Jumat, 15 Maret 2013

Merasa Tak Ada Waktu untuk Menulis

TERNYATA kesulitan menulis seorang guru tidak benar-benar karena tidak mengerti bagaimana menulis itu sendiri. Dalam satu perdebatan dengan para guru, mereka mengatakan, "Tak ada waktu untuk menulis." Kalimat itu terlontar dalam rapat rutin bulanan di sekolah hari Kamis (14/ 03) lalu. Benarkah?
Saya melemparkan ide agar setiap guru menulis setiap hari. Ide ini tentu saja karena niat agar guru terbiasa menulis. Kata peribahasa, "Alah bisa karena biasa." Dan harus diingat, bukankah setiap guru akan terkena peraturan wajib menulis bila ingin naik pangkat? Dan salah satu penghambat guru untuk naik pangkat selama ini adalah karena guru tidak bisa membuat karya tulis yang bernilai angka kredit.

Guru memang membuat perangkat pembelajaran. Mulai dari menyusun silabus, menyusun program tahunan dan semesteran sampai kepada menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta instrumen evaluasi, tapi ternyata kewajiban menyusun perangkat pembelajaran ini tidak berpengaruh kepada kemampuan menulis seorang guru. Guru tetap saja tidak bisa membuat karya ilmiah (makalah, PTK dll) misalnya. Apalagi kebanyakan guru menyusun perangkat KBM-nya dengan cara mengopi saja perangkat guru lain.

Saat ini diperkirakan para guru yang bergelongan IV A sudah ribuan yang tertahan di golongan itu karena tidak mampu menyusun karya ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu, misalnya. Bahkan ada guru yang sudah putus asa dan membiarkan saja status golongannya itu dalam waktu yang sangat lama. Padahal dalam peraturan kenaikan pangkat yang baru, tidak hanya pegawai bvergolongan IV/a saja yang wajib menulis. Dari golongan III/ C saja guru sudah terkena kewajiban membuat karya tulis.

Atas dasar kenyataan seperti itulah saya mencoba menyampaikan ide paling sederhana agar guru mencoba menulis setiap hari walaupun dengan tulisan yang sangat pendek. Katakanlah hanya menulis dalam satu kalimat atau satu paragraf saja setiap hari. Yang penting adalah rutinitas menulis itu sendiri. Jangan takut salah tulisan yang dibuat.

Guru bisa menuliskan apa saja. Seperti ketika mengisi status di akun facebook, dengan hanya mengungkapkan perasaan saja, seseorang bisa membuat satu kalimat atau beberapa kalimat di status facebooknya. Kira-kira tulisan-tulisan seperti itulah yang saya usulkan dalam rapat itu. Tapi hampir semua guru mengatakan tidak bisa karena tidak ada waktu. Habis mengajar guru harus mengurus keluarga (anak, isteri/ suami, dll) sehingga tidak ada kesempatan untuk menuliskan apa yang terasa.

Sesungguhnya perasaan tidak ada waktu untuk menulis, hanyalah perasaan yang berlebihan saja. Dalam 24 jam kehidupan, dipotong masa tidur sebenarnya pasti ada waktu dan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran ke dalam tulisan. Ketika mengajar, kita merasa ada masalah maka tuliskanlah masalah itu ke dalam sebuah atau beberapa kalimat yang dapat mengungkapkan masalah kita itu. Ketika di rumah, di pasar, di jalan atau di mana saja sebenarnya ada banyak perasaan atau pikiran yang dapat diungkapkan. Ungkapkanlah itu ke dalam tulisan.

Jadi, tugas pertama seorang guru untuk berlatih menulis adalah dengan cara menghapus perasan 'tak ada waktu untuk menulis' itu dalam kehidupannya. Jangan biarkan perasaan itu menguasai diri kita sehingga kita benar-benar merasa tidak mempunyai kesempatan sedikit pun untuk mengungkapkan perasaan dan atau pikiran kita dalam bentuk tulisan.  Sangat mustahil guru tidak mempunyai kesempatan kalau hanya untuk membuat satu kalimat atau satu paragraf tulisan.

Dari kebiasaan membuat tulisan pendek itulah kelak akan lahir kemauan dan kemampuan untuk membuat tulisan yang lebih panjang. Dan saat itulah seorang guru akan merasa bisa membuat karya tulis yang dibutuhkan untuk kenaikan pangkatnya. Jika pun tidak untuk kenaikan pangkat, menyampaikan ide-ide segar saja kepada para pembaca itu sudah merupakan perbuatan mulia dari seorang guru. Selamat mencoba. Semoga bisa. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman