Minggu, 24 Februari 2013

Kisah Nyata: Menipu Penipu

TIBA-tiba isteri saya, siang Jumat (22/02/13) dua hari lalu itu terburu-buru memberikan HP (Hand Phone) kepada saya. Sambil masih tetap menjawab suara di seberang sana, isteri saya setengah berlari ke arah saya. Saya berdiri dari kursi dan mendengar dia mengatakan, "Sebentar, ini bapak." Lalu dia memberikan HP murah itu kepada saya. Itu memang HP saya yang tadi saya letakkan di kamar sementara saya duduk nonton televisi di ruang tengah.

"Ada yang menangis. Mungkin Ery atau siapa," kata isteri saya. Saya terkejut. Ery? Itu anak saya yang nomor dua. Sekarang dia memang jauh dari saya. Dia di Tanjungpinang, kuliah di Umrah (Universitas Maritim Raja Ali Haji). Cepat saya tempelkan HP itu ke telinga. Saya mendengar suara lelaki menangis seperti ketakutan. Pikiran saya memang langsung ke anak kedua saya itu. Tapi mengapa dia menangis?
Suara di seberang telpon itu terus menangis seperti ketakutan. "Ery (saya tak begitu jelas dia menyebut Ery, Egy apa Edy, gitu) lagi dapat musibah. Ini lagi sama polisi," katanya sambil terus menangis. Saya tentu saja terkejut. Ada apa? Mengapa dia? Tapi saya masih tidak begitu jelas apa omongannya. Saya terus bertanya, "Ery di mana? Ada apa? Coba jangan menangis." Saya terus minta dia diam dulu karena saya tidak terlalu jelas suaranya. Tapi dia masih tetap seperti orang ketakutan.

Kurang lebih dua menit, telpon di seberang sana diambil oleh seorang lelaki. Suaranya tegas, berjenis bas. "Bapak siapa?" tanyanya dengan nada tegas kepada saya. Belum lagi saya sempat menjawab, "Nama lengkap anak Bapak, siapa?" tanyanya lagi setengah membentak. Dalam khawatir, saya tidak langsung memberi tahu nama lengkap anak saya. Saya minta saja dia membuka dan melihat KTP atau SIM anak saya. Saya tahu, anak saya punya KTP dan SIM dalam dompetnya. Dompet itu pasti ada dalam saku celananya.

Lelaki itu justeru sedikit bersuara tinggi. "Ini di tangan saya sudah lengkap, Pak. Bapak jawab saja pertanyaan saya. Nama lengkap anak Bapak, siapa?" tanyanya lagi. Saya mulai agak ragu, apakah benar suara yang menangis tadi adalah anak saya. Ketika saya tanya, posisi mereka ada di mana, di Karimun atau di mana; lelaki itu menjawab, ya di Karimun. Saya bertambah ragu. Ery ada di Tanjungpinang. Atau anak saya Opy? Jam siang seperti itu mungkin Opy lagi di jalan. Saya suruh anak saya, Kiky melihat Opy di kamar. Ternyata anak bungsu saya itu memang ada di kamarnya.

Diam-diam, saya minta Kiky, anak saya nomor satu menelpon adiknya ke Tanjungpinang. Apakah benar Ery mendapat masalah. Ternyata Ery, ada di Tanjungpinang setelah ditelpon langsung HP-nya. Dia sedang tidur. Saya langsung yakin, penelpon ini adalah penipuan. Pasti nanti ujung-ujungnya minta duit, kata saya dalam hati. Rasa khawatir saya sudah selesai. Saya benar-benar yakin, lelaki yang berlagak anggota reserse Polres Karimun itu adalah penipu. Saya mencoba berlagak gugup menjawab setiap pertanyaannya. Dia kembali bertanya nama lengkap anak saya. Pertanyaan itu akhirnya saya jawab. "Anak saya namanya Ery Efendi," jawab saya sambil tersenyum karena saya sudah mulai membohonginya. Sungguh, nama anak saya itu bukanlah itu. Isteri saya dan anak saya ikut tersenyum.

Lalu si polisi palsu itu bertanya lagi, "Anak bapak selama ini di mana?" Saya jawab, "Biasa di rumah. Memang kenapa, dia?" tanya saya pura-pura begok. Dengan sangat meyakinkan, polisi gadungan itu menjelaskan bahwa anak saya baru saja ditangkap karena terlibat narkoba. Dia mengatakan kalau bandarnya masih tengah diburu. Belum tertangkap. Intinya si penipu itu mulai mengarah ke pertanyaan, apakah saya akan minta bantu untuk 'menutup' kasus ini atau tidak. Kalau tidak, dia mengancam akan membawa anak saya ke Polres Karimun untuk diproses. Artinya akan diproses secara hukum sebagaimana lazim kasus 'hitam' narkoba. Kalau sudah diproses, anak saya bisa dipermak, dipukul, dianiaya, dihukum, bla bla bla dst. Begitu 'polisi' itu menjelaskan sambil menebar ancaman. Lalu saya minta (tentu pura-pura) ke polisi itu untuk menutup saja kasusnya.

Singkat cerita, setelah berputar-putar ke mana-mana polisi gadungan itu minta uang jaminan kepada saya. Untuk Kapolres dan semua personel polisi yang akan ikut mengamankan anak saya,  katanya. Katanya agar Kapolresnya bisa mendiamkan kasus anak saya ini. Tapi ketika saya pancing mau mengantarkan uang kontan, dia minta ditransfer saja. "Kapolres tidak mau uang kontan," katanya. Dan dalam waktu bersamaan saya mengatakan kalau saya mau ke masjid untuk melaksanakan solat jumat. Mohon selepas solat saja dilanjutkan telponnya. Tapi sang polisi gadungan itu minta segera saja ditransfer uangnya. Dia masih mencoba mengancam saya. Tapi saya katakan batery HP saya sudah low dan segera akan mati HP saya. "Sebentar lagi akan mati HP saya ini," kata dari seberang sini. Mohon matikan saja dulu sampai habis solat. Dan saya mematikan HP saya tanpa mendengar persetujuannya. Saya 'hakkul yakin' itu penipuan belaka. Ini benar-benar penipuan. Dan saya sudah berhasil menipu penipu itu.

Tulisan ini sekedar mengingatkan, betapa penipuan melalui telpon dengan modus kecelakaan dan sejenisnya sangat marak di negeri ini. Saya teringat dua minggu sebelumnya, seorang Ibu menangis sedih karena tertipu Rp 5 juta dengan cara yang hampir sama. Seorang siswa salah satu SMA di Karimun, dikatakan oleh seseorang penelpon bahwa siswa itu baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat itu siswa itu sedang berada di rumah sakit. Perlu segera dioperasi dan harus segera kirim uang. Nasib malang bagi ibu yang menerima telpon, dia terlanjur mentransfer uang lewat rekening penipu sesuai yang diminta. Tapi ternyata anaknya sama sekali tidak mengalami peristiwa seperti ditelpon itu.

Saya merasa bersyukur, Allah masih melindungi saya. Bayangkan, dalam situasi waktu pendek menjelang jumatan, ada telpon mengatakan anak saya ditangkap polisi karena narkoba. Tentu saja akan mudah terpengaruh jika kita tidak dalam keadaan tenang. Bagaimanapun, saya percaya lindungan dari Yang Mahakuasa telah menenangkan dan menerangkan hati saya. Saya terlepas dari penipuan. Justeru saya puas karena dapat menipunya dengan mengulur-ulur pembicaraan telpon. Kurang lebih 15 menit saya mampu mengajak penipu itu untuk berbicara di telpon. Tentu saja pulsa penipu itu lumayan terkuras. Hati-hatilah kalau ada kasus yang sama. Hanya itu pesan penting yang ingin saya katakan. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan