Kamis, 27 Desember 2012

Berlibur, Haruskah Terus ke Seberang?


TIDAK selalu ada kesempatan untuk berlibur. Tapi di akhir tahun seperti saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk itu. Sekolah-sekolah sedang libur semester sesudah menyelesaikan tugas satu semester untuk semester ganjil dengan pembagian rapor semester beberapa hari lalu. Kantor-kantor juga libur karena hari 'libur bersama' menjelang natal yang berbarengan dengan libur akhir tahun. Apalagi
tahun ini libur bersama menjelang natal (24 Desember) jatuh hari Senin. Itu berarti sejak hari Jumat, 21 Desember (siang) para pegawai kantor sudah bisa menikmati hari libur jika ingin berlibur ke daerah lain karena Sabtu- Minggu libur resmi. Lumayan, lima hari.

Saya dan beberapa rekan guru serta pegawai kantor di Karimun, di akhir tahun ini juga berencana akan berlibur ke luar Karimun. Bahkan sudah ada yang berangkat sejak beberapa hari lalu. Seperti juga masyarakat daerah lain di Tanah Air, orang Karimun mempunyai beberapa alternatif untuk berlibur.Pertama bisa berlibur di dalam negeri (Indonesia) saja seperti ke Bali, Jakarta, Bandung, Medan dan beberapa kota dan objek wisata dalam negeri lainnya. Tapi, kedua juga ada yang memilih ke luar negeri seperti ke Singapura, Malaysia dan Thailand, negara jiran.

Dari catatan yang ada masyarakat Kabupaten Karimun khususnya, atau Provinsi Kepri pada umumnya lebih banyak memilih berlibur ke Malaysia dan Thailan (Luar Negeri) dari pada ke Jakarta atau Bali di dalam negeri sendiri. Di Malaysia memang ada beberapa lokasi berlibur yang sering dikunjungi warga Karimun seperti ke Langkawi, Genting High Land, Twin Tower KL CC, Johor Baru, Melaka, Pulau Penang dan tentu banyak lagi lainnya. Bahkan masih ada beberapa lokasi berlibur yang belum atau jarang --sempat-- dikunjungi seperti Kotakinabalu, Kuching, dan lain sebagainya.

Menurut beberapa sahabat yang sudah sering ke Malaysia, termasuk yang saya rasakan sendiri, memang ada beberapa kelebihan berlibur ke Malaysia seperti misalnya, 1) Jarak Karimun/ Kepri ke Malaysia yang tidak terlalu jauh berbanding ke Bali atau Jakarta; 2) Ada cukup banyak objek wisata di Malaysia (wisata belanja atau wisata budaya, dll); 3) Transportasi dan akomodasi sangat mudah dan banyak; 4) Beda nilai mata uang Indonesia dengan Malaysia juga tidak terlalu jauh dan stabil; 4) Budaya dan ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin sejak alama sebagai bangsa serumpun. Masih ada beberapa lagi, tentunya.
Di kota-kota atau terminal-terminal Malaysia juga terasa lebih aman. Tidak ada kekhawatiran gangguan pencopet atau maling di siang hari walaupun berjalan sendiri. Peminta-minta juga tidak tampak di simpang-simpng lampu merah atau di kafe-kafe yang sering menggangu kenyamanan wisatawan seperti di negeri kita. Gangguan-gangguan seperti ini sejatinya menjadi perhatian Pemerintah agar berwisata di negeri kita juga semakin nyaman dan aman.

Sesungguhnya kota-kota di Indonesia sangat banyak dan beragam untuk dikunjungi. Objek-objek wisata selain Bali dan Jakarta juga sangat banyak di Tanah Air kita. Bahwa masih banyak tempat-tempat wisata yang tidak terkelola dengan baik, itulah PR Pemerintah agar bangsa asing juga lebih tertarik untuk ke negara kita disamping tentunya kita sendiri yang meramaikannya.

Berlibur, haruskah ke seberang lagi... ke seberang lagi... memang satu hal yang tak kurang peliknya, terutama orang-orang Indonesia yang berbatasan langsung dengan negeri seberang itu. Bagi masyarakat Karimun khususnya, memang merasa ke negeri seberang lebih irit biayanya dari pada ke beberapa lokasi wisata terkenal di negeri sendiri. Sudah saatnya memikirkan plus-minus, positif-negatif dan manfaat-mudhoratnya antara berlibur ke seberang dengan di negeri sendiri. Bahwa berlibur itu penting, tidak ada keraguan. Tapi haruskah ke seberang terus?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman