Sabtu, 24 November 2012

Catatan dari Seminar Pendidikan HUT PGRI Karimun


DALAM rangka memperingati dan memeriahkan HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-67 dan HGN (Hari Guru Nasionl) tahun 2012 Dewan Pengurus PGRI Kabupaten Karimun mengadakan Seminar Nasional Pendidikan, Kamis (22/11/12) bertempat di Gedung Nasional Tanjungbalai Karimun. Seminar diikuti oleh para Kepala Sekolah –dari TK - SLTA– se-Kabupaten Berazam ini dengan menampilkan empat orang pemakalah.

Seminar dengan tema “Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam Rangka Menguatkan Kemandirian Sekolah” dimaksudkan untuk memberikan pencerahan kepada para Kepala Sekolah di Kabupaten Karimun. Hadir sebanyak 284 orang para Kepala Sekolah (negeri-swasta) plus panitia dan pengurus PGRI, membuat gedung tua itu terasa sempit. Syukurnya, AC di ruangan gedung itu masih berfungsi sehingga tidak membuat gerah peserta seminar sehari itu.

Dari list dan jadwal kegiatan seminar yang disebarkan panitia, terdapat empat orang pembicara yang akan menyampaikan makalahnya. Keempat orang tersebut adalah, 1) Dr. H. Nurdin Basirun, S Sos M Si (Bupati Karimun); 2) Dr. Dwi Deswari, M Pd (dosen Universitas Negeri Jakarta); 3) Raja Bahtiar, S Ag MM (Ketua DPRD Karimun); dan 4) Prof. Dr. Firdaus LN, M Si (Guru Besar Universitas Riau, Pekanbaru). Mereka secara bergantian menyampaikan makalah masing-masing sebelum sesi diskusi/ tanya jawab dengan peserta seminar dilaksanakan.

Tampak begitu antusiasnya para pemimpin sekolah dalam mengikuti seminar. Apalagi  tema yang diambil panitia adalah tema yang bersinggungan langsung dengan para penanggung jawab sekolah itu. Hampir dua jam di sesi pertama itu keempat pemakalah berbicara, para Kepala Sekolah tetap serius mengikuti dan mendengarkannya.

H. Nurdin Basirun yang tampil pertama kali memberikan makalah dengan judul “Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Guna Menciptakan Daya Saing Investasi dan Lapangan Kerja dalam Rangka Pembangunan Nasional di Daerah Perbatasan”. Dengan bahasa yang lugas, bupati yang terkenal dekat dengan rakyatnya memberikan beberapa penekanan tentang perlunya para Kepala Sekolah mengelola sekolah untuk lahirnya generasi terampil, beretos kerja tinggi dan berkarakter untuk munculnya generasi yang dapat bersaing dengan keadaaan sekarang. Persaingan global bergitu ketatnya, katanya mengingatkan.

Ibu Dwi Deswary yang tampil berikutnya lebih banyak menyoroti dan menjelaskan tentang peran Kepala Sekolah sebagai leader dan manajer di sekolah. Dosen UNJ yang lahir di Subang, 22 Desember 1961 itu mengingatkan perlunya kepemimpinan yang kuat dan baik di sekolah. “Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang selalu mencari alasan terhadap kesalahan dan kegagalannya mencapai hasil yang baik,” katanya. Pemimpin yang baik justeru dengan sportif memikul setiap kegagalan yang terjadi di institusi yang dipimpinnya. Tidak perlu mencari-cari kesalahan pihak lain. Waktu 25 menit yang disediakan moderator terasa pendek oleh ibu dosen ini.

Ketua DPRD, Raja Bahtiar yang sengaja diminta panitia ikut menjadi pemakalah dalam seminar, lebih banyak menguraikan karakteristik manusia dilihat dari berbagai profesi. Politisi, akademisi, guru dan lain-lain, katanya akan mempunyai perbedaan dalam menyikapi keadaan. “Yang pasti, dua orang yang saya kagumi dalam hidup ini adalah orang tua dan guru,” urainya berfilsafat. Kedua sosok ini sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Menyampaikan makalah dengan judul “Peran dan Komitmen Legislatif dalam Pendidikan di Karimun” Raja Bahtiar menjelaskan bagaimana anggota dewan bersama Pemerintah Daerah dalam membuat kebijakan di bidang pendidikan. “Yang pasti anggaran pendidikan kita melebihi 20 persen yang ditentukan undang-undang,” katanya.

Di bagian akhir, tampil Firdaus LN, putera Dabok Lingga yang terkanal keras tapi kocak itu. Guru Besar Ekofisiologi pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan MIPA FKIP Universitas Riau, Pekanbaru itu membawakan makalah dengan judul “Kemandirian Sekolah dalam Menyikapi Implementasi Beban Kerja Guru Profesional”  yang disampaikan secara serius tapi kocak plus melawaknya. Pak Firdaus yang terkenal idealis ini mengatakan masih banyaknya guru yang belum memahami beban kerjanya sebagaimana diamanahkan Permendiknas No 10 tahun 2011. Kepala Sekolah juga masih ada yang keliru memahami beban tugas minimal 24 jam yang menjadi beban tugas guru. “Perlu membaca ketentuan itu sampai khatam,” katanya berulang-ulang.

Firdaus juga menyentil para guru atau para Kepala Sekolah yang tidak kreatif. Kepala Sekolah mestinya tidak menunggu saja apa yang akan dibuat di sekolah. Pemerintah boleh membuat kebijakan tapi implementasinya di sekolah adalah tanggung jawab Kepala Sekolah. Kemajuan dan kehancuran sekolah sepenuhnya akan ditentukan oleh Kepala Sekolah.
Tanpa jedah, setelah penyampaian makalah seminar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Waktu 90 menit yang disediakan moderator (sesuai jadwal dari panitia) terasa sangat singkat. Hanya lima orang saja peerta seminar yang berkesempatan bertanya. Seminar yang dibuka bupati pagi hari pukul 09.00 ditutup tepat pukul 13.45 karena kesempatan istirahat isoma memang tidak diadakan. Semoga seminar ini ada manfaatnya demi kemajuan dan peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Karimun.***
Tulisan sudah dipublish di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/11/23/dari-seminar-pendidikan-nasional-hut-pgri-505305.html 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan