu begitu mendadak datangnya. Saya
sendiri serasa bermimpi. Pikiran saya serasa melayang entah
kemana. Saya tidak menduga dan tidak bisa percaya. Dia sama
sekali tidak memberi tanda-tanda kalau dia akan
meninggalkan saya secepat itu untuk selamanya.
Begitu mendadaknya sampai semua orang seperti tidak
bisa mempercayainya. Ibu Zaita, tetangga sebelah rumah saya
yang juga sama sekali tidak tahu keadaan isteri saya,
mendadak meraung-raung di ruang UGD itu sejurus dia
sampai di rumah sakit. Dia terkejut diberi tahu oleh anak saya
Ery (Fahry Errizik) lewat telpon dari Tanjungpinang. Ery,
beberapa menit sebelumnya memang diberitahu oleh anak
saya Opy menggunakan HP saya kalau mamanya mendadak
sakit sekitar pukul 19.00 itu. Namun sebelum sempat
dijelaskan keadaan mama secara detail HP diputus karena
kami harus melarikan mamanya itu ke rumah sakit.
Jadi dalam penasarannya itu dia mencoba menghubungi
Ibu Zaita tentang kondisi mamanya. Dan Ibu Zaita sendiri
yang sama sekali tidak tahu mencoba menelpon ke HP saya
dan isteri saya juga tidak ada jawaban. Akhirnya dia pergi ke
rumah sakit dan menemukan isteri saya sudah terbaring diam.
Maka pecahlah tangisnya yang begitu menyedihkan. Dia
seperti meraung-raung sambil memukul-mukul punggung
saya. “Bapak, ngapa Bapak tak beri tahu…Bapak, ngapa Bapak
tak beritahu… Mengapa Ibu…mengapa Ibu,” berulang-ulang
dia bertanaya sambil memeluk dan memukul-mukul
punggung saya.
Dia terus memeluk saya sambil menangis dan tetap
memukul saya. Saya tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa
lagi. Lidah saya seperti terkunci. Pikiran saya serasa begitu
kosong. “Mimpikah saya?”. Saya tidak bisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan Ibu Zaita itu. Dia sangat shok dan
terpukul tidak akan bisa lagi melihat orang yang selama ini
sudah dianggapnya sebagai ibunya. Dia bukan saja tinggal
berdampingan rumah tapi keluarganya dan keluarga saya
sudah serasa satu keluarga.
Dia tidak pernah tahu dan tidak pernah membayangkan
kisah tragis itu. Bahkan magrib itu dia masih pergi bersama
suami. Dia memang tidak diberi tahu kalau sore tadi
sebenarnya isteri saya sudah mengalami sakit mendadak yang
seharusnya dia tahu. Tapi itu sudah berlalu, dia sama sekali
tidak memperoleh informasi sama sekali. Dan ketika kami
buru-buru dan memekik memberi tahunya, dia tidak ada di
rumah. Sampai akhirnya dia hanya tahu, isteri saya telah tiada.
Hampir setengah jam mayat isteri saya di rumah sakit
sejak perawat memberi penjelasan tadi. Setelah diberi surat
keterangan, sebuah ambulance telah menunggu di halaman
belakang RSUD. Saya, anak saya yang tua dan Ibu Zaita ikut
bersama janazah isteri saya. Kami bersama di dalam
ambulance itu akan menuju ke rumah tempat tinggal saya,
tempat tinggal isteri saya dan anak-anak saya sejak tujuh tahun
lalu.***

Kisah ke-3
Misteri Penyebab Kematian
DALAM perjalanan dari RSUD ke rumah, saya tidak bisa
bicara apa-apa. Pikiran saya benar-benar kosong. Saya bahkan
seperti tidak mendengar raungan sirene ambulance yang
membawa mayat isteri saya malam itu. Mata saya mencoba
terus menatap keranda besi berisi mayat isteri saya. Besi
keranda itu tidak pernah saya lepaskan selama dalam
perjalanan. Berapa lama waktu perjalanan itu saya juga tidak
tahu. Yang saya tahu, mobil ambulance itu kini sudah sampai
di rumah saya, rumah No 82 Jalan Sakura Indah, RT 01 RW
09 Wonosari, Baran, Meral.
Rumah yang sudah kami huni sejak tahun 2004 lalu, kini
akan dia tinggalkan bersama kami yang dia tinggalkan. Di
rumah inilah kami melanjutkan memadu kasih setelah
berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Selama 26
tahun hidup bersama (di Kundur, Moro dan Karimun: tiga
kecamatan sebelum pemekaran) inilah rumah sendiri yang
baru tujuh tahun terakhir mampu kami miliki. Tidak menyewa
lagi. Selama ini kami hanya menyewa dari satu rumah ke
rumah lain sesuai tempat di mana saya bertugas. Pernah pula
kami tinggal di perumahan sekolah yang sangat sederhana:
rumah papan bekas tempat tinggal tukang yang membangun
sekolah. Kini baru kami memiliki rumah sendiri. Ah, terlalu
singkat dia menempati rumah pribadi yang kami cintai ini.
Di Pekanbaru, sebenarnya kami mempunyai rumah
sendiri yang dibangun berangsur selama hampir sepuluh
tahun ketika saya masih bertugas di Tanjungbatu. Rumah itu
pada awalnya (tahun 1986-an) saya bangun untuk persiapan
kalau-kalau saya dimutasi ke daratan sana. Kebetulan isteri
saya mendapatkan jatah tanah dari orang tuanya untuk
membangun sebuah rumah. Rumah itu sejak awal hanya satu
minggu saja kami menghuninya. Selebihnya disewakan
kepada siapa saja. Sewa rumah itu pula yang kami pakai untuk
menyewa rumah di Moro dan Karimun selama kami belum
mempunyai rumah sendiri. Baru pada tahun 2004 itulah kami
memiliki rumah sendiri di sini.
Di rumah, kerumunan manusia sudah menanti jenazah
isteri saya. Sangat banyak saya lihat. Begitu ramainya orangorang
yang datang dan menanti kedatangan jenazah, tak
ubahnya sebuah pesta. Tapi ini adalah pesta dengan wajahwajah
duka. Lampu-lampu rumah yang sebelumnya tidak
menyala ketika kami bergegas ke rumah sakit, sudah
dinyalakan oleh para tetangga dan kerabat yang kebetulan
sudah duluan ke rumah sebelum jenazah tiba. Di halaman
bagian bawah, orang-orang kampung Wonosari secara
bergotong royong memasang tenda. Itu adalah tenda duka
menyambut isteri saya yang telah tiada.
Mobil ambulance langsung berhenti di halaman bagian
atas. Pintu ambulance dibuka untuk memindahkan jenazah
ke dalam rumah. Dengan lutut yang terasa begitu berat dan
lemah saya mengikuti mayat isteri saya yang diangkat ke
dalam rumah oleh beberapa orang lelaki. Ya Allah, betapa
beratnya kaki saya melangkah. Hanya beberapa langkah dari
mobil ke dalam rumah. Tapi sungguh berat dan jauh rasanya.
Tidak mampu rasanya saya melangkahkan kaki saya.
Tikar dan permadani yang biasanya dibentangkan
untuk acara-acara kenduri atau acara-acara khusus lainnya
oleh isteri saya, kini sudah terbentang rapi untuk menanti isteri
saya sendiri yang sudah pergi. Sebuah kasur juga sudah
terbentang di situ. Di kasur kapuk itulah isteri saya diletakkan.
Itulah kasur kapuk ukuran sedang satu-satunya yang kami
miliki selama ini. Kain panjang yang beberapa tahun
belakangan dibelinya beberapa lembar, kini juga dikeluarkan
untuk penutup mayatnya. Kain-kain panjang itu sudah selalu
dibawanya ke tempat-tempat mayat lain. Kini dia sendiri pula
yang menjadikannya sebagai selimut.
Kesedihan ini kian menjadi. Mata dan wajah-wajah
memelas sedih dari para pelayat menatap lurus ke jenazah
isteri saya yang terbentang di atas kasur di ruang depan rumah.
Bagi saya, mata dan wajah-wajah itu terasa menambah berat
rasa sedih dan duka saya. Setiap orang yang memandang isteri
saya adalah orang-orang berwajah sedih dan duka dan
menambah sedihnya hati saya. Sama sekali saya tidak bercerita
kepada mereka yang bertanya, mengapa isteri saya pergi
begitu cepatnya. Apa sebenarnya penyakit yang merenggut
nyawa isteri saya. Oh Tuhan, mengapa begitu cepatnya dia
Kau ambil dari pangkuan saya.
Dalam kesedihan seperti ini, terngiang kembali di telinga
dan terbayang di mata saya bagaimana kronologis kejadian
yang dialami isteri saya sejak pukul 15.30 petang hingga dia
saya larikan ke rumah sakit malamnya. Bagaimana saya sudah
membawanya ke rumah sakit dokter praktek ‘Sayang Ibu’ dan
ditangani seorang dokter yang cukup terkenal di situ. Dokter
itu juga yang menjelaskan kepada saya kalau isteri saya
menurutnya tidak mempunyai (mengidap) penyakit yang
mengkhawatirkan ketika saya jelaskan kepadanya tentang
kemungkinan isteri saya terkena penyakit jantung atau
penyakit lain sore itu. Tapi dokter itu kokoh mengatakan kalau
isteri saya tidak ada masalah yang berat. “Pak guru tak usah
risau,” begitu dia meyakinkan saya. “Ibu hanya sedikit
gangguan lambung.”
Saya pun tidak berpikir dan juga tidak disarankan untuk
membawanya ke rumah sakit atau ke dokter lain sesuai yang
dijelaskan dokter itu. “Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung.
Tensi ibu juga bagus.” Berulang-ulang kalimat yang diucapkan
dokter itu mengisi lamunan saya. Obat yang dia beri pun
sudah diminum sesuai petunjuknya. Katanya isteri saya hanya
bermasalah sedikit pada lambungnya. Saya yakin dengan katakatanya.
Saya pun membawanya ke rumah setelah selesai
berobat sore itu. Apalagi isteri saya juga tidak mengeluh apaapa,
kecuali dia menyatakan begitu penatnya badannya. Dia
minta segera pulang karena ingin dipijit-pijit badannya.
Ketika akan pulang dari dokter Awang Lim itu saya
menawarkan kepadanya untuk berjalan sore dengan mobil itu.
Seperti biasa, saya ingin berjalan-jalan bersamanya. Tapi dia
menggeleng. Dia tetap minta pulang ke rumah saja. Istirahat
di rumah saja, katanya. Itulah sebabnya kami pulang ke
rumah. Sampai saat itu, sedikitpun saya tidak mempunyai
firasat apapun tentang dia. Saya hanya berpikir dia ingin
istirahat saja ke rumah memulihkan gangguan kesehatan yang
dijelaskan dokter tadi.
“Ibu tidak apa-apa. Ibu tidak ada riwayat penyakit
jantung. Tensi juga bagus,” berulang-ulang terus kalimat yang
diucapkan Dokter Awang Lim itu kembali menusuk telinga
saya. Karena diagnosa dia juga saya tidak merasa perlu
membawa isteri saya ke rumah sakit lain. Ah, tapi kini ternyata
begini jadinya. Semuanya terjadi begitu cepat. Benarkah dia
tidak sedang menderita penyakit yang menakutkan itu,
penyakit jantung atau yang lainnya? Benarkah dia hanya
bermasalah pada lambung?
Saya memang hanya menduga bahwa ‘masalah
lambung’ yang disebut dokter itu adalah masalah mag. Dokter
itu memastikan isteri saya tidak mungkin kena serangan
jantung. Lalu apakah mag itu yang merenggut nyawa isteri
saya? Atau apakah karena pengaruh obat yang diberikannya?
Ada pula yang menyebut-nyebut jika dosis obat dari dokter
keturunan ini sering berdosis tinggi. Atau adakah penyakit
mag itu juga berkaitan dengan puasa Kamis –dua hari sebelum
kejadian— yang dia lakukan? Atau juga kemungkinan karena
isteri saya itu memakan kue pulut malam Sabtu itu? Ah, tidak
satupun jawaban yang dapat saya berikan. Orang-orang lebih
suka menyebut isteri saya begitu mudah perginya. Orangorang
menyebut isteri saya pergi dengan tidak mengalami
kesulitan apapun. Tidak menyusahkan. Apakah itu pertanda
dia pergi dengan predikat ‘husnul-khotimah’? Ya Allah, hanya
Engkau yang tahu rahasia di balik itu semua.
Bagi saya, penyebab kematiannya itu tetaplah sebuah
misteri. Seharusnya saya tahu dan mengerti apa sesungguhnya
secara medis yang merenggut nyawa isteri saya. Tidakkah
keteledoran dokter yang tidak menginfus atau menginjeksi
isteri saya yang sebelumnya sudah saya laporkan bahwa dia
habis muntah? Tidakkah karena keteledoran dokter itu karena
tidak juga merujukkan isteri saya ke rumah sakit lain yang
lebih besar? Atau apakah karena saya yang lalai karena tidak
berinisiatif saja membawanya ke rumah sakit atau ke dokter
lain sebagai pembanding? Ya Tuhan, begitu banyak pertanyaan
yang tidak dapat saya jawab. Penyebab kematiannya benarbenar
misteri yang tidak mudah saya menjawabnya. Mata saya
tidak bisa lepas dari wajah tertutup kain panjang di samping
saya itu. Berpikir begitu, hanya air mata saya saja yang terus
mengalir membasahi mata dan pipi saya. Saya serasa hanya
bermimpi.
Para pelayat kian memenuhi ruangan rumah saya. Kini
bukan hanya ruang depan (tempat mayat terbentang diam)
yang dijejali pelayat tapi ruangan tengah dan bagian belakang
juga sudah dipadati orang. Di ruang depan secara spontan
para pelayat membaca surah Yasin. Ada yang membaca secara
bersama, serentak dan ada pula yang membaca sendiri-sendiri.
Saya mencoba setabah mungkin sambil juga membaca
alquran. Saya juga tidak berhenti berdoa seperti mereka yang
berdoa. Kehancuran perasaan ini harus saya terima walaupun
tidak juga bisa rasanya.
Pada waktu seperti itu, dua HP saya terus-menerus
berdering. Terkadang saya jawab langsung terkadang saya
biarkan dia berbunyi begitu saja. Terkadang saya tidak
sanggup menjawabnya. Terkadang untuk beberapa orang saya
mencoba langsung menelpon untuk memberitahukan
kejadian ini walaupun saya harus terisak menahan tangis
menjelaskannya. Kakak kandung isteri saya, Kak Maimunah
adalah oang yang beberapa kali saya telpon, baru dapat
menyampaikan informasi ini. Anak saya, Ery juga orang yang
saya telpon kembali setelah tadi di rumah sakit saya memberi
tahu kematian mamanya. Ketika masih di UGD saya memang
telah memberi tahu anak saya Ery yang di Tanjungpinang itu.
Saat itu dia menangis histeris hampir setengah jam di telpon.
Saya tahu dia sangat terpukul dengan informasi dari saya. Kini
dia, bersama dua anak saya lainnya sudah ditinggal pergi
mamanya untuk selamanya. Mereka sudah kehilangan
mamanya.
Waktu terus merangkak. Saya tidak menduga kalau hari
sudah larut malam. Orang-orang masih ramai di dalam dan
di luar rumah. Pukul 01.30 (Minggu, 17 April) saya mencoba
membaringkan badan saya yang letih di sebelah isteri saya
yang terbaring kaku. Ya Allah, ini adalah malam terakhir saya
akan berbaring di samping isteri saya. Besok kami pasti akan
berpisah, ya Allah. Tabahkanlah ya Rab hati dan jiwa saya.
Tahankanlah ya Rab, tangis dan isak saya. Saya juga menyuruh
anak saya, Kiky untuk beristirahat membaringkan badan di
samping sebelah mamanya. Saya tahu dia pasti juga letih dan
sangat menderita. Dialah yang sedari sore hari tahu persis
keadaan mamanya. Mata anak sulung saya itu sudah sembab
karena menangis berulang-ulang sedari sore.
Malam terus bergerak. Mata saya ternyata tidak bisa
tertidur walaupun saya coba memejamkannya. Suara-suara
orang yang melayat dan ikut menunggu isteri saya juga kian
berkurang. Beberapa suara masih terdengar di luar sana. Di
dalam rumah, ada yang mencoba memejamkan mata sambil
duduk dan menyandarkan punggung ke dinding rumah ada
yang diam begitu saja. Saya sendiri sambil menelentang
menatap palavon ruang depan itu sambil berusaha
memejamkan mata. Tapi tetap tidak mudah dan tidak bisa.
Mata saya terasa pedih tapi tetap tidak bisa tertidur. Beberapa
kali menjelang pagi itu saya menelpon Kak Mai yang dari
pukul 02.30 dini hari itu sudah berangkat menuju Dumai dari
Pekanbaru. Besok dia akan berangkat menggunakan kapal fery
menuju Tanjungbalai Karimun. Saya yang menyuruhnya lewat
Dumai agar besok dapat melihat adiknya, isteri saya untuk
terakhir kali. Itu adalah permintaannya lewat telpon. Dia minta
ditunggu sebelum dikebumikan.
Pukul 04.10 saya duduk. Kembali saya menatap isteri
saya yang terbaring diam itu. Saya buka lagi wajahnya yang
ditutup kain. Saya menciumnya pelan.sambil berusaha
menahan tangis dan air mata. Saya rapikan selendang penutup
rambutnya. Saya tahu dia tidak ikhlas jika rambutnya itu
terbuka begitu saja. Dia adalah orang yang sangat ketat
menutup rambut semasa hidupnya. Dia tak ingin rambutnya
terlihat oleh yang bukan muhrimnya.
Saya tidak tahu apakah saya dapat menidurkan mata
saya atau tidak. Karena sebentar lagi akan datang waktu sholat
subuh, saya pergi berwudhuk. Saya sholat sunat ke kamar
sebentar menjelang masuknya waktu subuh. Pagi ini saya tidak
ke masjid untuk berjamaah subuh sebagaimana biasanya. Saya
sholat di rumaah saja. Lalu kembali duduk di samping isteri
saya. Saya mengambil alquran dan membacanya kembali
seperti awal dia terbaring malam tadi. Hanya itu yang kuat
saya lakukan sebagai penguat pikiran, mengantarkannya ke
peristirahatan terakhirnya.
Pagi selepas subuh para pelayat mulai berdatangan
kembali. Saya ingat, jamaah sholat subuh dari Masjid Agung
adalah rombongan pertama yang datang bertakziyah, Minggu
(Ahad) sepagi itu. Ada tujuh atau delapan orang yang datang
dalam rombongan itu. Mereka masih mengenakan gamis
pakaian sholat subuh mereka. Mereka membacakan surah
Yasin serta doa-doa untuk almarhumah. Sungguh terharu
saya, masih gelapnya suasana subuh, para takziyyin sudah
berdatangan. Ya Allah, berilah mereka pahala atas bacaan Alquran
dan kalimah-kalimah thoyyibah yang telah mereka
bacakan untuk isteri saya.
Lama juga rombongan Al-Ustaz Zulfan Batubara –imam
masjid Agung Karimun— itu berada di rumah duka, subuh
itu. Walaupun tidak banyak bicara yang terucapkan namun
mereka telah memberikan kesejukan di pagi subuh itu.
Semakin pagi para pelayat semakin ramai memenuhi rumah.
Seperti malam tadi, pagi ini begitu ramainya para pelayat
memberikan kunjungan terakhirnya. Saya tahu itu adalah
bukti bahwa almarhumah memang orang yang banyak
memberi kesan yang baik bagi orang lain. Kebiasaannya
melayat orang meninggal bersama saya, membezuk orang
sakit serta pergaulannya yang baik dengan semua orang telah
membuat banyak orang terkejut dengan kejadian yang tibatiba
menimpanya. Saya menduga itulah alasan utama para
pelayat datang menjenguknya.
Menjelang siang, orang-orang yang datang kian ramai
dan silih berganti memasuki rumah. Tidak saja masyarakat
umum yang datang dari jauh –dari Pulau Kundur dan Pulau
Moro—saya juga melihat cukup banyak para pejabat
pemerintahan yang datang memberikan doa. Diantara mereka
saya melihat ada Wakil Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq, ada
juga Pak Sekda H. Anwar Hasyim, Ketua DPRD Karimun, H.
Raja Bakhtiar serta banyak pejabat lainnya. Saya tahu Pak
Bupati memang sedang tidak berada di tempat. Dia tengah
melaksanakan umroh ke Tanah Suci. Tapi Pak Wabup
membisikkan salam Pak Bupati sambil meminta saya untuk
tabah. Terima kasih, semoga Allah membalas keikhlasan untuk
hadir di rumah saya. Hanya itu yang dapat saya ucapkan
dalam hati saya.
Saya percaya, ramainya pelayat dari malam hingga
siang dan menjelang mayatnya dibawa ke masjid hingga
sampai ke pekuburan adalah karena izin Allah. Itu pertanda
betapa luasnya silaturrohim almarhumah selama hidupnya.
Kalau saja saya dapat mengatakan kepadanya betapa
banyaknya orang memberikan doa dan kunjungan kepadanya
tentu dia akan terharu. Dia benar-benar menerima balasan
hubungan baiknya dengan banyak orang.
Dia memang mencontoh pelajaran dari almarhum
ayahandanya, H. Abdul Mutolib. Orang tua kandungnya itu
telah memberikan pelajaran berharga kepada anaknya, isteri
saya. Bapaknya pernah berpesan, “Jika kita ingin orang ramai
datang ketika kita meninggal dunia, selalulah datang dan
melayat ke orang-orang yang lebih dulu meninggalkan kita”.
Itu pesan yang menjadi pegangannya. Dan ketika
ayahandanya itu wafat dalam usia 72 tahun pada 3 Februari
2002 silam, sungguh begitu tumpah-ruahnya manusia
melayatnya. Sebagai pensiunan pegawai Pos dan Giro
seungguhnya dia tidaklah orang yang terkenal dan populer.
Namun sebagai masyarakat, dia sangat dikenal oleh warga.
Pesan itu benar-benar diamalkan oleh isteri saya selama
ini. Setiap kali dia tahu ada orang meninggal, dia akan ikut
bersama saya atau akan mengajak saya jika saya tidak tahu.
Bahkan dalam empat tahun terakhir, dia selalu membawa
mukena (telekung) untuk dapat ikut sholat jenazah bersama
kapan dan dimanapun pada saat kami bertakziyah. Dia selalu
akan ikut menyolatkan jenazah walaupun hanya dia sendiri
kaum wanita yang akan ikut sholat.
Saat ini dia benar-benar menerima balasan kebaikannya
selama ini walaupun dia masih berada di dunia. Tumpahruahnya
manusia sejak malam tadi hingga pagi menjelang
siang ini, itulah pertanda harmonisnya hubungan
pergaulannya dengan orang lain. Saya sejatinya ikut haru dan
gembira menyaksikan itu semua. Tapi perasaan sedih
disebabkan begitu cepatnya dia pergi tidak mudah saya
menerimanya. Dia pergi, walaupun dengan mudah dan
tenang, tapi begitu berat dan dukanya buat saya. Sabar
memang tidak semudah bicara. Mudah mengatakan tapi
begitu berat dirasakan.
Satu hal yang terus-menerus menyenak perasaan saya
adalah misteri penyebab kematiannya itu. Kesabaran saya
benar-benar diuji oleh misteri itu. Saya begitu menyesal
menngapa saya tidak mampu dan tidak berhasil
menyelamatkan nyawanya. Saya merasa belum saatnya dia
pergi. Anak saya membutuhkan dia sebagai figur ibu
penyabar. Ibu yang gigih, sederhana, lembut dan
menyenangkan. Umurnya juga masih sangat muda menurut
perasaan saya. Tapi itu rupanya tidak menjadi alangan oleh
Allah. Allah benar dengan segala kekuasaan-Nya.
Sebentar lagi dia akan dimandikan, segala persiapan
sudah dilaksanakan. Namun misteri itu tetap saja menjadi
tanda tanya saya. Oh Tuhan, seketat itukah rahasia kematian
untuk setiap insan? Tidak adakah jawaban yang akan
menenangkan hati saya secara medis: mengapa dia pergi
begitu cepat? Hanya Dia jua yang akan mampu
menjelaskannya. ***

Kisah ke-4
Minta Mandikan di Kamar
DARI beberapa pesan berkaitan dengan kematian, salah
satu pesan yang disampaikan isteri saya semasa masih hidup
adalah tentang keinginannya untuk dimandikan di kamar
(dalam rumah). Selain itu dia juga beberapa kali berpesan
kepada anak-anak kami, khususnya kepada anak kami yang
paling bungsu agar tidak menjadi anak yang manja. Dia
memang tahu dan merasakan bagaimana anak kami yang
terakhir itu akrab dan manjanya kepada mamanya.
Sebesar usia sekarang –saat peristiwa ini anak saya itu
sudah duduk di kelas I (kelas X) SMA—Opy, terkadang masih
minta disuapkan mamanya makan. Jika dia akan memulai
makan dan kebetulan ada mamanya duduk di sampingnya,
dia tidak malu minta disuapkan. Begitulah manjanya dia
kepada mamanya. Dan karena itu jua mamanya sering
mengingatkan, “Pi, jangan suka manja. Nanti kalau Mama
sudah tidak ada, bagaimana?” Kalimat seperti itu sudah biasa
dan selalu diucapkannya kepada si bungsu itu.
Bagi siapapun, sesungguhnya pesan seperti itu tidaklah
pesan berlebihan. Setiap orang memang wajib mengingatkan
kematian kepada dirinya dan kepada orang lain juga. Apalagi
kepada anak-anak yang suka atau tidak, akan ditinggalkan
juga pada suatu saatnya kelak. Apapun yang baik dan harus
diketahui anak-anak memang sebaiknya disampaikan selagi
masih hidup. Wasiat dan pesan tidak harus selalu ditulis secara
tertutup.
Kepada anak saya yang sulung pun isteri saya sering
berpesan. Selain berpesan tentang permintaannya untuk
dimandikan di kamar, dia juga berpesan kepada anak kami
satu-satunya perempuan, agar bila kelak bersuami, patuhlah
kepada suami. Jangan sedikitpun melawan kepada suami. Dia
sendiri memang sudah membuktikan selama kurang lebih 26
tahun bersama saya. Lahir dan batin, seutuhnya dia serahkan
kepada saya. Dan karena itu pula saya merasa berkewajiban
membalas ketaatannya itu dengan cinta sejati saya kepadanya.
Saya berusaha sekuat tenaga dan sebisa yang mampu untuk
tidak sedikit pun mengecewakan hatinya selama kami
bersama. Cinta saya memang tidak luntur sedikit pun
kepadanya.
Lagi pula saya tahu persis, sebagai anak perempuan
yang paling bungsu (isteri saya mempunyai tiga orang kakak
perempuan, dan adik-adiknya tiga orang semua laki-laki) dia
adalah anak kesayangan orang tuanya. Dari empat orang
perempuan saya tahu dia sangat akrab dan manja kepada aba
(bapak) dan emaknya. Saya memang sudah mengenalnya
ketika dia masih anak-anak karena saya pernah lama
bertempat tinggal di sekitar tempat tinggalnya bahkan
belakangan kost di rumahnya.
Dari situ pula saya tahu kalau dia memang anak baik,
sederhana dan manja kepada orang tuanya. Dalam
melaksanakan tugas-tugas rumah, dia juga sangat rajin
meskipun dia anak perempuan paling bungsu. Kakak-kakanya
tahu persis kalau dia memang sangat rajin bekerja untuk
kepentingan bersama di rumah. Mungkin karena itu pula saya
cepat menyukainya. Ketika saya ingin menentukan pilihan
‘tambatan hati’ setelah pacar saya menikah dengan lelaki lain,
saya mantap memilihnya. Dan dalam usianya yang sangat
muda, baru SMA, saya sudah menikahinya. Bahkan orang
tuanya mengizinkan saya membawanya ke Tanjungbatu
tempat saya bertugas walaupun sebenarnya dia mendapat
kesempatan kuliah D2 Matematika berdasarkan panggilan
PMDK-UNRI tahun 1986 itu. Ah, demi suaminya dia
mengorbankan kesempatan kuliah waktu itu.
Saya memang merasa berutang budi dan tanggung
jawab kepadanya. Maka 26 tahun dia bersama saya, sekuat
tenaga saya berusaha memanjakannya meskipun itu tidak
mungkin karena begitu beratnya hidup sebagai seorang guru
waktu itu. Satu-satunya milik saya waktu itu adalah rasa
sayang dan tanggung jawab kepadanya. Untuk hal ini saya
memang utuh memberikan kepadanya. Tidak ada dan tak
akan pernah ada terbetik di hati saya untuk melukai hatinya.
Itu sudah janji di hati saya ketika meminangnya, dulu. Itu pula
yang saya buktikan selama ini bersamanya.
Suasana dan keadaan seperti itulah sesungguhnya yang
dia pesankan kepada anak gadisnya, Kiky. Dia ingin anak kami
kelak hidup lebih berbahagia bersama suaminya. Maka
berbagai pesan pun senantiasa dia sampaikan kepada anak
kami itu. Dia seolah sudah tahu bahwa kematian yang
merupakan akhir perjalanan manusia di muka bumi, memang
akan datang. Entah kapan dan di mana datangnya.
Kepada Kiky, anak kami yang sulung itu dia sering
berpesan, “Kalau Papa Mama nanti sudah tak ada, kalian adikberadik
jangan sampai bertelagah. Hiduplah rukun.
Sekolahlah sampai cukup. Jangan macam Mama, sekolah
hanya sempat tamat SMA,” katanya beberapa kali kepada
anak gadisnya itu. Dia dan saya memang selalu berpesan
kepada anak-anak supaya jangan sampai bermusuhan kelak
setelah orang tua tiada. Carilah ilmu untuk bekal hidup, jangan
tanya harta-benda pusaka orang tua. Dan pesan tentang
keinginannya untuk dimandikan di kamar itu pun dia
sampaikan juga diantara sekian banyak pesannya.
Beberapa kali sebelum dia berpulang, isteri saya
memang pernah berpesan, “Bang, jika Tati meninggal duluan,
tolong mandikan Tati di kamar. Jangan di luar rumah.” Pesan
itu tidak hanya kepada saya dia utarakan tapi juga kepada
anak kami, Kiky. Pesan seperti itu mungkin dianggap aneh
bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, itu pesan biasa yang tidak
perlu dianggap pesan yang aneh. Apalagi ketika pesan itu
disampaikan dia dalam keadaan sehat wal’afiyat, rasanya tidak
ada yang ganjil dengan pesan itu.
Hanya saja, ketika pesan itu benar-benar harus dihadapi
timbul bermacam perasaan. Pesan yang sesungguhnya pada
masa dia hidup biasa-biasa saja, ternyata setelah dia benarbenar
mendahului saya, itu menjadi beban pikiran buat saya.
Perasaan saya tetap galau jika mengingat pesannya itu.
Ketika musibah ini belum terjadi, pesan apapun
sejatinya adalah hal biasa untuk disampaikan. Saya sendiri
juga menyampaikan pesan yang sama kepadanya. Tapi pada
saat pesan itu benar-benar menjadi kenyataan seperti ini,
justeru menjadi beban perasaan bagi saya. Apakah dia sudah
mempunyai firasat akan begitu cepatnya dia pergi? Apakah
dia memang tahu kalau dia akan lebih dahulu pergi? Wallahu
a’lam.
Sekali lagi, buat saya itu bukanlah pesan aneh-aneh yang
dapat disebut sebagai pertanda akan datangnya ujian
mahaberat ini begitu cepat. Itu adalah pesan biasa yang boleh
saja disampaikan kapan dan di mana saja serta oleh siapa saja.
Sebelum meninggal, adalah hal biasa orang berpesan. Itulah
yang disebut dengan wasiat. Berwasiat adalah sesuatu yang
dibolehkan selama isi wasiatnya tidak seolah-olah mendahului
ketentuan Allah.
Di atas itu semua, saya memahami keinginannya itu.
Semasa hidup, khusus setelah dia menggunakan jilbab
penutup kepala sejak belasan tahun lalu, dia sangat kokoh
menjaga rambutnya dari penglihatan orang lain. Seingat saya,
sejak beberapa tahun kami tinggal di Moro (1995-an) dia
memutuskan untuk memakai jilbab. Dulu, sejak awal saya
menikahinya memang dia belum memakai jilbab penutup
kepala dalam kehidupan sehari-hari. Dia menggunakan jilbab
atas kemauannya sendiri. Saya sama sekali belum
menyuruhnya waktu itu. Itu benar-benar atas kesadarannya.
Yang saya tahu, sekali dia menggunakan jilbab, untuk
selanjutnya begitu kokohnya dia memakai jilbab.
Begitu teguhnya dia menutup rambutnya di hadapan
orang lain, tidak jarang dia segera berlari ke kamar mengambil
jilbab jika tiba-tiba ada tamu pada saat kami duduk-duduk di
dalam rumah berdua. Dia memang tidak ingin orang lain
melihat rambutnya lagi. Sejak dia memutuskan untuk
menutup rambutnya di hadapan orang lain, sejak itulah dia
sangat kokoh dengan perinsipnya. Hanya saya saja yang
diizinkannya untuk melihat rambutnya. Belakangan, di
hadapan anak-anaknya juga dia menutup rambutnya.
Untuk membuktikan betapa rambutnya tidak lagi boleh
dilihat kecuali oleh suaminya, bahkan sampai-sampai untuk
memotong rambutnya jika dia merasa sudah panjang,
dimintakannya kepada saya. Sayalah yang setiap dua atau tiga
bulan memotong rambutnya. Dia tidak mau pergi ke tempat
salon atau ke tempat lain, memotong rambut. Sayalah yang
memotong rambutnya di dalam kamar kami. Ya, di dalam kamar
tidur kami. Saya ingat itu sudah sangat lama seperti itu.
Itulah sebabnya menurut saya mengapa dia berpesan
untuk tidak mau dimandikan di luar rumah sebagaimana
kebiasaan di daerah ini. Lebih dari itu, pasti juga dia tidak
akan ikhlas dilihat orang lain auratnya yang lain. Jadi,
pesannya itu bukanlah pesan aneh yang tidak pantas dia
sampaikan. Itu pesan lumroh bagi setiap orang yang sudah
sadar betul bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan
yang menanti di hadapan.
Begitulah, untuk memenuhi wasiatnya itu, siang
menjelang dimandikan saya ingatkan kembali Pak Imam
(Ridwan H. Ali) yang selalu mengurus janazah di kampung
ini dan beberapa orang yang biasa ‘menyelenggarakan’ mayat
di Wonosari agar persiapan untuk memandikan isteri saya
dibuat di dalam kamar. Jangan di luar rumah. Salah satu
kamar tidur, yaitu kamar tidur yang selama ini dipakai oleh
anak saya, Kiky dipersiapkan untuk tempat mandinya. Saya
memang ingin dia dimandikan di kamar kami biasa tidur
berdua, namun mengingat kesulitan mengeluarkan segala
perabotan yang ada maka saya minta disiapkan di kamar anak
saya saja. Itu lebih mudah dan praktis. Anak saya juga pasti
akan bangga, mamanya dapat mandi untuk terakhir kali di
kamarnya sendiri.
Pada pukul 10.40 WIB segala persiapan untuk
memandikannya sudah selesai. Di kamar tidur yang dipakai
anak saya Kiky itu sudah tersedia tiga baskom besar berisi air.
Ada baskom berisi air wangi campuran kapur barus dan
harum-haruman lain. Ada pula baskom berisi air sabun dan
yang satu lagi baskom berisi air bersih. Pipa sambungan keran
air juga tersedia jika diperlukan penambahan air bersih.
Kegiatan memandikan isteri saya tidak lama lagi segera akan
dimulai.
Untuk memandikannya saya sudah putuskan bahwa dia
akan dimandikan oleh keluarga saja (Saya tahu di Wonosari
ini ada petugas khusus, tukang mandikan mayat di kampung
ini). Saya dan tiga orang anak saya serta Ibu Zaita bersiap
menanti mayat yang diangkat oleh beberapa orang ke dalam
kamar itu. Ada tiga orang ibu-ibu –yang biasa bertugas
memandikan mayat perempuan di Wonosari—juga berada
dalam kamar itu untuk memberi arahan. Selanjutnya pintu
kamar itu saya minta ditutup dan dikunci. Tak satupun lagi
orang dapat melihat kami memandikan almarhumah isteri
saya. Kain gorden jendela juga dirapikan agar tidak ada yang
mengintip, menucuri pandang ke dalam kamar dari luar.
Wasiatnya benar-benar saya laksanakan sesuai harapannya.
Ya Allah, semoga ini juga menjadi ketenangannya dalam
menghadap-Mu.
Saya berusaha menahan perasaan sedih saya selama
memandikannya. Teringat kembali oleh saya ketika kami pada
waktu-waktu tertentu berkesempatan mandi bersama di
kamar mandi, dalam kamar tidur kami. Sambil bergurau kami
bergantian menggosok punggung. Dia menggosok punggung
saya selanjutnya saya dapat giliran menggosok punggungnya.
Itu adalah saat-saat bahagia, dia masih ada bersama saya. Saat
ini, saya dan beberapa keluarga memandikan, menggosok
badannya adalah untuk yang terakhir kali. Tidak akan pernah
ada lagi kesempatan saya membersihkan badannya atau
punggungnya seperti biasa.
Di sebelah saya berturut-turut ke sebelah kiri saya adalah
anak saya, Ery, Kiky dan Ibu Zaita serta Opy yang paling ujung
(di sebelah kakinya). Kami memandikan sesuai yang
diarahkan Ibu Barokah dan Ibu Imam Ridwan yang memberi
petunjuk kepada kami bagaimana memandikan mayat.
Mereka berdua pula yang menyiramkan air ke arah mayat
isteri saya. Kami semua menggosok, membersihkan dan
memastikan tidak ada lagi apapun yang akan mengotori
mayat isteri saya.
Saya membersihkan bagian kepalanya. Rambutnya yang
sudah mulai lebih panjang dari pada biasanya seharusnya
tidak berapa hari lagi pasti dia minta dipotongkan. Saya
rapikan rambut itu sambil menggosokanya. Ah, rambutnya
yang sedikit sudah panjang itu tidak mungkin saya potong
lagi. Rambut itu akan dia bawa menghadap sang Khaliq, sang
penentu dan pemutus segala kehidupan. Lehernya yang
tertutup dagunya saya buka sedikit untuk membersihkannya.
Dengan pelan dan hati-hati saya membersihkannya.
Di bagian dadanya bertugas anak saya yang kedua, Ery.
Baik bagian punggung maupun bagian-bagian lain di sekitar
bahu dan dadanya dibersihkan oleh Ery dengan seksama. Saya
melihat anak saya yang kedua itu begitu tabah. Mungkin
karena dialah anak saya satu-satunya yang sudah beberapa
kali berkesempatan memandikan mayat. Sebelum ini, Ery
pernah ikut memandikan datuknya (orang tua dari mamanya)
di Pekanbaru ketika dia kebetulan masih sekolah di Pondok
Pesantren Darul Hikmah, Pekanbaru. Waktu itu datuknya itu
juga dimandikan oleh keluarga sendiri. Lalu sekitar tahun 2007
lalu, Ery juga pernah ikut memandikan adik ipar saya,
Syamsuar (suami Syamsiar, adik kandung saya) yang
meninggal dunia di daerah Sungai Lakam. Saat itu saya dan
isteri kebetulan sedang berada di kota Suci Mekah,
menunaikan ibadah haji. Saat ini Ery tampak sangat tabah
memandikan mamanya.
Selanjutnya lebih agak ke bawah ada anak saya Kiky.
Dia begitu sedihnya saya lihat ketika menggosok dan
membersihkan bagian-bagian tertentu mamanya itu. Dari tiga
orang anak saya yang ikut memandikan mamanya, Kikylah
yang paling tampak tertekan dan begitu berat beban
perasaannya. Mungkin karena dialah yang sejak sore Sabtu
semalam langsung menghadapi mamanya. Dia juga yang tahu
persis bagaimana mamanya menderita ketika untuk pertama
kali sore menjelang Asar itu. Saya sangat memahami
perasaannya. Air matanya seperti belum mampu dia bendung
sejak malam tadi.
Di bagian paha dan kaki bagian bawah, ada Ibu Zaita
dan Opy. Masing-masing kami berusaha melaksanakan
kewajiban ini dengan hati-hati dan penuh haru. Setiap yang
diarahkan oleh Ibu Pak Imam dan Ibu Barokah, kami
laksanakan dengan baik.
Setelah semuanya selesai, terakhir diwudhukkan oleh
Ibu Barokah. Saya meminta Ibu Barokah melaksanakan
wudhuk itu. Kami berlima dengan khusyuk memperhatikan
Ibu Barokah melaksanakan salah satu persyaratan
memandikan mayat itu. Selanjutnya diganti pakaiannya yang
basah dengan pakaian kering. Lalu beberapa orang
perempuan membantu mengangkatnya kembali ke ruang
tengah rumah. Seluruh pelayat untuk sementara diminta
mengosongkan ruang itu kecuali beberapa orang petugas yang
akan memasangkan kain kafannya.
Dalam sedih dan duka yang dalam, saya tetap mencoba
menenangkan pikiran dan perasaan saya. Saya harus tabah.
Saya sudah menunaikan permintaannya untuk dimandikan
di kamar tertutup. Harapannya benar-benar saya laksanakan
agar kepergiannya tidak lagi menyulitkan perjalanannya.***

Kisah ke-5
Itukah Pertanda Musibah?
Sesungguhnya saya adalah orang yang selalu tidak
mudah percaya tentang cerita-cerita yang terjadi sebelum dan
atau seolah-olah mengiringi suatu kematian. Lazimnya
memang selalu ada orang yang bercerita bahwa beberapa
waktu menjelang kematian, orang-orang tertentu
mengisahkan pengalamannya yang dikait-kaitkan dengan
kematian seseorang. Misalnya ada kisah burung murai yang
berbunyi (berkicau) beberapa hari atau beberapa saat
menjelang kematian seseorang. Ada pula misalnya kisah
burung gagak yang terus-menerus berbunyi di seputar rumah
seseorang beberapa saat atau beberapa hari menjelang
kematian. Atau tanda-tanda lain yang diyakini berkaitan
dengan kematian seseorang itu. Kejadian-kejadian semacam
itu diyakini sebagian orang sebagai tanda-tanda akan
datangnya kematian.
Banyak sekali kejadian-kejadian yang dikisahkan
berhubungan dengan kematian setelah kematian benar-benar
terjadi. Tapi saya selalu tidak akan mudah mempercayai itu
semua. Apalagi jika diukur dari keyakinan dan ajaran agama,
hanya Tuhan yang akan tahu tentang kematian: kapan dan di
mana itu akan terjadi. Manusia tidak akan pernah diberi tahu
tentang rahasia kapan dan di mana kematian akan terjadi.
Untuk kematian isteri saya, jika pun saya berpikir
tentang tanda-tanda yang saya lihat, yang saya rasakan atau
yang saya buktikan, rasanya sama sekali tidak ada yang dapat
saya jadikan sebagai tanda-tanda akan datangnya musibah ini
buat saya. Saya tidak merasakan perubahan tingkah-laku isteri
saya terhadap saya di akhir-akhir kebersamaan kami. Sehari
dua hari, seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan
sebelumnya, tidak ada yang ganjil yang saya rasakan.
Saya juga tidak melihat peristiwa-peristiwa alam lainnya
yang terasa aneh atau lain dari pada biasanya. Sama sekali
tidak ada firasat atau perasaan lain selain kebiasaan kehidupan
yang kami jalani. Bahkan sampai detik-detik dia akan
meninggalkan kami sekeluarga saya juga tidak dapat melihat
keganjilan sebagai pertanda akan datangnya musibah ini.
Dua kali saya meninggalkannya karena bertugas keluar
Karimun di hari-hari akhir kebersamaan, kami tetap
berhubungan lewat telpon sebagaimana biasa. Nada suara,
gurau-senda di HP (Hand Phone) tetap seperti biasa terasa.
Kurang dari dua minggu menjelang kematian, tepatnya dari
tanggal 7 sampai 10 April saya bertugas sebagai juri pada STQ
(Seleksi Tilawatil Quran) Tingkat Kabupaten Karimun di
Kecamatan Buru (kurang lebih 45 menit naik kapal dari Pulau
Karimun). Dia tidak ikut karena dia memang tidak pernah
mau ikut jika saya pergi karena urusan dinas.
Lalu empat hari menjelang akhir hayatnya, 12 sampai
15 April saya bersama pengurus BAZ (Badan Amil Zakat)
Kabupaten Karimun melakukan kunjungan kerja ke Bagian
Zakat di Singapura dan Johor, Malaysia. Dia juga tidak ikut
karena menurut kesepakatan rapat Pengurus BAZ kita
(pengurus) memang tidak membawa isteri atau suami. Yang
pergi memang hanya pengurus saja. Saya menganggap itu pun
urusan dinas karena pekerjaan saya. Sesungguhnya ada
penyesalan tersendiri bagi saya untuk kepergian terakhir ini
walaupun dia sama sekali tidak akan mau ikut karena itu
memang bukan berjalan-jalan biasa. Itu juga urusan pekerjaan.
Dari dulu saya sudah selalu bepergian sendiri untuk
tugas-tugas yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya.
Sebagai seorang yang dipercaya, misalnya, sebagai salah
seorang dewan hakim dalam berbagai MTQ/ STQ, saya sering
harus berpisah dengannya untuk beberapa waktu yang cukup
lama. Saya terkadang harus meninggalkannya lebih dari tiga
hari bahkan bisa satu minggu. Padahal saya tidak menyukai
bepergian tanpa dia ada di samping saya. Sekali lagi hanya
karena tugas, dia rela tidak ikut bersama.
Untuk urusan dinas apapun jika saya harus
meninggalkannya dia memang sudah mengerti dan sangat
mengikhlaskan saya untuk itu. Dan diapun tidak mau ikut
jika pun saya menawarkan untuk pergi jika itu urusan dinas.
Dia benar-benar mengerti dan dapat membedakan bepergian
saya karena tugas-tugas dinas dan bepergian untuk urusan
pribadi. Untuk yang terakhir inilah saya tidak bisa dan tidak
pernah berpisah dengannya. Kemana saya pergi, dia pasti akan
ada di samping saya.
Ketika saya pernah bertugas ke Natuna dalam MTQ
Provinsi Kepri II yang berlangsung dari tanggal 20-26 Mei 2008
saya sebenarnya ingin dia ikut bersama rombongan MTQ
Kabupaten Karimun. Jika perlu saya akan membayarkan
ongkosnya untuk pesawat terbang dari Batam ke Natuna. Lagi
pula waktunya cukup lama karena harus berangkat agak awal
dan kembalinya belakangan mengingat pesawat terbang yang
terbatas. Begitu pula beberapa kali saya bertugas menjadi
Dewan Hakim di luar Karimun seperti ke Tanjungpinang
(MTQ Provinsi Kepri ke-1, Mei 2006), ke Dabo Singkep (pada
STQ Provinsi Kepri ke-2, Mei 2009), ke Batam (MTQ Provinsi
Kepri ke-3, Mei 2010) selalu saya ingin membawanya ikut. Saya
ingin dia bersama saya juga. Tapi dia sudah punya perinsip
jika itu urusan dinas dia memang tidak akan mau ikut. Padahal
begitu lamanya saya berpisah dengannya untuk waktu-waktu
seperti itu. Begitulah kepergian saya yang dua kali dalam
waktu yang sangat dekat menjelang kepergiannya, itu adalah
tugas biasa yang saya lakukan. Dia tidak ikut bersama karena
itu memang berkaitan dengan pekerjaan saya.
Dan dua kali saya meninggalkannya karena tugas
menjelang akhir hidupnya itu, saya tetap tidak melihat
keanehan dari dan dalam hubungan kami. Sebelum berangkat
untuk beberapa hari (ke Buru dan ke Singapure-Johor) itu dia
tetap berperilaku biasa-biasa saja. Pada saat akan berangkat
dia menyiapkan segala perlengkapan (pakaian) saya. Dan
tetap diurusnya kembali setelah saya kembali pulang. Segala
hak, kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai isteri, baik
sebelum maupun sesudah saya kembali tetap dilaksanakannya
dengan baik. Dengan ikhlas menunaikan segala hak dan
tanggung jawabnya. Malam terakhir hayatnya, Jumat,
sekembali saya dari Singapure itu pun dia tetap memberikan
apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai isteri saya.
Sungguh dia isteri teladan bagi saya.
Jadi, sampai dia benar-benar dipanggil oleh Allah, Sabtu
Malam itu, saya sama sekali tidak mempunyai firasat atau
tanda-tanda lain yang berhubungan dengan kematiannya.
Saya benar-benar tidak diberi-Nya tanda-tanda apapun
berhubungan dengan kematian isteri saya itu. Segalanya
berjalan sebagaimana biasanya semasa hidupnya bersama
saya.
Namun ternyata tidak demikian dengan anak saya, Kiky
dan mungkin beberapa temannya. Berdasarkan cerita yang
disampaikannya kepada saya setelah isteri saya itu pergi
ternyata anak sulung saya ini, menyimpan beberapa kisah
yang menurutnya ganjil dan lain dari pada biasanya. Dan
setelah mamanya benar-benar pergi itu, kisah-kisah itu
diungkapkan kepada saya dan kepada beberapa orang lain.
Begitu pula Ibu Zaita (tetangga sebelah rumah yang sudah
menjadi bagian keluarga kami) pun bercerita tentang satu hal
yang menurutnya bisa jadi menjadi pertanda akan datangnya
musibah ini.
Saya sendiri juga merasa patut memperhatikan kisah
dan cerita anak saya ini. Bagi saya, walaupun itu hanya
kebetulan saja, tapi itu mungkin mengandung misteri yang
hanya Allah yang tahu apa maksudnya. Saya hanya bertanya
di hati, “Inikah tanda-tanda akan datangnya kematian itu?”
Wallahu a’lam. Kiranya tidak ada salahnya
mengungkapkannya di sini. Bisa jadi itu juga dapat menjadi
iktibar buat siapa saja.
Inilah beberapa peristiwa lain yang menyongsong
musibah ini:
1. Burung Kuning Mengetuk Jendela Kamar Anak Saya;
Kisah misteri ini disampaikan anak saya setelah
mamanya selesai dimandikan di kamarnya. Karena jendela
kamarnya itulah yang menurutnya pernah didatangi burung
sebesar burung merebah— berwarna kuning yang beberapa
kali terbang sambil mencotok (mematok) kaca jendela
kamarnya itu. Ada dua-tiga kali burung itu datang dari pokok
mangga yang tumbuh persis di sebelah kamar satu lagi (kamar
yang biasa dipakai Opy dan Ery) beberapa hari sebelum
kematian mamanya menjelang.
Ketika dia mendengar seperti orang mengetuk kaca
jendela, anak saya melihat seekor burung berwarna kuning
cerah sambil terbang mematokkan paruhnya ke kaca jendela.
Kata anak saya, dia sempat mengintip bahkan merekam
burung itu dengan kamera ponselnya. Sayang, hasil rekaman
burung sedang terbang dan mematok jendela kaca itu sudah
dihapusnya. Dia sendiri waktu itu sebenarnya tidak
menghiraukannya. Dia hanya menduga bahwa itu adalah
burung piaraan orang lain (burung jinak yang dilepas tuannya)
yang kebetulan salah rumah. Hanya itu saja dugaan Kiky.
Warna kuning itu sendiri kebetulan adalah warna
vaforitnya beberapa bulan itu. Termasuk ketika beberapa
waktu lalu mamanya berencana membelikan handuk di
Langkawi Malaysia (akhir tahun 2010 menjelang awal 2011),
juga berwarna kuning. Tapi handuk kuning cerah yang sudah
dipegang itu urung dibeli. Alasannya juga tidak jelas, tiba-tiba
mama tidak jadi membelinya. Penggantian casing HP yang
beberapa hari sebelumnya dibelinya juga berwarna kuning.
Ah, sebenarnya itu hanya kebetulan saja sama dengan warna
burung itu.
Buat anak saya burung yang mengetuk jendela
kamarnya itulah yang dikaitkannya dengan kematian
mamanya. Memang secara kebetulan mamanya dimandikan
di kamarnya itu. Tidak di kamar saya yang persiapannya
terlalu memakan waktu banyak. Isteri saya semasa hidupnya
hanya minta dimandikan di kamar. Di ruang tertutup. Dan
itu sudah terkabul dengan dia mandi di salah satu kamar
rumah kami.
2. Habis Kenduri Mama tak Kembali;
Suatu pagi, beberapa minggu sebelum mamanya
berpulang, Kiky pernah menangis tersedu ke mamanya.
Kejadiannya di dapur pada saat mamanya menyiapkan
sarapan pagi untuk kami. Padahal waktu itu anak saya sudah
berpakaian seragam kerja (dinas Pemda, akan berangkat ke
sekolah). Sebagai seorang guru honorer, dia pagi itu sudah
bersiap-siap mau ke sekolah. Kiky memang mengajar di SMK
Negeri 1 Karimun sejak akhir tahun 2009 lalu.
Menurut anak saya itu, semula dia tidak ingin
menceritakan kisah sedih yang dialaminya ketika bermimpi
malam itu. Dia sebenarnya terlanjur menafsirkan mimpinya
itu sebagai mimpi buruk. Itulah sebabnya dia menahan tangis
di samping mamanya yang tengah menyiapkan sarapan pagi
seperti biasa, pagi itu. Dia takut sebenarnya menceritakannya
kepada mamanya.
Karena mamanya heran mengapa dia menangis, akhirnya
mamanya bertanya, “Kenapa, Ky?” Tentu dia melihat mata Kiky
merah dan berair. Akhirnya Kiky menceritakan kalau malam itu
dia bermimpi, mama tidak kembali sehabis upacara macam
kenduri yang diadakan di halaman rumah. Anak saya bercerita,
bahwa malamnya, dalam mimpinya itu dia serasa melihat mama
dan papanya (saya dan isteri saya) duduk berdua dalam suatu
acara kenduri seperti dulu acara mengantar haji, katanya. Pakaian
mama papa juga pakaian putih-putih seperti ketika kenduri haji
dulu itu. Di rumah kami seolah-olah ada kenduri yang akan
mengundang banyak orang di siang hari namun yang ada dalam
mimpinya hanya baru kursi kosong.
Waktu itulah dia merasa mamanya tidak pulang ke
rumah. “Mama rasanya senyum-senyum saja sambil
membungkuk mengangguk-angguk ke Kiky,” katanya kepada
saya . Lalu rasanya mama itu pergi tambah jauh dan hilang
begitu saja. Dia tidak tahu kemana mamanya pergi. Rasanya
hilang begitu saja, katanya.
Itulah mimpi yang dianggapnya mimpi buruk itu.
Namun mamanya, katanya malah marah ketika diceritakan
mimpi pagi itu. Kata mama, “Kiky tak boleh sedih begini.
Bahkan jika pun mama meninggal, Kiky juga tidak boleh
menangis. Doakan saja, mama”. Itulah kata-kata mamanya
pagi itu. “Sarapan Kiky juga terasa tidak enak pagi itu”, kata
anak saya bercerita.
Tapi menurut anak saya, mamanya memang biasa saja
rona mukanya. Dia tidak menunjukkan reaksi berlebihan
menanggapi cerita Kiky. Mama memang seperti itu. Ceritacerita
dan peringatan tentang kematian sudah biasa dia
sampaikan kepada anak-anaknya. Seperti yang selalu juga
saya sampaikan bahwa kematian memang pasti akan datang.
Tidak perlu diragukan.
Kini, setelah mamanya benar-benar pergi untuk
selamanya, dan mimpi itu kembali diceritakan anak saya
kepada saya, tiba-tiba saja saya berpikir, jangan-jangan itu
memang pertanda yang barangkali ada makna. Tapi apakah
itu pertanda akan datangnya musibah ini waktu itu? Atau itu
sebenarnya hanyalah mainan tidur belaka? Hanya Tuhan yang
Maha Tahu. Kematian adalah rahasia Allah yang tidak akan
mudah diketahui manusia.
3. Minta Teruskan Sumbangannya;
Kepada anak saya Kiky mamanya ternyata juga secara
khusus berpesan sesuatu. Pesan itu adalah berkaitan dengan
bantuan/ sumbangan yang selama ini sudah dilaksanakannya.
Setiap bulan dia memang membantu orang-orang tertentu.
Saya tahu kalau selama ini dia memang memberi bantuan
sumbangan kepada beberapa orang. Mereka itu adalah anakanak
yatim dan orang-orang yang kebetulan ekonominya
lemah. Saya memang bangga dengan kedarmawanannya itu.
Dia selalu mengulang-ulang kata-kata saya, “Yang kita berikan
itulah yang akan kita terima.” Saya bangga, dalam
kesederhanaan hidupnya dia selalu murah hati membantu
orang. Saya juga bangga karena sebenarnya penghasilan kami
tidaklah seberapa namun dia selalu ingin memberikan
bantuan kepada orang-orang yang memang membutuhkan.
Bantuan atau sumbangan itu diberikan dalam bentuk
uang secara rutin setiap bulan. Dia sudah memberi tahu saya
kalau sebagian uang gaji atau uang penghasilan lain yang
selama ini dia pegang dan kelola memang diberikan kepada
beberapa orang. Saya hanya berpesan, “Tidak sampai
menyulitkan belanja rumah tangga sendiri.” Selain itu dia
memang sudah memahami betul bahwa pada hakikatnya
harta kita yang benar-benar akan menjadi milik kita kelak di
hari akhirat adalah semua harta-benda dan kekayaan yang
pernah kita sumbangkan di jalan Allah dengan baik dan
dengan ikhlas. Itulah yang selama ini dia pegang dan dia
laksanakan.
Dia sebenarnya sudah memberi tahu saya dengan
terbuka. Hanya saya memang tidak ikut menentukan siapa
dan berapa besar bantuan yang dia berikan selama ini. Ada
beberapa orang yang menurutnya layak dibantu karena
mereka sangat membutuhkan. Lagi pula mereka-mereka itu
adalah keluarga yang selama ini ternyata sudah akrab dan
sudah dianggap keluarga sendiri oleh isteri saya.
Menurut anak saya, Kiky, ada tiga keluarga yang secara
rutin dibantu mama selama ini setiap bulan. Sedangkan yang
lain-lain mama tidak rutin membantunya. Dan yang tiga
keluarga inilah yang kata mama harus Kiky lanjutkan
membantunya. Dia minta supaya papa melanjutkannya.
Bahkan sambil bergurau mama mengatakan, andai papa tidak
mau melanjutkannya maka Kiky katanya wajib melanjutkan
membantu orang-orang itu. Begitulah dia pernah berpesan
kepada anaknya, Kiki beberapa pekan menjelang datangnya
musibah ini.
Adapaun orang-orang yang selama ini sudah
dibantunya adalah:
1. Keluarga kakaknya sendiri di Pekanbaru yaitu Ibu Atun.
Dari beberapa orang saudara perempuan, Atun (nama
lengkapnya Kamariatun) dengan beberapa orang anaknya
tinggal di rumah tua peninggalan orang tua mereka. Atun
mempunyai tanggung jawab memelihara dan merawat
dua orang saudara lainnya yang kebetulan tidak sehat.
Mereka membutuhkan bantuan untuk makan dan
perawatan kedua saudaranya itu. Sementara keadaan
ekonomi Atun tidak begitu kuat. Suaminya bekerja sebagai
Satpam di Unilak (Universitas Lancang Kuning)
Pekanbaru. Jadi, kepada keluarga inilah setiap bulan dia
memberikan bantuan. Dan itu harus dilanjutkan sesuai
pesannya kepada anak saya Kiky.
2. Keluarga Anjang di Teluk Air, Karimun. Ibu Anjang yang
bernama lengkap R. Sa’diyah adalah seorang sederhana
yang selama ini sudah kami anggap sebagai keluarga
sendiri. Awal persaudaraan ini adalah karena Ibu Anjang
selalu diminta bantuan memasak oleh isteri saya jika kami
membuat acara tertentu (kenduri, dll). Dia memang pintar
memasak. Karena sudah akrab dan selalu bersama maka
terjalinlah hubungan kekeluargaan. Dan akhirnya kami
menganggap keluarga mereka sebagai keluarga kami juga.
Bahkan ketika kami berangkat haji tahun 2006 lalu,
merekalah yang kami serahkan tanggung jawab mengurus
rumah dan anak-anak yang kami tinggalkan. Oleh karena
itu isteri saya merasa berutang budi kepadanya dan
bertekad selalu membantunya. Belakangan bahkan dia
oleh isteri saya diminta membantu mengurus pakaian anak
saya yang bungsu, Opy. “Anggaplah Opy itu anak Anjang
sendiri,” begitu pernah isteri saya berpesan kepadanya.
Dan untuk keluarga inilah juga bantuan rutin yang
dipesankan kepada Kiky untuk dilanjutkan jika kelak dia
tidak ada. Ya, Allah dia tidak berpesan apa-apa tentang
harta peninggalannya tapi justeru dia berpesan tentang
tanggung jawabnya.
3. Keluarga Ida di Teluk Air. Ida adalah seorang ibu rumah
tangga yang sudah ditinggal oleh suaminya. Suaminya
sudah berpulang ke rahmatullah dengan meninggalkan
anak yatim bersama isterinya itu. Ada tiga orang anaknya
yang masih dalam usia sekolah. Tentu saja dia akan
kesulitan dan akan merasa berat mengemudikan rumah
tangga dengan pekerjaan serabutan sebagai ibu rumah
tangga. Bantuan yang selama ini diberikan oleh isteri saya
adalah untuk membantu meringankan pembayaran uang
sekolah anak dari Ibu Ida tersebut. Menurut informasi yang
dijelaskan oleh anak saya Kiky bahwa ketiga anak Ibu Ida
masing-masing sekolah di SMK Negeri 1 Karimun, di salah
satu SMP di Karimun. Jadi, mereka pasti sangat
memerlukan bantuan masyarakat untuk meneruskan
sekolah. Itulah sebabnya isteri saya ikut memberikan
sumbangan kepada keluarga ini.
4. Pulang Kampung Lebaran Terakhir; Sejak kami bertugas di
Kabupaten Karimun (dulu Kepulauan Riau) kami
memang tidak selalu pulang ke Pekanbaru atau pulang
kampung, ke Airtiris. Berbanding rekan-rekan guru seangkatan,
saya adalah guru yang jarang pulang ke
kampung dan atau ke Pekanbaru. Tidak selalu setiap tahun
dapat pulang kampung khususnya pulang kampung
untuk berlebaran bersama keluarga. Alasannya, disamping
memang membutuhkan biaya besar yang saya tidak selalu
ada dananya juga masalah tugas dan tanggung jawab di
sekolah.
Sebagai Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum waktu
itu (di Tanjungbatu, 1986- 1993), dalam libur saya terkadang
juga bertugas mempersiapkan segala sesuatunya menghadapi
tahun pelajaran baru. Dan yang paling berat itu adalah
mempersiapkan dan menyusun jadwal pelajaran yang pada
awal tahun pelajaran harus sudah selesai. Jika rekan-rekan
guru SMA Negeri Tanjungbatu pada umumnya pulang
kampung ke Pekanbaru, Padang atau lain-lain tempat maka
saya dan isteri saya lebih banyak berlibur di Tanjungbatu saja.
Syukurnya isteri saya dapat menerima kenyataan yang
sesungguhnya pahit itu.
Selama sembilan tahun saya bertugas di Tanjungbatu,
kami hanya pulang ke Pekanbaru (tempat orang tua isteri) dan
Airtiris (kampung halaman saya) dua kali saja. Pertama pada
tahun libur semester genap (1987) saat usia anak saya yang
pertama baru tujuh bulan. Selanjutnya kami berkesempatan
pulang kembali pada tahun 1992 pada saat anak saya yang
kedua (Ery) berusia empat tahun. Selebihnya kami berada di
Tanjungbatu.
Lalu ketika saya bertugas di Moro selama delapan tahun
lebih (1993-2001) kami tidak juga berkesempatan pulang
kampung bersama untuk berhari raya sebagaimana menjadi
tradisi orang Melayu (Islam) setiap tahunnya. Seingat saya,
kami hanya pernah pulang kampung berlebaran satu kali saja.
Jika dalam waktu-waktu tertentu saya (sendiri maupun
bersama isteri) sampai ke Pekanbaru atau sampai ke Airtiris,
itu adalah kebetulan bersamaan ada tugas dinas saja. Atau
bukan pulang kampung karena berlebaran. Barulah pada saat
umur anak saya yang bungsu (Opy) sudah 16 tahun kami
kembali dapat pulang kampung bersama untuk melaksanakan
lebaran (Idul Fitri) bersama. Momen pulang kampung ini
adalah bersamaan Hari Raya Idul Fitri 1431 H atau tahun 2010
lalu. Ternyata inilah pulang kampung terakhir oleh isteri saya
bersama satu keluarga dalam rangka lebaran bersama.
Memang ada catatan tersendiri perihal pulang kampung
ini. Setelah lama kami memutuskan untuk menetap di
Karimun (sejak tahun 1989 ketika masih di Tanjungbatu)
sebenarnya semua keluarga di Pekanbaru dan Airtiris tetap
berharap dan menyuruh kami untuk pindah tugas ke daratan
sana. Kami sendiri, walaupun sudah mantap ingin menetap
di Moro (belakangan di Tanjungbalai Karimun) namun kami
masih mempunyai sebuah rumah di Jalan Riau Pekanbaru.
Rumah yang kami bangun sejak masih bertugas di
Tanjungbatu itu masih membuat hati kami sedikit-banyak
terpaut di Ibukota Provinsi Riau itu.
Baru setelah saya dimutasi dari Moro ke Tanjungbalai
Karimun (2002) itulah akhirnya jiwa dan hati kami benar-benar
kokoh untuk menjadi orang Karimun secara utuh. Itupun
didukung oleh ketiga anak kami yang kebetulan lahir di
Tanjungbatu dan Moro. Mereka sama sekali tidak bersedia
diajak pindah ke Pekanbaru atau ke Airtiris Kampar, misalnya.
Karena merasa lahir di pulau, mereka juga ingin tetap tinggal
di pulau ini. Artinya, jika kami orang tua ingin bersama mereka
dalam masa tua kami maka kami pun harus memutuskan
untuk tetap di pulau: itulah Kabupaten Karimun, Pulau
Karimun Kabupaten Berazam ini.
Sejak itu, kami berniat untuk menjual semua aset (tanah
dan rumah) kami yang masih ada di Pekanbaru. Tapi itu tidak
mudah. Sekian lama kami berusaha menawarkan rumah itu
namun tidak pernah ada yang mau membelinya. Barulah pada
kesempatan pulang kampung tahun 2010 lalu itu rumah kami
kebetulan ada yang mau membelinya. Kami juga terkejut dan
bangga, pulang kampung kali ini ternyata banyak sekali
membawa berkah. Banyak hal yang dapat dituntaskan:
bersilaturrahim hampir dengan semua keluarga di Pekanbaru
(pihak isteri) dan di Aitiris (pihak saya sendiri). Orang-orang
yang selama puluhan tahun tidak berjumpa, pada kesempatan
ini kebetulan dapat kami kunjungi rumah kediaman mereka.
Sungguh berkah luar biasa selama hidup kami merantau dan
kini dapat pulang kampung.
Jadi, pulang kampung setelah kurang lebih 10 tahun ini
benar-benar menyelesaikan persoalan rumah kami yang sudah
lama ingin kami jual. Adakah hubungannya dengan kematian
isteri saya ini? Hanya Allah yang tahu. Yang pasti, hanya
kurang lebih 10 bulan saja setelah pulang kampung itu, isteri
tercinta saya pergi untuk selamanya di Karimun. Itulah berarti
pulang kampung terakhirnya ke Pekanbaru. Kami sekeluarga
dapat bersilaturrahim bersama seluruh keluarga di sana yang
berarti untuk terakhir kali juga dalam hidupnya.
5. Merasakan Sarapan Masakan Kiky; Pagi Sabtu (16/04) itu
untuk pertama kali isteri saya merasakan masakan Kiky
sebagai sarapan pagi sepagi itu. Belum pernah dan bukan
kebiasaan selama ini dalam waktu sepagi seperti itu anak
sulung saya itu membuat sarapan pagi untuk kami
sekeluarga. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Kiky
selama ini memang cenderung manja dan dimanja oleh
mamanya. Kebetulan juga mamanya adalah ibu rumah
tangga utuh yang mampu melaksanakan tugas-tugas
dapur dengan baik yang membuat Kiky tidak selalu harus
terlibat menyiapkan masakan (makanan) untuk keluarga.
Kami semua memang terasa dimanja oleh keberadaan
mama yang pintar memasak.
Untuk urusan mempersiapkan makan-minum dalam
keluarga, isteri saya mampu melakukannya dengan baik.
Anaknya satu-satunya yang wanita, meskipun sudah cukup
dewasa untuk belajar memasak, namun belumlah terbiasa
memasak selama ini. Dia baru dalam taraf belajar dari
mamanya. Bahkan dalam minggu-minggu menjelang akhir
kebersamaannya dengan kami, mamanya itu sedang
mengajarkan membuat berbagai kue kepada Kiky. Tapi untuk
urusan mempersiapkan makanan selama itu masih
sepenuhnya dikerjakan oleh mamanya.
Memang ada yang ganjil pagi Sabtu itu. Kiky, anak
sulung saya itu sehabis mencuci pakaiannya pagi subuhnya,
langsung mempersiapkan sarapan pagi. Padahal selama ini,
sepagi seperti itu Kiky masih tertidur pulas di kamarnya.
Mamanyalah yang secara tetap mempersiapkan sarapan pagi
untuk kami. Pada saat kami –saya, Kiky dan Opy—akan
berangkat ke sekolah masing-masing, biasanya sarapan pagi
sudah tersedia oleh isteri saya. Namun pagi itu, ketika
mamanya keluar kamar dan melihat ke dapur, dan Kiky sudah
mengemas rumah serta telah pula mempersiapkan sarapan
pagi, mamanya tampak bangga sekali. Mamanya sempat
mengatakan, “Mantap,” sambil mengacungkan ibu jari kepada
Kiky. Menurut Kiky, sikap mamanya itu juga mengejutkan
sekaligus membanggakannya.
Itulah sarapan pagi pertama yang dipersiapkan Kiky
dan dirasakan mamanya sepagi seperti itu. Dan mamanya
dengan bangga merasakan pula sarapan pagi yang
dipersiapkan oleh Kiky pagi Sabtu itu. Sayang, ternyata
sarapan pagi itu adalah untuk yang pertama dan terakhir juga
dinikmati oleh isteri saya. Hari itu adalah hari terakhir kami
bersamanya untuk sarapan pagi. Pagi hari berikutnya, dia
tidak bisa sarapan lagi karena Allah sudah menjemputnya.
Kami berpisah untuk selamanya. Sesayang saya dan anak-anak
kepadanya, ternyata Allah jauh lebih sayang kepadanya.
Semoga dia benar-benar hamba kesayangan-Nya.
6. Minta Perbaiki Jalan Masjid Segera; Berkali-kali isteri saya
mengingatkan kepada saya untuk secepatnya
memperbaiki jalan masjid Ubudiyah. Jalan yang setiap hari
kami lewati jika akan ke masjid atau jika akan pergi ke
arah masjid (ke Pasar Bukit Tembak, dll) itu memang sudah
mulai rusak dan hancur lagi setelah sebelumnya pernah
juga kami perbaiki (disemen) sendiri. Sejak dua bulan
menjelang kepergiannya, dia mengingatkan kepada saya
supaya jalan itu disemen kembali seperti sebelumnya.
Sebenarnya jalan itu memang sudah pernah kami semen
bagian ujung (dekat TPQ Al-Ubudiyah) beberapa waktu lalu.
Saat itu jalan di sekitar gorong-gorong itu memang agak
hancur. Yang selalu melewati jalan itu memang masyarakat
umum juga. Tapi kami tentu akan selalu dan lebih banyak
melewatinya. Jalan itu adalah jalan satu-satunya akses ke
rumah kami dari arah masjid. Jadi, kami memang merasa
wajib memperhatikan dan memperbaikinya.
Seperti juga jalan di sekitar rumah salah satu warga
(tetangga) kami yang menghubungkan jalan aspal (Jalan
Masjid Atas) ke rumah kami, jalan ini memang belum
mendapat bantuan dari Pemerintah untuk semenisasi atau
pengaspalannya. Jalan dari samping rumah Pak RT (Pak Su)
melewati rumah kami hingga ke masjid Ubudiyah memang
masih jalan tanah. Kalau musim hujan, sangat becek dan sulit
untuk dilewati. Dan jalan ini pun adalah salah satu akses ke
rumah kami dari arah Batu Lipai.
Maka untuk mengurangi kekhawatiran melewati jalan
itu, saya dan isteri sepakat menyumbangkan sebagian rezeki
kami (tabungan infaq kami) untuk menyemenisasi jalan
tersebut. Pada mulanya kami menyampaikan keinginan
tersebut ke Pak RT. Kami katakan bahwa kami bersedia
membeli material untuk jalan (semen, kerikil dan pasir) agar
jalan itu diperbaiki. Jalannya sungguh sangat becek bila musim
hujan tiba.
Ternyata Pak RT (Suhartono) bersedia mengerjakannya
dengan cara gotong royong bersama masyarakat RT 01/ 09
Wonosari. Akhirnya jalan di sekitar rumah warga yang lama
terbiar itu dapat disemen dan sampai saat ini sudah lebih baik
dari pada sebelum disemen. Kami pun sekeluarga sebagai
pengguna jalan itu merasa senang dan bahagia sekali dengan
perbaikan jalan itu.
Yang masih mengganjal di hati isteri saya, kurang lebih
dua bulan menjelang kematiannya itu adalah jalan di sekitar/
ke masjid yang kembali rusak itu. Berulang-ulang dia ingatkan
agar jalan itu diperbaiki. Akhirnya saya minta bantuan ke
Syafii (tetangga) yang sudah biasa mengerjakan pekerjaan
semen serperti itu. Dan satu pekan menjelang kepergiannya
itu, jalan tersebut selesai disemen.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dari pesannya untuk
minta secepatnya perbaikan jalan itu. Andai saja dia masih
ada tidak ada yang perlu diceritakan di sini. Toh dari dulu dia
memang sangat perhatian dengan jalan tanah yang masih
terbiar oleh Pemerintah itu. Pesannya kembali teringat setelah
dia secepat ini pergi. Ternyata memang dia akan melewati jalan
itu pada saat mayatnya dibawa dari rumah duka ke masjid
untuk disholatkan. Apakah dia sudah merasa bahwa memang
dia memerlukan jalan itu karena mayatnya akan melewatinya?
Sekali lagi, hanya Allah yang tahu misteri di balik semua
kejadian menjelang musibah itu.
7. Misteri Lalat Hijau
Kisah lain yang juga ingin saya kisahkan di sini adalah
cerita yang pernah disampaikan oleh Ibu Zaita, tetangga
sebelah rumah yang selama ini memang sudah kami anggap
sebagai bagian dari keluarga kami. Dia guru –bersama saya
di SMA Negeri 2 Karimun, 2002 s.d. 2008— yang selama ini
begitu akrab dengan isteri saya. Dia dan isteri saya sudah
seperti kakak-beradik atau seperti hubungan anak dan orang
tua. Jika suasana gembira (seperti di hari raya) kami gembira
bersama. Sebaliknya jika ada suasana duka, kami dua keluarga
juga merasa duka bersama. Itulah sebabnya dia merasa sangat
terpukul dengan kepergian isteri saya yang tidak disangkasangkanya.
Pasca kepergian isteri saya, dia mengisahkan bahwa
beberapa hari sebelum musibah itu tiba, dia sempat berpikir
tentang akan datangnya musibah (orang akan meninggal
dunia) setelah dia melihat kejadian datang dan hinggapnya
lalat hijau di badannya. Firasatnya mengatakan bahwa
kemungkinan orang itu adalah orang yang dekat dengannya.
Menurut Ibu Zaita, selama ini jika dia didatangi lalat hijau
padahal tempatnya bersih, maka biasanya akan ada orang
yang akan ‘pergi’ darinya. Bila lalatnya hinggap di badannya,
biasanya orang dekatnya yang akan ‘pergi’ sementara bila
hanya terbang berkeliling saja, kemungkinan teman jauh yang
akan ‘pergi’. Hal seperti itu selalu dia alami dan menjadi
pertanda dalam hidupnya.
Itulah yang teringat olehnya bahwa beberapa waktu
sebelum musibah kepergian isteri saya, dia memang ada
didatangi dan dihinggapi oleh lalat hijau. Hanya saat itu,
katanya dia tidak berpikir siapa orangnya. Tidak juga
menyangka isteri saya yang akan ‘pergi’ itu. Apalagi dia juga
tahu kalau isteri saya tidak dalam keadaan mengidap penyakit
apapun. Tapi itulah yang terjadi. Benarkah ada hubungannya?
Wallohu a’lam, hanya Allah yang Maha Tahu. Dan itu pula yang
diceritakan Ibu Zaita kepada saya beberapa minggu setelah
isteri saya pergi untuk selamanya.***

Kisah ke-6
“Hanya Kematian
akan Memisahkan Kita, Neng”
Seumur hidup berumah tangga, bahkan sebelum saya
menikahinya, saya tidak pernah menyebut atau memanggil
nama sebenar isteri saya bila berbicara langsung dengannya.
Saya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Rajimawati
atau Tati sebagai panggilan sayangnya terhadap dirinya.
Hanya ketika berbicara dengan pihak ketiga atau dengan
orang lain saja saya baru menyebut nama atau panggilan nama
aslinya itu.
Itu saya lakukan karena saya sangat menghargai dan
menyayanginya. Saya juga menghormati dan merasa tidak
enak kalau langsung menyebut atau menyapanya dengan
namanya sendiri. Saya merasa terlalu kasar dengan menyebut
langsung namanya itu. Padahal saya tahu kalau semua orang
bahkan kedua orang tuanya menyebut nama Tati untuk
memanggilnya. Tapi buat saya itu tetap tidak nyaman dan
tidak merasa mesra dengan langsung menyebut namanya itu.
Saya sendiri tidak tahu waktu itu, mengapa saya tidak mau
dan tidak nyaman menyebut namanya yang sesungguhnya.
Untuk itu saya memberi dan memanggil nama khusus,
nama kesayangan untuknya. Nama itulah yang saya pakai bila
berbicara dengannya. Nama itu saya pakai sejak awal saya
merasa ada getaran cinta kepadanya di awal perkenalan
sampai kami dikaruniai anak. Sekian tahun saya menyapanya
dengan nama yang saya ciptakan sendiri. Siapa nama itu? Saya
memanggilnya dengan panggilan sayang, Neng.
Begitu cinta dan hormatnya saya kepadanya, saya hanya
menyapa dan memanggilnya dengan sebutan Neng itu. Bila
saya merasa perlu untuk memanggilnya, saya akan menyebut
nama Neng saja. Saya tahu itu adalah panggilan wanita
tersayang yang dipakai etnis Jawa. Panggilan kesayangan
seorang putri. Tapi saya merasa nama dan sebutan itulah yang
pantas dari pada saya menyebut namanaya langsung.
Semenjak dia gadis sampai kami menikah dan mempunyai
anak, nama itu tidak pernah saya ganti. Saya tidak pernah
menyebut dan memanggilnya dengan panggilan Tati
sebagaimana orang memanggilnya.
Ketika kami sudah mempunyai anak, ketika kami
masing-masing menyebut panggilan Papa dan Mama untuk
mengajar dan membiasakan panggilan orang tuanya untuk
anak kami, sebutan mama-papa pun melekat pada panggilan
kami sehari-hari. Saya pun berganti memanggil namanya dari
panggilan Neng menjadi panggilan Mama. Saya tetap tidak
pernah menyebut nama aslinya bila berbicara dengannya.
Anak pertama ke anak kedua dan ketiga, sebutan mama-papa
adalah sebutan mesra yang terus kami pakai. Dia memanggil
saya Papa sementara saya memanggilnya Mama.
Hanya dua tahun terakhir, khsusnya semenjak kami
selesai menunaikan ibadah haji bersama, isteri saya suka
sambil bergurau menyebut dan memanggil saya dengan
panggilan Pak Haji. Dan untuk mengimbanginya saya kadangkadang
juga memanggilnya dengan sebutan Bu Hajjah. Itulah
panggilan terakhir yang saya gunakan ketika berbicara
dengannya. Ketika panggilan itu belum terlalu mesra dalam
kehidupan sehari-hari kami, kini dia sudah pergi. Saya tidak
bisa lagi memanggil Bu Hajjah karena dia sudah pergi.
Jadi, sejak kami bersama hingga dia meninggalkan saya,
saya tidak pernah menyebut namanya yang sebenarnya bila
berbicara dengannya secara langsung. Itu seolah-olah tabu
buat saya. Pada awalnya, nama panggilan sayang yang saya
pakai adalah Neng. Setelah mempunyai anak saya
memanggilnya dengan panggilan Mama. Dan hanya sebentar
saja baru saya sempat memanggilnya dengan sebutan Bu
Hajjah sebagai pengimbang panggilannya kepada saya dengan
sebutan Pak Haji. Artinya ada tiga nama panggilan seumur
rumah tangga kami, saya memanggilnya.
Tapi panggilan Neng itu bagi saya mempunyai memori
tersendiri. Ada kenangan tersendiri yang tidak akan pernah
saya lupakan seumur hidup saya. Dalam periode sebutan
itulah saya meyakinkan dirinya bahwa saya benar-benar
mencintainya. Dengan sebutan Neng, di suatu malam saya
mengulang beberapa kali, agar dia yakin kembali bahwa saya
benar-benar sangat menyayanginya. Kenangan memori itu
kini terbayang kembali oleh saya pada saat dia sudah pergi.
Malam itu –duapuluh empat tahun lalu— dia rupanya
merasakan tekanan batin yang sangat hebat. Dan itu ternyata
dia tahan dan pendam berjam-jam semenjak siang harinya.
Kisah itu kini membekas amat dalam pada relung hati saya.
Kini saya kembali merasa bersalah mengenang peristiwa di
awal kami mengemudikan bahtera cinta rumah tangga kami.
Pada suatu malam, pada tahun 1987. Itu sekitar bulan
Mei atau Juni. Saya sebenrnya sudah tertidur beberapa saat
sebelumnya. Mungkin karena terlalu lelah karena kegiatan
siang itu. Saya cepat terlelap malam itu. Tiba-tiba saja saya
terbangun. Saya mendengar bunyi suara seseorang terisak.
Suara tangisnya tidak berbunyi tapi jelas sedu-sedannya. Saya
terbangun serasa dalam mimpi. Tangis apa gerangan di larut
malam seperti itu. Tentu saja saya heran karena menjelang
tertidur tadi, rasanya saya tidak merasa terjadi apa-apa. Saya
tertidur dengan pulas karena siangnya memang habis
melaksanakan upacara perpisahan kelas tiga SMA Negeri
Tanjungbatu.
Saya melihat isteri saya. Ternyata dia yang tersedu
menahan tangis. Di sebelahnya tidur pulas anak kami, Kiky
yang baru berusia empat bulan. Saya heran. Lama saya
berpikir mengapa dia tiba-tiba saja menangis. Lama saya
berpikir sambil menatap langit-langit rumah panggung itu.
Semula saya menduga, mungkin dia ingat orang tuanya.
Maklum, sebagai wanita yang sangat muda (baru saja tamat
SMA) yang saya nikahi dia memang terkadang merindukan
kedua orang tuanya yang jauh di Pekanbaru. Saya berusaha
tidak mengusiknya. Saya ingat waktu itu, kami tidur di atas
kasur yang diletakkan begitu saja di lantai rumah panggung
itu. Tidak ada divan sebagai alas kasur itu.
Lama saya berpikir. Dia tidak juga berhenti menangis.
Dia tetap tersedu menahan suaranya. Mungkin dia khawatir
anak kami terbangun maka dia menangis dengan terisak
seperti itu. Tapi saya tahu, dia sangat menderita menangis
seperti itu karena seolah tidak dapat melepaskan rasa
sedihnya. Saya mulai risau. Saya coba bertanya dengan lembut,
mengapa gerangan dia menangis. “Kenapa, Neng?” bujuk
saya dengan lembut. Saya berusaha memeluknya dengan
mesra. Tapi justeru dia semakin kuat tersedu. Tetap tanpa
suara dia semakin kuat terisak. Saya malah menjadi emosi.
Saya tidak mengerti mengapa malam ini dia begini. Apa
sesungguhnya yang terjadi? Ya Allah, ujian apa ini? Saya
benar-benar risau dan bingung.
Saya ingat, sampai selama satu tahun kami
mendayungkan bahtera rumah tangga sederhana di
Tanjungbatu, belum ada badai yang menerpa. Dalam kesulitan
ekonomi seperti apapun kami tetap mesra dalam rumah
tangga. Rumah papan yang sungguh menyedihkan karena
dindingnya sudah banyak yang keropos yang kami sewa
sebelumnya tidak sedikitpun merusak kemesraan rumah
tangga kami. Jika dia bersedih, itu hanya karena rindunya
kepada kedua orang tua dan keluarga. Tapi malam ini
mengapa tangisnya begitu berat?
Berbagai bujuk saya coba dan bertanya berbagai hal,
tetap saja dia menangis. Akhirnya, karena mungkin saya
merasa mengantuk, maka tanpa kontrol emosi saya
memukulkan tangan ke lantai rumah berlantai papan itu. Ya
Allah, saya telah membangunkan anak saya justeru membuat
suasana tambah tak baik. Anak saya terbangun dan ikut
menangis. Isteri saya duduk dan meraih anak saya, Kiky
sambil menyusukannya. Justeru kini ada berdua orang yang
paling saya sayang, menagis di samping saya. Hati saya tibatiba
ikut sedih dan terasa ikut terluka. Bahkan ingin pula saya
menangis. Saya merasa telah melukainya dengan
memukulkan tangan ke lantai rumah. Dan dia sendiri justeru
tambah histeris menangis. Ya Allah, saya jadi menyesal.
Lama saya membujuknya. “Neng, kenapa. Apa yang
terjadi, sayang. Abang bingung kalau begini,” saya rasanya
tak mampu membendung sedih dan ingin ikut menangis. Saya
sesungguhnya jatuh kasihan kepadanya. Lebih dari sekedar
cinta, saya sesungguhnya juga hiba kepadanya. Dia
menyusukan anak saya sementara sedihnya tambah tak
terkendali. Saya terus mencoba membujuknya sementara
emosi saya juga meningkat.
Beberapa saat barulah dia bercerita kalau dia sangat
tertekan sejak siang harinya. “Tadi siang Abang bernyanyi,”
katanya dengan tangis yang tetap dia tahan. Dia rupanya
sudah menahan sedih semenjak siang hari di sekolah. Tapi
dia masih mampu menutupnya. Hari itu dia memang saya
bawa ke sekolah menghadiri acara perpisahan siswa kelas tiga
SMA Negeri Tanjungbatu (sekarang SMA Negeri 1 Kundur)
yang merupakan kehadirannya untuk pertama kali dalam
acara seperti itu di sekolah. Sebagai anggota DW
(Dharmawanita) SMA dia memang diundang oleh Ketua DW,
ibu Kepala Sekolah dalam acara melepas siswa-siswi kelas tiga.
Persoalan yang menyesak dadanya sejak siang itu adalah
karena melihat saya bernyanyi bersama (duet) dengan salah
seorang guru perempuan. Guru itu memang masih gadis. Dia
tidak sanggup melihat saya bernyanyi bersama dengan guru
yang masih gadis itu. Ya Allah, dia rupanya cembru melihat
saya bernyanyi bersama. Waktu itu saya memang bernyanyi
bersama Ibu Yanti (Rahayu Kusrianti) yang merupakan salah
seorang guru Bahasa Indonesia, sama dengan saya di sekolah
itu.
Barulah saya tersadar, sebagai wanita yang berbudi
halus, dia memang wajar cemburu. Sebagai ibu muda dari
satu anak saya, usianya juga sangat muda, dia pasti dan pantas
untuk cemburu. Tapi saya memang tidak menyadari itu.
Karena dalam pikiran saya tidak akan pernah ada lagi wanita
lain selain dia. Itu sudah saya katakan ke dia, ketika saya
memutuskan untuk melamarnya pada saat dia masih belum
tamat sekolah. Saya tahu, waktu itu juga ada lelaki lain yang
bermaksud melamarnya. Untuk itu saya memang harus
meyakinkan dia. Bahkan saya merasa perlu mengikatnya
ketika dia masih sebagai siswa.
Kini, setelah dia benar-benar menjadi isteri saya, bahkan
sudah melahirkan seorang anak saya, tidak mungkin saya
akan mencederai cinta murni saya kepadanya. Buat saya
memang tidak akan ada wanita lain lagi selama dia masih
bersama saya. Maka ketika saya diminta pembawa acara
untuk menyumbangkan suara, bagi saya itu tidak lebih
sekedar memenuhi permintaan para siswa. Tidak terlintas
dalam pikiran saya hal-hal lain yang akan merusak rumah
tangga saya. Ah, saya memang terlalu menyepelekan keadaan
itu.
Saya mencoba membujuknya kembali. Saya rangkul dia
ke dalam pelukan saya. Saya benar-benar sadar dan menyesali
kebodohan saya itu. Anak saya, Kiky terus menyusu dalam
dekapan mamanya. “Maafkan Abang, Neng. Abang tidak
bermaksud apa-apa. Neng tidak perlu khawatir. Cinta dan
tanggung jawab Abang hanya untuk keluarga kita. Abang
tidak akan pernah merusak rumah tangga kita. Tidak akan.”
Saya rasanya ikut hanyut dalam sedu-sedannya. Begitu
lugunya dia, bisik saya dalam hati.
Tangisnya sedikit mereda. Saya terus meyakinkan dia
kalau saya memang tidak punya maksud lain berduet dengan
Ibu Yanti itu. Sungguh, saya tidak punya hubungan apapun
dengannya kecuali hubungan sebagai sesama guru. Kebetulan
memang satu jurusan yang tentu saja mengajar Mata Pelajaran
yang sama, Bahasa dan Sastra Indonesia. Jika saya akrab
dengannya, itu semata karena sesama guru sejenis. Selebihnya
tidak ada apa-apa.
“Hanya kematian yang akan memisahkan kita, Neng.”
Berkali-kali saya katakan kalimat itu kepadanya. Saya tidak
akan membiarkannya menangis lagi. Kini saya sudah tahu
masalahnya. Ingin rasanya saya bercerita kembali tentang
hubungan cinta kami sebelum menikah yang sebenarnya
sangat singkat. Cinta yang dibina lewat surat-surat antara
Pekanbaru-Tanjungbatu akhirnya mengantarkan kami ke
gerbang pernikahan. Ingin saya menceritakan itu semua untuk
menyejukkan keadaan yang sungguh tidak menyenangkan
dia. Tapi akhirnya saya lebih banyak terdiam.
Saya memang silap dengan tindakan konyol saya itu.
Wanita memang tidak akan pernah bisa menerima ada wanita
lain di samping suaminya. Dan saya tidak menyadari itu
meskipun sesungguhnya saya tidak berpikir untuk merusak
rumah tangga kami. Cinta seorang wanita yang tulus, yang
usianya masih terlalu muda, yang orang tuanya jauh darinya,
yang panggilan kuliahnya tak kesampaian gara-gara saya
sudah menikahinya, yang suaminya berpenghasilan sangat
kecil, yang lebih banyak waktunya sendiri di rumah pada saat
suaminya di sekolah, pastilah jiwanya lemah dan perasa.
Mudah berprasangka. Itulah mungkin yang dialaminya dari
siang hingga pecahnya isak-sedunya di malam buta itu. Dia
menahan tekanan batin begitu lama.
Peristiwa itu berbekas begitu dalam pada kemesraan
hubungan kami. Malam itu, saya mematri kembali janji yang
sudah ada bahwa kami tidak akan pernah berpisah kecuali
Tuhan menghendaki. Saya tegaskan, ke depan tidak akan ada
lagi salah duga, fitnah dan cerita-cerita hasutan dari manapun
yang akan merusak rumah tangga kita. Percayalah
sepenuhnya. Itulah yang saya katakan kepadanya pada malam
itu.
Dan sejak itu, alhamdulillah bahtera rumah tangga kami
tidak pernah mampu diterpa oleh badai apapun. Isteri saya
sudah membuang jauh rasa cemburu yang pernah
menyiksanya. Jika pun saya akan bepergian sendiri karena
tugas sekolah, atau saya mengikuti berbagai acara yang tidak
melibatkan dirinya, sama sekali tidak lagi membuat dia untuk
cemburu. Dia sudah mengerti dan mampu menerima realita
seperti itu. Saya pun kokoh menjaga kepercayaannya itu.
Saya membuktikan bahwa setiap kegiatan yang saya
lakasanakan tanpa keberadaannya di situ, saya sangat menjaga
bahwa kegiatan itu tidak akan menimbulkan fitnah. Saya tidak
mau dan tidak akan melakukan perbuatan bodoh yang akan
merusak rumah tangga kami. Saya tidak akan bergurau
dengan wanita lain di belakangnya. Justeru jika saya ingin
bergurau dengan wanita lain itu saya lakukan di hadapannya.
Dia tahu dan mengerti itu bermain dan bergurau belaka. Dia
sudah tidak perlu cemburu lagi.
Sampai akhir hayatnya kami bersama, tidak satupun
langkah dan tindakan saya yang akan mengecewakannya.
Jikapun dia kecewa itu bukan karena wanita atau prsoalan
serupa karena kelalaian saya. Peristiwa malam yang
menyesakkan dadanya seharian itu adalah tonggak sejarah
meluruskan cinta di antara kami berdua. Tidak ada lagi yang
akan mampu memisahkan kami berdua kecuali kehendak-
Nya. Kami bertekad ingin terus berdua sampai tua.
Kini, kepergiannya yang begini tiba-tiba memang telah
membangkitkan kembali rasa sentimental dan rasa cengeng
saya terhadapnya. Saya tidak siap dengan kehilangan tiba-tiba
ini. Semua kesalahan dan kekeliruan saya terhadapnya jika
itu pernah terlakukan, ingin saya ungkapkan pada catatan ini
sebagai bentuk penyesalan saya. Tapi saya sangat yakin,
rasanya sebagaimana ucapan saya kepadanya, seperti itu
jualah tindakan dan perbuatan yang telah saya berikan
kepadanya. Karena itulah saya selama bersamanya sudah
membiasakan untuk selalu pergi berdua kemanapun kecuali
jika itu untuk urusan dinas. Saya tidak akan pernah pergi
sendiri tanpa dia kecuali urusan dinas atau urusan sekolah.
Kami sudah merencanakan bagaimana kami akan terus
bersama menikmati hidup bersama hingga waktu yang lama.
Hidup hingga tua akan kami nikmati bersama. Rupanya kami
hanya bisa membuat rencana. Tapi Allah juga mempunyai
rencana. Dan rencana Allah adalah di atas segala rencana yang
dibuat hamba-Nya. Saya harus menerima ini semua sebagai
bagian ujian dari kehidupan. Semoga saya kuat melanjutkan
amanah kehidupan yang Dia masih berikan.***

Kisah ke-7
Cinta Bersemi Melalui Surat
Tidak mudah untuk menjalin hubungan
(berkomunikasi) antara Tanjungbatu dan Pekanbaru di tahuntahun
1985-an lalu. Belum ada telepon genggam (HP=Hand
Phone) seperti hari ini. Belum ada juga internet yang mampu
menghubungkan orang-orang se-dunia seperti saat ini. Jika
ingin berhubungan dengan keluarga atau siapa saja –saat itu—
dengan ongkos agak murah hanyalah via surat-menyurat
dengan menggunakan jasa Pos dan Giro. Waktu itu berita
mendesak dan penting hanya bisa disampaikan dengan
telegram. Dengan telegram, informasi yang bisa dikirim juga
terbatas seperti berita panggilan penting atau informasi
kematian. Dan jika ingin luas dan bebas maka hanya ada suratmenyurat.
Memang ada telepon waktu itu. Seingat saya, hanya ada
model telepon engkol dan hanya ada satu pesawat di kantor
telkom Tanjungbatu itu untuk disewakan ke masyarakat
umum. Dipakai untuk interlokal yang sistemnya saling
bersambung antar operator Telkom di setiap daerah. Tidak
bisa langsung ke tujuan bicara kita. Dan biayanya juga cukup
mahal. Maka alternatif yang mudah dan murah adalah
berkomunikasi lewat surat-menyurat itu tadi. Dengan surat
rasanya jauh lebih murah dan bebas menyampaikan isi hati
dan perasaan. Perlu waktu berhari-hari memang untuk
mengirimkan surat tersebut ke tujuan. Tapi itu adalah satusatunya
yang bisa dilakukan.
Untuk jarak antara Pekanbaru ke Tanjungbatu dalam
surat-menyurat saat itu diperlukan waktu antara enam hari
hingga delapan hari perjalanan surat. Yang inipun adalah jika
menggunakan surat kilat yang perangkonya lebih mahal dari
pada surat-surat biasa. Kalau tetap menggunakan perangko
surat biasa maka bersiaplah untuk jangka waktu yang lebih
lama baru surat itu tiba di alamat tujuan kita. Sampainya lama,
begitu pula balasannya tentu juga akan lama sampainya
kepada kita.
Itulah yang saya alami dan ‘nikmati’ dalam cinta kami
di awal saya memulai hubungan lebih serius dengan calon
isteri yang akhirnya menjadi isteri saya. Saya dan calon isteri
saya yang waktu itu masih sebagai seorang siswa SLTA di
Pekanbaru harus menjalin cinta melalui surat-menyurat.
Setiap dua-tiga minggu kami merasa bertemu melalui surat.
Jika minggu ini saya menulis dan mengirimkan surat
untuknya di Pekanbaru maka dua minggu ke depan atau lewat
beberapa hari biasanya saya akan mendapatkan balasan surat
darinya. Begitulah adanya. Dan cinta kami tetap bersemi
dalam hati masing-masing walaupun sebenarnya dengan
sembunyi-sembunyi pada awalnya melalui surat.
Sebelum saya berangkat untuk pertama kali di awal
tahun 1985 ke Tanjungbatu, tempat saya ditugaskan sebagai
guru, saya sudah merasakan betapa rindunya saya kepada
seseorang. Itu terutama tentu saja setelah teman wanita saya
(bernama Yuniati) meninggalkan saya karena harus menikah
dengan lelaki pilihan ibunya. Tidak mudah dan tidak nyaman
sama sekali hidup sendiri di rantau yang begitu jauh dari
keluarga.
Di ujung hubungan saya dengan Yun yang gagal,
sebenarnya ada seorang wanita lain yang sempat singgah di
hati saya. Sebagai sesama guru di SMP Swasta Nurul Falah
Pekanbaru, saya dan dia memang selalu berjumpa. Mungkin
karena kesepian ditinggal kekasih, ketika dia ada perhatian
kepada saya, hampir saja saya menyatakan cinta saya
kepadanya. Namun dalam waktu yang sama saya juga melihat
seorang gadis lain, dia sederhana dan setiap hari ada di
samping saya. Maksud saya karena saya memang kost di
rumahnya. Itulah Rajimawati yang disapa Tati, wanita yang
akhirnya mendampingi hidup saya dalam susah dan bahagia.
Diam-diam saya sangat menaruh hati kepadanya.
Padahal saya tahu, dia juga dalam usaha pendekatan oleh
seorang teman saya. Bahkan teman saya yang Angkatan Darat
(ABRI) ini sudah pernah mencoba berkomunikasi dengan
kedua orang tuanya. Manusia memang boleh berencana. Tapi
Tuhan jauh lebih baik rencana-Nya. Saya memang lebih
menyukai dia dari pada guru, teman sejawat itu.
Rupanya saya tidaklah bertepuk sebelah tangan. Diamdiam
gadis ini, yang semula tidak menyukai saya (konon
beberapa tahun sebelumnya dia tak suka kepada saya) kini
dia sudah mulai memahami saya. Saya berusaha terus
mendekatinya ketika saya masih di Pekanbaru itu. Dan itu
mudah buat saya karena saya memang tinggal di rumahnya.
Saya menyewa salah satu kamar di rumahnya dan membayar
makan dengan orang tuanya. Kalau dia tak sekolah atau keluar
rumah, pasti berjumpa dengan saya di rumah.
Itulah, akhirnya saya memutuskan untuk memupuk
terus rasa cinta yang mulai tumbuh kepadanya. Saat itu dia
sudah duduk di kelas dua SMA Negeri 6 Rumbai Pekanbaru.
Saya sendiri sudah akan menjadi seorang pegawai yang baru
saja menerima SK (Surat Keputusan) Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan untuk menjadi guru di SMA Negeri Tanjungbatu,
Kundur, Kepulaun Riau (saat ini bernama SMA Negeri 1
Kundur). Rasa cinta yang kami pupuk ini tentu saja dengan
sembunyi-sembunyi.
Sebagai seorang pelajar, dia pasti takut kepada kedua
orang tuanya untuk berpacaran. Dan ketika saya benar-benar
sudah meninggalkan Yun itu saya benar-benar merasa
kesepian dan memutuskan akan menjalin hubungan
dengannya. Rasa cinta yang juga saya terima dari teman guru
di SMP Nurul Falah, dengan berat hati saya lupakan saja. Saya
berkonsentrasi memburu cinta dari gadis ini.
Cinta yang yang terpendam di dua hati itu tidak sampai
diketahui oleh siapapun hingga saya harus berangkat
meninggalkan Kota Panas, Pekanbaru. Berarti saya juga harus
meninggalkan gadis sederhana yang baru saja diam-diam
menerima uluran cinta saya. Saya tidak bisa lagi lebih lama di
kota ini. Panggilan tugas ke pulau nun jauh, sudah lama
menunggu. SK tugas saya sendiri sesungguhnya terhitung
sejak tahun 1984. Hanya memang lambat sampai ke tangan
saya SK itu. Dan di awal tahun 1985 itulah saya pertama kali
merantau, meninggalkan Pekanbaru, meninggalkan keluarga
dan meninggalkan gadis manis yang baru beberapa bulan saja
saya berhasil menaklukkan cintanya. Dengan berat hati, saya
berangkat menggunakan kapal kayu (route Tanjungpinang-
Pekanbaru) sore menjelang malam itu. Kapal ini akan berhenti
dan menurunkan penumpang dan sebagian muatannya di
Tanjungbatu. Saya juga akan turun di Tanjungbatu.
Di Tanjungbatu, tempat baru yang begitu asing bagi
saya. Untuk sementara saya menumpang tinggal di rumah
keluarga Pak Armen, teman saya sesama guru di SMP Nurul
Falah. Pak Armen mempunyai saudara di Tanjungbatu karena
kedua orang tuanya memang orang Tanjungbatu. Begitu asing
dan sepinya terasa di awal masa tinggal di rantau orang.
Pikiran dan perasaan saya terus-menerus ke Pekanbaru
khususnya kepada gadis yang membuat makan-minum dan
tidur saya serasa terganggu. Saya benar-benar rindu
kepadanya.
Suatu hari akhirnya saya mengirimkan surat kepada
gadis pujaan saya itu. Surat itu tentu saja disamping
mengabarkan bahwa saya sudah sampai dengan selamat di
Tanjungbatu sekaligus menanyakan bagaimana keadaan dan
kabarnya dia di Pekanbaru yang sudah saya tinggalkan.
Hubungan yang sebenarnya sudah dijajaki dan sudah ada
benih-benih cinta yang dipupuk di antara kami, kini ingin saya
patri kokoh dengan gadis manis nan sederhana ini. Saya sudah
bertekad, kali ini saya tidak boleh menunda lagi masa bujang
saya. Umur saya saat itu sudah mendekati 29 tahun. Kali ini
saya harus memutuskan calon isteri yang akan mendampingi
saya mendayungkan bahtera rumah tangga nantinya.
Beberapa kali sebenarnya saya hampir dijodohkan oleh
keluarga saya. Ketika saya masih berstatus mahasiswa, saya
pernah disuruh menikah dengan gadis desa (Airtiris) yang
masih ada hubungan kekeluargaan dengan saya. Saya tidak
bersedia dengan alasan belum selesai kuliah. Satu tahun
sebelum hubungan saya bubar dengan Yun, sesungguhnya
saya juga diminta oleh Abah (Bapak) Yuniati (Pak H. Zainal
Abidin) untuk menikahi anaknya yang sudah menjalin
hubungan selama hampir lima tahun dengan saya. Dialah
yang selama ini merestui hubungan kami. Karena Abahnya
jua saya bertahan mencintai Yun begitu lama dengan harapan
suatu saat nanti ibunya merestui kami juga.
Menurut Abah Yun waktu itu, menikah sajalah dulu.
Segala biaya akan ditanggungnya jika saya bersedia menikah
waktu itu. Tapi saya juga belum bersedia dengan alasan yang
sama: kuliah belum selesai. Apalagi saat itu, saya tahu kalau
ibu dari Yun itu tidak terlalu suka kepada saya. Saya tahu itu
disebabkan jarak ekonomi saya dengan keluarga Yun amatlah
jauh berbeda. Dia adalah anak orang Caltex (kini bernama
Chevron) yang di Pekanbaru terkenal keluarga orang kaya.
Saya sendiri? Anak petani desa yang mencoba kuliah di Ibu
Kota dengan biaya sendiri. Saya menduga itulah penyebabnya
ibu itu tidak suka.
Dan ketika cinta saya dan Yun resmi bubar setelah
pernikahannya itu, saya yakin dan harus mencari gadis lain
yang mengerti keadaan saya. Kini dia benar-benar ada: anak
ibu kost tempat saya bertempat tinggal sambil kuliah dan
mengajar juga. Itulah sebabnya perasaan cinta kepada gadis
terakhir ini saya jaga dan pelihara dengan segala usaha.
Surat pertama yang saya kirimkan, seperti juga suratsurat
saya lainnya selalu berisi banyak cerita dan bermacam
informasi. Saya memang suka menulis surat berpanjangpanjang.
Saya adalah anggota Sahabat Pena Indonesia (SPI)
yang dikelola Kantor Pos dan Giro Indonesia waktu itu.
Sebagai seorang yang suka menulis, surat-surat saya otomatis
dipengaruhi oleh hobi saya ini. Diapun ternyata juga pintar
menulis surat yang panjang dan mengandung banyak cerita.
Pada awal tahun 1985 itu, tepatnya tanggal 9 Januari
1985 saya menerima suratnya dengan surat bertanggal 2
Januari 1985. (saya tahu itu karena sampai saat ini suratnya
kebetulan masih ada dan di ampelopnya sengaja ditulis
tanggal terimanya). Surat bertulis tangan itu sungguh
merupakan bukti cintanya yang diam-diam mulai kami jalin
ketika saya masih di Pekanbaru itu. Benar, dia memang
mencintai saya. Surat yang terdiri dari tiga halaman itu
walaupun tidak secara terus terang menyatakan cinta, tapi
saya dapat memahami. Jelas dia mengatakan bahwa sejak saya
berangkat ke Tanjungbatu, dia merasa kehilangan. Paling tidak
dia mengatakan bahwa kehilangan orang tempat curhat
(curahan hati) khusus mengenai pelajaran sekolah. Biasanya
memang sayalah orang tempatnya bertanya jika ada kesulitan
pelajaran sekolah. Waktu itu saya memang sudah menjadi
guru honorer di SMP dan SMA Nurul Falah Pekanbaru.
Sebagian isi suratnya berbunyi begini:
.........................
Bang, semenjak kepergian Abang, Tati merasa kehilangan
karena tidak ada lagi orang tempat Tati bercerita dan meminta
pertolongan apabila Tati mengalami kesulitan dalam belajar. Tetapi
sebagaimana pesan Abang, mau tak mau Tati harus berusaha untuk
mengatasi semua itu. Tati berusaha untuk lebih rajin lagi belajar,
karena Tati sadar bahwa tanpa belajar kita tidak akan menemui
kesuksesan yang kita ingini (tul nggak!!!).
Dan Tati juga merasa gembira karena Tati masih bisa bercerita
kepada Abang walaupun hanya lewat surat. Asal saja Abang tidak
bosan membalas setiap surat yang Tati kirimkan. Sebab kalau bosan,
Tati akan gelitik dan cubit Abang, sampai Abang meminta ampun
kepada Tati (dasar licik ha ha ha).
.........................(aline ke-3, 4, dan 5, halaman pertama dari
tiga halaman yang ada.
Surat itu saya balas langsung hari itu juga. Dan biasanya
seminggu ke depan dia akan terima dan membalasnya lagi.
Jadi, setiap dua minggu sekali saya pasti menerima suratnya.
Isinya bermacam-macam. Walaupun jarak antara satu surat
dengan surat berikutnya begitu lama, namun itulah satusatunya
hubungan komunikasi yang dapat menyatukan cinta
kami yang berjarak tempat tinggal begitu jauh. Cinta saya dan
dia memang bersemi melalui surat.
Setiap kali menerima surat hati ini rasanya selalu
berbunga-bunga. Seperti tidak sabar ingin segera membaca
surat yang tiba. Perasaan itu rupanya tidak hanya saya rasakan
sendiri. Ternyata dia yang nun jauh di Pekanbaru juga sama.
Seperti bunyi salah satu suratnya dia mengatakan kalau setiap
menerima surat dia ingin segera membuka dan membacanya.
Seperti surat bertanggal 23 Januari 1985 dan saya terima di
Tanjungbatu pada tanggal 30 Januari 1985 (catatan itu juga
tertera di ampelop) yang ditulisnya pada kertas double polio
dia katakan bagaimana dia tak sabar ingin segera membaca
surat saya itu. Perihal dia menulis pada kertas double polio
tentu maksudnya agar bisa bercerita yang lebih banyak dengan
lembaran kertas yang tidak perlu banyak.
Inilah sebagian isi suratnya itu:
Menemui Bang Rasyid di Tempat
Hai, lagi ngapain tuh!! Lagi menung, masak atau lagi
membaca? (lho baru datang kok langsung nanya, ntar dijewer baru
tahu). Mudah-mudahan saja Abang selalu dalam keadaan sehat,
ceria dan ...... (TTS...nih).
Oh ya, surat Abang, Tati terima (ambil dari bis surat) pada
tanggal 23 Januari 1985. Sewaktu mengambil surat tersebut, hampir
saja Tati tidak bisa menahan diri, karena Tati sangat ingin membaca
surat tersebut secepatnya (kuno banget nih anak!!! ha ha ha)
Tati sangat sedih (ternyata kita sama-sama cengeng) ketika
mengetahui bahwa Abang belum juga mendapat tempat kost yang
baik, belum menerima gaji dan ditambah lagi dengan persoalanpersoalan
lainnya. (Tati berdoa semoga Abang tidak cepat berputus
asa). Dan seandainya Tati di sini tentu dengan senang hati Tati
akan membantu Abang.
Bang, semenjak kepergian Abang, Tati berusaha berbuat dan
bertindak seakan-akan Abang masih berada di Pekanbaru. Dan
syukur alhamdulillah, usaha Tati tersebut tidak sia-sia. Tati berusah
untuk tidak keluar malam kecuali pergi wirid pada malam Selasa
dan Kamis. Sedangkan pada malam Minggu Tati hanya keluar
sampai 8.30 untuk menjemput Parni (karena ia tidur di rumah).
Bahkan kadangkala Tati tidak keluar sama sekali. Dan yang sangat
penting, setiap kali Tati pergi, Tati selalu mengatakan kemana tujuan
Tati pergi kepada mak/ Aba (untuk menghindari hal yang tidak
diinginkan tentunya).
.............. alinea ke-1, 2, 3, dan 4, halaman pertama dari
tiga halaman...
Surat itu masih sangat panjang sebenarnya. Berbagai hal
dia ceritakan kepada saya. Yang saya pahami dia memang
benar-benar mencintai saya. Saya benar-benar tidak bertepuk
sebelah tangan seperti yang awal-awal dulu saya takutkan.
Maka saya tidak pernah terlambat untuk membalas suratsuratnya
jika ada surat yang mampir ke sekolah saya di
Tanjungbatu darinya.
Jujur saya katakan, membaca suratnya ternyata
mengasyikkan. Dia rupanya sama lihainya dengan saya
menulis surat. Berbagai gaya dan cerita dia sampaikan.
Sesekali juga asyik dan lucu bahasanya. Ah, saat itu memang
hanya suratlah yang dapat menenangkan hati yang saling
berjauhan. Bacaan lain juga tidak sebanyak saat ini.
Dalam arsip yang kebetulan masih tersimpan sampai
saat ini, ada belasan pucuk surat dari gadis yang akhirnya
menjadi isteri saya saya simpan. Tidak semua surat yang dia
kirimkan dapat saya dokumenkan. Mungkin sebagiannya
tercecer entah kemana. Masa 25 tahun sejak surat itu saya
terima dan simpan bukanlah waktu yang singkat. Saya sendiri
tidak pernah berpikir akan menulis ulang surat-surat cinta itu
seperti saat ini. Kepergiannya yang begitu tiba-tiba membuat
segalanya berubah.
Sementara surat-surat saya sendiri juga tidak semua
yang masih ada. Jika surat-surat saya itu ada arsipnya (dulu
saya juga menulis/ mengetik surat cinta untuk dia dengan
menggunakan kertas karbon) maka surat akan tersimpan
sampai saat ini. Kalau tidak, saya juga tidak tahu sudah berapa
pucuk surat selama kurang lebih setahun itu saya tulis
untuknya. Apakah dia menyimpan surat-surat yang saya
kirimkan, saya tidak pernah melihatnya selama ini.
Satu bagian dari kisah dalam buku ini (bagian akhir)
akan saya tuliskan kembali surat-surat tersebut secara utuh
sebagai pelepas rindu dan kenangan kepadanya. Saya merasa
kembali terbawa ke masa lalu yang sesungguhnya sangat
indah.

Kisah ke-8
“Abang, Harusnya ‘Dah Jadi
Duda”
Harus kembali saya jelaskan bahwa saya sudah
mengenal isteri saya ini sejak dia masih belum remaja. Saya
kebetulan bertempat tinggal (kost) tidak jauh dari rumah orang
tuanya di Jalan Riau Pekanbaru ketika saya masih menuntut
ilmu di sekolah PGA Pekanbaru pada tahun 1975-1977.
Belakangan bahkan saya kost di rumah orang tuanya pada
saat saya sudah kuliah di Unri tahun 1980-an. Itulah mungkin
jalan oleh Tuhan untuk menyatukan saya dan dia.
Dalam masa-masa itulah saya mengenalnya meskipun
saya tidak berpikir bahwa pada suatu saat dia akan menjadi
orang yang sangat saya cintai: menjadi ibu dari tiga orang anak
saya. Dia masih usia Sekolah Dasar saat awal saya
mengenalnya itu. Saya sendiri sebenarnya sudah mempunyai
tambatan hati, teman wanita lain yang pada saat itu kami
sudah saling menyayangi. Selama saya menuntut ilmu di Unri
(1977-1983) saya menjalin hubungan cukup baik dengan gadis
hitam manis ini. Wanita inipun bahkan juga diketahui olehnya
sebagai teman wanita saya. Apalagi gadis yang menjadi teman
akrab saya itu juga masih ada hubungan kedaerahan
dengannya. Keluarga mereka konon sama-sama berasal dari
daerah yang sama, Tapung, Kabupaten Kampar. Jadi, sama
sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa dia akan
menjadi tambatan hati saya di belakang hari.
Yun atau bernama lengkap Yuniati Z, itulah wanita yang
juga satu daerah dengan isteri saya yang menjadi teman
istimewa saya itu. Dalam masa hampir lima tahun –menjelang
saya tamat Unri— itu saya menjalin rasa kasih dengan Yun.
Saat itu isteri saya yang masih anak-anak pasti tahu bahwa
Kak Yun (isteri saya memanggilnya kakak) adalah bakal
menjadi pendamping hidup saya suatu saat kelak. Hubungan
saya sendiri dengan Yuniati sudah diketahui bahkan oleh
keluarga saya di Airtiris, Kampar sana. Hanya karena bukan
jodohlah maka kami tidak sampai berlanjut ke gerbang rumah
tangga. Dia harus menikah dengan seseorang yang dicarikan
oleh ibunya menjelang tahun 1983 itu.
Ibu Yun sendiri selama itu memang tidak merestui
hubungan kami berdua walau tidak menolak juga secara
terbuka. Saya mengerti itu, mungkin karena jarak status
ekonomi keluarga saya dengan keluarga Yun memang terlalu
jauh. Sebagai pegawai Caltex (sekarang berganti nama menjadi
Chevron), ayahnya sekaligus keluarganya adalah orang
berada. Tapi sebagai keluarga petani, keluarga saya jelas jauh
berbeda. Saya menduga, ibunya tidak suka karena masalah
itu saja. Hanya cinta suci Yunlah yang membuat hubungan
kami berlanjut sampai lima tahun lamanya.
Ketika saya menyelesaikan studi saya di UNRI pada
tahun 1983 dan tahun 1984 saya mendapat SK pengangkatan
sebagai calon pegawai negeri dalam status guru di SMA Negeri
Tanjungbatu, saya belum memutuskan siapa wanita yang
kelak akan menjadi pendamping hidup saya meskipun ada
gadis lain yang mengusik hati saya. Yun yang sudah menikah
dengan lelaki lain adalah satu persoalan yang ikut
mengosongkan jiwa saya dalam cinta.
Tentang isteri saya ini, saya memang sudah
mengenalnya lebih dekat sebagai gadis kecil menjelang SMA.
Dia sudah remaja waktu itu. Sederhana dan cantik, menurut
penilaian perasaan saya. Perasaan itu sebenarnya ada di hati
saya. Tapi saya belum mengungkapkannya.
Tahun 1985 saya resmi pindah tugas dari honorer SMP
Nurul Falah Pekanbaru ke Tanjungbatu sebagai guru. Pikiran
saya waktu itu hanya ingin fokus pada tugas baru sebagai
calon PNS yang ditempatkan jauh dari Pekanbaru meskipun
sesungguhnya hati saya mulai tertambat di hatinya.
Terlemparnya saya jauh dari Pekanbaru –tempat saya belajar
sekaligus mengajar selama empat tahun terakhir—bukanlah
nasib buruk saya anggap waktu itu. Justeru saya meminta
ditugaskan di daerah kepulauan saja berbanding ke daratan,
tempat asal-usul kelahiran saya. Waktu itu saya ingin sekali
naik kapal laut. Itulah sebabnya saya meminta ditugaskan di
daerah kepulauan sana. Dan saya berangkat pada saat pacar
saya, Yun sudah menjadi milik orang lain.
Masa-masa kosong seperti itulah saya merasakan betapa
sepinya hidup tanpa pendamping. Padahal beberapa bulan
menjelang berangkat saya merasakan ada benih cinta lain di
hati saya. Bahkan sudah diungkapkan secara tak langsung
kepadanya. Dan dalam keadaan seperti itulah saya mencoba
menyuratinya. Lewat surat jualah akhirnya cinta saya bersemi
dengannya. Hingga akhirnya keluarga saya melamarnya
ketika dia masih duduk di kelas III SMA Negeri 6 Rumbai
Pekanbaru di pertengahan tahun 1985 itu.
Setelah sekian lama membina rumah tangga, ternyata
kisah kasih semasa muda itu sekali-sekali tercetus dan terlintas
juga dalam cerita antara saya dan isteri saya. Sekali waktu, sekitar
tahun 2003, pada saat saya dan isteri saya duduk-duduk di teras
rumah, saya mendapat berita yang mengejutkan saya. Berita itu
saya terima dari seorang teman saya di Ranai, Natuna yang
kebetulan dia menjadi guru di sana. Dalam informasinya dia
bertanya apakah saya sudah tahu kalau mantan pacar saya, Yun
sudah meninggal dunia. Waktu itu saya ingat kami masih
menyewa rumah dan tinggal di daerah Bukit Senang, Karimun.
Tentu saja saya kaget bukan kepalang. Walaupun saat
itu Yun sudah isteri orang lain, ibu dari anak-anaknya bersama
suaminya, Suharto, jelas saya tetap terkejut dan sedih. Saya
tidak bisa membayangkan mengapa dia sudah meninggal
dunia dalam usia yang tentu belum terlalu tua. Sakit apakah
dia? Tidak bahagiakah dia bersama suaminya? Tersiksakah
dia bersama suami yang dicarikan ibunya? Berbagai
pertanyaan mengganggu pikiran saya mendapat berita dari
Ranai itu.
Dan dari sahabat saya itulah saya tahu kalau dia
meninggal dunia karena kecelakaan jalan raya. Dia kabarnya
tertabrak mobil yang dikemudikan oleh seorang anak muda
yang ternyata masih dalam belajar mengemudi, membawa
mobil. Kejadiannya di Tampan, Pekanbaru di daerah tempat
tinggalnya juga. Begitu informasi yang saya terima. Saya benarbenar
sedih. Saya menjadi teringat kembali bagaimana kami
menjalin hubungan kasih-sayang di bawah tekanan ibunya
yang tidak merestui hubungan kami. Hanya Abah (Bapak) dan
keluarganya yang lain saja yang waktu itu merestui dan
menyokong cinta kami berdua. Kami memang harus
bersembunyi-sembunyi untuk membuktikan cinta masingmasing.
Dia lebih sering datang ke tempat saya kost dari pada
saya datang ke rumah orang tuanya di Tampan Pekanbaru
itu.
Kisah sedih inilah yang saya ceritakan kepada isteri saya,
sore itu. Dia pun ikut terkejut dan sedih. Bagaimanapun itu
keluarga dia juga. Sekian puluh tahun kisah itu sudah
terlupakan, kini tiba-tiba muncul bersama diterimanya berita
yang tidak baik itu. Pastilah mengagetkan. Berbagai kisah dan
cerita kami bincangkan berdua selepas mendapat berita duka,
meninggalnya mantan kekasih saya itu. Tapi satu kalimat yang
sampai saat ini kembali terbayang yang diucapkan oleh isteri
saya waktu itu adalah, “Bang, berarti Abang sudah jadi duda
saat ini kalau jadi menikah dengannya,” katanya sambil
mengejek saya. Antara geli dan sedih saya mendengar dan
memahami ejekannya waktu itu tanpa menjawabnya. Tentu
saja saya akan menjadi duda jika waktu itu saya menikah
dengan Yun, anak Abah Zainal Abidin itu.
Ejekan dan gurauan isteri saya itu tidak membuat reaksi
saya berlebihan waktu itu. Saya memang mantan pacar
Yuniati, anak Abah Zainal Abidin. Tapi saya saat ini punya
isteri yang jauh lebih cantik, lebih sederhana, lebih
menyenangkan, dan banyak lebih lainnya dari pada siapa saja.
Itulah yang saya rasakan. Jadi, ejekan isteri saya itu saya
anggap biasa saja saat itu.
Saya juga tidak mungkin menunjukkan bahwa saya
lebih cinta kepada mantan pacar saya itu dari pada isteri saya
sendiri. Kami menerima dan bercerita memang serius tapi
tidak akan mengganggu keluarga kami. Cerita itu berlalu
begitu saja. Kami tahu, kami pun tidak mungkin akan datang
melayatnya. Pertama, tempat tinggal kami sudah terpisah jauh:
Pekanbaru dan Tanjungbalai Karimun. Yang kedua,
meninggalnya juga sudah lama sebelum informasi itu sampai
ke telinga kami berdua.
Kini, kalimat, “Berarti Abang sudah jadi duda,” itulah
yang justeru teringat dan terbayang oleh saya setelah isteri
tercinta saya ini benar-benar telah tiada. Delapan tahun lalu
dia mengejek saya sebagai ‘duda’ karena berita meninggalnya
mantan pacar saya. Ternyata kini, dia membuat saya benarbenar
menjadi duda karena dia juga pergi meninggalkan saya.
Ah, hidup memang tidak bisa diduga-duga. Terkadang, apaapa
yang terucap oleh kita di waktu lain, tiba-tiba saja menjadi
kenyataan pada waktu lainnya. Rahasia Allah tidak akan
pernah mudah dipahami oleh manusia.
Kalimat itu, waktu itu sebenarnya tidak menjadi penting
bagi saya. Saya tidak akan menjadikan kalimat itu sebagai
sesuatu yang menarik. Sekali lagi, dia mengatakannya
hanyalah karena mengejek saya. Dia pasti tidak serius dengan
mengatakannya begitu. Tentu juga tidak ada dalam
rencananya untuk membuat saya menjadi duda seperti saat
ini. Itu hanya gurauannya kepada saya. Kami sudah terbiasa
hidup bergurau. Selalu ada sesuatu yang kami jadikan topik
gurau kapan dan di mana saja. Itu pun bagian dari kemesraan
cinta bahtera rumah tangga kami. Bergurau adalah bumbu
cinta yang membuat kami tidak ingin terpisah.
Namun setelah gurauan itu benar-benar jadi nyata dan
saya rasakan, hati saya menjadi ciut. Perasaan saya menjadi
tidak menentu. Isteri saya yang begitu setia mendampingi saya,
dalam suka dan duka selama ini, kini pergi begitu mudahnya.
Tidak ada firasat dan tidak ada juga tanda-tanda kepada saya.
Saya merasa tidak cukup berbakti membantu keselamatan
jiwanya. Meskipun saya sudah berusaha di waktu sore dan di
waktu malam ketika tiba-tiba saja dia pingsan ba’da magrib
menjelang isya itu untuk melarikannya ke RSUD, tapi
nyawanya tetap tidak dapat diselamatkan. Dia benar-benar
pergi dan membuat saya seperti kalimat yang pernah
diucapkannya tahun 2003 lalu itu: Abang, harusnya ‘dah
menjadi duda. Oh, kalimat itu kini menusuk perasaan saya.
Rasanya saya tidak lagi bisa bicara apa-apa. Tidak bisa juga
bergurau dan menganggap ini hanya gurauan belaka.
Kepergiannya memang membuktikan gurauannya. Dia
meninggalkan saya bersama tiga anak kami yang wajib saya jaga
dan saya perjuangkan masa depannya. Beban itu pasti begitu
beratnya bagi saya sendiri. Saya kini benar-benar seorang duda.
Saya harus menjadi ayah dan sekaligus sebagai ibu dari tiga orang
anak-anak saya yang ditinggalkan kepada saya.
Jika selama ini merawat, mengasuh bahkan mengatur
dan mempersiapkan masa depan anak-anak kami lakukan
berdua, kini saya harus memikulnya sendiri. Justeru perhatian
dan persiapan masa depan itu selama ini lebih banyak
dilakukannya. Dari mengatur biaya dapur sampai
mempersiapkan asuransi pendidikan anak-anak kami, dialah
yang lebih banyak melakukannya.
Sebagai seorang yang pernah bekerja di asuransi, dia
sangat memperhatikan asuransi demi masa depan keluarga
dan anak-anak. Ada enam buku asuransi dengan berbagai
produk yang kami miliki atas prakarsa dan keputusan
pikirannya. Itu semua sengaja dibuat atas nama saya sebagai
suami. Bila suatu saat terjadi apa-apa terhadap saya, misalnya
meninggal dunia lebih dulu maka dia dapat melanjutkan
mengasuh dan mengurus anak-anak dengan jaminan asuransi
tersebut. Namun kini justeru dia yang pergi lebih dahulu. Saya
hanya bisa pasrah dan tawakkal. Itukah yang namanya garis
hidup? Allah pasti lebih tahu apa yang baik buat umat-Nya.
Masih adakah rencana lain yang dipersiapkan-Nya? Wallahu
a’lam.

Kisah ke-9
Nikah Gantung
Bagi sebagian orang, nikah gantung adalah hal biasa.
Nikah gantung maksudnya adalah seseorang yang dinikahkan
terlebih dahulu tapi belum diresmikan atau belum dipestakan.
Nikah gantung pada dasarnya mirip dengan orang yang
sedang dalam pertunangan. Artinya, antara calon suami dan
isteri sudah ada kesepakatan ikatan yang pada suatu saat nanti
akan berlanjut menjadi suami isteri setelah melalui semua
tahapan yang disepakati.
Hanya saja, jika orang bertunangan diikat dengan
kesepakatan pihak laki-laki dan perempuan dengan
menggunakan benda-benda berharga atau bernilai tertentu
(emas, perak, dll) sebagai pengikat maka dalam tradisi nikah
gantung ikatannya langsung dalam bentuk akad nikah.
Artinya, status nikah gantung setingkat lebih tinggi dan lebih
kuat dari pada bertunangan. Orang yang sudah menyepakati
nikah gantung pada hakikatnya sudah berstatus suami-isteri.
Dan sudah halal sebagai suami-isteri. Hanya saja dalam adatistiadat
yang sudah disepakati, belum dibenarkan hidup
serumah seperti suami-isteri. Itulah sebabnya disebut nikah
gantung. Status suami-isterinya digantung/ ditahan –untuk
serumah— sampai waktu yang disepakati. Biasanya ditandai
dengan pesta (peresmian) pernikahannya pada hari yang
sudah disepakati nantinya.
Sesungguhnya nikah gantung itu tidaklah sesuatu yang
aneh. Tidak juga dilarang. Dan tidak pula terlalu penting untuk
dibicarakan. Namun nikah gantung yang kami alami pada
tahun 1985 lalu itu adalah nikah gantung yang unik. Mungkin
sulit mencari peristiwa yang sama persis dengan yang kami
lakukan. Mengapa unik?
Bermula dari ketakutan saya akan kehilangan calon
isteri saya yang waktu itu masih berstatus pelajar di SMA
Negeri 6 Rumbai Pekanbaru. Kehilangan maksud saya adalah
karena selain saya, dia juga sedang diresek-resek oleh keluarga
dari salah seorang sahabat saya juga. Dia adalah seorang
anggota ABRI (tentara darat) waktu itu. Konon beberapa kali
dia mencoba mendekati, baik langsung ke calon isteri saya
maupun melalui kedua orang tuanya.
Saya tahu itu dari surat-surat yang disampaikannya
ketika isteri saya yang waktu itu masih seorang remaja yang
diincar beberapa pria mengirimkan surat kepada saya di
Tanjungbatu. Kami memang menyemai dan memupuk cinta
melalui surat-surat yang dikirmkan via Pos dan Giro waktu
itu. Lucunya bercinta melalui surat pada waktu itu memang
berbeda dengan seperti apa yang ada saat ini. Jika saat ini
orang bisa menggunakan Hand Phone (sms, email, mms, dll)
bisa juga lewat facebook dan media online lainnya yang
langsung bisa berkomunikasi dalam detik yang sama, namun
dulu itu tidak ada dan tidak bisa. Jarak waktu
berkomunikasinya yang membedakan bak langit dan bumi
antara dulu dengan sekarang. Sekarang, jarak yang jauh tidak
membuat komunikasi tertunda sampai berhari-hari seperti
zaman dulu itu.
Waktu itu, untuk menjalin hubungan komunikasi antara
Pekanbaru tempat tinggalnya dengan Tanjungbatu tempat
tinggal dan bertugas saya hanya ada surat-menyurat. Namun
itu tetap dapat menghubungkan cinta kami. Dan dalam
beberapa surat itulah dia menjelaskan bahwa ada orang lain
yang juga bermaksud mendekati dirinya. Dia juga khawatir
dengan keadaan seperti itu.
Maka saya tegaskan berkali-kali kepadanya bahwa saya
benar-benar mencintainya. Saya akan buktikan cinta itu dalam
waktu yang tidak terlalu lama: hanya menunggu dia
menamatkan sekolah di SMA Negeri 6 Rumbai saja. Jika tidak
ada aral mengalangi, insyaallah keluarga saya akan datang
secara resmi dalam waktu tidak lama. Malah saya sudah
meminta keluarga saya meresek resmi walaupun dia masih
berstatus seorang siswa pada saat itu.
Begitulah kekhawatiran yang ada di hati saya. Saya
benar-benar merasa akan kehilangan dia jika saya tidak
mengikatnya segera. Dalam surat-menyurat antara saya dan
dia, kami sepakat bahwa menjelang dia tamat saya harus
meminangnya walaupun dengan cara rahasia atau
disembunyikan dari orang ramai. Dia belum tamat dari
sekolahnya akan tetapi saya ingin memastikan bahwa hanya
saya yang akan mendapatkan cintanya. Cinta saya memang
sudah bulat kepadanya. Hanya ada satu tekad, dialah calon
isteri saya satu-satunya.
Dalam surat-menyurat selama hampir setahun sejak
saya berangkat meninggalkan Pekanbaru, kami sepakat bahwa
menjelang akhir tahun 1985 itu saya akan melamarnya.
Bahkan saya ingin segera menikahinya walaupun dalam
bentuk ‘nikah gantung’ yang sudah lazim dilakukan orang.
Ide nikah gantung itu memang datang dari saya sendiri. Saya
menjelaskan kepadanya bagaimana dan apa langkah yang
harus kami lakukan demi mewujudkan tekad itu. Padahal saya
tahu, menjelang akhir tahun itu dia belum akan menyelesaikan
pendidikannya. Itu baru dalam semester ganjil. Sesuai
kalender pendidikan, dia baru akan menyelesaikan/
menamatkan sekolahnya pada bulan April atau Mei tahun
depannya. Tapi saya ingin menjelang akhir tahun itu ada
pegangan bagi saya bahwa dia hanya akan menjadi milik saya.
Saya berpikir, tidak terlalu jauh beda antara bertunangan
dengan nikah gantung. Yang penting buat saya adalah
bagaimana mengikatnya segera selagi dia masih dalam status
siswa. Saya tahu, itu mungkin tidak baik buat pendidikannya.
Bahkan saya terlalu ego dengan kemungkinan mengganggu
konsentrasi pikirannya dalam masa pendidikan. Tapi cinta
terkadang memang membuat orang bisa bertindak di luar apa
yang dipikirkan secara jernih.
Dalam beberapa surat yang saya kirimkan, saya
sampaikan pula rencana melamar dan kelanjutan dari lamaran
itu. Saya menawarkan kepadanya beberapa alternatif
seumpama apakah bertunangan saja terlebih dahulu sambil
menunggu dia menamatkan sekolah atau langsung saja
menikah secara rahasia. Maksudnya pernikahan diam-diam.
Dan ini hanya akan diketahui oleh keluarga yang sangat dekat
saja seperti ayah- ibu kedua pihak.
Tentu saja untuk melaksanakannya tidak mudah.
Meskipun akan menikah di Kantor Urusan Agama (KUA)
yang mungkin bisa dirahasiakan dari tetangga namun dengan
Pak KUA sendiri tidak bisa dijelaskan kalau itu pernikahan
rahasia. Artinya segala sesuatu persyaratan pernikahan resmi
harus dipenuhi dan harus dilalui secara formal adanya. Dan
itu tentu perlu kesepakatan antara keluarga saya dengan
keluarganya.
Akhirnya kedua belah pihak sepakat. Dari Tanjungbatu
saya mengarahkan keluarga saya dan keluarga calon isteri saya
untuk mengurus rencana itu. Keluarga saya diurus oleh abang
saya –satu ayah lain ibu— Bakaruddin dan abang ipar saya
H. Abd. Somad. Sementara dari keluarga calon isteri saya
langsung diurus oleh abahnya, Abd. Mutolib.
Persyaratan penting yang perlu disiapkan waktu itu
hanyalah KTP (Kartu Tanda Penduduk) kami berdua. Saya
kebetulan masih memiliki KTP Pekanbaru dengan alamat
Kecamatan Sukajadi sementara untuk KTP dia memang harus
diurus dari awal. Maklum, seorang siswa belum memiliki KTP.
Abahnya harus mengurusnya ke Kantor Kelurahan dan ke
Kantor Camat Senapelan. Dan setelah segala sesuatunya
selesai, disepakati bahwa nikah itu nanti akan dilaksanakan
di Kantor Urusan Agama Senapelan, Jalan Yos Sudarso (kini
di depan Hotel Mutiara Merdeka) Pekanbaru. Kantor itu tidak
jauh dari rumah calon isteri saya, Jalan Riau Gg. Nuri
Pekanbaru.
Hari pernikahan disepakati pada saat saya libur
semester ganjil (bulan Desember 1985) dengan memohon izin
beberapa hari tambahan libur. Pada saat itu kebetulan ada libur
satu minggu setelah pembagian rapor. Waktu itulah
direncanakan pernikahan kami itu.
Yang unik dalam pernikahan kami ini bukan saja karena
saya menikahi seorang siswa SMA yang belum tamat yang
menurut peraturan di sekolah jelas tidak dibenarkan akan
tetapi proses pernikahannya juga terbilang unik. Hal itu karena
dia tetap pergi ke sekolah pada hari itu dan tetap sekolah
sebagaimana biasanya padahal dia juga mengikuti prosesi
pernikahannya pada hari itu secara rahasia. Jadi proses
pernikahan kami benar-benar tertutup dari pengetahuan
keluarga lain dan tetangga di sekitar rumah.
Jalan kisahnya begini: sesuai skenario yang sudah kami
sepakati, hari sakral itu calon isteri saya tetap pergi ke sekolah
pagi-pagi sebagaimana biasa. Tentu saja tetap berpakaian
sekolah (putih-abu-abu). Pada pukul 09.00 dia dijemput (minta
izin dengan alasan penting) ke SMA Negeri 6 Rumbai oleh
abang iparnya. Lalu dia dibawa ke rumah kakaknya (Kak May)
yang kebetulan juga tinggal di Rumbai untuk mengganti
pakaian sekolah. Kak May meminjamkan stelan busana (baju
kurung) ala ibu-ibu untuk nanti dibawa ke kantor KUA.
Sampai di situ segalanya berjalan lancar. Pihak sekolah
tidak pernah tahu ke mana sesungguhnya salah seorang
siswanya dibawa pada pagi hari, Senin, 16 Desember 1985 itu.
Dengan naik motor dia dibawa oleh keluarganya ke kantor
KUA. Sementara saya sendiri berangkat dari rumah abang
saya (dari Jalan Melur Sukajadi) dengan naik opelet. Dengan
membawa sebuah al-quran saya datang sendiri ke kantor itu.
Saya membawa al-quran yang sudah disepakati sebagai mas
kawin kami pada saat itu. Sungguh sangat sederhana prosesi
itu. Namun tidak sedikit pun mengurangi nilai-nilai sakral
yang terkandung di dalamnya. Itu adalah kejadian yang tidak
akan pernah terulang lagi selama kami hidup bersama.
Di Kantor itu sudah menunggu beberapa orang:
keluarganya antara lain, Abah, Mak dan Kak May serta
suaminya. Sementara di pihak saya hanya ada abang saya,
Bakaruddin dan isterinya, Kak Emi. Orang-orang inilah yang
menjadi saksi proses pernikahan kami di kantor KUA pagi
itu.
Untuk dokumentasi saya memanfaatkan tenaga
(tukang) foto amatir yang waktu itu cukup banyak di
Pekanbaru. Saya memesannya beberapa hari sebelum
pelaksanaan pernikahan. Dan pada saat acara belum dimulai
dia memang sudah stand by di kantor tersebut. Foto-foto dari
tukang foto amatir itulah yang sampai saat ini masih saya
simpan sebagai kenang-kenangan prosesi pernikahan kami:
nikah gantung. Kini foto-foto yang tersusun dalam satu album
itu, sudah menjadi saksi bisu peristiwa sakral itu.
Setelah proses pernikahan selesai, isteri saya kembali ke
sekolah dengan menukar kembali pakaiannya yang dipakai
selama proses pernikahan. Dia kembali mengenakan pakaian
sekolah dan kembali seperti seorang siswa. Selanjutnya
diantarkan kembali ke sekolahnya. Selesailah proses nikah
yang menurut saya sangat unik itu. Buku nikah bernomor 207
th 1985 bertanggal 14 Rabi’ul Akhir Tahun 1406 H atau
bersamaan dengan 16 Desember 1985 M kini adalah catatan
penting dalam hidup saya dan menjadi dokumen abadi
pernikahan saya dengannya.***

Kisah ke-10
Pergi Haji ‘Biaya Sendiri’
Meskipun bukan sebagai pegawai negeri, isteri saya
mampu juga mengumpulkan uang di luar gaji suami sebagai
pegawai negeri. Dia memang bekerja sambilan sebagai agen
‘Asuransi Bumi Putra 1912’ sejak anak terakhir kami (Opy)
mulai masuk SD pada tahun 2001. Waktu itu kami masih di
Moro. Dengan alasan anak kami yang paling bungsu itu sudah
masuk SD dan tidak perlu lagi dijemput-antar yang selama
ini dia lakukan maka dia merasa ada sedikit waktu di luar
kegiatan rumah tangga yang dapat dimanfaatkan. Dan ketika
pimpinan asuransi di Moro menawarkan sebagai agen, dia
menerimanya setelah terlebih dahulu bertanya dan minta izin
kepada saya.
“Bang, boleh tak Tati jadi agen Asuransi Bumi Putra?,”
katanya bertanya pada suatu hari. Saya balik bertanya, “Untuk
apa?” Dia mengatakan untuk mengisi waktu. “Bukan karena
gaji Abang sedikit, kan?” Saya bergurau, tentunya.
Sesungguhnya saya merasa bersalah setiap kali saya berpikir
tentang pekerjaan dengannya. Kalau saja dulu, ketika tamat
SMA dia tidak langsung saya bawa ke Tanjungbatu, dia
seharusnya sudah berstatus sebagai seorang pegawai negeri
dengan predikat guru seperti saya juga.
Saya ingat, waktu dia menerima ijazah SMA
pertengahan tahun 1986, sebenarnya dia juga menerima
selembar kertas penting berisi panggilan untuknya kuliah
tanpa test di Universitas Riau Pekanbaru melalui jalur PMDK=
Penelusuran Minat dan Kemampuan (saat ini disebut PBUD
= Penelusuran Bibit Unggul Daerah). Padahal kalau saja saya
sabar, kuliahnya juga tidak akan terlalu lama karena dia
berkesempatan kuliah sebagai guru di strata D2 saja. Artinya,
dalam dua-tiga tahun ke depannya tentu dia akan selesai.
Namun saya telah merampas haknya untuk kuliah dengan
membawanya langsung ke Tanjungbatu Kundur setamat SMA
itu. Dia sendiri memang sangat patuh kepada kedua orang
tuanya yang menyuruhnya ikut suami saja dari pada kuliah.
Keadaan ekonomi orang tuanya juga tentu menjadi
pertimbangan oleh orang tuanya waktu itu.
Maka ketika dia minta izin mau bekerja sebagai agen
asuransi, saya terharu, juga menyesal dan merasa bersalah
sebenarnya. Akhirnya saya mengizinkan dia bekerja sebagai
agen Asuransi Bumi Putra 1912 dengan catatan tentu tidak
mengorbankan urusan rumah tangga. Dia sendiri kepada saya
mengatakan bukan bekerja karena mencari uang. Bekerja
sekarang tidak sama motivasinya dengan ketika dulu dia juga
bekerja sambilan (nyambi) membuat kue (bakwan) dan
membuat es bungkus pada saat kami masih di Tanjungbatu.
Saat itu justeru saya yang mndorongnya bekerja sambilan
sebagai membantu menopang biaya hidup sehari-hari.
Saat awal di Tanjungbatu itu, dengan gaji yang sangat
tidak mencukupi, kami memang harus bekerja tambahan
untuk penambah penghasilan. Saya ingat, dini hari pukul 03.00
setiap pagi kami sudah bangun dan menghidupkan api di
tungku kayu satu-satunya di rumah berdinding papan yang
kami sewa waktu itu. Belum ada kompor –minyak, apa lagi
kompor gas—seperti saat ini. Dapur kami masih
menggunakan kayu bakar.
Bersama, kami bekerja sejak dini hari itu. Mulai dari
mengaduk tepung yang akan dibuat (digoreng) menjadi
bakwan sampai kepada menggorengnya saya dan dia terus
bersama. Bila waktu subuh datang sementara bakwannya
belum selesai digoreng maka secara bergantian kami
melaksanakan sholat Subuh. Sungguh sedih rasanya di awal
perjuangan hidup bahtera rumah tangga saat itu. Tapi itu
harus kami jalani.
Alhamdulillah, sejak saya dipercaya menjadi Kepala
Sekolah di SMA Negeri 1 Moro pada tahun 1994, sedikit
banyak sudah berbeda penghasilan saya berbanding dengan
awal menjadi guru itu. Untuk itu, ketika isteri saya mau bekerja
di asuransi, saya percaya itu lebih disebabkan untuk mengisi
waktu kosong karena anak-anak sudah mulai bersekolah
seperti yang dia jelaskan kepada saya.
Tiga bulan sejak dia pertama diterima sebagai agen yang
bertugas mencari nasabah, mengutip uang nasabah dan tugas-
tugas lain, isteri saya dengan sumringah di suatu siang
menyampaikan ke saya bahwa dia mendapat juga honor
alakadarnya dari kantor. Dia merasa terharu dan bangga
karena sesungguhnya dia tidak pernah memikirkan akan
mendapat honor seperti itu. Katanya, itu adalah uang provisi
kutipan uang nasabah. Karena tagihannya lancar dia
mendapat persenan dari tagihan itu. Dia mengatakan kepada
saya uang itu lumayan. Saya ingat, uang pertama yang dia
peroleh itu kurang lebih seratusan ribu rupiah. Dia tunjukkan
ampelopnya kepada saya.
Waktu itu saya sarankan ke dia agar uang itu jangan
dimakan atau tidak usah dibelanjakan. Dia heran, mengapa
tidak boleh dimakan dan dibelanjakan. Maksud saya bukan
tidak boleh dimakan. Saya berpendapat uang hasil jerihpayahnya
itu halal. Boleh saja dia pakai dan atau dia jadikan
penambah biaya rumah tangga. Tapi saya menyarankan agar
uang itu disimpan saja. “Kita cukup makan dengan uang gaji
dan penghasilan Abang saja,” kata saya walaupun tetap
dengan kehidupan yang sederhana.
Saya katakan kepadanya, “Sebaiknya uang itu disimpan
(ditabung) saja untuk persiapan naik haji suatu hari nanti.”
Saya memang sudah lama berniat ingin naik haji. Bahkan
diam-diam saya juga mulai menabung khusus dengan
penghasilan lain di luar gaji –yang utuh diserahkan
kepadanya— sebagai persiapan naik haji itu. Sebagai seorang
muslim saya tidak dapat menyembunyikan keinginan saya
untuk pergi haji walapun pada dasarnya akan sulit dengan
penghasilan sebagai guru seperti itu.
“Abang sudah berniat dan berencana kalau nanti sudah
pensiun akan naik haji dengan uang tabungan ditambah uang
Taspen. Mungkin tidak akan bisa kita berangkat berdua
sekaligus kalau hanya mengandalkan uang Taspen itu.” Begitu
saya menjelaskan kepadanya perihal keinginan saya untuk
menunaikan rukun Islam ke-5 itu. “Jadi, uang honor dari
Asuransi itu, simpan saja,” begitu saran saya kepadanya.
Maksud saya kalau bisa kami berangkat berdua menunaikan
kewajiban sekali seumur hidup itu, alangkah indahnya.
Ternyata dia mengikuti saran saya. Malah sambil
bergurau dengan senyum kecut dia menjawab, “Abang tidak
boleh berangkat sendiri,” katanya. Akhirnya, sejak itu uang
hasil dari Asuransi yang dia terima, sebagian besar atau
hampir semuanya dia simpan dalam bentuk tabungan
tersendiri yang kelak akan dijadikan ongkos naik haji.
Sekarang kami berdua membuat tabungan masing-masing
yang diniatkan untuk ongkos naik haji (ONH) itu.
Di Tanjungbalai, setelah saya dimutasi ke SMA Negeri
2 Karimun (2001 akhir) dia bekerja juga kian bersemangat dan
lebih serius dari pada waktu di Moro. Saya merasakan
kegembiraan dan semangatnya dalam bekerja. Hati saya
sedikit terobati karena akhirnya dia ternyata juga
berpenghasilan tersendiri. Tidak selamanya menggantungkan
uang dari saya saja.
Beberapa kali dia bercerita kepada saya kalau
nasabahnya juga bertambah banyak. Prestasinya di kantor
Asuransi Bumi Putra Tanjungbalai Karimun pun bertambah
bagus. Teman-teman sesama agen saya dengar bercerita bahwa
isteri saya (mereka menyebut Ibu Rajima) termasuk agen yang
disenangi nasabah. Disenangi banyak teman-teman sesama
agen dan karyawan di kantor. Saya percaya itu.
Dalam mengutip uang premi asuransi nasabah, isteri
saya terkenal sabar. Jika satu-dua kali datang mengutip dan
belum juga dapat, dia akan pergi lagi pada kesempatan lain.
Dia juga tidak segan-segan menutup (membayarkan duluan)
utang nasabah yang tanggal jatuh temponya sudah sampai
dengan uangnya sendiri. Setelah nasabah mempunyai uang
baru dia minta lagi.
Beberapa kali dia malah menjemput uang nasabah pada
malam hari dengan minta bantuan kepada saya untuk
mengantarnya ke rumah nasabah. Saya dengan senang hati
memang selalu pergi pada waktu-waktu saya tidak berdinas
menemaninya mengutip uang nasabahnya. Beberapa kali dia
mendapat apresiasi sebagai agen dengan kutipan terbaik di
kantor AJB Bumi Putra Karimun.
Selama menjadi agen ternyata penghasilannya selalu
meningkat. Terutama pada saat kami pindah tugas dari Moro
ke Tanjungbalai Karimun itu dia merasakan betul enak dan
asyiknya menjadi agen Bumi Putra 1912 Tanjungbalai
Karimun. Ternyata rezekinya semakin lama semakin besar di
luar dugaannya. Dia tidak hanya mampu menabung untuk
rencana ongkos haji akan tetapi dia juga mampu membantu
orang-orang yang membutuhkan. Celengan infaq/ zakatnya
juga semakin besar yang setiap tahun diserahkan ke tempattempat
kebajikan.
Rezeki yang sedikit demi sedikit kami rasakan terus
bertambah membuat cara pengelolaan keuangan oleh isteri
saya juga tambah mudah. Saya sendiri selain menerima gaji
dan tunjangan sebagai guru dan Kepala Sekolah juga
terkadang menerima beberapa honor di luar itu. Sekembali
berceramah atau memberi khutbah, saya alhamdulillah
menerima juga honor alakadarnya. Sebagai tenaga honorer
di UT (Universitas Terbuka) UPBJJ Karimun dan tenaga
honorer di UK (Universitas Karimun) alhamdulillah saya pun
menerima ‘uang lelah’. Jumlahnya juga lumayan.
Jika isteri saya mengurus dan mengelola semua
penghasilan saya dari penghasilan saya sebagai guru dan
Kepala Sekolah (gaji, tunjangan, dll) maka saya mengelola
sendiri semua penghasilan lain berupa honor di luar
penghasilan resmi itu. Tentu saja semua penghasilan itu tetap
hanya dipergunakan untuk kesejahteraan rumah tangga. Kami
tidak pernah menutup-nutupi penghasilan apapun yang kami
dapatkan yang kebetulan kami kelola masing-masing. Uang
yang saya pegang dan uang yang dikelolanya, semuanya
sudah kami niatkan sepenuhnya untuk rumah tangga kami.
Di dalamnya juga sudah diperuntukkan bagi membantu
keluarga dan atau orang-orang lain yang berhak
menerimanya. Tidak ada yang kami sembunyikan dari uanguang
dan apapun yang kami miliki.
Dari situlah, sedekah, infaq dan tentu saja uang ‘sisihan’
2.5 persen setiap memperoleh penghasilan juga semakin hari
semakin bertambah. Uang-uang yang setahun sekali kami
buka dalam bentuk celengan (tabungan) infaq/ zakat ini tidak
saja kami pergunakan untuk orang-orang ‘tak mampu’ yang
sangat membutuhkan akan tetapi juga kami pergunakan
untuk kepentingan umum seumpama memperbaiki jalan. Ya,
jalan umum yang kami lalui setiap hari. Itulah sebagiannya
yang kami belikan semen untuk memperbaiki jalan umum di
sekitar dan menuju ke rumah kami itu.
Dalam waktu yang sama, niat kami untuk naik haji dari
tahun ke tahun terus bergelora. Setiap tahun kami ikut
mengantar jamaah calon haji yang akan berangkat, setiap itu
pula perasaan hati kami tidak sabar ingin berangkat. Hanya
saja karena tabungan kami belum juga cukup, kami harus
bersabar. Sementara waktu itu, antrian untuk keberangkatan
haji terus bertambah banyak.
Ingin rasanya ikut berangkat seperti mereka-mereka
yang tiap tahun ada yang berangkat dan diantar beramairamai
dalam suatu acara. Terkadang di masjid, di rumahrumah
masing-masing dan terakhir di rumah kediaman bupati
(atas nama Pemerintah Kabupaten) Karimun. Perasaan kami
terus bergelora ingin ikut bersama. Itulah perasaan yang terus
berkecamuk di dada setiap kami berkesempatan dalam acaraacara
mengantar jamaah calon haji setiap tahun. Tradisi
Karimun yang teratur mengantar jamaah calon haji juga ikut
menambah semangat dan dorongan untuk ingin secepatnya
berangkat haji.
Selama kami berada di Tanjungbalai Karimun, tidak
terhitung rasanya berapa kali sudah mengikuti acara kegiatan
mengantar jamaah calon haji. Bahkan saya sendiri, ketika
masih di Moro juga selalu ikut berangkat ke Karimun bersama
rombongan Camat dan KUA dalam kegiatan mengantar
jamaah calon haji di ibukota kabupaten ini.
Pada tahun 2004, setelah kami resmi pindah ke rumah
baru kami di Wonosari, Meral tekanan hati ingin berangkat
semakin tidak tertahan. Kewajiban sebagai muslim yang
‘mampu’ serasa sudah saatnya dipangku. Padahal sebenarnya
rumah yang kami tunggu ini sama sekali belumlah selesai
sebagaimana layaknya rumah yang sempurna
pembangunannya. Saat pertama kali kami pindah ke rumah
ini, saya belum mampu membeli pintu dan jendela rumah ini.
Hanya pintu darurat saja yang baru terpasang. Jendela juga
belum ada kecuali papan-papan rongsokan sekedar penutup
ala kadarnya. Bahkan lantainya baru disemen kasar. Hanya
satu kamar tidur dengan WC di dalamnya yang sudah selesai.
Kami memang sudah tidak betah lagi menyewa waktu itu
disebabkan masalah kesulitan mendapatkan air. Makanya
kami putuskan pindah ke rumah baru kami ini.
Susahnya mendapatkan air di musim kemarau tahun
2004 itu membuat kami sering mencuci dan mandi ke rumah
ini pada pagi dan petang hari. Padahal kami bertempat tinggal
jauh di daerah Bukit Senang Karimun (kurang lebih 5 km dari
Wonosari). Sumur di rumah sewaan kami waktu itu sudah
kering. Membeli air tangki juga tidak mudah. Sementara di
rumah baru ini memang sudah kami buat sumur yang airnya
alhamdulillah sangat mencukupi. Akhirnya kami pindah saja
ke rumah ini dalam keadaan rumah yang masih serba darurat.
Melihat keadaan rumah yang masih seperti itu seharusnya
keinginan untuk berangkat haji tidak perlu terburu-buru dan
belum waktunya untuk terlalu kuat. Saya memahami, kewajiban
menunaikan haji itu harus dibarengi dengan kewajiban
memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggal
disamping biaya kita yang pergi. Termasuk masalah tempat
tinggal (rumah) yang dihuni ketika meninggalkan keluarga.
Namun ternyata kami merasa sudah saatnya mendaftar
walaupun rumah yang baru ini belumlah sempurna
Apalagi sejak rumah kami di Pekanbaru selesai belasan
tahun lalu, perasaan ingin naik haji itu sudah ada sejak lama.
Hanya karena rumah di Pekanbaru itu tidak kami yang
menghuninya tentu saja saya khawatir jika berangkat haji
tanpa rumah yang ada di Karimun tempat kami dan anakanak
bermastautin akan dapat menimbulkan permasalahan.
Anak-anak saya semuanya memang bertempat tinggal di
Karimun. Artinya saya harus memiliki rumah juga di sini
sebelum memutuskan berangkat haji.
Tapi kini, setelah rumah di Wonosari ini selesai dalam
artian sudah bisa dihuni, terasa tekanan itu kian kuat. Saya
dan isteri merasa sudah saatnya lebih menguatkan hati untuk
berangkat haji. Umur pun sudah cukup tepat ketika badan
masih terasa sehat dan kuat. Tidak perlu menunggu pensiun
seperti niat pertama dulu ditekad. Tidak perlu juga menanti
rumah ini sempurna pembangunannya hingga cat berkilat.
Asal ongkos sudah terasa cukup maka keputusan ini harus
dibuat.
Suatu hari kami berembuk membicarakan niat untuk
mendaftar haji. Ini berarti rencana naik haji ini mendahului
rencana awal yang kami niatkan setelah pensiun itu. Kami
mencoba menghitung-hitung segala sesuatunya. Ongkos haji
tahun itu diperkirakan Rp 26.000.000 (dua puluh enam juta
rupiah). Dan untuk mendapatkan sheet wajib menyetorkan
tabungan haji ke Bank minimal Rp 20.000.000 (dua puluh juta
rupiah) setiap orang. Rasanya untuk memenuhi itu kami
sudah mampu.
Pada tahun 2005, tepat setelah para jamaah calon haji
Kabupaten Karimun musim haji 1426 H berangkat maka di
akhir tahun itu kami dengan niat yang ikhlas dan mantap
mencoba berkonsultasi ke Bank BNI tempat selama ini kami
menabung meskipun bukan dalam bentuk tabungan haji.
Bulan November tahun itu kami mendaftar berdua dengan
memindahkan uang tabungan selama ini ke rekening
tabungan haji sebagai syarat mendapatkan sheet mulai tahun
itu. Masing-masing kami harus mendaftarkan dengan uang
deposit sebesar Rp 20.000.000 (dua puluh juta rupiah)
sebagaimana sudah menjadi ketentuan. Itu bukan jumlah yang
sedikit bagi kami sebenarnya.
Waktu itu kami berniat dan berharap mudah-mudahan
bisa berangkat pada musim haji 1428 tahun 2007/2008 sesuai
dengan daftar antri yang ada. Artinya setahun lagi. Alasan
kami, pertama tabungan kami sebenarnya baru pas-pasan
waktu itu. Bahkan isteri saya, baru sebatas untuk jumlah
mendapatkan shet itu saja uangnya yang ada dalam buku
tabungannya. Itulah uang hasil bekerja di asuransi yang
selama ini dia dapatkan dan kumpulkan. Bukan dari uang gaji
saya yang memang dia atur untuk belanja keluarga. Dengan
pikiran yang mantap kami berharap semoga tahun depannya
kami terpanggil sebagai jamaah calon haji. Ya Allah, berilah
kami kekuatan dan kesempatan untuk ke Tanah Suci-Mu.
Itulah doa yang selalu kami ucapkan.
Ternyata di luar dugaan kami, pada akhir manasik haji
tahun 2006 bagi jamaah calon haji yang sudah ditetapkan
sebagai jamaah calon haji pada musim haji 2006/ 2007 (1427
H) itu, kami terpanggil untuk berangkat bersama mereka.
Menurut informasi ada jatah penambahan dikarenakan ada
beberapa jamaah calon haji yang tidak jadi berangkat. Bahkan
kami berdua sekaligus mendapat porsi untuk berangkat
bersama walaupun nomor urutnya berselisih dua angka
seperti tertera pada buku tabungan haji kami masing-masing.
Saya mendapat angka urutan 0400013051 sementara isteri saya
mendapat nomor urutan 0400013053. Meski input data di BNI
serentak ternyata nomor urut kami bisa berselisih dua angka.
Mungkin dua nomor urut sesudah saya itu berada di tempat
lain karena sistem pendaftaran haji yang online di seluruh
Indonesia.
Konon nomor urut ini juga nanti akan dipakai untuk
menentukan sheet (kursi tempat duduk) di pesawat ke Arab
Saudi. Jika tidak berurutan langsung nomornya maka tempat
duduk pun seperti itu. Ternyata benar, urutan kursi kami tidak
berurutan langsung. Isteri saya mendapat manifest No 263
sementara saya mendapat No 269. Berselisih sampai lima
angka. Buat saya itu tidak masalah. Artinya berdasarkan
nomor urutan itu berarti saya dan isteri saya tidak akan duduk
berdekatan dalam pesawat terbang nanti meski tentunya
dalam pesawat terbang yang sama. Ah, itu tidaklah masalah.
Subhanallah, kami ternyata tetap dapat duduk
berdekatan pada kursi yang berurutan. Ini di luar dugaan kami
berdua. Tuhan pasti tahu keinginan hati kami untuk terus
dapat bersama. Ingin tetap berdua di manapun berada. Susahpayah
menabung dengan hidup sederhana juga dengan
keinginan naik haji bersama. Alhamdulillah, kami benar-benar
tetap duduk berdekatan walaupun dengan nomor urutan
resmi yang tidak berurutan. Kok bisa?
Kami harus berterima kasih, ada seorang jamaah –
wanita— yang kebetulan berangkat sendiri (tanpa pasangan
seperti kami) dalam pesawat bersama kami. Ibu yang duduk di
sebelah saya itu tahu kalau saya dan isteri saya terpisah duduk
mengikuti urutan nomor yang sudah ditetapkan. Tanpa kami
meminta, dia justeru menawarkan kepada kami untuk
berdekatan duduk dengan cara dia bersedia pindah duduk ke
tempat duduk isteri saya yang memang sedikit agak jauh
beberapa kursi dari saya. Dia dan isteri saya bertukar tempat
duduk. Akhirnya saya dan isteri saya tetap dapat bersama dalam
pesawat itu dan pada kursi yang langsung berdampingan.
Sungguh itu adalah anugerah rahmat dari-Nya.
Di bagian lain, saya mendengar di dalam pesawat Arab
Saudi yang sama ada jamaah yang satu keloter (kelompok
terbang) dengan kami malah berdebat (bertengkar) akibat
tempat duduk yang tidak sesuai dengan keinginan. Persis
seperti yang kami alami, sepasang suami-isteri terpisah agak
jauh. Dia meminta kepada salah seorang jamaah calon haji
yang lain yang dia kenal untuk saling bertukar tempat duduk.
Tapi orang tersebut tidak bersedia tanpa alasan yang jelas. Dia
juga kebetulan berangkat sendiri. Dan pertengkaran kecil
sungguh-sungguh terjadi dalam pesawat itu.
Ya Allah, atas kebesaran-Mu kami benar-benar dapat
menunaikan ibadah haji bersama dan bahkan sebelum saya
pensiun. Kami berangkat menunaikan ibadah haji pada musim
haji 1427 H (2006/ 2007) yang termasuk keloter keempat
gelombang pertama. Artinya keloter kami akan langsung ke
Madinah dulu melaksanakan arba’in baru berangkat ke Mekah
untuk melaksanakan wukuf dan ritual lainnya.
Sungguh keberkahan yang sangat besar dan luar biasa
dalam hidup kami berdua. Hidup yang selama ini
sesungguhnya kami jalani dengan sederhana saja dan
barangkali ada penilaian orang bahwa kami belum bisa
menunaikan ibadah haji, ternyata Allah memberi kesempatan
kepada kami untuk memenuhi panggilan-Nya pada waktu
dan tempat yang sangat baik buat kami. Waktu yang tidak
pernah juga kami bayangkan ketika akan berangkat.
Perlu saya jelaskan juga bahwa pada musim haji 1427
itu –dari pengumuman yang disampaikan— ternyata Allah
menakdirkan itu adalah Haji Akbar karena wukufnya jatuh
pada Hari Jumat, 9 Zulhijjah 1427 H bersamaan dengan
tanggal 29 Desember 2006 M. Wukuf hari Jumat itu
diumumkan oleh Raja Arab Saudi. Pastilah semua umat Islam
menginginkan beroleh Haji Akbar yang pahalanya dikatakan
sama dengan menunaikan tiga sampai dengan tujuh kali haji
dengan wukuf pada hari biasa. Allahu Akbar, Dia memang
Maha Besar. Kami benar-benar sangat berbahagia dapat
melaksanakan haji pada tahun itu. Sungguh tidak pernah kami
bayangkan akan mendapatkan haji akbar sebagaimana banyak
didambakan. Semoga Allah menerima ibadah ini, amin. Itulah
doa kami.
Saya sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan haji
akbar ataukah bukan. Yang saya tahu, para ulama memang
berselisih faham perihal pembahasan haji akbar itu: apakah
hari Jumat itu dihitung pada Hari Arafah ataukah Hari Nahar.
Ataukah semua hari (tasyriq) adalah Haji Akbar? Itulah
beberapa perbedaan pendapat. Bagi saya dan isteri, dapat
menunaikan ibadah haji pada tahun itu merupakan suatu
anugerah Allah yang tidak dapat dinilai dengan apa jua. Hanya
kepada Allah kita berharap pahala. Dan Allah jua yang aka
menilai segala amal ibadah kita.
Bagi isteri saya, akan jauh lebih istimewa nilai haji yang
dia kerjakan bersama saya. Itu semua tidak lepas dari
bagaimana dia berusaha secara mandiri untuk usaha
berangkat ini dengan mengumpulkan uang dari keringat
sendiri. Dia benar-benar istimewa karena segala biaya dan
ongkos yang dipakainya untuk keberangkatan haji ini adalah
atas usahanya sendiri. Dia benar-benar naik haji dengan biaya
sendiri.
Segala amal ibadah yang dia laksanakan di Tanah Suci
dengan penuh khusyuk tentu juga tidak terlepas dari
bagaimana istimewanya haji itu buat kami. Saya ingat
bagaimana kami memanfaatkan waktu-waktu kami untuk
hanya beribadah kepada-Nya. Dan sesungguhnya saya merasa
heran juga kepada beberapa teman yang kebetulan dengan
alasan tertentu kurang memanfaatkan kesempatan beribadah
di Tanah Suci itu.
Padahal sudah diingatkan pada saat manasik haji betapa
besar dan berlipatgandanya pahala yang akan diperoleh bagi
orang-orang yang ikhlas beramal di Tanah Suci. Untuk sekali
sholat di Masjid Nabawi, misalnya dikatakan pahalanya sama
dengan sholat seribu kali di masjid lain selain Masjid Haram.
Bahkan untuk pahala yang akan diperoleh di masjid Al-Haram
sebanding dengan pahala seratus ribu kali di masjid lain.
Subhanallah. Namun masih ada yang kurang memanfaatkan
dengan berbagai dalih.
Dengan alasan menjaga kesehatan dan kebugaran
menjelang wukuf, justeru banyak jamaah calon haji yang
beristirahat di pemondokan, hanya tidur-tiduran. Sayang
sekali, kesempatan yang entah kapan lagi dapat
melakukannya, disia-siakan begitu saja. Kesehatan memang
wajib dijaga, terutama menjelang wukuf. Wukuf adalah
puncak haji. Tapi melaksanakan ibadah seperti sholat wajib,
i’tiqaf dan kegiatan ibadah lainnya di masjid termulia itu, sama
sekali tidak akan mengganggu kesehatan. Jadi, tidak perlu
persiapan wukuf menjadi alasan untuk tidak berjamaah ke
Masjid Al-Haram.
Alhamdulillah, kami berusaha memanfaatkan waktuwaktu
menjelang wukuf dan pasca wukuf untuk semaksimal
mungkin ke masjid. Kami memang tidak memikirkan bagaimana
memasak makanan seperti sebagian kecil jamaah yang kami lihat.
Waktu kami lebih banyak di masjid dari pada di pemondokan
(hotel). Malah kami pernah diingatkan oleh seorang teman agar
tidak usah memaksakan ke masjid terutama sebelum wukuf.
Nanti sakit. Sekali lagi, menurut kami itu bukan pemaksaan.
Ternyata jika dilakukan dengan keikhlasan, tidak sampai
membawa sakit. Itu yang kami rasakan.
Alhamdulillah juga, bukti kami memanfaatkan waktruwaktu
di msjid, isteri saya mampu menamatkan (khatam) Alquran
sampai tiga kali selama di Madinah dan di Mekkah.
Saya sendiri hanya mampu dua kali. Itu juga sangat pantastis
menurut saya. Di Tanah Air (di rumah) ternyata selama ini
tidak mudah menamatkan Alquran satu kali dalam satu bulan
atau bahkan beberapa bulan. Bahkan terkadang dalam satu
tahun juga tidak menjadi perhatian untuk menamatkannya.
Di Mekkah dan Madinah ternyata berbeda. Semoga saja segala
ibadah yang mampu dilaksanakan selama di Tanah Suci itu
menjadi amal yang mendapat berkah dan ridho-Nya, amin.

Kisah ke-11
Tak Mengeluh di Anak Asuh
Sikap dan jiwa penolong yang diamalkan isteri saya
selama hidupnya membuat saya sangat mengaguminya.
Dalam hidup yang sederhana dia tidak pernah menampakkan
kesulitan dan keluhan jika harus membantu seseorang yang
memerlukan. Dia mampu menahan keinginannya jika ada
yang lebih memerlukannya. Sikap membantu yang
diamalkannya tidak saja kepada sanak-famili yang kebetulan
hidup bersama kami tapi juga kepada orang lain yang tidak
ada hubungan pertalian persaudaraan.
Sejak pertama kami bersama sampai dia
mengehembuskan nafas terakhirnya, pada hakikatnya kami
terus-menerus mempunyai anak meskipun bukan lahir dari
kandungan isteri saya sendiri. Tentu saja maksudnya adalah
anak asuh yang memerlukan kearifan dalam menerima
kehadirannya. Pada saat kami dikaruniai dan mempunyai
seorang anak di awal tahun 1987, isteri saya dan saya sudah
mempunyai dan mengasuh dua orang anak. Waktu itu kami
mempunyai seorang anak asuh yang kebetulan dia adalah
kemanakan (ponakan) saya sendiri. Dia adalah Khairul Amri
(saat ini wartawan Riau Pos) yang merupakan anak kandung
dari kakak kandung saya sendiri, Syamsinar. Artinya dia
memang anak saya juga.
Khairul Amri kebetulan sudah yatim dalam usia yang
sangat muda, dalam umur kurang dari dua tahun. Ayahnya,
Abu Yazid berpulang ke rahmatullah beberapa saat setelah
menjalani operasi batu ginjal di Rumah Sakit Umum
Pekanbaru pada tahun 1980. Sejak itu pengasuhan Khairul
Amri menjadi tanggung jawab kami semua dalam keluarga
besar saya. Nenek dan datuknya (kedua Orang Tua saya)
sangat sayang kepadanya karena dia adalah cucu laki-laki
pertama. Saya, adik-beradik tentu juga sangat sayang
kepadanya. Dialah kemanakan sulung kami dalam keluarga
sebagai anak kakak yang paling tua.
Pada saat dia menamatkan SD (Sekolah Dasar) dia
langsung saya bawa ke Tanjungbatu agar dia dapat
melanjutkan sekolah dengan baik. Di kampung (Kabun
Airtiris) memang ada nenek dan datuknya dan tentu juga ibu
dan yang lain-lain yang akan mengasuhnya. Tapi ibunya
(kakak saya) sudah meminta agar saya menyekolahkannya
sambil mendidiknya sebagai kelanjutan sekolahnya di
kampung itu. Itu juga sebagai melaksanakan amanat (wasiat)
ayahnya yang ternyata sudah ditulisnya sebelum operasi batu
ginjal itu. (Catatan wasiat itu pernah saya baca di depan
keluarga ba’da Magrib beberapa hari setelah kepergian
ayahnya).
Tidaklah mudah bagi isteri saya untuk mengurus dua
anak dalam keadaan ekonomi yang sungguh terasa berat di
satu sisi dan di sisi lain dia sendiri adalah sebagai seorang ibu
muda. Ibu yang belum memiliki pengalaman dalam mengurus
rumah tangga. Tapi ketabahan dan kesungguhannya membuat
segala sesuatu dalam rumah tangga kami berjalan dengan
baik. Khairul Amri sendiri sesungguhnya juga dapat dan ikut
membantu kerja-kerja rumah tangga mengingat dia sudah
melewati masa kanak-kanak. Waktu itu dia saya sekolahkan
di MTs Negeri Tanjungbatu Kundur sesuai wasiat ayahnya
yang meminta agar anaknya, Khairul Amri melanjutkan
sekolah ke sekolah agama.
Pada saat isteri saya hamil untuk anak kedua hampir
setiap sore kami menyempatkan berjalan sore dengan
menggunakan scutter (vespa) super yang saya bawa dari
Pekanbaru. Menjelang saya pulang sekolah pada sore hari,
biasanya isteri dan anak saya Kiky yang umurnya kurang dari
dua tahun sudah siap-siap menanti saya. Biasanya Kiky sudah
selesai mandi sore dan didandankan oleh mamanya, berharap
akan saya bawa berjalan sore.
Begitu juga ketika kami sudah mempunyai dua anak
kecil-kecil. Jarak antara anak saya pertama dan kedua memang
kurang dari dua tahun. Jadi keduanya hampir sama besarnya
waktu itu. Jika sebelumnya kami berjalan bertiga (saya, isteri
dan Kiky) kini setelah mempunyai dua anak kami berjalan
berempat di atas vespa itu. Yang tua berdiri di bagian depan
sementara satunya lagi digendong mamanya atau berdiri di
bagian belakang saya.
Dua anak ditambah satu anak asuh, itulah keluarga
kami. Kami hidup berlima sebagai keluarga sederhana dengan
penghasilan sangat pas-pasan. Dengan gaji yang jauh dari
cukup kami memang tidak memberi jajan harian kepada
Khairul Amri. Isteri saya hanya menyiapkan sarapan pagi.
Selebihnya kami hanya membayarkan uang sekolahnya serta
uang-uang lain yang berkaitan dengan keperluan sekolahnya.
Khairul Amri sendiri tidak pernah mengeluh karena
mengetahui keadaan ekonomi kami yang seperti itu.
Tiga tahun Khairul Amri bersama kami. Saya tidak
melihat ada keluhan atau keberatan isteri saya atas kehadiran
kemanakan saya itu di rumah tangga kami. Apalagi Khairul
Amri juga dapat membantu tugas-tugas rumah yang tentu saja
dapat meringankan beban kerja isteri saya. Khairul Amri juga
termasuk siswa yang berprestasi dan aktif dalam berbagai
kegiatan di sekolah.
Bersama guru pembina pramuka, Khairul Amri sering
mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan kepramukaan di
MTs Tanjungbatu. Saya tahu, dia sangat akrab dan dekat
dengan guru Pembina Pramuka, Umar Ja’far itu. Dengan
mengendarai sepeda, dia selalu aktif ke sekolah jika ada
kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.
Selain di kepramukaan Khairul Amri juga aktif mengaji.
Suaranya cukup bagus. Mungkin titisan ayahnya yang qori
dan pernah memenangkan MTQ di tingkat Provinsi Riau.
Bahkan ibunya juga adalah seorang qoriah yang juga pernah
memenangkan MTQ di tingkat Provinsi Riau pada tahun yang
sama ketika ayahnya memenangkan MTQ yang sama. Darah
kedua orang tuanya itulah yang mungkin mengalir ke bakat
mengaji Khairul Amri.
Buat keluarga saya, itu juga menjadi kebanggaan
tersendiri. Kesulitan- kesulitan hidup dalam ekonomi yang
kami rasakan serasa terlupakan bersama beberapa prestasi
Khairul Amri selama menjadi anak asuh kami. Dari gurugurunya
saya tahu kalau dia cukup aktif dalam kegiatan
kesiswaan di MTs Tanjungbatu.
Setamat MTs Tanjungbatu, Khairul Amri melanjutkan
sekolah ke Pekanbaru. Sesuai wasiat ayahandanya, dia akan
melanjutkan ke sekolah agama. Jadi dia tidak melanjutkan ke
SMA Negeri Tanjungbatu, tempat saya bertugas. Dia berpisah
dengan keluarga kami karena harus sekolah ke Pekanbaru.
Pada saat saya ditugaskan di Moro sebagai Kepala SMA
Negeri 1 Moro isteri saya juga mempunyai anak asuh. Bahkan
ketika kami di Moro, ada dua orang anak asuh kami yang juga
masih keluarga, M. Syafei (adik kandung isteri saya) dan Abd.
Haris (anak kakak saya, Syamsinar alias adik Khairul Amri
lain ayah). M. Syafei pindah sekolah dari salah satu SMA di
Pekanbaru ke SMA Negeri 1 Moro yang saya pimpin.
Sementara Abd. Haris mutasi ke Moro ketika masih kelas III
(tiga) SD. M. Syafei ikut bersama kami sampai tamat SMA
sementara Abd. Haris bersama kami kurang lebih enam tahun,
yaitu hingga dia menamatkan sekolah di MTs Moro.
Saya tahu tidak pernah ada keluhan isteri saya hidup
bersama mereka. Bahkan ketika M. Syafei sudah tidak bersama
kami, masih ada tambahan anak asuh kami yakni Yuni
Nandipinta (anak kakak isteri saya, Atun). Sampai kami
pindah ke Tanjungbalai Karimun, Yuni masih tetap bersama
kami hingga dia tamat SMP.
Selain mereka bertiga (Khairul Amri, M. Syafei dan Abd.
Haris) juga pernah menjadi anak asuh kami dua orang anak
dari adik kandung saya, Syamsiar yaitu Nurhayati dan
Nurhayani. Mereka bersama kami ketika bersekolah di SMA
2 Karimun pada saat saya menjadi Kepala Sekolah di situ.
Hingga tahun-tahun menjelang kepergiannya, sesungguhnya
kami masih mempunyai seorang anak asuh. Dan yang terakhir
anak asuh kami adalah M. Sidik, adik Nurhayani. Hanya
karena dia bersekolah di SMA Negeri 3 Karimun (di Parit
Benut) yang jauh jaraknya dari rumah kami di Wonosari, maka
M. Sidik memang tidak tinggal bersama kami di rumah. Dia
kami kostkan di sekitar sekolah (bersama Sumardi, penjaga
sekolah). Namun dia tetap menjadi anak asuh kami karena
menjadi tanggung jawab kami membiayai hidup dan
sekolahnya.
Isteri saya, pada hakikatnya memang tidak pernah lepas
dari anak asuh sepanjang masa kami bersama, dalam kurun
waktu kurang lebih 26 tahun. Sepanjang masa seperti itu kami
merasa sangat bahagia. Tidak ada keluhan sedikitpun yang
saya tahu dari isteri saya. Dia mampu mengerjakan apa yang
menjadi kewajibannya dalam kebersamaan dengan semua
mereka. Jadi, memang tidak pernah ada keluhan atas
keberadaan anak asuh yang kesemuanya memang keluarga
kami juga. Ah, kasih dan sayangnya dalam keluarga memang
sangat tinggi.

Kisah ke-12
Misteri Mimpi Pasca Pergi
Dalam seratus hari pasca kepergian isteri saya, banyak
rekan-rekan saya dan rekan-rekan isteri saya menyatakan
bahwa mereka bermimpi tentang almarhumah isteri saya, Hj.
Rajimawati. Saya sebenarnya tidaklah orang yang terlalu
fanatik (percaya) dengan mimpi. Bahkan saya cenderung tidak
meyakini mimpi-mimpi. Kata orang mimpi itu adalah bungabunga
tidur belaka. Konon itu hanyalah ledakan informasi saat
tidur lewat memori yang tersimpan di waktu bangun.
Sementara kata psycholog, mimpi itu disebabkan oleh
tertahannya informasi dalam memori otak tak sadar yang
terkadang luahan memori itu muncul di waktu tidur. Jadilah
dia mimpi. Ah, terserahlah yang mana yang benar.
Namun mimpi yang disampaikan oleh beberapa
sahabat saya tentang almarhumah, termasuk mimpi yang saya
alami sendiri, tidak salah juga kalau saya kisahkan di sini.
Terlepas apakah itu hanya bunga-bunga tidur atau memiliki
makna, itu sepenuhnya misteri Allah yang tidak akan mudah
dipahami manusia.
Berikut saya ulang jelaskan cerita mimpi yang
disampaikan rekan-rekan saya bahkan saya sendiri.
1. Ketemu Ibu Asmuni; Menurut suaminya, Pak Asmuni
(seorang anggota polisi di Wonosari Meral), isterinya baru
saja merasa bertemu dengan isteri saya. Pak Asmuni
bercerita kepada saya perihal ibunya (isterinya) yang
pernah suatu malam bermimpi tentang isteri saya.
Menurut Pak Asmuni kepada saya bahwa isterinya merasa
bertemu dengan isteri saya dalam mimpinya itu. Sampai
dia terbangun sekitar pukul 02.00 (malam) dan bercerita
kalau dia baru saja merasa bertemu dengan Ibu Hajjah
(maksudnya isteri saya Hj. Rajimawati) yang baru ‘pergi’
satu hari sebelumnya. Ibu Asmuni mengatakan bahwa Ibu
Hajjah mengenakan baju serba hitam. Dia sempat
menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa
datang sewaktu isteri saya itu meninggal. “Saya minta
maaf, Bu. Saya tak bisa datang,” kira-kira seperti dia
menyampaikan. Isteri saya menjawab, “Tidak apa-apa,
saya tahu Bu Asmuni sedang sakit,” katanya. Kebetulan
sewaktu isteri Pak Asmuni mendengar isteri saya
‘berpulang’ dia langsung shok dan bahkan jatuh sakit.
Itulah sebabnya dia tak bisa hadir sewaktu prosesi janazah
isteri saya, hari Minggu itu.
2. Berjalan kaki Sepulang Mengaji; Pada hari kelima dari
kepergian isteri saya, malamnya saya bermimpi. Dalam
mimpi itu rasanya kami bertiga (saya, isteri saya dan anak
saya Kiky) selesai mengikuti pengajian di suatu tempat
yang cukup jauh dari rumah terpaksa berjalan kaki karena
tidak ada kenderaan/ tumpangan. Saya merasa berjalan
duluan sendiri sementara isteri saya dan anak saya berjalan
berdua, agak jauh di belakang. Saya rasanya duluan
sampai ke rumah. Hanya itu yang saya ingat dalam mimpi
itu. Saya juga tidak mengerti apa makna yang terkandung
di dalamnya.
3. Memberi Jilbab; Menurut salah seorang guru SMA Negeri
2 Karimun, Riana Nensih (panggilannya Echi) dia merasa
diberi oleh Ibu Rajimawati (almarhumah isteri saya) sehelai
jilbab berwarna ungu. Tapi itu dia dapatkan dalam mimpi
yang dia alami beberapa hari pasca kepergian isteri saya
itu. Kata Echi, suatu malam beberapa hari pasca kepergian
almarhumah, dia didatangi Ibu dan memberinya sehelai
jilbab berwarna ungu. Menurut guru Bahasa Inggeris itu
dia merasa senang mendapat jilbab itu. Dan selain mimpi
mendapatkan jilbab, Echi juga menjelaskan bahwa dia
bermimpi tentang kedatangan almarhumah ke sekolah
pada suatu siang. Di sekolah waktu itu rasanya ada acara.
Menurut Echi, ibu mengatakan kepadanya kalau Bapak
(maksudnya saya) sudah pergi. Sepertinya ibu sedih
mengatakan itu. Dalam mimpi itu sepertinya yang pergi
adalah bapak, bukan ibu. Tapi itu hanya mimpi, kata
Nensih.
4. Beri tahu HP Tertinggal; Suatu hari ibu Zaita (guru SMA
Negeri 2 Karimun yang sudah dianggap saudara dekat)
menjelaskan kalau dia bermimpi. Rasanya ibu
(almarhumah) memanggilnya dari bawah (dari rumah
saya) memberi tahu HP saya tertinggal di rumah. Waktu
itu saya menurut bu Zaita kebetulan asyik berbual
dengannya di rumahnya. Almarhumah memanggil bu
Zaita kalau HP saya berbunyi. Dan HP itu diberikannya
tanpa dia naik ke atas. “Kami dengan bapak duduk dan
ngobrol di atas”, kata bu Zaita menjelaskan mimpinya. Itu
satu hari setelah saya dan bapak bercerita tentang kebaikan
ibu. Tapi juga cerita isi dan berkaitan dengan kamar
pribadi. Apa arti mimpi itu? Wallahu a’lam.
5. Berjumpa Ibu Herdan; Dikisahkan oleh Bu Herdan (Ely)
kalau dia suatu malam bermimpi berjumpa dengan ibu.
Bu Herdan adalah salah seorang sahabat akrab isteri saya
semasa hidup. Mereka akrab dan selalu bersama terutama
di organisasi DW (Dharma Wanita) Pendidikan Kabupaten
Karimun. Di bawah ketua DW Pendidikan Kabupaten, Ibu
Haris (isteri Kepala Dinas, Haris Fadillah), mereka berdua,
bersama anggota/ pengurus DW lain selalu diajak dalam
berbagai kegiatan DW. Dalam mimpi yang dialami Ely dia
mengatakan kalau Bu Rasyid (panggilan ke almarhumah
oleh Ely) itu rasanya cuma tersenyum saja saat berjumpa
itu. Dia tak bicara apa-apa. Kisah mimpi diceritakan
Herdan kepada saya, sebagaimana isterinya bercerita
kepadanya. Benarkah itu, hanya Tuhan yang tahu.
6. Beri Ciuman; Mimpi ini saya sendiri yang mengalami. Pada
malam Minggu (Sabtu Malam ke-15) itu saya merasa dia
duduk di samping saya ketika saya sedang berbaring di
kasur, tempat kami selama ini tidur bersama. Malam itu
adalah hari ke-99 dia pergi. Besok malam (hari Minggu)
adalah hari ke-100 dia wafat. Minggu malam itu kami akan
melaksanakan doa bersama mengenang seratus hari
kepergiannya. Tapi pada Sabtu Malamnya itulah saya
serasa berjumpa itu. Dia duduk disamping saya sambil
menyodorkan pipinya seraya tersenyum. Saya
menciumnya. Dan hal seperti itu memang biasa kami
lakukan semasa dia masih ada. Mimpi itu rasa benar-benar
kejadian nyata. Namun ketika saya terbangun sekitar
pukul 02.15 dini hari itu, barulah saya sadar kalau saya
hanya bermimpi. Ah apakah ada hubungannya dengan
rencana kenduri besok malam itu? Hanya Allah Yang
Maha Tahu.
Ada beberapa orang sebenarnya lagi yang bercerita
kalau mereka juga ada bermimpi tentang isteri saya. Saya bisa
percaya itu. Almarhumah memang mempunyai banyak
sahabat dalam hidupnya. Selama 23 tahun hidup di
Tanjungbatu, Moro dan Karimun kami ikut berbagai aktifitas
dalam masyarakat. Sebagai isteri guru, Kepala Sekolah,
pengurus berbagai organisasi, almarhumah otomatis terbawa
ikut berbagai kegiatan yang berkaitan dengan posisi saya itu.
Dia sendiri juga mempunyai bermacam kegiatan yang tidak
ada kaitannya dengan saya.
Namun kisah-kisah mimpi itu tidak begitu jelas sehingga
tidak perlu saya tambahkan di sini. Lagi pula dengan beberapa
kisah di atas, rasanya sudah memadai untuk menjelaskan
bahwa kepergian isteri saya memang meninggalkan kesan
tertentu bagi orang-orang tertentu termasuk saya dan anakanak
yang ditinggalkannya.

Kisah ke-13
Surat-surat Itu
Ketika saya menjalin hubungan cinta dengan isteri saya,
pada dasarnya cinta kami lebih banyak bersemi lewat suratmenyurat
(seperti sudah dikisahkan di atas). Jarak tempat
tinggal kami yang jauh menyebabkan itu harus kami lalui.
Sampai saat –kisah duka— ini terjadi masih ada beberapa surat
cinta darinya yang saya simpan. Baik surat yang saya kirim
(biasanya saya menulis dengan mengetiknya pakai karbon
atau mempotocopy sebelum dikirim) maupun surat yang saya
terima darinya, masih beberapa pucuk yang saya simpan.
Berikut beberapa surat yang saya ketik ulang seperti bunyi
surat sebenarnya:
Kota Panas, 2 Januari 1985
Bandung dulu baru Jakarta
Senyum dulu baru di baca
Menemui
Bang Rasyid
di
Tempat
Salam hangat dari kejauhan ...
Halo Bang apa kabar?!
Mudah-mudahan Abang selalu berada dalam keadaan sehat
wal’afiat tak kurang suatu apapun juga, sama halnya dengan Tati
di sana.
Tati bisa menebak bahwa Abang sekarang pasti sedang
membaca surat dari Tati, ya kan? (jangan bohong, ntar Tati cubit
baru tahu he he he!!)
Oh ya, kapan Abang sampai, dan bagaimana perasaan Abang
setelah mengajar dan menetap di sini!!! Semoga saja Abang betah
tinggal di tempat ini, karena itu salah satu kunci menuju kesuksesan
dalam bekerja (sok tau ah!). Dan untuk itu Tati tidak lupa
mendo’akan agar Abang mendapat tempat kost yang baik dan
menyenangkan.
Bang, semenjak kepergian Abang, Tati merasa kehilangan
karena tidak ada lagi orang tempat Tati bercerita dan meminta
pertolongan apabila Tati mengalami kesulitan dalam belajar. Tetapi
sebagaimana pesan Abang, mau tak mau Tati harus berusaha untuk
mengatasi semua itu. Tati berusaha untuk lebih rajin lagi belajar,
karena Tati sadar bahwa tanpa belajar kita tidak akan menemui
kesuksesan yang kita ingini (tul nggak !!!).
Dan Tati juga merasa gembira karena Tati masih bisa bercerita
kepada Abang walaupun hanya lewat surat. Asal saja Abang tidak
bosan membalas setiap surat yang Tati kirimkan. Sebab kalau bosan,
Tati akan gelitik dan cubit Abang, sampai Abang meminta ampun
kepada Tati (dasar licik ha ha ha).
Bang, apakah Abang mengajar di sini pagi dan siang?
Bagaimana keadaan muridnya, bandel apa tidak? (uuh kok mau tahu
aja nih anak !!)
Kalau bandel beritahu sama Tati ya, biar Tati yang menjewer
mereka satu persatu. Sebab perlu Abang ketahui (huh sombong !)
Kalau Tati yang menjewer pasti mereka tidak akan berani lagi bandel
sama Abang (hi hi hi tidak usah panas ya !!! ntar hujan tak mau
turun lho ?).
Oh ya Bang, Tati punya sebuah cerita yang menarik mau
mendengar eh membacanya nggak ?
Kalau mau pasang mata baik-baik dan tanggalkan telinga
dengan hati-hati (hi hi hi lucu).
Begini ceritanya … (dengar nih nenek mau cerita ha ha ha).
“ Pada tanggal 2 Januari, sekitar jam 4 sore (bukan malam
lho ya), Tati pergi sholat di mushalla sekolah, Setelah selesai Tati
kembali ke kelas tentunya.
Tetapi setelah sampai di kelas Tati sangat kaget karena kelas
terkunci dan semua tas menumpuk di luar kelas. Kami tidak tahu
siapa yang berbuat semua itu, padahal bel masuk sudah berbunyi.
Sementara itu Bu Des, guru matematika mau masuk ke kelas
IIB3 namun kejadiannya sama dengan kami, yaitu kelas terkunci
dan siswanya sudah pada pulang.Tentu saja ini membuat suasana
semakin kacau dan membingungkan. Dalam suasana yang demikian
tiba-tiba Bu Eliarni datang pula untuk mengajar Bahasa Indonesia
di kelas kami (IIB4). Dan ketika melihat keadaan yang demikian lalu
ia mengatakan bahwa kami tidak bisa belajar karena selain kelas
terkunci, siswa yang mau diajarpun sudah tidak ada.
Keadaan semakin bertambah kacau ketika Pak Yusra mau
mengajar kimia di kelas IIB2, namun kelasnya juga terkunci dan
siswanya lebih dari separoh sudah pulang.
Selidik punya selidik akhirnya diketahui bahwa kelas IIB1,
IIB2, IIB3, IIB4 kompak untuk pulang bersama dan bertahun baru
(keterlaluan memang).
Dan Abang tahu, bahwa akhirnya guru-guru tersebut hanya
bisa geleng kepala melihat kejadian itu.
Nah begitulah ceritanya (e-eh jangan ngantuk, sudah habis
kok ceritanya).
Karena mata Tati sudah ngantuk, acara TV pun sudah habis,
maka sampai di sini dulu surat dari Tati. Semoga dapat disambung
dilain surat. Okey.
NB :
RAJIMAWATI
Mohon maaf
Karena namanya di atas
Sedangkan t.t nya d bawah
(dasar bego hi hi hi).
Habis lupaaaaa .... !!!
134
Pekanbaru, 23 Januari 1985
Menemui
Bang Rasyid
di
Tempat
Hai, lagi ngapain tuh!! lagi menung, masak atau lagi
membaca?! (lho baru datang kok langsung nanya, ntar dijewer baru
tahu). Mudah-mudahan saja Abang selalu dalam keadaan sehat,
ceria dan ...... (TTS.. nih).
Oh ya, surat Abang, Tati terima (ambil dari bis surat) pada
tgl 23 Januari 1985.
Waktu mengambil surat tersebut, hampir saja Tati tidak bisa
menahan diri, karena Tati sangat ingin membaca surat tersebut
secepatnya (kuno banget nih anak!!! ha ha ha).
Tati sangat sedih (ternyata kita sama-sama cengeng) ketika
mengetahui bahwa Abang belum juga mendapat tempat kost yang
baik, belum menerima gaji dan ditambah lagi dengan persoalanpersoalan
lainnya (Tati berdo’a semoga Abang tidak cepat berputus
asa). Dan seandainya Tati di sini tentu dengan senang hati Tati
akan membantu Abang.
Bang, semenjak kepergian Abang, Tati berusaha berbuat dan
bertindak seakan-akan Abang masih berada di Pekanbaru. Dan
Syukur Alhamdulillah, usaha Tati tersebut tidak sia-sia. Tati
berusaha untuk tidak keluar malam kecuali pergi wirid pada malam
Selasa dan Kamis. Sedangkan pada malam Minggu Tati hanya keluar
sampai 8.30 untuk menjemput Parni (karna ia tidur di rumah).
Bahkan kadangkala Tati tidak keluar sama sekali. Dan yang sangat
penting, setiap kali Tati pergi Tati selalu mengatakan kemana tujuan
Tati pergi kepada mak/Aba (untuk menghindarihal yang tidak
diinginkan tentunya).
Tati percaya tentang apa yang abang katakan dan insya Allah,
Tati mampu menjaga diri dengan baik.
Oh ya, masih ingatkah Abang sama Eli (pacar Adek) anak
Pak Kutar itu? Tati sangat kasihan padanya bang. Ia sekarang tidak
lagi sekolah, karena ia telah hamil 5 bulan hasil hubungannya
dengan Adek. Akibatnya ia diungsikan ke Tangkerang (mungkin
juga ke Pariaman).
Adapun reaksi Adek tentang hal itu hanya biasa-biasa saja,
Seakan-akan ia tidak pernah melakukan sesuatu terhadap Eli. Hal
ini membuat Tati semakin matang dalam berbuat dan bertindak.
Sehingga Abang tidak usah khawatir tentang diri Tati. Karena
bagaimanapun kuatnya pengaruh yang datang pada kita, tetapi
dihadapi dengan akal yang sehat dan iman yang kokoh, Tati rasa
hal-hal yang tidak kita inginkan, tidak akan terjadi.
Bang,
Tati sangat sayang kepada Abang (serius lho !), Tati tidak
ingin kepercayaan Abang berkurang pada diri Tati.
Oleh sebab itu Tati berusaha untuk MEMENUHI SEMUA
KEINGINAN ABANG. Dan walaupun Abang tidak bisa melihat
apa yang terjadi di sana, Abang jangan khawatir karena Tati selalu
siap sedia mengirim berita (kayak Koran saja hi hi hi).
Dan Abang harus yakin dan percaya bahwa Tati tidak akan
menyerahkan diri Tati kepada lelaki lain kecuali kepada Abang.
Mungkin Abang tidak percaya bahwa seumur hidup Tati, Abanglah
yang pertama (mungkin yang terakhir) menyentuh tubuh Tati. Tati
sendiri tidak mengerti, mengapa Tati mau menyerahkan diri Tati
kepada Abang
Padahal Tati (pada waktu itu) belum tahu pasti Abang serius
atau hanya mau mempermainkan Tati.
Kendatipun Tati belum tahu pasti keputusan Abang, Tati
tidak mampu untuk menolak semua itu. Ini mungkin karena Abang
banyak mengetahui pribadi Tati, dan satu hal yang sangat penting
adalah karena Tati menemukan segala-galanya pada diri Abang.
Dulu Tati tidak berani mengutarakan ini semua, karena Tati
takut kalau hasilnya mengecewakan.
Tetapi sekarang Tati telah mengetahui perasaan Abang
terhadap Tati tidak berbeda dengan perasaan Tati terhadap Abang.
Hal ini membuat Tati bertekad dan memohon kepada Allah saw
semoga tidak ada lelaki lain yang mengisi hati Tati selain Abang.
Dan Tati berharap Abanglah orang yang pertama dan terakhir yang
mengisi hati Tati (Amin).
Bang, Tati seakan-akan tidak mampu menahan kerinduan
yang bergejolak di hati.
Namun di lain pihak Tati harus mampu, karena Tati tidak
ingin masa depan Abang hancur hanya karena Tati.
Oleh sebab itu Tati harus bisa mendorong Abang untuk lebih
giat dan semangat dalam menghadapi masa depan yang cerah.
Karena masa depan itu adalah kunci menuju kepada suatu
kehidupan yang sukses (tul nggak ?!!).
Huh !!! karena keasyikan cerita sampai lupa nih cerita tentang
rumah kita. Habis mereka semua sehat wal afiat tidak kurang suatu
apapun juga, termasuk Tati lho ! (dasar !!! pantang ketinggalan he
he he).
Dan karena dari tadi ngomong melulu, takut nanti Abang
bosan membacanya (ah bisa aja) maka sampai di sini dulu balasan
dari Tati semoga Abang merasa puas.
Salam rindu buat Abang seorang.
Adikmu
Rajimawati
Tati rasa lebih baik surat Abang dialamatkan ke sekolah saja,
selain Tati cepat mendapatkannya dan juga tidak pernah disensor
(wong sudah SMA kok ya).
Tati sangat senang kalau Abang ke Pekanbaru. (kapan ya?)
Mau tahu titipan Tati ???
Titipannya sangat istimewa yaitu mh
…………………………. Abangku yang tersayang, yang datang
dan kembali dengan selamat ha ha ha ………….. (mau menjewer
??? silahkan hi hi hi).
Kota Panas, 11 Februari 1985
Menemui
Bang Rasyid
di
Tempat
Bang, Tati datang lagi nih, mengetuk pintu, diterima apa
nggak??! Kalau tidak, Tati akan masuk lewat jendela dan langsung
mencubit Abang sampai ………….. ada deh (mau tau aja). Pokoknya
Tati senang melihat Abang menangis, biar Tati bujuk dengan itu
itu ………… supaya tambah menjadi tangisnya (ha ha ha).
Oh ya Bang, surat Abang, Tati terima pada 11 Februari 1985.
Dan sewaktu menulis surat ini, Kepala Tati terasa agak sedikit
pusing. Mungkin karena pada hari Sabtu, Tati kehujanan sewaktu
pulang sekolah dan sampai di rumah sudah jam 6.30 wib.
Seluruh pakaian Tati, dari ujung rambut sampai ujung kaki
semuanya basah kuyub tanpa terkecuali (hm dingin).
Habis kalau tidak nekad pulang, tentu akan lebih sukar
mencari oplet. Mana hari bertambah malam sedangkan kilat dan
angin tidak mau diajak kompromi.
Dan kebetulan ada oplet yang langsung ke Tampan, Yang
tentu saja akan memudahkan Tati untuk sampai ke rumah lebih cepat
(walaupun hujannya sangat deras dan lebat) apa boleh buat,
terpaksa.
Namun walaupun demikian, Tati berharap dan berdo’a
semoga saja Abang selalu berada dalam keadaan sehat wal’afiat,
tambah cakep dan rindu Abang terhadap Tati tidak berkurang
(ngrayu nih, tak jewer baru tau hi hi hi).
Bang,
Di sini eh di sana, juga sedang musim hujan.
Sudah beberapa hari matahari enggan untuk menampakkan
dirinya. Sehingga cucian Tati susah kering dan yang paling
menyedihkan lagi nih, Tati sulit untuk pergi ke sekolah (rasain tuh
!).
Tetapi syukurlah, pada hari ini (hari senin) hujan tidak turun,
tadinya Tati bisa pergi olah raga dengan aman.
Nah, Abang mau tau nggak? Apa olah raga Tati di sekolah.
Kalau memang mau tau ada syaratnya nih, Yang pertama (dengarin
nih) pasang mata baik-baik (kalau perlu pakai kaca mata), pakai
telinga hati-hati dan yang terakhir pusatkan pikiran. Kalau
semuanya sudah beres, bacalah huruf demi huruf berikut dengan
hati-hati (huh !!! kayak nenek mau mendongeng aja, bawel !!!).
Dengar kan ya ?!
Setelah melakukan lari dua keliling, Ibuk menyuruh anak lakilaki
ke lapangan basket untuk bermain basket tentunya. Sedangkan
anak perempuan berkumpul di tempat semula. Ibuk lalu menghitung
jumlah kami (wanita) yang ternyata hanya 11 orang, cukup untuk
satu kesebelasan sepak bola.
Namun karena kami tidak melibatkan orang lain, yah terpaksa
jumlah yang 11 tersebut dibagi dua.
Jadi satu kesebelasan terdiri dari 6 orang (termasuk ibuk
tentunya).
Abang tau, Tati termasuk dalam kesebelasan ibuk lho.
Rugi dong, Abang tidak melihat Tati dengan lincahnya main
sepakbola (hi hi hi nggak malu muji diri sendiri).
Ada yang lucunya nih Bang, yaitu sewaktu Tati akan
menendang bola dengan sekuat tenaga (rasanya sasaran Tati tepat
lho Bang) e-eh malah bolanya terus nyelonong ke belakang yang
membuat Tati kesal dan sebal (habis apa enaknya nendang
angin).Tati semakin gusar ketika bola berada dekat Tati, yang tentu
saja pihak lawan ingin merebutnya, yaitu dengan cara mendekati
Tati tentunya. Tetapi karena banyaknya orang yang mengepung Tati,
membuat Tati bingung dan jatuh mengimpit bola. Melihat yang
demikian semua penonton ketawa sesuka nya (bayangkan aja, kalau
wanita saling berebutan bola, serukan!) Dan akhirnya pertandingan
berakhir dengan seri (0 – 0).
Nah begitulah ceritanya (nggak asyik ah!!!).
Aduh sampai lupa nih Bang, Tati ingin tanyakan sesuatu
(boleh nggak). Bagaimana perasaan Abang setelah tinggal di tempat
yang baru ini ? mudah-mudahan saja menyenangkan (tul nggak).
Bang apakah mereka mempunyai anak? Kalau punya lelaki atau
perempuan? (nah-nah, belum apa-apa sudah cemburu ha ha ha).
Dan selain hujan, di sini musim apa lagi Bang (mau ya !).
Kalau di sana, musim langsat, duku, sebagian rambutan, dan juga
itu-tu (kok bisa lupa ya) yang dikenal dengan manggis. Tapi
harganya nih, yang membuat kecut, maklum lagi hm …………
bokek he he hi.
Bang Tati sangat senang, Abang bisa ke pekanbaru karena
sedikit banyaknya rindu di hati Tati bisa terobati.
Walaupun pertemuan itu terasa amat singkat dan cepat,
karena Abang harus kembali lagi untuk menunaikan tugas.
Sungguhpun demikian Tati merasa sangat bahagia karenanya.
Oh ya Bang, Kapan Abang sampai di sini dan jam berapa
Abang berangkat dari Pekanbaru ? (rewel amat sih!).
Dan satu lagi nih Bang, boleh nggak Tati minta sebuah dari
foto Abang ??. Biar Tati bisa melihat Abang kalau penyakit kangen
Tati sedang kambuh. Sebab kalau tidak demikian, setiap Tati ke
rumah Parni, mata Tati selalu saja tertuju kepada potret Abang
yang berada di dinding rumahnya. Tati khawatir kalau-kalau
kepergok sama orang lain (kan berabe). Semoga Abang tidak
keberatan.
Dan karena malam semakin larut, hujan pun sudah mulai
turun, maka sampai di sini dulu balasan dari Tati (semoga Abang
merasa puas). Salam kangen dari kejauhan.
Adikmu
Rajimawati
* Tati mohon maaf, kalau kata-kata
Tati kurang tersusun (maklum, lagi pusing).
* Bagaimana pergaulan di sini kalau dibanding
Dengan Pekanbaru ??
Kalau Abang tidak jawab, terima nih cubitan
Dari Tati (sakit ya ! rasain ………….. hi hi hi).
Kota Panas, 27 Februari 1985
Menemui
Bang Rasyid
di
Tempat
Eh, eh ngapain tuh! ada orang datang kok malah sembunyi?!
takut ya sama Tati. Awas, kalau takut, Tati malah akan datang terusterusan,
biar abang tidak takut lagi he he (uh !!! kayak berani aja
sih!).
Oh ya Bang, Tati jadi heran, kok abang tau kalau Tati
menerima surat dari abang pada tanggal 27 – 2 – 1985.
Hm ……………jangan-jangan abang sendiri yang
mengantar surat tersebut ke sekolah Tati (hi hi emangnya pak pos,
uh!. Dan kalau teman Tati tahu, mereka pasti mengatakan bahwa
abang “ Panakok “ (bukan penokok lho).
Satu lagi nih Bang, Tati protes (he he), sebab setahu Tati,
tidak ada yang mengetahui kalau Tati lagi ngelamun, apalagi abang
yang berada di sini. Karena kalau Tati mau memikirkan sesuatu,
Tati akan mencari tempat yang aman dari gangguan (ha ha ha tak
asi panas ya).
Adu uuh, kok sampai lupa ya, memberitahukan bahwa Tati
tidak lagi sakit kelapa eh kepala dan keluarga di sana juga dalam
keadaan sehat wal’afiat. Begitu pulalah hendaknya dengan abang
di sini.
Bang, nonton nggak pertandingan sepakbola malam minggu
(23-2-1985) antara kesebelasan Bandung melawan Medan. Kalau
abang tidak nonton, pasti deh rugi besar.
Pertandingan tersebut begitu seru, sampai-sampai pada
waktu olahraga (25-2-1985) guru kami masih tetap menggeluti
sepak bola. Dia mengatakan bahwa ia menang bertaruh dengan
suaminya, mengenai siapa yang keluar sebagai pemenang dalam
pertandingan tersebut.
Oleh sebab itu, kali ini ceritanya agak menarik nih bang.
Karena pada pertandingan kali ini, kami menang 2-0. Dan Tati tidak
lagi menendang angin seperti pada pertandingan sebelumnya.
Pokoknya, kalau abang melihat Tati main, pasti deh abang akan
berguru kepada Tati he he he (kok sombong amat nih anak!)
Bang,
Tati pingin kenal sama yang namanya Wati tersebut dan Tati
yakin pasti dia cantik dan pintar seperti namanya (ya kan?).
Bang, Tati malah khawatir kalau-kalau abang benar-benar
menganggapnya Tati (nah nah cemburu lagi nih ha ha ha!!!) Namun
Tati yakin hal tersebut tidak akan terjadi (tul nggak).
Seumur hidup Tati ya bang, baru sekali ini Tati mendengar e
eh membaca bahwa ada musim sepi.
Kok sepi pakai musiman segala, kayak rambutan aja ha ha hi.
Bang, boleh nggak Tati menyarankan, bahwa rasa sepi itu
jangan diturutkan terus-menerus, sebab hal tersebut bisa
mengakibatkan hal-hal yang tidak kita inginkan. (uh kayak neneknenek
aja lagaknya). Dan yang gawatnya Bang, abang bisa lupa
dengan Tati di Pekanbaru (ha ha ha), e eh mau mencubit Tati ya,
silahkan ah kalau berani hi hi hi.
Dari tadi ngomong melulu, eh masih aja ada yang mau
diceritakan. Salah satunya berita sedih nih Bang, karena SMAN
Rumbai bertanding sepakbola melawan SGO (2-0).
Hampir saja terjadi perkelahian karena mereka (SGO)
memanas-manasi kami atas kemenangannya. Tapi untunglah hal
tersebut tidak sampai terjadi.
Dan pada hari sabtu (2 Maret 1985) akan bertanding antara
SMAN Rumbai melawan SMPP. Karena pertandingan dimulai
pukul 4 wib, maka kami (seluruh kelas IPA) merencanakan akan
melakukan cabut massal ( memang keterlaluan ah!!!).
Oh ya Bang, masih ingat nggak, dengan pohon rambutan
yang di muka rumah kita. Seandainya abang ke Pekanbaru, abang
tidak lagi akan menjumpai pohon tersebut. Karena pohon itu
terpaksa dibereskan supaya pembuatan teras rumah berjalan dengan
lancar. Insya allah pada minggu-minggu ini juga teras tersebut akan
selesai.
Pada malam minggu yang akan datang, Tati ditawari main
catur oleh teman-teman. Mereka menyangka Tati pintar main catur.
Lalu menunjuk Tati untuk menjadi wakil dari kelas II B4 dalam
rangka lomba catur antar kelas. Terang aja Tati menolaknya, karena
Tati merasa belum mampu untuk mengikuti perlombaan.
Abangkan tau sendiri bahwa, melawan abang saja Tati tidak
pernah menang (ya kan). Apalagi melawan jago-jago catur dari kelas
lain, bisa-bisa Tati mati kutu karenanya.
Ditambah lagi, Tati sekarang tidak pernah main catur
(semenjak abang pergi).
Dan mengenai nama abang di Pekanbaru, tidak ada apaapanya
kok. Memang mak Parni, ada cerita mengenai abang, tapi
ia hanya menyinggung soal gaji seorang guru.
Dia mengatakan gaji abang besar dan hidup abang senang
dan tentram.
Lalu dijawab sama Rosman, bahwa abang baru masa
percobaan menjadi pegawai negeri, jadi gajinya belum begitu tinggi,
katanya. Sedangkan Tati hanya diam mendengar pembicaraan
mereka (puas nggak).
Bang, karena malam semakin larut, dan acara tv sudah dari
tadi habis, maka sampai di sini dulu balasan dari Tati.
Salam sayang dan kangen Tati buat abang tersayang.
Adinda
Rajimawati
NB :
* Apakah abang di sini masih bisa main sepakbola
* Enak nggak marathon di sini.
146
Pekanbaru, 21 Maret 1985
Menjumpai
Bang Rasyid
di
Tempat
Hm ………….. Tati tau nih, pasti abang sekarang sedang
membaca surat dari Tati ya nggak. (alah ngaku ajalah, nggak apaapain
kok ha ha).
Lho membaca surat aja kok pakek wajah cemberut segala?!
Jangan marah dulu dong, ntar cepat jadi kakek tau nggak hi hi.
Bang,
Tati minta maaf nih (beribu kali maaf) karena Tati agak
terlambat membalas surat abang yang Tati terima pada hari Rabu
(20-3-1985). Keterlambatan itu bukanlah Tati sengaja, tetapi
keadaanlah yang tidak mau diajak kompromi.
Sebab pada minggu-minggu terakhir ini, hampir semua mata
pelajaran diadakan ulangan. Hal ini membuat Tati harus menghapal
dan belajar dengan baik. (uh emangnya dapat juara).
Oh ya Bang, baca nggak beritanya di surat kabar (berita apa
lagi nih!).
Kalau belum baca, dengan senang hati Tati akan
menceritakannya pada abang (sok tau ah).
Ceritanya begini nih Bang.
“Pada tanggal 4-3-1985 (senen) diumumkan bahwa besoknya
(5-3-1985) agar semua siswa datang pagi, mengikuti upacara untuk
menerima Kepala Sekolah baru (namanya Tati lupa).
Tapi Bang, upacara pada pagi itu digemparkan oleh berita
bahwa ruang tata usaha kami dibongkar oleh maling dengan
menggondol uang 4 juta lebih. Sehingga penjaga sekolah kami
ditahan selama dua hari.
Namun beritanya belum selesai sampai disitu, karena pada
hari kamis (14 Maret ’85), Sekolah kami digemparkan lagi dengan
ditemukannya penjaga sekolah tersebut meninggal dalam keadaan
tergantung di kantin.
Kematiannya bukanlah dengan cara yang wajar sebab kukukuku
kaki maupun tangannya tanggal, perutnya rusak, lidahnya
keluar dan badannya penuh luka bekas pukulan.
Singkatnya, ia mati karena dibunuh.
Tentu saja pembunuhnya masih berhubungan dengan pencuri
uang yang hilang tersebut. Menurut sumber yang layak dipercaya,
(uh kayak wartawan aja!) mengatakan bahwa pelakunya ada
sebanyak tiga orang.
Dan setelah diadakan penyelidikan dan pencarian, akhirnya
salah satu dari pelakunya bisa ditangkap (orang batak). Hi hi Tati
jadi ngeri dibuatnya Bang .......
Ah, bagusan cerita tentang yang lain aja ya Bang, biar nggak
ngeri lagi (ketahuan nih, penakutnya).
Oh ya Bang Universitas Lancang Kuning sudah diresmikan
pemakaiannya, sehingga lalu-lintas ke Rumbai semakin ramai.
Apalagi waktu pulang mereka dengan ….. kami bersamaan. Jadi
abang bisa bayangkan bagaimana ramainya lalu-lintas pada saat
itu.
Bang,
Mengenai Eli dan Adek mereka sudah dipisahkan eh
dinikahkan (di rumah makdang Eli).
Sungguh pun demikian mereka tidak diizinkan oleh orang
tua Eli untuk hidup serumah. Hal ini membuat Eli maupun adek
menderita lahir dan bathin.
Bagi orang yang mengetahui hal tersebut, maka mereka
dengan spontan mencela sikap orang tua Eli yang tidak mau
menerima kenyataan ini secara wajar dan yang paling
menjengkelkan mereka tetap menyalahkan adek. (uh dasar egonya
tinggi kok ya).
Aduh …………………. dari tadi asyik ngoceh melulu sampai
lupa menjawab pertanyaan abang.
Begini Bang,
Isyu-isyu mengenai diri abang belum / tidak ada Tati dengar.
Yang Tati dengar hanyalah pujian terhadap diri abang (hi hi belum
apa-apa sudah GR (gede rasa).
Dan setiap ada yang baik pasti mak / Ba menghubungkannya
dengan diri abang (sampai-sampai Tati jadi iri lho).
Apalagi kalau masakan yang mak buat adalah masakan kesukaan
abang, pasti ia ingat abang dan tidak lupa cerita panjang lebar yang membuat
Tati ingin mencubit abang sampai itu tuh ………. Ha ha.
Uh ........ ! Tati jadi malas menceritakan semuanya.
Tati takut abang semakin GR dan Tati semakin iri dan jengkel
dibuatnya ha ha ha.
Oh ya Bang, sewaktu abang ke rumah malam selasa yang
lalu (waktu abang ke Pekanbaru) abang janji malam rabunya akan
tidur di rumah, tapi itu tidak terlaksana.
Hal tersebut ditanyakan Ba kepada Mak.
Ba menanyakan apa sebabnya abang tidak datang pada malam
rabu tersebut. Lalu mak mengatakan bahwa abang ke air tiris jadi
tidak sempat ke rumah.
Bang,
Mengenai kemungkinan-kemungkinan yang abang sebutkan
itu, Tati menyetujuinya, Sebab kalau itu (tunangan) baik buat abang
tentu baik pula buat Tati.
Demikianlah balasan dari Tati. Salam kangen dan rindu Tati
buat abang seorang.
Adikmu
Rajimawati
* abang tidak menjelaskan berapa hari abang
Mengadakan penataran, seminggu atau lebih
* Kapan ujian kenaikan kelas dimulai (untuk SMA di sini)
* Karena anak kelas 3 mau EBTA, kami sering libur. Tati takut
kalau surat Yang abang kirimkan terlambat Tati terima. Lalu Tati
memutuskan untuk memakai
Alamat ERNI (jalan Riau 75) saja. Tapi dengan syarat nama dan
alamat abang jangan dituliskan pada amplop surat tersebut.
(semoga abang menyetujuinya).
150
Kota Panas, 7 April 1985
Menjumpai
Bang Rasyid
di
Tempat
Hm ………………………………………………………
Ketahuan nih, lagi ngintipin apa tuh?! (hi hi hi nggak malu)
Bang, Sewaktu Erni datang ke rumah untuk mengantarkan
surat Abang, mak, Ba dan Atun melihatnya.
Lalu Ba menanyakan siapa yang mengirim surat tersebut.
Langsung saja Tati berikan surat itu kepadanya.
Tetapi Bang, sewaktu Tati teliti lagi surat tersebut, Tati jadi
deg-degkan sebab alamat pengirimnya dari Pontianak sedangkan
cap diperangkonya sangat jelas dibaca yaitu “ TANJUNG BATU
“. Jangan-jangan Ba mengetahuinya !!!
Tapi tidak mengapa, tokh ia tidak akan marah karena ia tahu
keinginan anaknya (uh!sombong!!!). Satu lagi nih Bang ;
Ketika Atun melihat deretan perangko pada surat tersebut
langsung saja dibilangnya bahwa sipengirim banyak gaya dan aksi
(ha ha ha ndak asi pane do).
Mengenai surat yang Abang kirimkan melalui teman Abang
tersebut, sampai sekarang Tati belum menerimanya. Apalagi mulai
tanggal 6 – 16 April ’85, Tati libur karena anak kelas 3 menghadapi
EBTA.
Sedangkan mengenai perpisahan di sekolah kami
dilaksanakan pada tanggal 20 April ’85 nanti.
Ngomong terus, sampai lupa untuk mengucapkan ...........
(pasti Abang lupa) selamat ulang tahun, semoga panjang umur,
murah rezeki dan …………….. (walaupun tgl 11 April sudah
beberapa hari berlalu).
Hanya ucapan selamat, yang dapat Tati berikan, sebab Tati
sekarang lagi .............. (terka sendiri he he he).
Bang,
Mengenai hubungan surat-menyurat yang kita lakukan ini
Tati rasa mak dan Ba mengetahuinya.
Cuma mungkin saja mereka pura-pura tidak tahu (tapi ini
baru kemungkinan lho).
Sebab, dulu sewaktu Tati mendapat surat, (dari sahabat pena
yang Tati ceritakan tempo hari) mereka kelihatan pura-pura tidak tahu.
Teman-teman Tatipun tidak ada yang mengetahui kecuali
teman akrab Tati di sekolah (Ratna, Ernita dan Marnis).
Ada satu hal yang sampai sekarang menjadi tanda tanya
dalam hati Tati, Tati heran sebab Amin (surau) teman Abang
tersebut nampaknya mengetahui hubungan kita. Tati mohon
kejujuran Abang untuk menjawabnya.
Sewaktu Tati dan Parni ke kedai, kami jumpa dengannya,
langsung saja dia mengatakan begini “Abang awaklah jauh kini
yo”. Tapi untunglah suaranya tidak begitu kuat sehingga tidak ada
yang menggubrisnya kecuali Tati.
Dan sekarang dia jarang di Pekanbaru karena ia sudah
melangsungkan pernikahannya dengan anak tek caya pada bulan
Januari yang lalu.
Oh ya Bang, setelah mendengar bahwa Abang penataran ± 1
bulan, Tati jadi khawatir, jangan-jangan surat Tati, dijadikan arsip
sekolah (ha ha ha).
Sampai di sini dulu balasan dari Tati, sebab jam telah
menunjukkan pukul setengah tiga siang dan lagi, nampaknya Parni
mau ke rumah.
Salam rindu dari kejauhan.
Adikmu
Rajimawati
* Tati setuju kalau surat Abang,
Abang ketik. Tapi dengan syarat Abang harus cerita
panjang lebar kalau tidak ….
tahu sendiri akibatnya ………… (he he)
Pekanbaru, 21 April 1985
Menemui
Bang Rasyid
di
Tempat
Hai ketemu lagi nih!
Mudah-mudahan saja pada saat ini Abang berada dalam
lindungan YME, sama halnya dengan Tati sekeluarga di sana.
Bang,
Tati juga tidak menyangka lho, kalau surat Abang lebih cepat
sampainya dari dugaan Tati semula (huh beo!!!). Mungkin inilah
yang dikatakan orang berkah dari yang Maha Kuasa. Dan Tati
berharap semoga kebahagiaan yang sedang Abang rasakan terus
berlanjut sampai ……………….. (jawab dah kalau memang pintar
ha ha).
Oh ya Bang, sejak 17 April ’85 yang lalu, Tati tidak lagi
sekolah siang, tetapi sekolah pada pagi hari (karena siswa kls 3 sudah
selesai EBTA).
Tentu saja Tati harus bangun lebih pagi lagi dari biasanya
(tul nggak?!!).
Semula Tati membayangkan betapa senangnya kalau Tati
dapat sekolah pada pagi hari.
Namun kenyataan berbicara lain.
Sebab setelah pulang sekolah, Tati betul-betul merasakan
betapa sunyinya keadaan ini
Apalagi sekarang, Tati lebih sering menjadi penunggu rumah
(karena semua orang pada pergi).
Dalam kesendirian itu Tati berusaha untuk berbuat sesuatu
(spt membaca, dll), namun walaupun demikian Tati tetap merasakan
kesunyian dan kesepian yang tidak putus-putusnya.
Sungguhpun begitu Tati tetap berusaha agar keadaan yang
demikian dapat Tati atasi dengan baik.
Apalagi sekarang waktu ujian sudah diambang pintu (8 Mei
’85) sedangkan Tati belum juga bisa belajar dengan serius (Tati
sendiri tidak tahu lho apa penyebabnya).
Mudah-mudahan saja menjelang ujian nanti Tati bisa
memusatkan pikiran dan belajar dengan sungguh-sungguh.
Aduh ......................... sampek lupa nih memberitahukan
bahwa pada tanggal 18 April ’85 yang lalu kami sekelas memutuskan
untuk pergi jalan-jalan ke proyek. Kami merencanakan untuk
memancing ikan dan makan bersama di sana.
Namun menjelang makan siang tiba belum ada seekor
ikanpun yang di dapat. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli
nasi ramas saja.
Setelah selesai makan, kami duduk-duduk bercerita sambil
menikmati keindahan alam.
Dan kira-kira setengah empat kamipun pulang walau tanpa
seekor ikanpun (syukur !! ha ha ha).
Mengenai pertanyaan Abang yang satu itu, sebenarnya Tati
agak enggan untuk menjawabnya.
Tati lebih menyukai kalau Abang sama sekali tidak
mengetahuinya. Namun karena Abang ingin tahu juga maka Tati
harus menjawabnya (huh !!! sombong!). Jelasnya Tati lahir di
Pekanbaru pada tanggal .................... 21 Oktober 1966.
Sampai di sini dulu balasan dari Tati semoga Abang merasa
puas. Salam sayang dan rindu Tati buat Abang seorang.
Adikmu
Rajimawati
* Hotel yang di jalan Jati tsb baru mulai dibangun
* Trimakasih buanyak atas kiriman Abang tsb (terlalu banyak lho
buat Tati).
Mendengar Abang sudah menerima gaji saja Tati sudah sangat
gembira.
* Kabarnya bulan puasa sekolah ya Bang?
Pekanbaru, 6 Mei 1985
Menemui
Bang Rasyid
di
Tempat
Jumpa lagi nih Bang ( Walaupun lewat surat ).
Berkat do’a Abang, Tati sekeluarga tetap berada dalam
keadaan sehat wal’afiat tidak kurang suatu apapun juga. Dan
sekarang Tati tidak lagi merasa kesepian, karena Tati sudah terbiasa
menghadapi hal yang semacam itu (huh ……………….
Sombong!!!).
Bang,
Mengenai surat Abang yang menggunakan nama dan alamat
palsu / samaran, Tati rasa tidak ada yang mencurigainya. Karena
alamat yang Abang buat itu sepertinya betul-betul ada lho (jangan
GR dulu dong).
Cuma satu yang Tati khawatirkan, bagaimana kalau seandainya
mereka (spt Erni dan Parni) ingin kenalan dan mengirim surat ke alamat
palsu yang Abang buat itu. Kan bisa berabe dong Bang.
Dan tentang saran yang Abang berikan tersebut, Insya Allah
kami (Erni, maknya dan Tati ) bisa join dengan baik (hi hi kayak
hubungan dagang aja).
Oh ya Bang,
Ada berita yang ingin Tati sampaikan kepada Abang (bukan
berita di Koran lho!).
Mau nggak mendengar eh membacanya?!! kalau mau Tati
akan teruskan, tetapi kalau nggak mau, Tati ngambek nih (hi hi
nggak malu dilihat orang).Berita yang ingin Tati sampaikan ini,
berita tentang Atun dan Am. Menurut rencana, pada tgl 16 Mei
’85 nanti perkawinan Atun dan Am akan dilaksanakan secara
serentak. Atun dikawinkan sama pacarnya yang pernah dulu Abang
lihat (ingat nggak), sedangkan Am dikawinkan sama orang Jawa
yang bernama Adis. Mungkin Abang akan bertanya, “Apakah Am
sudah sembuh??? Memang ia sudah diobat oleh dukun yang juga
mengobati penyakit Uwo. Dan sekarang ia sudah agak membaik.
Untuk penyembuhannya lebih lanjut, maka Mak, Ba dan Bu Ngah
serta pak Ngah memutuskan untuk mengawinkannya. Apalagi
orangnya sudah ada. Namun walaupun demikian, hanya Atun saja
yang disandingkan di pelaminan, Am tidak.
Untuk itulah Mak dan Ba menyuruh Tati menulis surat
kepada Abang dan mengharap Abang untuk datang. Namun karena
perlengkapan untuk nikah banyak yang belum siap, mereka jadi ragu
untuk menulis surat tersebut. Mereka khawatir kalau nanti Abang
betul-betul datang ke Pekanbaru namun acara perkawinan tidak
jadi di selenggarakan (sebab tgl 16 Mei tsb bukanlah tanggal yang
pasti) kan buang-buang biaya namanya lebih-lebih pada saat
sekarang ini, Abang tentu sedang sibuk mengawasi dan memeriksa
kertas ujian untuk kenaikan kelas. Suatu tugas yang tidak bisa
Abang tinggalkan begitu saja. Apalagi untuk suatu hal yang tidak
begitu penting dan tanpa alasan yang begitu kuat. Harapan Tati
hanya satu, Tati ingin Abang mampu meningkatkan pengabdian
sepenuhnya di sini demi kesuksesan yang ingin Abang capai.
Dan Tati tidak lupa mendo’akan agar pada bulan puasa nanti,
Abang bisa berkumpul dengan keluarga di kampung. Tentu mereka
sangat mengharapkan kehadiran Abang. Tati tentu sangat gembira
kalau Abang mampu mewujudkan harapan-harapan mereka.
Akhirnya sampai di sini dulu balasan dari Tati, karena Tati
harus melakukan persiapan untuk menghadapi ujian. (do’akan saja
agar Tati bisa naik kelas). Salam sayang dan rindu Tati buat Abang
seorang.
Adikmu
Rajimawati
* Tati tidak pergi mengikuti perpisahan kelas 3. Jadi Tati
tidak bisa bercerita seperti yang Abang inginkan.
* Teras rumah memang sudah selesai. Tidak bagus, tapi
cukup sederhana.
13 September 1985
Menemui
Bang Rasyid
di Tanjung Batu
Salam Rindu Selalu,
Lagi ngapain tuh Bang?!! Hm ……………. Pasti sedang
membaca ………………………… membaca apa ya?! paling-paling
sedang membaca surat-surat cinta ha ha ha ………………………
Bang,
Sebetulnya kedatangan surat Tati ini membawa berita duka
cita. Sehingga sangat sulit bagi Tati untuk menyusun kata-kata agar
mudah dimengerti. Tetapi biar bagaimanapun berita ini harus Tati
sampaikan kepada Abang. Nah ………. Supaya Abang jangan
bertanya-tanya maka Tati langsung saja pada pokok persoalannya.
Okey?!!
Begini Bang,
Pada minggu pagi (8 Sept ‘ 85) Atun merasakan perutnya
sakit, mungkin sakit mau melahirkan. Padahal pada saat itu hujan
sangat lebat dan Bang Jinok pergi mengantarkan Aba ke kantor.
Sedangkan Tati, walaupun hujan tetap saja mencuci pakaian sekolah
yang sudah terlanjur direndam.
Tetapi untunglah Bang Jinok pulang pas Tati siap mencuci.
Lalu kami (mas, Tati dan Bang Jinok) disuruh mak untuk sarapan
terlebih dahulu. Setelah selesai makan, Bang Jinok pergi menjemput
Bidan Hamnah dan mas disuruh memberitahukan Mak di Rumbai.
Sesampainya bidan Hamnah tsb di rumah, ia langsung
memeriksa Atun. Setelah diperiksanya, lalu bidan tsb mengatakan,
mungkin ± 2 jam lagi baru tiba waktunya Atun untuk melahirkan.
Untuk itu bidan tsb pulang dulu ke rumahnya.
Namun, dari pagi hingga malam (jam 21.00 wib) sudah 4
kali bidan tsb pulang-balik / datang, Atun belum juga tiba waktunya
untuk melahirkan. Kami semua cemas dan gelisah, sehingga Mak
menyuruh panggil bidan kampung datang kerumah yang akhirnya
bidan kampung tsb tidur di rumah pada malam itu (malam senen).
Senen pagi Tati sekolah seperti biasa, karena Mak tidur di
rumah jadi tidak begitu banyak pekerjaan yang harus Tati kerjakan.
Sepulang dari sekolah Tati melihat sakit Atun bertambah
parah. Namun setelah dipanggil, Bidan tsb tidak pula ada di rumah.
Sedang Atun sakitnya belum juga berkurang, badannya kadangkadang
panas dan kadang-kadang dingin disertai badan menggigil.
Aba lalu menyuruh Bang Jinok memanggil dukun kampung
yang mengobat Uwo dulu untuk datang ke rumah.
Dukun kampung tsb mengatakan Atun dan anaknya sakit
dikarenakan mendapat keteguran. Lalu ia membuat obat untuk Atun
dan anaknya tersebut. Setelah diobati, ternyata sakit Atun mulai
agak berkurang. Dan kami di rumahpun merasa agak lega melihat
hal itu.
Tetapi malamnya (senen malam) Atun merasakan saat
melahirkan sudah tiba. Lalu dipanggil lagi bidan Hamnah ke
rumahnya. Sesampai di rumah ia langsung saja menolong Atun
untuk melahirkan.
Setelah diusahakannya menolong Atun, ia lalu menyuruh
Bang Jinok menjemput bidan Parni untuk membantunya (karena
Atun sudah kelihatan lemah sekali). Namun bidan Parni tsb tidak
pula ada di rumah. Lalu bidan Hamnah tsb mengusulkan agar Atun
di bawa ke rumah sakit malam itu juga.
Sesampainya di rumah sakit IBNU SINA, Atun disuruh lagi
agar di bawa ke RSUP (Tati dg dokter di rumah sakit IBNU SINA
tsb mengatakan bahwa anak di dalam kandungan Atun sudah tidak
bernyawa lagi). Di RSUP tsb, Atun di impus agar tenaganya
bertambah.
Baru sekitar pukul 6 sore (selasa sore) anak tsb bisa
dikeluarkan dan langsung di bawa ke rumah untuk dikebumikan
esoknya (rabu). Sekitar pukul 2 siang anak tsb pun (laki-laki) sudah
selesai dikebumikan.
Atun, karena ia tidak tahan mendengar suara bayi menangis
di rumah sakit tsb, ia lalu berkeras untuk dirawat di rumah saja.
Akhirnya permintaannya tersebut dikabulkan juga oleh dokter,
walaupun sebenarnya Atun belum boleh dibawa pulang.
Nah, itulah Bang, yang membuat pikiran Tati kacau dan sedih
tidak tentu lagi makan, minum dan mandi.
Apalagi Mak, kerjanya hanya menangis memikirkan nasib
Atun tsb.
Tapi syukurlah, akhirnya toh Atun selamat juga walaupun
anaknya tidak bisa diselamatkan.
Seteleh dua hari tidak masuk sekolah (selasa dan rabu),
Kamisnya Tati baru masuk ke sekolah untuk belajar. Dasar nasib
lagi sial mungkin Bang, tidak tahunya semua mata pelajaran pada
hari kamis tsb diadakan ulangan (Fisika, Kimia, Bhs Ind dan
kalkulus).
Abang tentu bisa bayangkan bagaimana kalang kabutnya Tati
menghadapi ulangan tanpa persiapan sedikitpun. Tati tidak tahu
apa jadinya dengan nilai ulangan Tati tsb. Sebab pada waktu itu
otak Tati rasanya tidak mampu lagi untuk berfikir dengan sempurna.
(mungkin karena capek, sedih dan kurang tidur).
Tetapi Tati berusaha untuk melupakan semua kejadian tsb.
Mudah-mudahan saja usaha Tati tsb berhasil. Amin.
Bang,
Tati jadi malas cerita dibuatnya, habis dari tadi cerita hanya
sedih melulu, kan nggak lucu toh.
Apalagi Tati tidak ingin melihat Abang turut bersedih,
cukuplah Tati sendiri yang menanggungnya.
Oh ya Bang, Tati ingin nanya nih!! (harus jawab lho, ntar
kalau nggak dijawab Tati cari Abang di sini he he he).
Bagaimana dengan perayaan ultah sekolahnya, pasti meriah
tentunya tul nggak Bang?!!. Tati ingin dengan ceritanya langsung
dari Abang, jadi tidak di Koran ha ha ha ……………….
Dan bagaimana tentang tambahan mengajar yang Abang
sebutkan tempo hari ? mudah-mudahan saja cukup menyenangkan
dan memuaskan hati Abang. Cuma saja jangan terlalu asyik dengan
pekerjaan supaya tidak lupa makan, mandi dan tidurnya tidak larut
malam. Agar tidak jatuh sakit. Tul nggak (huh …………… kayak
nenek-nenek aja, sombong!!!).
Ngomong-ngomong soal air, kalau di sana kebanyakan air
malah. Sebab sering turun hujan. Jadi kalau Abang mau mandi dan
mencuci, pergi aja kesana, kan beres ha ha ha (ndak asi pane).
Tati kira sudah terlalu panjang Tati bercerita. Supaya tidak
bosan, maka Tati akhiri saja sampai di sini dulu ya. Tak lupa salam
sayang dan rindu buat Abang seorang.
Adikmu
Rajimawati
* Mau nggak kalau Tati kirimi foto. Agar ............... dan lebih ...........
dan ..................................................... he he he.
Tapi fotonya jelek Bang, nggak apa toh kalau Abang mau,
Tati janji akan mengirimkannya nanti. okey
164
27 September 1985
Menemui
Bang Rasyid
di Tanjung Batu
Do’a Tati, semoga saja Abang ada dalam keadaan sehat
wal’afiat tak kurang suatu apapun, seperti juga Tati sekeluarga di
sana.
Bang,
Tati sangat senang membaca berita / cerita yang Abang
paparkan, terutama sekali tentang kesediaan Abang menerima foto
Tati. Anggaplah foto ini hadiah ultah Abang tempo hari yang tidak
sempat Tati kirimi apa-apa dan sebagai pelepas rindu serta pemberi
semangat Abang untuk bekerja (huh dasar gombal ha ha ha!!!).
Mengenai pertanyaan Abang tersebut, Tati yakin jawaban
yang Tati berikan ini sangat jitu dan perlu mendapat penghargaan
khusus (hi hi hu tak asi pane do).
[ 1 ] Kebetulan sekali, Tati juga nonton drama tsb tetapi lupa
judul dan nama pemainnya. Walaupun demikian Tati masih ingat
jalan ceritanya secara keseluruhan. Oleh sebab itu Tati merasa yakin
betul bahwa jawaban yang Tati berikan ini tidak meleset sedikitpun.
Apalagi jawaban ini sudah Tati pikirkan betul dan Tati hubungkan
juga dengan kekhawatiran Abang.
Seandainya Tati jawab tokoh yang Abang kagumi itu adalah
Ayah si gadis yang terjepit masalah keuangan karena anaknya sakit
parah.
Tentu Abang menyanggahnya. Dengan alasan bahwa Abang
belum kawin apalagi sampai mempunyai anak yang sakit keras
begitu. Tul nggak?
Dan kalau Tati jawab, tokoh tsb adalah gadis (anak dari Ayah
di atas) tentu Abang akan menolaknya juga. Toh Abang bukan
seorang wanita dan juga Abang tidak bekerja pada perusahaan
swasta. Jadi tidak mungkin dong Abang akan mengalami persoalan
spt ini.
Akhirnya, setelah mengingat, menimbang dan merasa (huh
kayak hakim saja!!!) maka jawaban yang tepat jatuh pada tokoh
yang memainkan peran sbg DIREKTUR (tempat anak bapak tsb
bekerja).
Alasannya, tentu karena direktur ini masih sendiri (sama dg
Abang). Dan direktur ini merasa bahwa ia mempunyai penyakit
yang harus segera disembuhkan. Lalu ia memeriksakan dirinya
kepada dokter (ahli ilmu jiwa).
Dokter tsb mengatakan bahwa untuk menyembuhkan
penyakitnya itu, hanya ada satu jalan yang paling tepat yaitu
KAWIN.
Dan ketika mendengar obat tsb, direktur itu lalu ketawa,
karena ia merasa bahwa usianya sudah tidak pantas untuk kawin
lagi (ia tidak bisa melupakan istrinya terdahulu). Namun setelah
dipikirnya berulang kali akhirnya ia bertekad juga untuk kawin lagi.
Apalagi ia telah menemukan calon yang berkenan dihatinya.
(karyawannya).
Tapi, sesuatu hal yang tidak diduganya sama sekali akan
terjadi, terjadi dengan tiba-tiba. Gadis yang akan dijadikannya
sebagai istri ternyata anak teman karibnya semasa ia berjuang dulu.
Kejadian ini membuatnya membatalkan semua rencananya
dan ia lalu memberhentikan gadis tsb tanpa alasan yang memuaskan.
Ia menerangkan pada ayah si gadis, bahwa ia akan
menganggap anak temannya itu sebagai anaknya juga. Kekayaannya
adalah kekayaan mereka berdua. Dan mereka berdua adalah bagaikan
saudara kandung yang hidup bersama baik suka maupun duka. (ya
kan?!).
Pokoknya Abang harus ngaku kalah.
Sedangkan hal yang Abang khawatirkan, menurut Tati
sebetulnya tidak ada sama sekali. Toh usia Abang masih muda, dan
lagi kan ada Tati yang selalu bersedia membantu setiap kesulitan
yang Abang hadapi. (huh sombong!!!). Pokoknya Abang tak perlu
khawatir tentang kesediaan dan kesetiaan Tati.
Dan kalau tiba saatnya nanti insya Allah, Tati akan menepati
janji / kata-kata yang pernah Tati ucapkan. Tapi bukan sekarang
lho!!. Sebab Tati masih harus menamatkan sekolah Tati dan Tati
juga harus lebih banyak lagi belajar bagaimana caranya menghadapi
kehidupan ini.
Abang tentu juga mengetahui, bahwa setiap orang yang
berani melakukan sesuatu maka ia juga harus berani menghadapi
segala sesuatu yang akan terjadi kelak. Oleh sebab itu, sebelum kita
bertindak kita harus mempersiapkan dulu apa-apa yang harus di
siapkan dan kita juga harus memperhitungkan tantangantantangan
yang nantinya akan kita hadapi. Dan satu hal yang paling
penting, kita harus mematangkan dan mendewasakan diri terlebih
dahulu. Agar tidak terjadi penyesalan kelak dikemudian hari.
[ 2 ] Mengenai film akhir pekan yang berjudul Antara kau
dan aku tsb, tokoh yang paling Tati kagumi adalah tokoh yang
memerankan sosok seorang Yanti ( Anna Tairas ). Tati kagum atas
ketegarannya dalam menghadapi semua kegetiran yang terjadi
dalam hidupnya. Yanti seorang yang konsekwen akan pilihan
hatinya walaupun ia banyak digoda dengan harta dan kedudukan
yang berlebihan. Ia hanya memerlukan sebungkah hati yang murni
dan tulus dari seorang lelaki yang ia cintai. Ia tidak rela harga
dirinya dan keluarganya diinjak dan dihina orang. Karna ia
berprinsip bahwa harga diri berada di atas segala-galanya. Prinsip
inilah yang menantang keteguhan hatinya.
Dan akhirnya ia berhasil melalui perjuangan dan penderitaan
yang begitu berat untuk menuju jenjang kebahagiaan yang abadi.
Tati berharap mudah-mudahan pikiran Abang tidak jauh
berbeda dengan pikiran Tati. Ya toh?!!.
Dan tentang ulangan Tati yang mendadak tempo hari, sampai
sekarang Tati belum mengetahui dengan pasti tentang hasilnya.
Sebab kertas ulangan tsb belum ada yang dibagikan.
(keterlaluan memang).
Sedangkan mengenai hujan, syukurlah di sana hujan turun
secara teratur. Tapi yang anehnya Bang, setiap hujan yang turun
pada umumnya mereka (hujan tsb) memilih waktu pada malam hari,
sedangkan siang harinya panas terik tanpa ampun sedikitpun.
Rasanya semua pertanyaan Abang, semua sudah terjawab.
Jadi Tati sudahi saja sampai di sini. Okey !!
Tak lupa salam sayang dan rindu buat Abang seorang.
Adikmu
Rajimawati
11 Oktober 1985
Menjumpai
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Harapan Tati, semoga Abang di sini selalu berada dalam
lindungan Allah swt. Begitu juga dengan Tati sekeluarga di sana,
termasuk Atun. Sekarang Atun sudah kelihatan begitu sehat, sudah
bisa bekerja walaupun kerjanya masih yang ringan-ringan.
Bang,
Surat Abang, Tati terima pada 11 Okt ‘ 85 persis seperti yang
Tati ramalkan sebelumnya (huh sombong!!!).
Dan berbicara soal surat, rasanya sangat perlu sekali hal ini
Tati beritahukan kepada Abang. Sebab Tati merasakan, bahwa keluarga
Erni sudah mulai curiga dengan datangnya surat Abang tersebut.
Memang kalau dilihat siapa yang mengirimkan surat tersebut, sepintas
lalu tidak mencurigakan. Tetapi hal tersebut sangat menimbulkan tanda
tanya pada diri mereka. Mereka menyatakan keheranannya dengan
melontarkan beberapa pertanyaan kepada Tati, yang selama ini bisa
Tati jawab dengan baik.
Namun mereka masih meragukan, masak ada cewek yang
betah berkoresponden dengan seorang cewek, apalagi surat yang
datang tersebut berlansung terus-menerus dan dengan pengirim
yang itu-itu juga.
Pernah sekali mak Erni menanyakan tentang Abang, sewaktu
Tati kerumahnya untuk mengambil surat. Dia menanyakan, apakah
Abang ada datang ke rumah, sewaktu Abang ada di Pekanbaru
tempo hari. Dan ia juga mengatakan bahwa sebentar lagi Tati akan
menamatkan sekolah, dan sudah tentu punya rencana untuk hari
nanti / masa depan. Hal tersebut Tati jawab sebisa mungkin, Tati
sangat bersyukur sekali karena pada saat itu juga Tati bisa
mengalihkan masalah tersebut ke masalah masak-memasak
(kebetulan mak Erni pada saat itu baru pulang dari belanja) tanpa
menimbulkan kesan bahwa sebenarnya Tati menghindar dari pokok
pembicaraan semula.
Apalagi sekarang Erni sudah mulai mengada-ada. Walaupun
ia bicara dengan bergurau, tetapi Tati tahu apa yang diinginkannya.
Tetapi menurut Tati, Tati tidak perlu terlalu khawatir mengenai Erni.
Meskipun ia pernah / selalu melontarkan kata-kata bahwa ia akan
menyensor setiap surat yang dialamatkan kepada Tati. Toh Tati
masih bisa mengatasi semua itu.
Kadang-kadang timbul dalam pikiran Tati, agar Abang
mencantumkan nama dan alamat yang sebenarnya. Artinya kita
harus bisa menghadapi semua hal yang terjadi nantinya. Sebab Tati
yakin pada suatu saat nanti mereka mengetahui segalanya tentang
apa yang kita lakukan terhadap mereka. Mereka juga Manusia, sama
seperti kita yang sudah barang tentu tidak bisa didustai terusmenerus.
Tul nggak??
Untuk persoalan yang seperti ini Tati tidak mau memutuskannya
seorang diri / secara sepihak. Sebab ini menyangkut masalah kita berdua,
apa yang terjadi kitalah yang akan menanggung dan merasakannya.
Oleh sebab itu Tati sangat mengharapkan sekali pendapat / pikiran
Abang tentang masalah tersebut. Kita harus menemukan cara yang
terbaik yang harus kita tempuh tanpa merugikan pihak lain. Dan
semoga saja kita berhasil. Amin.
Oh ya Bang, di Pekanbaru pada saat ini memang sedang
digalakkan agar pengendara sepeda motor memakai helm kemana /
bila mereka mau bepergian. Untuk mencapai hasil yang semaksimal
mungkin, maka daerah wajib helm tersebut semakin diperluas. Dulu
hanya jalan juanda saja yang diwajibkan memakai helm, tetapi
sekarang tak terkecuali hanya juanda saja melainkan termasuk jalan
Sudirman dan jalan A. Yani. Sungguhpun demikian peraturan
tersebut belum begitu ketat, sebab Tati masih melihat adanya
pengendara yang tidak memakai helm.
Dan berbicara soal helm, memang sampai saat ini Aba belum
mau membeli helm. Apa alasannya, sampai saat inipun belum ada
yang tahu. Namun walaupun tidak ada helm, honda di rumah tetap
bisa di bawa ke kota, tanpa mengalami kesulitan sedikitpun.
Tati yakin pada suatu saat nanti, Aba pasti membeli helm
tersebut walaupun dalam keadaan terpaksa ha ha ha.
Bang,
Masih ingat nggak dengan rumah yang dibangun Bu Ngah
tempo hari?!. Rumah itu sekarang sudah ada penghuninya.
Yang menghuni rumah tsb, dua orang laki-laki (mereka
bersaudara) yang keduanya kuliah di Universitas lancang Kuning.
Abangnya sudah duduk ditingkat III sedangkan adiknya baru
tingkat I.
Semenjak mereka tinggal di sana, Ijus makin sering ke rumah.
Hal ini sangat menganggu konsentrasi belajar Tati. Tati tidak bisa
belajar dengan tenang. Karena mereka main gitar diteras rumah
sampai larut malam. Sehingga pada suatu kali Tati terpaksa
menasehati Ijus. Tati terpaksa mengatakan bahwa apa yang
dilakukannya itu bukanlah suatu hal yang menguntungkan tetapi
sangat mencemarkan namanya.
Mungkin karena kata-kata Tati tsb, Ijus mulai jarang datang
ke rumah. Kecuali pada saat-saat tertentu ia datang juga ke rumah
untuk meminta bantuan Tati.
Dan mengenai Tati, Abang tidak perlu khawatir. Tati tahu
apa yang harus Tati lakukan. Seperti juga Abang, maka Tatipun
tidak akan tergoda oleh lelaki lain. Abang harus percaya itu!!! Dan
Abang tentu juga mengetahui, bahwa kalau kita sudah memutuskan
suatu masalah, maka kita harus bisa menghadapi apa yang terjadi
nantinya. Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan
matang, agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Begitu
pulalah halnya dengan Tati. Sebab Tati yakin bahwa Abang tidak
akan mengecewakan Tati nantinya. Sama halnya dengan harapan
Abang terhadap Tati. Semoga
Aduh, sampai lupa nih.
Juki pernah datang ke rumah untuk memberitahukan bahwa
Uzi mendapat kecelakaan, tulang pahanya patah sehingga ia harus
dirawat di RSUP. Sedangkan kawannya meninggal dunia pada saat
itu juga.
Juki juga menanyakan tentang Parni, ia mengatakan bahwa
Parni sudah sangat berubah. Dia belum mengetahui bahwa Parni
sudah pacaran sama Aceng (masih ingat nggak, itu tu Aceng yang
Tati sebutkan tempo hari). Mereka baru saja pacaran, dan
nampaknya Parni lebih suka sama Aceng ketimbang Juki, Tati tidak
berani memberitahukannya pada Juki. Biarlah ia tahu dari Parni
sendiri. Ya kan?!
Rasanya sudah terlalu panjang Tati bercerita, agar tidak
membosankan, Tati akhiri saja sampai disini. Tak lupa salam sayang
dan rindu dari kejauhan buat Abang.
Adikmu
Rajimawati
NB :
- Di sini lagi musim apa Bang?
- Apakah Abang sudah memiliki helm (huh mau tahu aja ah!!!)
Kalau memang sudah, pasti deh kepala Abang kelihatan seperti
bola ha ha ha!!! ndak asi pane do.
- Tati ingin tahu nih, bagaimana tanggapan keluarga Abang
mengenai hubungan kita, maksud Tati apakah mereka sudah
mengetahui nya??
- Tati punya teka-teki yang harus Abang jawab tanpa bantuan
dari siapapun. Teka-tekinya berbunyi ;
- “ Aku di atas, ia di bawah. Kalau ia bergoyang aku senang. Tetapi
kalau ia, aku tarik maka ia akan berdarah (ini bukan porno lho).
Apakah itu ???
- Di buka kulitnya, nampak daun, Di buka daun baru nampak
isinya
Apakah itu ???
Rasain, biar kapok ha ha ha
24 Oktober 1985
Menemui
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Wah wah Bang, Tati sangat berterima kasih sekali atas
pemberian Abang tersebut. Dan yang paling menyenangkan hati
Tati ialah bahwa Abang masih mengingat hari jadi Tati, untuk itu
sekali lagi Tati ucapkan terima kasih. Terima kasih dan terima kasih
lagi (idih nggak lucu).
Eh Bang, bagaimana sih caranya mengetahui hari lahir
seseorang itu dengan tetap eh tepat, gitu. Tati jadi penasaran
dibuatnya, jangan-jangan Abang sudah menanyakan hari lahir Tati
pada mak/ Ba, ya kan ?! kalau nggak, Abang harus memberitahukan
caranya pada Tati, (kalau nggak mau, tau sendiri nih akibatnya hi
hi hi!).
Mengenai hubungan surat menyurat kita ini, Tati
berpendapat agar Abang tetap memakai nama samaran. Sebab Tati
yakin, mereka itu hanya mereka-reka saja dan belum yakin tentang
apa yang mereka katakan. Biarlah mereka mengetahuinya nanti,
setelah apa yang kita cita-citakan berhasil dengan lancar dan baik.
Dan sudah barang tentu, hal ini merupakan suatu kejutan buat
mereka. Tul nggak?!!.
Bagaimana, setuju ??!! okey.
Bang,
Tati tidak mengharapkan segala sesuatu itu secara berlebih-
lebihan. Apa gunanya pesta yang berlebihan kalau akhirnya tidak
membuat hati kita senang dan bahagia. Tati lebih senang nantinya
kalau pesta perkawinan kita dilaksanakan secara sederhana tetapi
meriah (kalau diizinkan Allah swt). Dan Tati yakin, orang tua kita
tentu mengharapkan hal yang demikian juga. Sebab yang mereka
pikirkan adalah kebahagiaan anak-anak mereka kelak, bukan
kebahagiaan mereka.
Lagipula, harta benda tidak mutlak untuk menjamin
kebahagiaan seseorang. Kebahagiaan tidak akan pernah terwujud
kalau hati orang tsb belum bersih dan suci dalam melakukan sesuatu.
Nah oleh sebab itu kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan
pesta yang besar-besaran. Yang penting apa yang mampu kita
laksanakan, maka itulah yang harus kita laksanakan. Bagaimana?!!
Sehubungan dengan rencana kita nanti, insya Allah Tati tidak
akan mengingkari janji.
Setelah tamat sekolah nanti, Tati akan janji untuk tinggal
bersama Abang di sini (pokoknya, sediakan saja tempat untuk Tati
di sini). Untuk itu Tati sudah mempersiapkan diri agar menjadi
istri yang baik, yang mengerti tugas dan kewajiban (huh sombong).
Oh ya Bang, Tati juga pingin tahu nih!! Tentang persiapan
Abang sehubungan dengan rencana kita tsb.
Apakah Abang sudah betul-betul yakin dan memikirkannya
dengan matang? Dan apakah Abang tidak menyesal, kelak
dikemudian hari? Jawab ya?!!
Uh, keasyikan ngomong, sampai lupa nih memberitahukan
bahwa keluarga di sana ada dalam keadaan sehat wal’afiat. Begitu
pulalah hendaknya dengan Abang di sini. Amin.
Satu lagi nih Bang, itu tuh mengenai teka-teki kemaren.
Abang boleh berbangga karena memang jawaban yang Abang
berikan itu Tati beri nilai 0 besar. Sebab jawaban yang Abang berikan
jauh meleset. Masak Honda kalau ditarik keluar darahnya ha ha ha
nggak lucu ah. Apalagi kalau Honda tsb bergoyang kita seharusnya
ngeri, e eh Abang malah senang (mau jatuh ya?). Pokoknya darah
yang keluar tsb memang betul-betul darah, jadi bukan kiasan.
Lalu teka-teki yang kedua itu, dibuka kulitnya Nampak daun.
Nah daun yang dimaksud di sini juga daun benaran bukan daundaunan,
apalagi daun pintu, wah jauh, itu mah meleset sekali Dan
isi yang dimaksud di sini, juga betul-betul isi. Jadi bukan
sembarangan isinya.
Bagaimana, pokoknya Abang harus bisa menjawabnya
dengan tepat. Kalau tidak bisa menjawab berarti Abang harus
mengakui bahwa Abang benar-benar goblok, baru setelah itu Tati
memberi jawaban yang tepat, jitu dan pantas mendapat nilai
sepuluh, horee !!! ha ha ha ndak asi pane do!!!
Supaya Abang bisa memikirkan jawaban yang tepat untuk
TT tsb, maka sampai disini dulu ya surat dari Tati (huh …………….
!!!) Tak lupa salam sayang dan kangen buat Abang tersayang.
Adikmu
Rajimawati
NB :
- Bang No (Abang Parni), istrinya telah melahirkan seorang anak
/ bayi wanita
- Abang pasti lupa menjawabnya, itu mengenai musim apa disini,
(ya kan).
- Tata usaha SMA N RUMBAI, lagi-lagi kecolongan (dasar lagi
apes).
- Bagaimana dengan tugas-tugas Abang, Apakah merepotkan,
maksud Tati tidak mendapat halangan, gitu!
15 November 1985
Menjumpai
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Hm …………….. memang tak salah dugaan Tati.
Abang memang licik (kayak belut), pandai-pandainya
membuat Tati agar mau menyerah tanpa syarat. Yak an ?!! Huh
…………………! Tapi tunggu dulu nih …………….. jangan cepat
besar kelapa eh kepala. Sebab, (dengar nih) mengingat, menimbang
dan merasa (rasain) maka Tati memutuskan (agar Abang tidak
nangis ha ha ha) untuk memberitahukan jawaban teka-teki (yang
Tati ajukan dan kebetulan Tati jawab sendiri) tsb dengan cumacuma,
tetapi harus diimbali hadiah, ya ……………. Itu tu. Hi hi hi
!!! okey? Bagus. Adapun mengenai jawaban tt tsb :
1. “Orang memancing ikan”. Coba deh Abang buktikan sendiri biar
lebih afdhol. Kalau nggak percaya, sini biar Tati jewer tuh
…………..
2. Nah inilah yang seharusnya paling mudah buat Tati (paling susah
buat Abang).
Coba Abang ingat-ingat kembali, Tati rasa ini adalah
makanan khas di kampung Abang. Apa masih belum ingat?!! Wah
susah dong kalau begitu, masak soal yang secuil gitu aja harus minta
bantuan tuan puteri (Tati) ha ha ha. Kalau tuan puteri diajukan tt
spt itu, maka ia akan cepat menjawab. Bahwa hm ……….. kalau
dibuka kulitnya Nampak daun dan setelah dibuka daun baru
Nampak isi, dikampung Abang itu dinamakan orang dengan “
LEMANG “, tul nggak. Dan sekarang, Abang tidak bisa lagi
membela diri. Horee ………… dapat nilai seribu ………. Hore
Oh ya Bang, memang keluarga Abang ada datang kerumah.
Kalau Tati nggak salah peristiwa tersebut terjadi pada sore hari,
tepatnya pada tanggal 28 Okt ’85. Dan kebetulan sekali, pada waktu
itu Tati ada di rumah dan tidak sadarkan diri (tidur). Tapi toh, Tati
terbangun juga ketika mendengar suara orang ngobrol diruang
tengah. Lalu Tati bangun dan mengintip (bukan maling lho) siapa
yang datang. Dan ………… tentu Abang pingin tahu bagaimana
perasaan Tati ketika melihat siapa yang datang tsb. Ya kan?!! Tapi
Abang jangan kecewa ya?! Habis, perasaan Tati pada waktu itu
tidak bisa Tati ungkapkan melalui kata-kata. Dan Tati rasa, perasaan
Abang pun sama dg Tati. Tul nggak.
Sampai saat ini, Tati belum ada mendengar cerita-cerita yang
tidak enak, mengenai kedatangan keluarga Abang tsb. Karena mereka
memang tidak mengetahuinya.
Sedangkan mengenai keluarga Tati sendiri, tidak perlu Abang
khawatirkan, termasuk May dan Amin.
Walaupun keluarga Abang sudah datang. Mak dan Ba belum
mau berterus-terang kpd Tati. Mungkin mereka menyangka Tati
malu menceritakan masalah itu. Tapi untuk menjawab pertanyaan
yang timbul di hati, akhirnya Tati memberanikan diri untuk
bertanya kpd Mak. Dan syukurlah, segala kepura-puraan tsb
sekarang tidak ada lagi. Puas?!! Dan sekarang, Tati juga ikut
bingung untuk memutuskan masalah ini. Tetapi karena Abang
meminta pikiran Tati, maka Tati akan memilih, agar kita
bertunangan saja dulu. Untuk itu kita harus memilih hari yang
baik, untuk melaksanakan niat tsb. Tentu saja hari yang Tati maksud
itu, harus dirundingkan dulu oleh kedua belah pihak.
Lalu pendapat Abang sendiri bagaimana?! Tati belum
mengetahuinya. Dan bagaimana pula menurut keluarga Abang?!
Mungkin mereka mempunyai saran dan rencana yang sangat bagus
untuk dituruti. Karena mereka (ortu) lebih banyak mengetahui
tentang itu, dari pada kita yang muda –muda ini. Bagaimana ?
Bang’
Masalah yang satu ini selalu menjadi pikiran Tati. Sampai
saat ini Tati belum menemukan cara yang jitu agar hubungan suratmenyurat
kita bisa berjalan dg lancar.
Apalagi sekarang, setiap surat yang dialamatkan ke sekolah
sudah mulai di sensor. Dan kalau kita memakai alamat Ijus dan
Parni Tati yakin, ini akan membuat hubungan kita berantakan, apa
Abang mau ?
Lebih gawat lagi kalau memakai alamat rumah. Bisa-bisa
setiap surat Tati yang datang, akan berisi kejengkelan dan
kemarahan karena surat-surat Tati (menurut Tati) tidak pernah di
balas. Padahal yang menjadi masalahnya, hanya satu yaitu setiap
surat balasan Abang tidak akan pernah sampai ke rumah. Alasannya
hanya sepele, karena alamat rumah tidak jelas!!!
Jadi, satu-satunya alamat yang Tati anggap aman, ya, itu
hanya alamat ERNI. Bagaimana. Mudah-mudahan saja apa yang
kita harapkan akan dikabulkan oleh Allah swt. Amin.
Oh …………… hampir palu eh lupa, sekarang kota
Pekanbaru sedang dilanda banjir. Dan sudah ada korban jiwa. Kalau
Abang jalan-jalan ke Rumbai, maka di sana- sini yang kelihatan
hanya air. Pokoknya rugi deh kalau Abang tidak ke Pekanbaru.
Apalagi sekarang rambutan di depan rumah sudah masak-
masak dan keluarga di sana sehat-sehat lho karena itu tu, makan
rambutan melulu. Yang jelas Abang akan ditinggali kulit yang
banyak.
Dan sampai di sini dulu ya Bang, ntar bisa disambung lagi.
Tak lupa salam sayang dan rindu ‘ntuk Abang seorang.
Adikmu
Rajimawati
NB :
- May dan anaknya sekarang tinggal di rumah, karena rumah di
Rumbai kebanjiran.
- Tati ujian pd 20 Nov ’85 ini. Do’akan ya ?!!
27 Desember 1985
Menemui
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Syukur Alhamdulillah pada saat ini Tati sekeluarga berada
dalam keadaan sehat wal’afiat. Begitu pula hendaknya dengan
Abang di sini. Amin!!!
Surat Abang, Tati terima dari Aba, pada 26 Des ’85, tapi
baru sekarang (27 Des ’85) Tati sempat membalasnya. Semoga saja
Abang tidak marah atas keterlambatan ini. Sebab akhir-akhir ini
rasanya tidak ada waktu terluang untuk duduk bersantai. Sepulang
sekolah, Tati harus bersiap-siap untuk ke sekolah lagi nantinya
(belajar sore), pulangnya paling cepat jam 5 sore. Apalagi sekarang
(menjelang tgl 30 Des ’85) ditambah pula dengan diklat karakterdes
golkar yang paling cepat usainya pukul 10 malam. Sehingga untuk
mengerjakan PR pun Tati harus bertahan hingga larut malam.
Tapi Tati merasa bersyukur sebab tidak ada yang tidak
berjalan dengan lancar. Segala sesuatu berjalan dengan baik.
Oh ya Bang, rumah kita, maksud Tati penambahan dua buah
kamar yang kemaren sudah selesai, juga pintu disamping rumah.
Pokoknya rumah kita tampak lebih lapang dan luas. Kalau
Abang ingin melihatnya, boleh saja, asal pada bulan April, tahun
depan. Bagaimana ………….. ha ha ha …………. Pokoknya Abang
harus patuhi syarat itu hi hi hi kalau tidak patuh hm ……….. tau
sendiri akibatnya. Pane tu ………
Bang,
Mengenai hubungan kita ini, Tati yakin bahwa sebagian dari
tetangga kita sudah mengetahuinya. Apalagi keluarga Parni dan
Ijus. Namun walaupun mereka sptnya enggan untuk menanyakan
hal tsb kepada Tati.
Jinok terpaksa mengatakan kepada Aceng bahwa kita baru
bertunangan, bukan menikah. Kayaknya ia berambisi sekali
menanyakan tentang hubungan kita. Tati tidak mengerti apa yang
diinginkannya.
Dan satu lagi Bang, sewaktu Tati kerumah Parni, kebetulan
pada saat itu ada nono (Abang Parni) di sana.
Secara tiba-tiba ia menyalami Tati, lalu ia mengatakan bahwa
kita jangan lupa mengundangnya nanti. Pada saat itulah Tati sadar
bahwa sepandai-pandai tupai melompat, maka pada suatu saat tentu
ia akan jatuh juga. Begitu pulalah halnya dengan kita. Tati rasa
tentu Abang mengerti maksudnya. Ya kan? kan.
Tapi Bang, walaupun mereka mengetahuinya, mereka tidak
mau mengejek maksud Tati membuat berita yang bukan-bukan
mengenai kita.
Sedangkan Tati sendiri, tetap berlaku dan bertindak seperti
biasa baik di sekolah maupun di rumah. Di sekolah Tati tetap ceria
dan di rumahpun Tati tidak begitu mengurung diri. Bagaimana
bang, puas?!!
Bang,
Mengenai malam bahagia kita tempo hari itu, sedikitpun Tati
tidak merasa menyesal. Malah Tati merasa bahagia sekali dapat
menikmatinya sebelum keberangkatan Abang ke sini. Bagaimana
dg Abang sendiri? Kalau Tati ingat malam tsb, mau rasanya Tati
pergi ke sini sekarang juga untuk menemani Abang. Tapi untunglah
pikiran sehat Tati masih bisa dipergunakan untuk berfikir dg baik.
Nah Bang, kebanyakan ngomong sampai lupa nih. Itu
mengenai libur Abang yang kepanjangan, apa tidak kena marah?
cerita ya. Kalau Abang tidak mau cerita, Tati jadi malas
mengirimkan foto buat Abang. Habis foto Tati di sana tidak ada
yang bagus spt foto Abang. Dan untuk itu Abang tidak boleh
melihatkannya kepada orang lain kecuali Abang sendiri tentunya.
Awas kalau bohong. Ntar Tati jewer tuh kuping.
Rasanya udah cukup panjang Tati bercerita, supaya jangan
bosan. Tati sudahi saja sampai di sini. Semoga dilain surat
disambung lagi. Tak lupa salam sayang dan kangen buat Abang di
sini.
Adikmu
Rajimawati
8 Januari 1986
Menjumpai
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Tanpa kita sadari, sekarang kita telah memasuki tahun baru
pula yaitu th 1986. Dan untuk itu Tati juga tidak mau ketinggalan
untuk mengucapkan selamat tahun baru kepada Abang (huh beo!!!),
dan semoga saja Abang selalu sehat-sehat sama spt Tati sekeluarga
di sana.
Bang,
Tati sengaja lho, tidak memberitahukannya kepada Abang.
Sebab Tati ingin tahu apa reaksi Abang seandainya hal tsb tidak
Tati sampaikan. Nah ………….. rupanya dugaan Tati betul.
Horee!!! Apa, ayo …………….. coba terka deh sendiri. Ya itu
………… yang jelas Abang penasaran khan? Alah ……… ngaku
ajalah ……….. nggak diapa-apa kan kok. Ha ha ha ……… pane tu.
Idih belum apa-apa sudah cemberut, kalau begitu Tati harus
cepat-cepat mengabarkan bahwa Tati sudah terlambat eh datang
itunya. Dan kalau Abang pingin tahu lagi, ini nih datangnya tepat
pada tgl 21 seperti yang Tuan puteri sudah ramalkan. Puaskan?!!
Dan sekarang Tati masih tetap tidur dikamar belakang. Tentu
untuk itu Tati harus kemukakan alasannya kepada Abang.
Pertama : Untuk mengingat dan mengenang bahwa dikamar
itulah kita pertama tidur sbg sepasang suami-istri yang sah.
Kedua : Tati ingin pindah ke kamar depan sewaktu
peresmian pernikahan kita di lansungkan. Bagaimana Bang, setuju?!
Oh ya Bang, disebelah kamar Tati, ada sebuah kamar lagi
yang ditempati oleh mak, Ba, Pi’i dan Ucok. Jadi kamar Tati dg
mereka bersebelahan.
Bang, setahu Tati, surat nikah kita sudah dikirimkan Aba
yang katanya melalui pos terlampir. Dan Tati kira surat itu sampai
dua hari setelah surat Tati yang lalu Abang terima. Betul nggak?!!
Kasi tahu ya, mana tahu hilang di jalan, kan sudah dong. Ah mudahmudahan
saja tidak terjadi apa-apa dengan surat nikah itu.
Bang,
Tati sekarang makin bingung lho Bang. Habis Tati tidak
mengerti apa yang diingin oleh maknya Parni. Rupanya dia belum
puas menjelek-jelekkan nama Tati. Yang jelas ia menuduh Tati
mengambil Aceng dari anaknya, Parni. Padahal Tati tidak pernah
ngobrol berdua saja dg Aceng tsb, apalagi sampai bersandar
dipunggung Aceng spt yang dikatakannya kepada orang-orang.
Abang tentu mengerti betapa hancurnya hati Tati dituduh berbuat
spt itu. Karena setiap Tati datang ke sana Parni dan Aceng duduk
berdua di kamar, dan Tati, mamaknyalah yang melayani. Dan lagi
Tati tidak pernah lama-lama kalau di sana, karena kalau di sana
Tati selalu kena sindiran dan bahan pembicaraan mamaknya Parni
itu. Ah ...... mau rasanya Tati maki dia habis-habisan namun Tati
berusaha bertahan, walaupun untuk itu hati Tati jaminannya.
Biarlah dia menjelek-jelekkan kita pada semua orang, tokh orangkan
tahu siapa yang salah dalam hal ini. Mudah-mudahan saja ia sadar
dengan kekeliruannya selama ini.
Dan Abang tak usah khawatirkan diri Tati, Tati berusaha
menjaga diri Tati dg baik, seperti yg Abang pesankan. Dan lagi kan
ada mak dan Ba, tempat Tati beriba hati.
Sampai di sini dulu surat Tati, semoga di lain surat dapat
disambung lagi.
Salam sayang dan rindu buat Abang seorang.
Adikmu
Rajimawati
25 Januari 1986
Menemui
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Nah …………., Tati jadi menyesal nih, telah menyampaikan
berita tsb kepada Abang. Sebab Tati telah terbiasa mendengar halhal
yang tidak menyenangkan tentang diri Tati. Dan biasanya
ocehan siapapun tidak pernah mempengaruhi hubungan Tati dg mak
Parni, termasuk masalah yang kemaren itu tentunya.
Maksud Tati hanya memberitahukan, bukan menyuruh
Abang berbuat sesuatu, termasuk menulis surat kepada Parni. Tati
tidak suka / setuju, Abang menyurati Parni, karena memang ia tidak
tahu apa-apa tentang hal itu. (dasar bandel).
Jangan-jangan surat tsb hanya akan memperkeruh keadaan,
kan bisa berabe jadinya Bang. Betul nggak. Nah ........ hal inilah
yang Tati, paling tidak suka.
Tapi Tati berharap termasuk Abang, semoga saja dg
kedatangan surat Abang tsb, Parni bisa mengerti dan
memahaminya.
Bang,
Memang KTP Abang ada pada Tati. Sebetulnya Tatipun mau
mengirimkannya kepada Abang. E .... eh dasar manusia suka pelupa,
jadi Tati tidak ingat kalau hal itu tidak Abang tagih he he he. Dan
untuk itu, Tati minta maaf yang sebesar-besarnya pada sang Raja,
dengan mengirimkan KTP tsb pada saat ini juga tanpa ada cacat
sedikitpun. Ha ha ha Tak asih panas ya.
Dan supaya sang Raja tidak murka, maka Tati sekali lagi
mohon maaf, Karena hamba juga lupa mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya atas pemberian sang Raja. Habis pada waktu
itu pikiran hamba lagi ruwet, ya …….. itu karena barusan
mendengar ocehan orang tentang Tati. Jadi hamba harap sang Raja
mau mengerti atas kekhilapan hamba tsb. Okey?!
Bang,
Apakah titipan Aba kepada Pak Ali sudah Abang terima?
itu lho foto copy surat nikah kita yang sudah dilegalisir? kalau sudah
beri tahu ya. Ntar kalau nggak diberitahu cubitan Tati bisa ……….
Nih. Dan bagaimana dengan acara MTQnya, apakah berjalan
dengan lancar? Tati harap, kesibukan Abang tidak menganggu
kesehatan dan tugas pokok Abang yaitu mengajar. Karena kalau
Abang sakit, Tati juga ikut susah lho Bang. Jadi Abang harus jaga
kesehatannya dengan baik, sebab Tati juga selalu ingat pesan Abang.
Dan Tati ingin dengar cerita Abang tentang MTQ tsb, pasti
menarik dan menyenangkan tentunya. Cerita ya!
Tati sudahi sampai di sini dulu ya Bang, ntar di lain surat di
sambung lagi.
Tak lupa salam sayang dan rindu buat Abang.
Adikmu
Rajimawati
20 Maret 1986
Menemui
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Tati bingung, mau mulai dari mana, yang jelas pikiran kita
sama-sama tidak menentu. Dan sama-sama menunggu.
Semula Tati mengira, Abang, sengaja tidak membalas surat
dari Tati. Sejak tanggal 7 Februari (menurut dugaan Tati) Tati selalu
menunggu balasan surat dari Abang. Tentu saja hal ini membuat
pikiran Tati menjadi kacau dan tak menentu. Abang mungkin tak
percaya, bahwa setiap sore Tati selalu menunggu Aba pulang kerja.
Tati berharap, ia pulang membawa sepucuk surat buat Tati. Namun
ternyata harapan Tati hanya sia-sia belaka. Sebab tak sepucuk pun
surat yang ditujukan untuk Tati.
Dan pada saat-saat seperti itu, ingin rasanya Tati memakimaki
dan memarahi Abang, tetapi akhirnya Tati sadar dan berbalik
menjadi khawatir kalau-kalau Abang jatuh sakit, sibuk dan banyak
lagi kemungkinan-kemungkinan yang membuat Abang tidak punya
waktu untuk membalas surat Tati. Sebab sebagai seorang istri, Tati
harus mengerti kesibukan suami, Tati tidak ingin Abang hanya
memperhatikan Tati, sedangkan pekerjaan yang lain, lebih penting
dan harus didahulukan.
Memang Aba pernah mengatakan kepada Tati, bahwa surat
balasan dari Abang tsb tidak sampai dan ia juga menanyakan apakah
di dalam surat tsb ada uangnya, sebab pada umumnya surat yang
tidak sampai biasanya ada uang di dalamnya atau alamatnya kurang
lengkap. Tati tidak berani menjawab “ia” sebab menurut Aba, siapa
yang ketahuan mengirimkan uang di dalam surat bisa dituntut dan
dijatuhi hukuman.
Setelah Aba mengatakan bahwa surat Abang tidak sampai,
rasa-rasanya Tati kurang percaya, perasaan Tati mengatakan bahwa
surat Tati (yg bertanggal 25 Januari) tsb memang belum Abang
balas.
Dugaan tsb diperkuat pula dg seringnya Tati mimpi, rasarasanya
(dlm mimpi tsb) Tati melihat Abang merobek-robek surat
dari Tati. Memang seharusnya Tati tidak mempercayai mimpi tsb.
Namun akhirnya Tati harus percaya juga, sebab setiap Tati mimpi,
yah ………… mimpinya selalu sama dan itu itu juga. Untuk
menenangkan perasaan, Tati akhirnya mengurungkan niat untuk
menulis surat kepada Abang.
Bang,
Saat menulis surat ini sebetulnya sekolah kami masih dalam
suasana ujian pra EBTA. Namun Tati tidak bisa konsentrasi dalam
ujian sebelum membalas surat dari Abang ini. Sebab Tati sangat
mengerti sekali bagaimana kecewanya dan sedihnya hati kita apabila
yang kita nanti-nantikan, datangnya meleset dari apa yang kita
perkirakan.
Oh ya Bang,
Sekolah kami mengadakan ujian pra ebta ini, selama
seminggu, jadi hari sabtu (22 Maret) baru selesai. Do’akan saja
bahwa hasil ujian Tati tsb tidak mengecewakan orang tua dan
terutama Abang. Yang jelas Tati telah berusaha agar Tati bisa lulus
dengan hasil yang memuaskan. Semoga Tuhan mengabulkan apa
yang Tati inginkan tsb. Amin!!
Dan sampai di sini, balasan dari Tati, Tati janji pada surat
yang akan datang, Tati akan jawab pertanyaan Abang mengenai
peresmian pernikahan kita. Tapi Tati ingin dengar dulu rencana
Abang. Okey ?
Tak lupa, salam sayang buat Abang seorang.
* Kalau menurut Tati, lebih baik memakai alamat Aba saja.
Adikmu
* Jangan biasakan ngirim uang dalam surat, lebih baik uang tsb
Abang simpan / tabung.
Sebab sampai saat ini Aba tidak tahu bahwa di dalam surat Abang
Rajimawati yang hilang tsb ada terselip uang.
* Bersamaan dg datangnya surat Abang tsb, Tati juga menerima
sepucuk surat yg tidak tahu dari siapa. Ijus bilang surat tsb surat
berantai. Apa iya?
5 April 1986
Menemui
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Salam bahagia selalu
Seharusnya Tati mengirimkan surat ini setelah surat balasan
dari Abang, Tati terima. Namun setelah Tati tunggu-tunggu surat
dari Tanjungbatu belum juga datang. Tapi Tati percaya bahwa
keterlambatan tsb tentunya bukan Abang sengaja. Ya kan ?!
Sungguhpun surat Tati yang bertanggal 20 Maret yang lalu
belum dibalas, Tati harus mengirimkan berita ini secepatnya kepada
Abang, mengingat waktu berjalan terus tanpa bisa kita cegah. Sebab
kalau tidak Tati khabarkan, mungkin semua rencana yang telah
dirampungkan akan menjadi kacau dan berantakan.
Adapun berita yang akan Tati sampaikan ini sangat erat
hubungannya dengan pertanyaan Abang pada surat yang terdahulu.
Bang, yang akan Tati sampaikan ini bukanlah hasil pikiran
Tati sendiri, tetapi sudah merupakan kata sepakat kami sekeluarga.
Ba, Mak dll nya sudah merencanakan hari yang terbaik menurut
mereka untuk melaksanakan peresmian pernikahan kita.
Mereka merencanakan pelaksanaannya pada hari minggu,
tepatnya pada tgl 4 Mei 1986. Kalau Abang tidak keberatan dan
menyetujui hari tsb, berarti sebelum tgl tsb Abang harus sudah
berada di Pekanbaru. Tetapi kalau Abang keberatan, Abang harus
mengirimkan berita secepatnya ke Pekanbaru.
Oh ya Bang,
Walau bagaimanapun dan dalam keadaan apapun, Tati tidak
pernah melupakan hari bahagia bagi orang yang sekarang sudah
menjadi pendamping dan suami Tati. (Ayo lupa ya ?!).
Seandainya Abang di sana, tentu Tati akan memberikan
hadiah yang sangat istimewa buat Abang. (hi hi penasaran tuh
……….. ha ha ha). Namun hal tsb tak mungkin Tati kirimkan. Tati
hanya bisa mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN” (Semoga
panjang umur, murah rezeki dan ……….. dan apa ya ……………..
hi hi hi dan cepat dapat …………. anak ha ha ha) yang ke 29
tepatnya pada 11 April 1986 ini.
Semoga saja Abang merasa puas dan menjadi orang paling
bahagia di dunia dan akhirat. Amin.
Sebelum surat ini Tati akhiri, sekali lagi Tati ucapkan
“Selamat Ulang Tahun”, selamat ulang tahun suamiku, selamat
bahagia dan tersenyumlah, untuk menyambut hari esok yang lebih
cerah. Akhirnya salam sayang buat Abang dari kejauhan.
Adikmu
Rajimawati
* Kirim kabar secepatnya (klu tak setuju)
tetapi kalau Abang setuju, berarti bukan khabar yang dikirim
melainkan Abang sendiri yang akan dikirim ke Pekanbaru.
you understand ? okey.
15 April 1986
Menemui
Bang Rasyid
di
Tanjung Batu
Wah ………………. Bang, saat Tati menulis surat ini
rasanya perasaan menjadi lega, sebab pada hari inilah ujian EBTA
/ EBTANAS di sekolah kami selesai. Tati tidak tahu bagaimana hasil
ujian tsb, yang terang Tati telah berusaha semaksimal mungkin
untuk memenuhi keinginan keluarga termasuk Abang lho. Mudahmudahan
saja Tati berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan.
Amin!
Oh ya Bang, surat Abang yang bertanggal 3 April yang lalu
Tati terima pada tgl 12-nya. Tati sangat senang lho Bang,
menerimanya. Apalagi di dalam surat tsb terselip beberapa foto yang
selama ini Tati dambakan. Untuk itu Tati tidak lupa mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kehadapan sang Pangeran.
Lalu, mengenai peresmian pernikahan kita yang menurut
Abang berkemungkinan besar baru bisa dilaksanakan sehabis
lebaran, Tati sangat setuju sekali Bang. Sebab kalau sesudah lebaran
selain Abang bisa merembukkannya dengan keluarga di kampung
tanpa meminta permisi dulu ke sekolah tempat Abang mengajar
untuk pulang, dan juga liburan panjang baru dimulai setelah
lebaran, tul nggak Bang?
Jadi kesimpulannya, peresmian pernikahan kita dilaksanakan
sesudah lebaran, agar rencana untuk itu, bisa berjalan dengan baik,
lancar dan tanpa hambatan. Okey!
Sedangkan mengenai tehnik penyelenggaraannya, apa nanti
yang mereka setujui, itu pulalah pikiran Tati. Sebab menurut Tati,
hasil dari musyawarah adalah hasil yang terbaik yang harus kita
setujui.
Bang,
Mengenai rumah yang akan kita tempati nanti, Tati juga
senang tinggal di rumah seperti yang Abang rencanakan tsb, apalagi
yang tinggal disebelahnya juga sudah menjadi teman baik Abang.
Cuma di dalam surat tsb Abang belum bisa memastikan di mana
Pak Ali akan tinggal. Kalau seandainya Pak Ali memilih rumah
kita, Tati dengan senang hati akan menerimanya. Asal saja dia mau
mengerti dengan kehidupan keluarga kita nantinya. Dan satu hal
yang sangat penting yang harus Abang perhatikan nantinya, bahwa
Tati tidak ingin pada suatu saat nanti kita cekcok mengenai suatu
hal yang ada hubungannya dengan Pak Ali. Tati tidak ingin Abang
menyalahkan Pak Ali tsb hanya karena kesalah pahaman. Mudahmudahan
saja Abang mau mengerti itu.
Bang,
Rasanya sudah cukup jelas jawaban yang Tati berikan.
Di lain surat kita sambung lagi.
Salam sayang dan rindu dari jauh.
Adikmu
Rajimawati
* Perpisahan sekolah diadakan pada 24 April ‘86
( siang / malamnya belum jelas ).
Ada beberapa pucuk surat lagi yang hilang atau lupa
mengarsipkannya. Surat-surat ini adalah surat-surat yang
kebetulan masih tersimpan sampai saat ini. Ejaan dan tata
kalimat dalam surat-surat ini juga ditulis apa adanya.
Kisah ke-14
Catatan Sabtu-Malam:
“Tenanglah di Sana, Sayang”
Catatan ini lahir di setiap Sabtu Malam. Buat saya,
kepergiannya yang sangat mendadak dan penuh misteri di
akhir pekan itu telah menjadikan Sabtu Malam sebagai waktu
misteri penuh duka. Selalu teringat oleh saya kematian itu bila
hari Sabtu datang menjelang di setiap petang menuju malam,
Isya menjelang. Waktu-waktu itu adalah waktu terpatrinya
kenangan pahit yang meluluhlantakkan perasaan saya.
Untuk itu, saya akan duduk di depan komputer.
Mengungkapkan rasa duka dan perasaan apa saja pada
catatan yang saya sampaikan lewat akun Face Book (FB) saya.
Saya ingin berbagi rasa dan duka itu bersama para sahabat
FB yang tahu musibah saya. Merekalah yang mengisi sebagian
waktu duka saya pasca ditinggal isteri tercinta. Persahabatan
di FB telah menambah samngat saya untuk berusaha tabah
dan bangkit dari rasa sedih dan duka. Inilah beberapa catatan
yang saya tulis itu. (Catatan ini dapat juga dibaca pada Catatan
akun FB saya dengan alamat www.facebook.com/mrasyidnur)
CATATAN PILU YANG TAK KAN PERNAH BERLALU
(Mengenang Hari ke-40)
Ditulis dan dimuat pada Sabtu Malam, 28 Mei 2011: 19.15
Malam ini, Sabtu (28/05/11) tepat seperti waktu saat saya
menulis catatan ini (pukul 19.15 WIB) adalah Sabtu ke-7 dalam
enam pekan, hari yang ke-43 dia yang kusayang selama
seperempat abad lebih, pergi untuk tidak akan kembali lagi.
Sekuat hati bersabar dan berusaha menerima kenyataan ini,
sekuat itu pula rasa kehilangan menerpa bertubi-tubi. Hanya
Tuhan yang paling mengerti apa yang saya alami dan apa yang
saya rasa.
Tidak mudah bahkan tidak bisa saya melukiskan rasa
kehilangan ini. Dua hari yang lalu, Kamis (26/05) sebagai
mengenang 40 hari dia pergi yang jatuh pada hari Rabu satu
hari sebelumnya, dengan ikhlas saya memberi sedekah makan
malam untuk anak-anak yatim dan anak-anak miskin di Panti
Asuhan Muhammadiyah, Sidorejo, Karimun. Itu adalah untuk
mengobati rasa kehilangan mendalam yang saya rasakan. Saya
sengaja tidak membawa makan orang-orang tersebut ke
rumah. Saya juga tidak membuat kenduri apapun di rumah
untuk mengenang 40 hari kematian itu. Saya lebih memilih
mengantarkannya ke panti itu. Hati saya sungguh masih pilu.
Saya tidak dapat menahan duka bilamana keramaian
di rumah terus mengingatkan saya pada keramaian Sabtu
Malam kematian dia yang tersayang, Sabtu Kelabu itu. Dan
memberi sedekah ke panti-panti atau ke tempat-tempat lain
yang lebih membutuhkan juga bagian kebiasaan kami ketika
dia yang tersayang masih ada bersama.
Ketika beberapa bulan lalu kami memotong dua ekor
kambing untuk sedekah sekaligus ‘mengulang-bersih’ aqiqah
diri isteri tersayang dan anak sulung saya, Kiky, pun kami tidak
membuat kenduri di rumah. Sepenuhnya seluruh masakan
itu kami sedekahkan ke santri Pesantren Ar-Raudhah, Tebing
Karimun. Kami sengaja mengantarkannya langsung ke sana.
Sekali lagi, itulah kebiasaan sang isteri selagi bersama, dulu.
Tiada niat di hati kecuali membersihkan niat itu. Niat
memberi makan orang-orang yang saya pandang perlu dan
berhak juga saya harap dapat membuat bersih pula harta dan
apa-apa yang masih saya punya yang selama ini kami miliki
dan nikmati bersama.
Mengeang hari ke-40 ini tiada lain harapan dan doa saya,
kiranya dia yang tersayang yang telah mendahului berangkat
ke jalan abadi, sampai dengan selamat menghadap-Nya
dengan bahagia. Kebahagiaan yang pernah dirasakan bersama
di alam maya, semoga juga diterima di alam baqo yang jauh
lebih menyenangkan sebagaimana janji-Nya, amin.
DOA CINTA KENANGAN
Ditulis dan dimuat pada Sabtu Malam, 11 Juni 2011: 19.17
Ya Tuhan, begitu cepat waktu berlalu. Tak terasa, Sabtu
(11/06/11) ini adalah Sabtu ke-9 atau hari yang ke-57 perginya
isteri teladan, isteri dan mama tersayang meski kini hanya
tinggal kenangan. Doaku dan ketiga anak-anakku, setiap
waktu akan terus dikirim: semoga Mama tenang berada di
sisi-Nya, amin. Ikhlaskan kami, Mama, melanjutkan
perjuangan demi ridho-Nya jua di sini. Mama, kenangan ini
tidak akan pernah padam sampai kapan pun. Meski sangat
sedih dan pedih, kami harus menerima cobaan ini.
Mama tersayang, hidup adalah amanah Allah yang
wajib kami teruskan jua. Hingga janji-Nya tiba perjuangan dan
doa akan terus ada. Maafkan kami Mama karena terlalu lama
kami berduka: berhari-hari dan berminggu-minggu. Bahkan
sampai malam ini, hampir pekan kesepuluh, persis hari dan
waktu yang sama ketika Mama pergi meninggalkan kami,
sedih dan pilu belum juga mau berlalu. Kami sangat sayang
kepada Mama dan akan terus sayang kepada Mama meski
hanya dalam kenangan. Cinta kenangan ini akan abadi tanpa
henti. Itu pasti, Mama.
Mama, mestinya kami segera bangkit dan berikhtiar
meneruskan amanah hidup ini. Tapi ternyata tidak mudah,
Mama. Kami belajar bersabar, kami mengerti bersabar tapi tidak
mudah melaksanakannya, Mama. Sabar ternyata hanya mudah
menyebutnya tapi begitu berat melaksanakannya. Restui kami,
Mama. Walaupun masih terus kami bersedih tapi kami akan
berusaha bangkit, Mama. Sekali lagi, restui kami, Mama.
Mama, kenangan adalah masa lalu. Dia akan tetap dan
terus ada di relung hati kami. Tapi kenyataan dan perjuangan
akan tetap menunggu di hadpan kami. Percayalah, kami akan
berusaha untuk tegar. Ikhlaskan kami, Mama untuk
melanjutkan perjuangan ini. Kami pasti terus berdoa, semoga
mama bahagia di sana, amin. Air mata kami adalah tanda cinta
kami padamu, Mama.
Bila malam menjelang, sepi membalut ruang-ruang,
kami tidak akan pernah diam dari doa untuk Mama yang
tersayang. Doa penuh ikhlas melengkapi bacaan ayat suci:
surah Yasin, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan ayat-ayat lain,
terus dikirimkan buat Mama. Mama tidak akan pernah ada
lagi bersama kami dan doa ini adalah penghubung abadi
antara Mama dan kami yang ada di sini. Mama, doa cinta
kenangan kami akan terus kami kumandangkan. Semoga
Allah akan mempertemukan kelak, amin.
USAHA DALAM DUKA
Ditulis dan dimuat pada Sabtu Malam, 25 Juni 2011: 19.08
MALAM ini, Sabtu (25/06/11) adalah hari ke-71, Sabtu-
Malam ke-11 saya dan anak-anak menghitung waktu pilu,
Sabtu Malam Kelabu itu. Walaupun kesabaran dan ketegaran
semakin pulih namun tidaklah mudah mendayungkan
perjuangan. Ingin rasanya membelah waktu agar segera
sampai di ujung jalan. Sekali lagi, itu tidak mudah ternyata.
Jalan terasa semakin panjang.
Segala usaha terus akan dicoba. Yang pasti doa untuk
Mama tidak akan pernah sudah. Seberat mata memandang
ternyata jauh lebih berat bahu memikul dalam seribu usaha
yang telah dicoba. Hanya karena amanah-Nya kami akan terus
mencoba tetap tegar. Kami tahu, dunia tidak akan pernah
menangis melihat hamba-Mu menagis meskipun dunia
terkadang bisa tertawa jika hamba-Mu mampu tertawa.
Dapatkah tawa itu kami raih lagi?
Malam ini saya gubahkan seuntai puisi ‘Kesaksian
Bulan’ sebagai bukti bahwa kami terus melangkah. Ikhlaskan
dan restui kami yang harus meneruskan perjuangan ini. Jika
disamping Mama ada Dia, bisikkan pada-Nya bahwa kami
harus terus melangkah, meneruskan kehidupan yang masih
tersisa. Tapi betapa terasa sangat berat perjuangan ini. Puisi
ini ditulis sebagai bukti bagaimana beratnya melangkah.
KESAKSIAN BULAN
bila bulan tak bisa dirindukan pungguk
embun pun enggan jadi penyejuk
haruskah Dia tempat tercurah luka
keluh-kesah dalam rajuk
ah
tapi hidup adalah amanah dan
usaha adalah bukti cinta yang tak kan pernah sudah
perjuangan adalah kewajiban dan pengorbanan
penderitaan dan kebahagiaan adalah harga kehidupan
peluklah dalam dekap-Mu
jika rindu hanya membatu
ah
syahdu pilu dan rindu biarlah menyatu
di bawah temaram bulan-Mu
biarpun tak kan pernah ada rindu
tapi bulan bukanlah saksi bisu
dia pasti tahu
ah
Banyak sebenarnya yang ingin digoreskan di sini, di
malam seperti tujuh puluh satu hari yang lalu itu. Sabtu malam
adalah waktu yang akan selalu membangkitkan pilu. Dia akan
terus berlalu bersama beratnya rasa pilu di kalbu. Semoga
catatan malam ini menjadi prasasti cinta kami padamu, Mama.
Semoga Mama terus tenang di sisi-Nya, amin.
DOA DALAM DUKA
Ditulis dan dimuat pada Sabtu Malam, 9 Juli 2011: 19.14
SABTU MALAM yang ke-13, hari yang ke-85, malam
ini (9/7/11) kenangan pahit itu kembali saya ingat. Dia begitu
kuat melekat. Tidak mungkin saya lupakan sampai kapanpun.
Seperti Sabtu-Malam di pekan-pekan yang lalu sejak peristiwa
pilu 16 April lalu itu, dia adalah kenangan sendu yang selalu
menusuk kalbu. Dia adalah patri mati dalam hati yang tak
kan mudah terobati.
Bersama tiga orang anak saya (Kiky, Ery, Opy) dan
seluruh keluarga besar dan sahabat-tetangga yang cinta
kepada Mama, Sabtu-Malam adalah saat duka kami akan terus
ada. Kami akan selalu mengenangnya sebagai tonggak duka,
berpisahnya Mama dengan kami semua. Mama adalah isteri
dan ibu yang amat kami cinta.
Kami mulai memahami bahwa Mama tidak benci
kepada kami yang tinggal. Kami juga mulai memahami bahwa
keinginan Mama untuk menghadap-Nya dengan mudah, telah
Dia kabulkan. Harapan Mama untuk tidak menderita sakit
dan tidak membuat orang-orang lain sulit, sudah diberikan-
Nya. Tapi buat kami yang Mama tinggalkan, kami benar-benar
tidak menduga secepat itu keinginan Mama terkabulkan. Kami
benar-benar tidak siap dan tidak mudah menerimanya.
Kenangan manis selama 26 tahun terasa sirna tiba-tiba
oleh satu malam peristiwa yang tidak pernah mampu kami
raba. Kami yang Mama tinggalkan, tidak pernah dapat
menduga akan datangnya peristiwa yang akan membuat duka
sepanjang masa. Kini semua tinggal bayangan saja. Tapi
percayalah Mama, kenangan itu tidak akan pernah hilang dari
cinta kami kepada Mama. Kami harus bisa melanjutkan
perjuangan hidup yang masih ada, tapi kami tidak akan bisa
melupakan kenangan indah bersama Mama.
Jika kami harus melanjutkan perjuangan ini
sebagaimana dulu kita melakukannya, ikhlaskanlah itu Mama.
Izinkan kami mengisi waktu-waktu yang tersisa ini untuk terus
tegar dan kuat. Tangis kami hanya untuk Mama, tidak untuk
dunia yang terus ada di depan kami.
Doa dan pinta kepada-Nya adalah usaha kami yang
tidak akan pernah berhenti. Kebaikan dan kemuliaan hati
Mama selama Mama ada adalah ladang pahala Mama yang
mudah-mudahan diberikan-Nya kepada Mama. Setiap hari,
waktu yang kami punya adalah waktu-waktu untuk
mendoakan Mama bersama perjuangan lain yang juga harus
kami lakukan. Ya Allah, lapangkanlah dan terangilah
kuburnya hingga Engkau kelak menghisabnya. Jauhkanlah
siksa kubur dari Mama yang tercinta. Tempatkanlah kelak dia
di syurga-Mu yang sejuk dan nyaman.
Dalam duka yang tetap ada, hanya doa yang dapat kami
sampaikan. Terima dan kabulkanlah ya Allah doa dan pinta
kami ini, amin.
CINTA KENANGAN UNTUK KETEGARAN
Ditulis dan dimuat pada Sabtu Malam, 16 Juli 2011: 19.18
KEMBALI saya menulis, membuat catatan tentang cinta
kenangan di malam ini untuk mengenang isteri dan mama
tersayang. Seperti malam-malam di setiap Sabtu-Malam yang
sudah berlalu, ini adalah malam ke-92 Sabtu-Malam ke-14
sejak dia yang saya cintai pergi dengan tidak terduga oleh saya,
Sabtu-Malam (16/04/11) yang saya sebut sebagai Sabtu-Malam
Kelabu nan Pilu itu. Tidak bisa saya lukiskan di sini, bagaimana
kesedihan saya dan tiga orang anak saya serta orang-orang
tercinta yang mencintai isteri saya menerima musibah itu.
Kini dia hampir seratus hari telah pergi. Kami yang
ditinggal, walaupun sedih tapi harus terus memupuk dan
memperkokoh buhul kesabaran. Kami yang Mama tinggalkan
memang tidak boleh terus meratap bersama air mata yang
tidak berhenti mengambang bahkan mengalir. Kami harus
terus kuat dan terus memperkuat pertahanan kesabaran yang
pernah runtuh berkeping bak batu gunung diterjang longsor.
Kami sadari bahwa tangis tanda cinta dan sedih kami kepada
Mama, tidak harus kami tumpahkan juga untuk perjuangan
yang ada di hadapan kami.
Mama, dunia memang akan terus bergerak. Hidup dan
tanggung jawab akan terus pula ada di pundak selama Yang
Maha Kuasa mengamanahkan kepada yang Dia kehendak.
Lewat catatan kenangan di malam ini, bersama doa yang terus
akan kami persembahkan untuk Mama, kami akan berusaha
melangkah, meneruskan perjuangan ini tanpa putus asa. Jika
ada utang yang belum terbayarkan, kami akan membayarnya.
Jika ada langkah yang belum tersampaikan, kami akan
teruskan hingga samapai. Jika ada kerja yang belum
terselesaikan, kami akan menyelesaikannya. Tapi ridho dan
ikhlas Mama, sangat kami nantikan.
Kami berharp, ketenangan dan ketentraman akan terus
dan selalu menyertai Mama atas segala amal kebaikan dan
kebajikan yang sudah Mama lakukan selama hidup di dunia
ketika kita masih bersama. Kami sangat yakin, Mama telah
melakukan dan mengamalkan yang terbaik selama mama
ada. Kami yakin bahwa Mama telah melakukan amal-ibadah
dan kebajikan jauh lebih banyak dari pada apa yang kami tahu.
Tuhan pasti tahu, itu. Itu semua akan menyertai dan
menemani Mama menghadap-Nya.
Untuk kami yang Mama tinggal, tak ada yang lebih kami
harapkan untuk menyongsong hari-hari yang akan datang
selain kekuatan lahir dan batin. Kami akan mencoba untuk
mulai tegar. Hanya dengan ketegaran yang mendapat ikhlas
Mama dan ridho-Nya yang akan membimbing kami
melangkah, melanjutkan perjuangan ini. Ikhlaskanlah kami,
Mama.
Bersama itu semua, doa suci dan tulus selalu akan kami
kirimkan buat Mama. Hanya itu yang kami punya untuk
disampaikan kepada Mama. Kami tahu, Mama tidak butuh
harta-benda melimpah atau sanak- keluarga yang akan
langsung membantu di sana. Tapi, semoga doa ini akan
melapangkan kesempitan Mama, akan memudahkan
kesulitan Mama dan akan menjauhkan azab dari Mama.
Ya Allah, terimalah dia di sisi-Mu. Terimalah segala
amal-ibadahnya. Lapangkanlah kuburnya dan jauhkanlah dari
siksaan kubur hingga siksaan api neraka. Masukkanlah dia
ke dalam syurga-Mu yang sejuk dan menyenangkan.Selamat
tidur panjang, Mama. Kami semua akan menyusul Mama
setelah panggilan-Nya tiba. (Ditulis dari Kota Batam, persis jam
dan waktu yang sama ketika dia pergi).
CATATAN DAN DOA DI HARI KE-100
Ditulis dan dimuat pada Sabtu Malam, 23 Juli 2011: 22.45
MALAM Minggu. Tapi saya menyebutnya Sabtu-
Malam. Karena sejak dari Sabtu sore (16/04/11) itulah
sesungguhnya dia telah memberi tanda. Hanya saja tidak ada
yang bisa membaca, apa makna yang tersirat di dalamnya.
Yang saya tahu, yang saya jalani dan yang saya pahami selama
ini, tanda-tanda seperti itu bukan sesuatu yang harus berakhir
se-tragis begitu. Sungguh rapi Dia menyimpannya hingga
malamnya Dia menjemput isteri saya tercinta.
Sesungguhnya dia sudah biasa menyatakan letih jika
habis bekerja di halaman rumah karena keasyikan
membersihkan halaman, misalnya. Dia juga sering menyebut
penat jika berlebihan mencuci atau memasak. Dan itu tidak
akan lama. Saya juga mengerti kalau beberapa saat sehabis
bekerja ada rasa penat dan selanjutnya akan segar kembali
setelah beristirahat dan pulih. Itulah yang mampu saya baca
dari kejadian sorenya. Namun kejadian Sabtu Sore itu,
malamnya benar-benar menghancurkan harapan saya dan
anak-anak saya. Bahkan orang-orang yang mengenal dan
mencintai lainnya pun tidak mampu menerima berita duka
itu. Dia benar-benar pergi untuk tidak akan pernah kembali
lagi, Sabtu-Malam itu.
Kini Sabtu itu datang kembali. Setiap pekan pasti akan
terus ada. Sabtu (23/07/11) ini adalah Sabtu ke-15, hari ke-99
saya mencatat sejak isteri dan mama tersayang itu pergi. Besok,
Ahad adalah hari yang ke-100 keberangkatannya ke alam
abadi. Dia sudah tidak akan bersama lagi. Dia sudah bersama
Yang Maha Kuasa di alam sana. Kami yang dia tinggal dalam
sedih yang amat mendalam, sedih yang datang begitu
mendadak, akan berusaha merajut hari-hari yang tersisa.
Seberapa besar amanah yang Dia berikan, seberapa dalam rasa
duka yang Dia janjikan, kami akan menjalaninya. Di tengah
badai dan gelombang hidup yang sedahsyat apapun, tanggung
jawab ini akan terus kami dayungkan.
Maafkan kami, Mama. Malam yang ke-100 ini kami
berkumpul bersama. Bersama masyarkat kampung serta
kerabat dekat dan jauh, kami bersama bukan untuk menggali
lagi rasa sedih yang kami rasakan lebih dari tiga purnama yang
lalu. Kami hanya ingin bersama berdoa: membaca Al-Quran
dan doa-doa penyejuk buat Mama. Seperti setiap hari (minimal
Subuh dan Magrib) kami kirimkan, malam genap seratus hari
ini kami bersama melakukannya. Bersama anak-anak, handaitolan
dan orang-orang yang cinta Mama; kami berdoa untuk
Mama.
Mama sayang, kami yang ditinggal, sebagaimana sudah
diungkapkan berulang-ulang, walaupun sedih tapi kami akan
terus memupuk dan memperkokoh buhul kesabaran. Kami
yang Mama tinggalkan memang tidak boleh terus meratap
bersama air mata yang tidak berhenti mengambang bahkan
mengalir di pipi kami. Kami harus terus kuat dan terus
memperkuat pertahanan kesabaran yang pernah runtuh
berkeping seratus hari yang lalu itu. Kami sadari bahwa tangis
tanda cinta dan sedih kami kepada Mama, tidak harus kami
tumpahkan terus untuk mendayungkan perjuangan yang
terasa lebih berat ini.
Mama, kami juga sudah pernah nyatakan bahwa dunia
dan kehidupan ini akan terus bergerak. Hidup dan tanggung
jawab akan terus pula ada di pundak selama Yang Maha Kuasa
mengamanahkan kepada yang Dia kehendak. Maka bersama
catatan kenangan duka malam ini, bersama doa-doa yang
kami persembahkan malam bertuah menjelang masuk
Ramadhan 1432 ini, kami akan berusaha melangkah,
meneruskan perjuangan ini tanpa putus asa. Jika ada asa
Mama yang tersisa, percayalah bahwa semua itu akan kami
tunaikan sebagaimana dulu Mama melakukannya. Jika ada
langkah yang belum sampai, kami akan teruskan hingga
sampai. Jika ada kerja yang belum selesai, kami akan buat
hingga selesai. Untuk itu semua ridho dan ikhlas Mama, sangat
kami nantikan.
Untuk kami yang Mama tinggal, tak ada yang lebih
utama kami harapkan untuk menyongsong hari-hari yang
akan datang selain kekuatan lahir dan batin. Kami akan
mencoba untuk mulai tegar. Hanya dengan ketegaran yang
mendapat ikhlas Mama dan ridho-Nya yang akan
membimbing kami melangkah menuju ujung jalan,
melanjutkan perjuangan. Ikhlaskanlah kami, Mama. Bersama
itu semua, doa suci dan tulus akan terus kami kirimkan buat
Mama. Hanya itu yang kami punya untuk disampaikan
kepada Mama.
Ya Allah, berulang hamba-Mu berdoa, menadah tangan
memohon pinta: ampunkanlah dosanya, terimalah amalibadahnya,
sayangilah dia sebagaimana dia begitu cinta dan
menyayangi anak-anaknya. Tempatkanlah dia ya Allah di
syurga-Mu yang indah dan menyenangkan.
Ya Allah, terimalah dia di sisi-Mu. Terimalah segala
amal-ibadahnya. Lapangkanlah kuburnya dan jauhkanlah dari
siksaan kubur hingga siksaan api neraka. Masukkanlah dia
ke dalam syurga-Mu yang sejuk dan menyenangkan
itu.Selamat tidur panjang, Mama. Kami semua akan menyusul
Mama setelah panggilan-Nya tiba, kelak di suatu hari nanti.***
210
Kisah Tambahan:
Pelayat yang Memberi Doa
(Berta’ziah)
1. Masyarakat Umum; Sabtu, hari pertama (16/04/2011) itu
menjelang Isya, hampir semua masyarakat Wonosari
khususnya, Karimun umumnya datang memenuhi
kediaman duka. Dua ruang dalam rumah dipadati
manusia. Begitu pula di luar rumah. Bahkan tidak
tertampung tenda yang sukarela dipasang masyarakat
Wonosari. Kenderaan roda dua dan empat memenuhi jalan
sampai ke sekitar rumah Pak RT (Pak Su) di bagian atas
rumah duka. Dalam rumah secara bergantian terusmenerus
pelayat membacakan surah Yasin dan kalimah
thoyyibah lainnya. Hingga pukul 24.00 pelayat masih tetap
ramai. Dari jam 12 malam hingga subuh, keluarga dekat
dan masyarakat yang akrab dengannya tetap bertahan
sampai pagi. Saya berbaring di sampingnya. Lalu sholat
subuh berjamaah di rumah.
2. Jamaah Subuh Masjid Agung; Pelayat awal pada hari kedua
(Minggu, 17/04/2011) memberikan doa dan bacaan Yasin
adalah dari jamaah subuh masjid Agung. Hadir Ustaz H.
Zulfan Batubara, Ustaz Abd Wahid dan lain-lainnya.
Mereka membaca Yasin dan doa tahlil. Mereka datang
sekitar pukul 05.40. Mayat isteri saya masih terbujur kaku
di ruang depan rumah kediaman. Terasa haru sekali,
masyarakat sudah datang berta’ziah. Dalam mata
mengantuk karena memang tidak tidur dari malamnya,
saya ikut bersama para pelayat subuh itu.
3. Masyarakat Umum; Menjelang dimandikan dan akan
dibawa ke Masjid Al-Ubudiyah –menjelang zuhur—para
(hari yang sama) pelayat memenuhi rumah sama persis
dengan situasi malamnya. Di dalam rumah para pelayat
masih tetap duduk sambil berzikir sementara di teras juga
penuh manusia ingin masuk mendekati janazah. Tepat
pukul 12.00 janazah di bawa ke masjid. Dan disholatkan
setelah sholat zuhur. Jumlah yang ikut sholat ada 5 (lima)
shof laki-laki dan dua shof perempuan. Mungkin
jumlahnya sekitar 200-an orang jamaah. Kiranya jumlah
jamaah solat janazah itu menjadi bagian yang meringankan
kepergiannya.
4. Ibu-ibu Pengajian Wonosari; Ba’da Asar (16.30) setelah
dikebumikan datang berta’ziyah para Ibu pengajian/ wirid
Kampung Wonosari. Ada sekitar 30-an orang ibu-ibu yang
saya lihat hadir. Mereka membacakan surah Yasin, tahlil
dan doa. Saya dan keluarga lainnya (khususnya anak-anak
saya) ikut bersama dalam doa-doa itu.
5. Gabungan IKK dan Keluarga Besar SMA3; Ini adalah malam
kedua masyarkat berta’ziyah.. Pada ba’da magrib yang
hadir adalah dari IKK dan keluarga SMA Negeri 3 Karimun.
Ada juga beberapa dari rekan-rekan SMA Negeri 2
Karimun, tempat saya sebelumnya mengabdi.
6. Masyarakat Wonosari; Sehabis sholat Isya yang datang
adalah masyarakat Wonosari, khsusunya jamaah masjid al-
Ubudiyah. Mereka bergabung masyarakat lainnya yang
datang setelah Isya. Jadi mala mini ada dua kali ta’ziyyin
yang dating ke rumah duka.
7. OSIS SMA 2; Para pengurus OSIS SMA Negeri 2 Karimun
datang melayat sesudah zhuhur hari III, Senin, 18 April
2011. Ada belasan siswa/ wi yang ikut bersama pengurus
OSIS itu. Mereka membaca surah Yasin dan doa-doa untuk
almarhumah.
8. Pengurus DW Kabupaten Karimun; Pada hari yang sama (18/
04/2011) sesudah Asar, datang melayat ke rumah duka
adalah ibu-ibu DW (Dharma Wanita) Persatuan Dinas
Pendidikan di bawah pimpinan Ibu Haris. Haru sekali pada
saat itu. Ibu Haris yang selama ini begitu sayang kepada
almarhumah, tidak mampu menahan sedihnya ketika
member sambutan. Dia terisak yang menyebabkan hampor
semua Ibu-ibu yang hadir ikut menangis sedih. Saya sendiri
yang berusaha tegar juga tidak mampu menahan tangis.
Air mata saya juga mengalir membasahi mata dan pipi
saya.
9. Gabungan IKK dan SMA3 dan SMA 2; Selepas magrib pada
hari ke-3 itu datang melayat gabungan IKK, SMA Negeri 3
dan SMA Negeri 2 Karimun. Dari ruang tengah hingga ke
depan, bahkan sampai ke luar dipenuhi para pelayat. Meski
sangat sedih, terobati juga hati saya oleh kehadiran para
ta’ziyyin yang begitu ramai hingga hari ke-3 itu.
10.Masyarakat Wonosari; Memasuki hari ke-4, masyarakat
Wonosari masih tetap hadir melayat. Tradisi masyarakat
Wonosari biasanya memang melakukan ta’ziyah hingga
hari ke-7. Pada hari ini (siang hari, ba’da zuhur) hadir pula
rekan-rekan dari SMA Negeri 2 Karimun. Mereka terdiri
dari pada guru, pegawai TU dan anggota DW lainnya.
11.MKKS SMA se-Kabupaten Karimun dan masyarakat lainnya;
Pada hari ke-4 pelayat masih tetap ramai baik selepas
magrib maupun selepas Isya. Secara institusi adalah MKKS
SMA/ MA/ SMK Karimun pada hari ini. Tapi masyarakat
lainnya masih tetap ramai datang.
12.Masyarakat lain, termasuk keluarga; Hari ke-5 hingga ke-6
kegiatan doa-doa dari para pelayat terus berlangsung. Saya
dan keluarga merasa haru dan gembira dengan begitu
ramai dan antusiasnya masyarakat datang berdoa. Lagi
pula mereka juga membawa makanan dan panganan
lainnya untuk mereka suguhkan bersama. Tuan rumah
benar-benar tidak disibukkan oleh penyediaan makanan
itu.
13.Ibu-ibu wirid Masjid Al-Ikhlas; Pada hari ke-6 (selepas zuhur)
datang berkunjung rekan-rekan almarhumah dari Masjid
Al-Ikhlas Bukit Senang. Selama ini, isteri saya memang ikut
dalam gabungan ibu-ibu perwiridan Masjid Al-Ikhlas itu.
Dulu kami memang bertempat tinggal di sana. Dan setelah
pindah ke Wonosari, isteri saya tidak meninggalkan
pengajian di situ. Bahkan Jumat (satu hari menjelang pergi)
dia masih ikut wirid. Dan itulah kehadiran terakhirnya
yang membuat suasana juga mencekam dan rasa sedih
pada saat Ibu-Ibu wirid itu datang.
14.Gabungan Masyrakat Wonosari, IKK, SMA2 dan SMA3. Pada
hari ke-7 ini jumlah pelayat sungguh ramai. Harus
ditambah tenda dan meja kembali. Seperti biasa, pada hari
ke-7 memang selalu ramai para pelayat. Tuan rumah pun
menyediakan makan malam untuk semua pelayat. Itu
adalah bagian sedekah dan rasa terima kasih tuan rumah
kepada para pelayat.
15.Pengurus PGRI Kabupaten Karimun; Malam Minggu, hari ke-
8 masih ada yang datang melayat. Mereka adalah dari
Pengurus PGRI Kabupaten di bawah pengurus Pak Saiman
dan Pak Bakri. Seperti pelayat lainnya, mereka juga
membaca doa-doa untuk dikirimkan ke arwah
almarhumah.
16.ISHAJ 1427; Pada hari Minggu 24 April (hari ke-8) sekitar
pukul 14.00 (ba’da zuhur) yang takziyah adalah temanteman
dari Ikiatan Silaturrahim Haji 1427 yang berjumlah
sekitar 20-an orang. Dengan dipimpin oleh Pak H.
Nurdang, semua anggota ISHAJ 1427 hadir untuk melayat.
17.Guru-guru SMA Negeri 1 Karimun; Pada hari Rabu 27 April
(pukul 13.40) datang melayat rekan-rekan dari SMA Negeri
1 Karimun, tempat anak saya Opi bersekolah. Dengan
dipimpin oleh salah seorang guru bersama beberapa guru
lainnya, hadir seluruh siswa yang satu kelas dengan anak
saya Opi. Mereka juga membacakan doa untuk
almarhumah.

Catatan Pembaca : Pembaca Budiman, Jika Bapak/Ibu/Sdri
pembaca buku BAHTERA CINTA BERLAYAR SUDAH ini
merasa mengenal almarhumah, berikanlah sedikit
tanggapan Anda dan berkenan mengirimkannya ke email
mrasyidnur@yahoo.co.id untuk dijadikan catatan dan
informasi tambahan yang kelak bisa juga menjadi bagian
dari buku ini. Untuk itu mohon mencantumkan nama jelas,
alamat dan pekerjaannya. Terima kasih.
UCAPAN TERIMA KASIH Kepada,
1. Pemda Karimun yang datang melayat. Pejabat yang datang
antara lain Wakil Bupati, H. Aunur Rafiq; Sekretaris
Daerah, H. Anwar Hasyim; Ketua DPRD, H. Raja Bakhtiar;
Beberapa Kepala Dinas, Kepala Badan dan Kepala Bagian
di Sekretariat Daerah Karimun.
2. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, H. Yatim Mustafa
yang memberikan/ mengirimkan …papan duka cita’
3. Kepala Dinas Pendidikan Karimun, H. Haris Fadillah yang
membuat iklan Duka Cita di Harian Batam Pos Senin, 18
April 2011
4. Kwarcab Karimun. H. Aunur Rafiq, S.Sos MSi yang
mengirimkan papan…duka cita
5. Ketua BAZ Karimun, H. Atan AS yang membuat iklan
duka cita di Batam Pos Senin, 18 April 2011
6. Ketua DW Persatuan Dinas Pendidikan Kabupaten yang
membuat iklan duka cita di Radio Canggai Putri
7. MKKS Kabupaten Karimun yang membuat papan/ kalung
bunga Duka Cita
8. Ikatan Silaturahim Haji (ISHAJ) 1427
9. Masayarakat Wonosari yang bergotong royong
menyediakan tenda, bergotong royong mengurus segala
sesuatu yang diperlukan untuk menyiapkan tempat mayat,
mengruus mandi, menguburkan dst.
10. Semua pihak yang telah berbudi baik dalam membantu
penyelenggaraan janazah dan ta’ziyah.
TENTANG PENULIS
M. Rasyid Nur. Setelah menyelesaikan
pendidikan S1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (1983)
langsung mengabdi sebagai pendidik (guru)
Bahasa Indonesia –sesuai ijazah— di SMA Negeri
1 Kundur, di Tanjungbatu, Kab.Kepulauan Riau
(sekarang masuk Kabupaten Karimun) dengan
SK Mendikbud No 69234/ C/ KIV.1/ 1984
tanggal 13 Juli 1984 TMT 1 Maret 1984. Sekolah
Dasar (1971) ditamatkan di daerah kelahiran,
Airtiris, Kampar, Riau. PGA-P (1975) diselesaikan di Rumbio dan
PGA-A (1977) di Pekanbaru.
Setelah kurang lebih 9 tahun di SMA Negeri 1 Kundur sebagai
guru, oleh Pemerintah diberi beban tugas tambahan sebagai
Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Moro (1993-2001). Lalu dimutasi
dan memimpin SMA Negeri 2 Karimun (2001-2008). Selanjutnya
dimutasi lagi ke SMA Negeri 3 Karimun hingga saat ini (2012).
Jadi, sudah kurang lebih 28 tahun (hingga 2012) mengabdi
sebagai ‘umar bakri’ di Kabupaten Kepulauan Riau / Kabupaten
Karimun, secara terus-menerus. Di luar sebagai guru juga
mengabdi di tugas-tugas sosial antara lain, sebagai pendakwah
agama (da’i), pengurus PGRI, salah seorang Dewan Hakim MTQ
Kabupaten dan Provinsi Kepri, sebagai Wakil Ketua PMKK
(Persatuan Muballigh Kabupaten Karimun), Wakil Ketua Kwarcab
Pramuka Kabupaten Karimun, Sekretaris Umum MUI Kabupaten
Karimun (periode 2007-2012) serta beberapa jabatan sosial lainnya.
Sebagai guru, berperinsip, “Tiada yang lebih indah dan
memuaskan selain jika mampu menjadikan peserta didiknya
lebih hebat dari pada gurunya”. Punya sikap, “Harus terus mau
belajar karena kelemahan dan kekurangan adalah sifat
manusia”. **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman