Minggu, 03 Februari 2013

Ketika Wakil Menteri Berpromosi


SABTU, 02 Februari 2013 bertempat di Gedung Nasional Karimun, sekitar pukul 12.40 di hadapan 300-an guru/ Kepala Sekolah Wamendikbud (Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) berkesempatan menjelaskan rencana akan diberlakukannya Kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2013- 2014 yang akan datang. Dalam satu acara bertajuk “Sosialisasi Kurikulum 2013″ Pak Wamen yang mengadakan kunjungan kerja di Kabupaten Karimun, Provinbsi Kepri sangat bersemangat memberi pemahaman kepada para pendidik yang hadir. Malam sebelumnya dia memberi penjelasan yang sama di depan 4.000-an guru di Batam.

Kata Pak Wamen, “Ini bukan kurikulum baru. Kita tidak mengganti sama sekali kurikulum yang ada. Kurikulum 2013 hanyalah penyempurnaan KBK 2004 yang disempurnakan pula menjadi KTSP 2006,” jelasnya. Pak Musliar yang ‘urang awak’ itu sedikit menyinggung kurikulum sebelumnya (Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dan Kurikulum Satuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan 2006) sebagai latar belakang perubahan kurikulum ini. Di tengah masih kuatnya penolakan beberapa kalangan terhadap pemberlakuan Kurikulum 2013 tampaknya Pak Wakil Menteri ini lebih tepat berpromosi dari pada bersosialisasi.

Dia memang menjelaskan apa dan bagaimana Kurikulum 2013 ini. Dengan alasan kurikulum sebelumnya tidak bisa mengembangkan kreativitas dan daya inovatif peserta didik Pak Wamen dengan bangga mengatakan kalau kurikulum baru ini akan menjawab bagaimana anak bisa berkembang. Dengan kurikulum baru ini juga akan membuat para guru lebih kreatif dan inovatif. Apakah Pak Wamen juga membaca dan mendengar kalau saat ini ada banyak komentar para pakar dan guru sendiri yang menyebut justeru guru akan pasif dengan konsep kurikulum baru ini. Jika semua perangkat pembelajaran disiapkan pemerintah (Pusat) lalu apa lagi dan dimana guru bisa kreatif dan inovatif? Ungakapan seperti ada banyak bermunculan di kalangan guru.

Tapi Pak Wamen dalam penjelasan yang menggunakan power point itu mengatakan justeru guru dituntut kreatif dengan kurikulum ini. “Kurikulum 2013 dikembangkan dari kompetensi siswa bukan sebaliknya,” katanya. “Jika kurikulum sebelumnya mengembangkan kompetensi siswa dri kompetensi yang sudah disiapkan, tapi pendekatannya sekarang dibalik. Anak diberi kesempatan dulu menjelaskan apa yang mereka tahu. Lalu guru mengembangkan pengetahuan itu sesuai materi (tema) pembelajaran.” Pak Wamen juga memberi tahu kalau nanti anak tidak perlu membawa buku terlalu banyak seperti selama ini.

Dengan pendekatan tematik integratif, kata Pak Wamen maka semua materi wajib yang akan diberikan guru sudah terintegrasi dalam satu paket buktu. Dengan hanya satu buku (Mata Pelajaran) tapi di dalamnya terintegrasi semua pelajaran wajib di kelas itu. Materi yang akan diberikan kepada peserta didik juga akan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan anak. “Di kurikulum sebelumnya ada banyak materi yang seungguhnya belum perlu bagi anak tapi sudah harus diajarkan. Belum lagi materi yang tumpang tindih antar level kelas,” katanya berapi-api.

Tapi ujung-ujung dari pidato Pak Wamen tidak lupa memberi semangat yang lebih kepada mempromosikan kurikulum itu dari pada penjelasannya sendiri. Dia sendiri mengakui penjelasannya itu belum akan memuaskan para peserta sosialisasi. Mengingat waktu yang sangat singkat karena harus kembali berlayar ke Batam untuk terbang lagi ke Jakarta, dia berharap para guru membaca dan mempelajari sendiri kurikulum itu. “Saya akan tinggalkan filenya di Karimun,” katanya di akhir penjelasan. Pak Wamen menutup pidatonya dengan yel yel ala kampanye seorang jurkam. Dengan menggunakan yel yel ala PGRI, Pak Wamen mengajak para guru yang hadir untuk menjawab yel yelnya. Dia menyebut ‘kurikulum 2013′ para hadirin dia minta menjawab dengan ‘yes’. Itu diulang beberapa kali. Penjelasan kurang lebih satu jam itu tampaknya lebih dominan kepada yel yel ini.

Ikut dalam rombongan Pak Wamen antara lain salah seorang anggota DPR-RI Dapil Provinsi Kepri, Asman Abnur, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Yatim Mustafa dan jajarannya serta tentu saja jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun. Bupati Karimun, Nurdin Basirun juga hadir dan memberi pidato ’sekapur sirih’ sebelum Pak Wamen tampil. Pak bupati juga mengajak Pak Wamen berkeliling Karimun sejurus rombongan Wamen tiba di Karimun dari Batam.

Akankah kurikulum yang akan berlaku secara bertahap bulan Juli nanti itu benar-benar membuat guru dan murid kreatif? Atau seperti kurikulum sebelum-sebelumnya, datang menteri baru lalu lenyap dan diganti baru lagi? Kita tunggu.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman