Kamis, 20 Desember 2012

Mereka Mengadakan Praktikum Sastra


SAYA harus menyatakan rasa bangga kepada mereka, anak-anak muda itu. Mereka adalah siswa/wi SMA tempat saya mengabdi sebagai guru. Mereka sanggup berkreativitas positif: menggelar praktikum sastra. Saya ingat, itu biasanya kerja mahasiswa di kampus-kampus, khususnya mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra di FKIP. Sedangkan mereka yang berkegiatan ini masih berstatus siswa.

Rasa bangga saya adalah karena mereka ternyata tidak memakai dana OSIS untuk menyukseskan kegiatan yang tidak hanya perlu pikiran dan tenaga tapi juga memakai biaya. Sebagai siswa yang nota bene adalah anggota OSIS mereka sebenarnya berhak menggunakan uang OSIS yang mereka bayar setiap bulan bersamaan uang komite. Tapi kata Guru Pembina Praktikum Sastra mereka sama sekali tidak memakai uang iyuran itu untuk kegiatan praktikum sastra ini.

Untuk adminsitrasi kegiatan, misalnya sesungguhnya mereka menggunakan kertas, tinta (pena) dan alat-alat tulis lainnya. Artinya untuk kegiatan itu mereka butuh biaya pembeli ATK. Untuk mendekorasi tempat lomba mereka perlu kertas hias, lem kertas, cat dan banyak lagi. Itu artinya mereka juga perlu biaya. Apalagi untuk hadiah, mereka jelas butuh biaya untuk pembeli hadiah-hadiah atau penghargaan itu. Tapi rupanya mereka memang tidak mendapat suntikan dari OSIS.

Informasi yang saya terima, mereka semula ingin kegiatan 'praktikum sastra' ini dimasukkan ke dalam kegiatan class meeting yang memang sudah diprogramkan oleh OSIS dalam rangka mengisi waktu pasca Ujian Semester Gasal. Ada beberapa pertandingan yang dijadwalkan oleh Pengurus OSIS seperti pertandingan futsal (putra/ putri) dan beberapa pertandingan/ lomba lainnya. Sayangnya, kegiatan praktikum sastra yang merupakan pertama kali diadakan di sekolah ini, tidak direstui Pembina OSIS. Alasannya adalah karena tidak termasuk program yang sudah ditetapkan OSIS dalam program tahunan.
Karena mereka sudah melakukan beberapa persiapan, maka para siswa yang duduk di kelas XII itu nekad untuk melaksanakan juga. Oleh guru pembina yang juga Guru Bahasa Indonesia mereka didorong untuk terus melakukan persiapan. Biaya yang tidak keluar dari OSIS sepertinya tidak menjadi kendala buat mereka.

Akhirnya untuk keperluan biaya-biaya itu mereka coba menghubungi beberapa pihak sebagai donator. Kepala Sekolah tidak keberatan ada donator selama tidak ada ikatan tertentu dalam penyelenggaraan kegiatannya. Donator suka rela ini bisa mereka galang dari para guru di sekolahnya, bisa pula mencarinya di luar sekolah.

Hari Rabu (19/12) kemarin kegiatan praktikum sastra itu akhirnya dilaksanakan dengan baik dan lancar. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan adalah, lomba pidato, musikalisasi puisi, pembacaan puisi dan mendongeng. Para peserta begitu bersemangat mengikuti lomba-lomba itu. Para pendukung masing-masing juga begitu sangat antusias menyaksikan jagonya berlomba. Sungguh menakjubkan.

Saya pikir perlu diapresiasi dengan baik semangat para siswa yang berani melaksanakan kegiatan yang mendukung pembelajaran Bahasa Indeonesia itu tanpa biaya sekolah pula. Karena mereka mengerti bahwa biaya untuk aktivitas ini memang belum dianggarkan OSIS dalam programnya, mereka melaksanakannya dengan mencari pendukung dana lain yang mempunyai perhatian terhadap aktivitas para siswa itu. Kegigihan inilah yang mesti dihargai. Mereka mampu mengadakan berbagai lomba dalam acara praktikum sastra.
Artikel dapat juga dibaca di: http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/20/mereka-mengadakan-praktikum-sastra-512394.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan