Kamis, 14 Februari 2013

Ayo, Mari Menulis


MENULIS bagi guru bukanlah tak bisa. Akan tetap lebih karena belum atau tidak mau memulainya saja. Begitu juga bagi masyarakat lainnya. Keterampilan menulis tidaklah ditentukan oleh bakat atau garis keturunan seseorang. Menulis lebih ditentukan oleh keinginan dan kebiasaan-kebiasaan saja. Guru atau bukan, masyarakat awam atau pejabat berpaham, sama saja dalam kreativitas menulis. Kalau mau menulis, tetap bisa menulis. Kalau tak ingin pasti juga tidak akan bias menulis.

Kebutuhan menulis memang kelihatan lebih penting bagi seorang guru dari pada orang awam, walaupun saya tidak memandangnya begitu. Menurut saya, seharusnya semua orang perlu menulis. Bukankah dengan menulis, apalagi dilengkapi dengan membaca, seseorang itu akan dapat memperlambat pikunnya? Apakah harapan untuk tidak cepat pikun bukannya harapan kita semua? Bahwa bagi guru itu tampak lebih perlu, itu lebih karena perannya sebagai pendidik yang mesti meneruskan ilmunya kepada peserta didiknya. Guru adalah pemberi dan pengembang ilmu bagi peserta didik sekaligus pemotivasi mereka. Itu artinya akan sangat berguna keterampilan menulis baginya. Sayangnya, kenyataan yang ada begitu masih sangat banyaknya guru yang tidak mau menulis. Padahal seharusnya tidak begitu.

Terasa ada sesuatu yang terputus antara masa-masa seorang guru menjadi mahasiswa dengan masa-masa setelah mengabdi menjadi guru. Seperti kita tahu hampir semua guru --karena tuntutan Undang-undang Guru dan Dosen-- adalah pemilik ijazah selevel S1 sebelum menjadi guru. Atau sekurang-kurangnya ketika dan selama menjadi guru, mereka sekaligus akan menempuh pelajaran kesetaraan atau kuliah tambahan untuk mencapai tingkat pendidikan yang diwajibkan bagi seorang guru. Artinya seorang guru sudah melalui pendidikan di Perguruan Tinggi.

Coba kembalikan memori masa-masa kuliah itu. Tentu masih akan teringat betapa seringnya kita menulis. Baik atas kesadaran sendiri maupun sekedar melaksanakan tugas-tugas wajib yang diberikan dosen. Hampir setiap dosen mata kuliah yang kita ikuti akan meminta mahasiswanya membuat semacam karya tulis minimal satu karya tulis dalam satu semester. Jika dalam satu semester kita mendapatkan 5-7 mata kuliah untuk menyelesaikan 18-22 kredit, misalnya berarti ada kurang lebih lima karya tulis yang wajib dib uat.

Kalau begitu menulis bagi mahasiswa memang sudah menjadi bagian rutin kegiatannya. Bahwa kemungkinan ada yang memanfaatkan jasa lain dalam menyelesaikan tugas-tugas karya tulisnya bisa jadi. Tapi yang melakukannya mungkin lebih sedikit dari pada mahasiswa yang melakukannya sendiri. Begitu jugalah tentunya mahasiswa calon guru yang saat ini sudah menjadi guru. Pada umumnya ketika mahasiswa dulu pastilah sudah pernah atau sudah biasa melakukan aktivitaas menulis.

Lalu mengapa masih banyak sahabat-sahabat guru yang enggan menulis setelah menjadi guru? Ketika aktivitas menulis sebenarnya semakin dibutuhkan oleh seorang guru, maka sikap positif terhadap aktivitas menulis itu harus terus dikembangtumbuhkan. Bukankah sebelum seorang guru memulai proses pembelajaran di kelas, dia harus terlebih dahulu menyiapkan materinya dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan atau bentuk skanario lainnya? Dan untuk keperluan ini otomatis diperlukan keterampilan menulis. Jika tidak maka seorang guru akan cenderung melakukan copy paste saja terhadap segala kebutuhan perangkat pembelajarannya itu. Tentu saja ini sesuatu yang tidak baik bagi seorang guru.

Kini, di tengah begitu banyaknya faktor pendukung bagi seseorang untuk memperlancar keterampilan menulisnya maka selebihnya tergantung juga kepada sikap seseorang itu sendiri. Apakah menulis itu akan dikembangkan sebagaimana pentingnya mengembangkan kebiasaan membaca, terserah sepenuhnya kepada masing-masing orang. Tepuk dada, tanya selera. Kita jualah yang tahu jawabannya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman