Kamis, 24 Januari 2013

Menyenangkan atau Melonggarkan

TUNTUTAN agar seorang guru mampu menyenangkan peserta didik ketika mengelola proses pembelajaran terkadang serasa berhadapan dengan dua pilihan antara mengetatkan tata tertib atau melonggarkannya. Seorang guru, di satu sisi dituntut mampu membuat suasana kelas tenang dan nyaman yang berarti tidak bisa membiarkan peserta didik sesuka hati berbuat sesuatu sementara di sisi lain siswa diharapkan senantiasa kreatif yang berarti mereka tidak dapat dikekang begitu saja.
Membuat para siswa tenang di dalam kelas artinya mereka tidak dapat dan tidak boleh dibiarkan berlaku dan melakukan sesuatu sesuka hatinya. Mereka tidak mungkin dibiarkan bebas melakukan apa saja di dalam kelas pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Seumpama keinginan para siswa untuk berkeliaran di ruang kelas yang bisa berarti bagian dari kreativitas siswa entah untuk saling berdiskusi atau bentuk komunikasi apapun antara satu dengan lainnya, tentu saja ini tidak bisa dibiarkan jika ingin suasana kelasnya tenang. Hal seperti ini malah akan membuat kelas menjadi tidak tenang.

Atau bisa pula para siswa yang saling bertanya dengan suara sedikit lebih keras dan berisik yang berarti juga akan membuat kelas sedikit akan gaduh. Padahal hal itu tidak selalu berarti negatif karena mungkin untuk maksud saling menjelaskan materi pelajaran yang sedang dibahas. Tapi jika ketenangan ruang kelas yang diperlukan maka hal ini pun tidak bisa dibiarkan. Guru mungkin akan membuat aturan dan penekanan tertentu sehingga suasana kelas tetap dalam keadaan tenang.

Pembelajaran menyenangkan berarti pembelajaran yang disukai dan disenangi oleh peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Pembelajaran menyenangkan mestinya adalah proses pembelajaran yang membuat para peserta didik termotivasi untuk berkreasi dan berinovasi. Target utama untuk mencapai tujuan pembelajaran menjadi kunci tapi teknik dan pendekatan yang dipakai seorang guru tidak wajib menggunakan cara-cara yang justeru mematikan kreasi dan inovasi peserta didik.

Perlu ada pemahaman dan keluasan wawasan seorang guru untuk meraih tujuan tersebut. Seorang guru tidak bisa hanya berpatokan kepada satu atau dua pendekatan saja dalam usaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Lebih berbahaya lagi jika pengertian menyenangkan juga diartikan sebagai suasana kelas yang tenang. Tenang dalam makna tidak munculnya kreasi dan inovasi siswa dalam pembelajaran justeru akan bertentangan dengan perinsip menyenangkan itu sendiri.

Oleh karena itu tidak perlu ada pertentangan antara menerapkan tata tertib demi ketenangan kelas dengan membiarkan tidak berjalannya tata tertib demi kebebasan dan kesenangan peserta didik di ruang kelas. Sesungguhnya penerapan tata tertib yang benar tidak akan membuat peserta didik 'mati gerak' dalam arti mereka hanya diam, duduk melipat tangan di atas meja, dan tidak bersuara sama sekali. Penerapan tata tertib yang benar haruslah tetap membuka ruang bagi peserta didik untuk berkreasi dan berinovasi dalam usaha mencapat tujuan pembelajaran itu sendiri.***

1 komentar:

  1. setuju sekali pak, anak didik tidaklah menjadi hilang kreatifitasnya ketika kelas menjadi tertib dan tenang. icebreaker games!

    BalasHapus

Silakan

Halaman