Senin, 02 Juli 2012

Bola Memang Membuat Gila


KATA sebuah berita sore dan seharian semalam (Minggu, 1/7) sebanyak 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta alias seperempat miliar) pasang mata menonton pertandingan final sepakbola Piala Eropa 2012. Mungkin lebih. Gilanya sepaknola tidak diragukan, telah merasuk ke mana-mana: dari kota ke desa-desa, dari gunung ke lembah-lembah dan di mana saja. Makanya jumlahnya bisa lebih gila.

Gilanya sepakbola (Eropa) ini juga terbukti ada nyawa yang melayang sia-sia. Gara-gara ingin menonton babak final sepakbola –di awal dibuka tempo hari itu– seorang warga di daerah saya mengganti antena televisinya yang berujung maut. Memindahkan tiang antena itu dari satu tempat ke tempat lain yang dianggap lebih baik (akan lebih terang) gambarnya tapi cara kerjanya tidak mematuhi aturan.

Karena ceroboh, waktu memindahkan tiangnya tidak menduga kalau tali/ kabel listrik yang terbentang di atas rumahnya itu adalah kabel dengan tegangan tinggi. Dan ketika tiang itu menyentuh kabel listrik, serta-merta beberapa orang yang bergotong-royong memindahkan tiang antena itu terpelenting karena arus listrik yang merambat ke tiang antena yang dipegang. Satu orang meregang nyawa dan lainnya luka bakar.
Pemilik hak siar Piala Eropa memang sengaja mengacak gambar pertandingan setiap ada tayangan langsung. Hanya yang berhak dan mendapat izin saja yang bisa menonton siaran langsung itu. Dan karena antene manual (bukan parabola) tidak diacak maka ramai-ramailah masyarakat mengganti antenanya. Itulah punca kejadian tragis tadi.

Kembali ke bola yang membuat gila, itu benar-benar nyata. Itu tidak rekayasa. Semua berita dan peristiwa diolah dan dijadikan berita yang berkaitan dengan sepakbola. Informasi bola memang menarik. Bahkan di berita terbarunya Kompasiana, pagi Senin (pasa Spanyol menggunduli Italy 4-0) ini hampir semuanya berita sepakbola. Bola memang membuat gila.

Siapa yang gila? Semuanya yang merasa terbawa. Penulis artikel ini pun bisa dikategorikan gila bola. Saya memang ikut menonton dini hari Senin tadi. Tapi saya memang tidak menghabiskan 90 menit karena ketika babak pertama belum habis, Italy sudah kebobolan dua gol maka saya cukup menyaksikan babak itu saja. Saya sudah menduga akan begitu.  Bukan tak suka, tapi sedih melihat Italy yang tak kunjung mampu menyarangkan si kulit bundar itu ke gawang Spanyol.

Saya memang bukan pengamat sepakbola. Tapi melihat tampilan puncak Italy di semi final sementara Spanyol masih belum sampai ke puncaknya ketika di semi final maka bisa diduga kalau puncak (klimaks) Spanyol itu bakal terjadi di final. Dan Italy akan sampai pada fese antiklimaks. Maka terjadilah pembantaian itu.

Akankah sepakbola terus membuat gila? Saya kira, ya. Piala Dunia edisi 2014 di Brazil masih dua tahun lagi tapi di televisi sudah ada promosinya. Sebuah televisi swasta sudah membangga-banggakan keberhasilannya sebagai televisi penyang langsung perhelatan empat tahunan itu. Sepakbola memang dapat membuat gila. Hati-hatilah, jangan pula rumah tangga sampai berantakan dibuatnya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan