Sabtu, 08 September 2012

Teroris Memburu Koruptor


HINGAR-bingar berita korupsi terus berbaur dengan berita teroris. Suguhan media –elektronik dan cetak– beberapa hari ini didominasi oleh dua hal ini. Penyergapan terduga teroris di Solo bersaing ketat dengan berita seputar korupsi yang kian marak. Ulasan dan pendapat tentang teroris dan korupsi silih berganti mengisi media masa.

Di situs infokorupsi.com, misalnya hari Jumat (07/09) kembali diulangjelaskan lagi berita populer dalam minggu-minggu ini yaitu berita penelusuran 2.000 (dua ribu) LTKM (Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan) periode 2003-2012 yang kemarin-kemarin baru menyebut 10 orang anggota Banggar (Badan Anggaran) DPR, kini sudah menjadi 12 orang. PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) pun sudah pula menyerahkan ke-12 Laporan Hasil Analisis (LHA) tersebut ke KPK. Selain menyenggol anggota dewan, LTKM PPATK juga sudah melaporkan kecurigaan transaksi keuangan yang diduga berkaitan proyek simulator SIM (Surat Izin Mengemudi) di Polri yang juga menyedot perhatian.

Selain berita dugaan korupsi itu, ada juga berita korupsi yang sudah disidangkan. Angie yang bernama lengkap Angelina Sondakh adalah bintang utama karena baru saja memulai proses persidangan mengikuti jejak Miranda Gultom dan bintang korupsi lain. Angie sendiri ternyata bagian dari berita Anggota Banggar DPR yang terlibat korupsi itu. KPK, seperti selalu dikatakan Juru Bicaranya, Johan Wahyudi akan terus mengembangkan lika-liku korupsi dari satu kasus ke kasus lainnya berdasarkan fakta-fakta persidangan. Dari satu koruptor ke koruptor lainnya. Anggie sendiri kita tahu, merupakan turunan korupsi yang juga sedang berproses di ruang pengadilan yaitu kasus korupsi dengan bintangnya Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum partai berkuasa itu.

Salip menyalip berita teroris dengan korupsi sungguh membuat kita syok. Rakyat sudah sangat muak bukan hanya pada beritanya tapi pada penyakitnya itu sendiri. Menjadi headline di hampir semua koran hampir setiap hari, berita kedua penyakit kumat ini tampak sekali saling memburu tempat utama. Dan berita teroris tampak ingin menyalip berita korupsi. Polisi ingin sekali menjadikan kasus teroris yang menurut sebagian analis tidak lebih berbahaya dari pada koruptor, menjadi perhatian yang lebih utama.

Teroris yang bahayanya dikatakan tidak sekomplit korupsi yang mampu merusak jiwa, perasaan dan pikiran manusia namun pemberitaannya jauh lebih kencang dari pada berita korupsi. Teroris benar-benar berusaha memburu berita koruptor laknat itu.
Apakah penanganan teroris juga lebih diprioritaskan polisi dari pada penanganan koruptor? Itulah yang banyak dikhawatirkan. Dan kekhawatiran itu tentu saja tidak berlebihan. 

Kehancuran akibat korupsi yang sudah meraja lela sejak lama, sungguh luar biasa dirasakan saat ini. Meski polisi dan jaksa sudah dilapis dengan KPK sejak hampir 10 tahun lalu namun korupsi tidak/ belum juga berkurang. Malah tambah subur dan kian maju saja trik dan modusnya. Dari mana para koruptor belajar dan memperdealam ilmu korupsinya kita tidak tahu. Tapi kehebatan koruptor selalu lebih atas dari pada aparat pemberantas korupsinya. Atau aparat hukum pemberangus korupsi memang sengaja tidak mau menambah ilmu dan skill untuk lebih hebat dari pada koruptor? Yang pasti kejahatan korupsi dan teroris seperti belum akan berakhir di negeri ini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman