Jumat, 04 Januari 2013

Kenangan Indah Singapura-Malaysia (2)

Hari pertama LAT Karimun- Singapura- Malaysia, sesuai jadwal, kami akan menghabiskan waktu berlibur di negeri Lie Kwan Yu itu hingga petang. Tepat pukul 13.45 WIB/ 14.45 Waktu Singapura (WS) kami pun sudah berada di dalam bus wisata Singapura yang akan membawa kami berkeliling ke tempat-tempat tujuan wisata yang ada dan sempat kami kunjungi. Kemungkinan kami hanya akan mengunjungi satu atau dua tempat ‘destinasi’ wisata Singapura saja. Maklum waktu kami di sini hanya sambil lewat untuk ke Malaysia saja. Kurang dari satu hari kami di sini. Dan pukul 14.00 WIB (pukul 15.00 WS) mobil kami pun mulai bergerak meninggalkan terminal pelabuhan Singapura. Seorang pemandu wisata Singapura keturunan India, Nchik Salam memandu perjalanan wisata singkat kami di kota pulau itu.

Mula-mula kami dibawa ke Masjid Sultan, masjid tertua di Singapura. Kami memilih ke sana, karena kami yang sebagian besar muslim kebetulan belum melaksanakan solat zuhur saat waktu zuhur sudah lama masuk. Berbagai keterangan perihal wisata Singapura dijelaskan kepada kami oleh Nchik Salam sambil berdiri dalam bus itu. Ada tiga bus, rombongan kami ini. Saya sendiri berada di bus kedua dengan Nchik Muhammad Salam sebagai pemandu wisatanya. Hujan gerimis mengiringi perjalanan kami ke masjid bersejarah itu.

Sangat banyak penjelasan yang disampaikan Nchik Salam yang beragama Islam itu kepada kami. Dia menjelaskan sejarah berdirinya masjid Sultan walau serba ringkas. Dia juga menjelaskan perihal banyaknya hotel di Singapura yang tergolong Negara pulau kecil itu. “Kurang lebih 300 hotel ada di negara kami,” jelas Nchik Salam tentang jumlah hotel di negara yang daratannya bisa dikelilingi sekali berlari itu. Secara khusus dia menjelaskan hotel tertinggi dan hotel terendah yang ada di negeranya. Dia juga menjelaskan apa keunikan dan apa kehebatan dua hotel yang dia sebut itu.

Kata Muhammad Salam, hotel yang paling rendah di Singapura adalah Hotel Raffles, hotel cukup tua di negeri singa. Hotel ini, meskipun tidak mempunyai kamar-kamar sebagaimana layaknya kamar hotel biasa namun hotel ini selalu dipakai untuk tamu-tamu terhormat. Para kepala Negara atau kepala pemerintahan selalu diinapkan di hotel ini. Begitu juga para bintang film dan selebriti sekelas Michael Jackson, misalnya akan menginap di sini. Bilik dengan sebutan swit itu ternyata sangat istimewa untuk menerima tamu-tamu terhormat. Konon, sewa swit termurah di hotel itu adalah 800-an dolar Singapura (kurang lebih 6,5 juta) per malamnya.

Sementara hotel tertinggi yang disebut Nchik Salam adalah hotel biasa yang pada satiap tahun selalu dikunjungi ramai orang karena di sinilah selalu diadakan lomba maraton menaiki hotel. Lomba maraton menaiki hotel adalah salah satu iven di Singapura dengan menawarkan hadiah sangat besar. Para pelari profesional dunia senantiasa ikut dalam lomba ini. Itulah Hotel Swiss yang berketinggian 75 lantai. Para pelari akan berlari dari lantai satu ke lantai 73. “Dua lantai paling atas hanyalah restoran,” kata Nchik Salam menjelaskan kegiatan tahunan maraton menaiki hotel itu.*** (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan