Kamis, 01 November 2012

Emosi DI yang Tak Berwajah Emosi

EMOSI dan amarah Dahlan Iskan (DI) pernah kita lihat dan baca beritanya ketika DI menemukan antrian panjang di pintu tol Semanggi arah Slipi, Maret lalu. Spontan dia turun dari mobilnya karena menyaksikan pintu yang baru difungsikan hanya dua dari empat pintu yang tersedia, lalu dia membuka pintu lainnya. Selanjutnya dia mempersialakan dan membiarkan mobil yang sudah menunggu lama untuk masuk jalan tol. Sesak di mulut tol itupun terurai. Besoknya, berita itu menghiasi koran dan media lainnya.

 Kita juga pernah membaca berita tentang Dahlan Iskan yang emosi melihat Bandara Sukarno-Hatta yang jorok dan kotor salah satu toiletnya, Agustus lalu. Karena WC yang kotor itu Dahlan Iskan marah dengan cara membersihkan alat fital itu sendiri. Dia berjongkok menggosok wc itu langsung yang kebetulan belakangan diketahui oleh pengelola bandara itu. Itu berita dan gambarnya yang kita baca di beberapa media cetak. (lihat misalnya di http://www.tempo.co/read/news/2012/08/29/090426141/Mau-Hadiahi-KAI-dan-ASDP-Dahlan-Takut-Kualat). Mungkin masih ada banyak berita perihal marahnya DI yang lain untuk kasus yang lain pula.

Sesungguhnya DI tidak terkenal sebagai manusia suka emosi dan pemarah. Mantan wartawan ini justeru terkenal sebagai manusia suka tersenyum dan bertipe guyonan. Kebanyakan pengamat menyebut DI sebagai orang yang lebih banyak tertawanya dari pada marahnya. Bahkan jika pun sedang marah, dia juga tampak tertawa saja.

Itu pula yang saya lihat lewat acara talk show salah satu televisi swasta sore menjelang magrib (Rabu, 31/10/12) semalam. Acara itu mengupas ‘tuduhan’ anggota DPR terhadap kinerja DI selama menjabat Dirut PLN. Dengan menyebut hasil audit BPK, anggota DPR sepertinya ingin menghukum DI yang dikatakan tidak becus mengurus PLN. Potensi kerugian 37-an T yang disebut BPK dalam laporan audit itu dipakai alasan memanggil DI. Dua kali panggilan, DI memang belum berkesempatan menghadirinya.

Hari-hari belakangan ini adalah hari-hari DI sibuk menjawab pertanyaan wartawan perihal ‘perang DI vs DPR’ yang memenuhi waktu dan halaman media. Sore semalam itu DI yang berada di tempat lain berhadapan dengan dua pewancara televisi dan satu orang pakar ekonomi Ichsanuddin Nursi di studio televisi sementara di tempat yang berbeda, ada seorang anggota dewan yang sangat-sangat getol mempersoalkan inefisensi ala BPK itu, Efendi Simbolon. Elit PDIP inilah yang dalam talk show itu berusaha memojokkan DI dengan berbagai gayanya.

Pancingan Efendi Simbolon yang lebih banyak memojokkan DI, ditambah dua pewancara televisi yang juga berat sebelah dalam memoderasi wawancara langsung itu, membuat DI sempat mengatakan bahwa acara-acara itu (wawancara bersama anggota DPR itu) hanya menguras energi saja. Bahkan dia sempat mengatakan jika anggota dewan itu menduga ada kesalahan dirinya, lebih baik bawa saja ke ranah hukum. DI dengan suara agak tinggi mencabar untuk melaporkan saja ke polisi atau ke KPK. Bayangkan, sportifnya DI. Dia memang tidak bisa digertak begitu saja oleh Efendi Simbolon yang mengatasnamakan isntitusi DPR-RI itu.

Yang menarik bagi saya, sebegitu tidak simpatinya Efendi Simbolon kepada DI dalam setiap kalimat yang dikeluarkannya, ternyata DI tetap senyum dan biasa-biasa saja mendengarnya. Bahkan ketika menyebut dan menantang Efendi Simbolon dan dua penyiar televisi itu untuk membawa tuduhan itu ke aparat hukum DI juga tampak tersenyum saja. Saya percaya, secara normal setiap orang akan tersinggung dan jengkel mendengar stateman-statemen Efendi Simbolon seperti sore itu. Efendi Simbolon dengan pongahnya bahkan mengejek DI dengan menyebut Menteri BUMN itu sengaja mencari popularitas lewat media. Sungguh tuduhan yang tidak pantas menurut saya. Tapi DI tetap tenang. Emosi tapi tidak tampak wajah emosinya. Maju terus DI. Jika Anda benar, sejarah akan mencatat kebenaran itu, insyaallah.***

Sudah dimuat di  http://sosok.kompasiana.com/2012/11/01/emosi-di-yang-tak-berwajah-emosi-499817.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman