Kamis, 08 Maret 2012

BAHTERA CINTA BERLAYAR SUDAH

Kisah ke-2 Perginya Isteri Teladan:


SAYA masih tertegun. Serasa tidak percaya apa yang baru saja diucapkan perawat tadi. “Bapak sabar ya, Pak.” Kalimat itu bagaikan petir dalam sunyi yang menghancurkan segala harapan saya. Saya sesungguhnya berusaha mencoba sabar. Tapi tidak mudah. Ternyata menyuruh dan mengajarkan orang-orang untuk bersabar ketika memberikan nasehat kepada seseorang, tidak pula semudah itu melaksanakannya pada diri sendiri. Saya benar-benar tidak bisa mempercayai kalau isteri saya telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tidak akan pernah kembali lagi. Bahtera cinta yang sudah ada kini berlayar sudah mengikuti garis yang ditetapkan-Nya.
Anak-anak saya –Kiky dan Opy— yang kebetulan mereka berdua saja bersama saya malam itu, masih tersedu sambil memanggil mamanya. Satu lagi anak saya, Ery, di Tanjungpinang menyelesaikan kuliahnya di UMRAH. Dia pasti juga sedang galau saat ini. Beberapa saat sebelum ke rumah sakit tadi, dia sempat diberi tahu kalau mamanya dalam keadaan sakit. Tapi belum sempat diberi tahu lebih detail sakitnya karena buru-buru harus ke rumah sakit. HP (Hand Phone) yang dipakai untuk menghubunginya dilempar begitu saja ke atas kasur karena kami bertiga harus segera melarikan mamanya ke rumah sakit.
Dalam kebingungan seperti itu saya berusaha ingin menelpon orang-orang yang seharusnya saya telpon untuk menyampaikan nasib tragis isteri saya. Aduh, HP saya ternyata tidak ada di saku saya. Saya baru sadar kalau HP itu ternyata tertinggal di rumah karena tadi memang terburu-buru membawanya ke rumah sakit. Saya mau minta tolong ke siapa, saya juga tidak tahu. Saya bingung dan kalut. Cobaan ini benar-benar berat rasanya.
Akhirnya saya melihat ada salah seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, M. Ridwan menghampiri saya. Pak Iwan, begitu saya memanggil guru olahraga itu juga dalam keadaan panik menyaksikan saya yang seperti orang linglung. Dia bertanya, “Kenapa Ibu, Pak?”
Saya menjelaskan, “Ibu sudah tidak ada, Wan. Ibu sudah meninggalkan kita, Wan.” Saya menangis tersedu menyampaikan kalimat-kalimat itu. Duka saya terus tertumpah. Saya benar-benar merasa hancur. Tak ada lagi kata yang dapat saya ucapkan.
Saya mendengar Pak Iwan spontan terperanjat dan seperti orang melolong setelah mendengar saya. Dia ikut bergegas melihat isteri saya yang sudah terbaring diam di atas meja dorong itu. Dia pasti tak kan percaya kalau janazah yang ada di depan saya itu adalah isteri saya yang pada hari Jumat malam (belum cukup 24 jam berlalu) membezuk isterinya di RSUD itu. Pasti dia tidak akan yakin itu.
Saya dan isteri saya memang baru saja dari rumah sakit itu malam sebelumnya. Jumat petang menjelang malam –sepulang saya dari Singapura-- itu saya mendapat SMS dari Pak Iwan. Dia minta izin untuk tidak mengajar besok, hari Sabtu. Katanya, isterinya masuk rumah sakit karena gangguan pada jantung. Ada di lantai VI RSUD, begitu dia memberi informasi via SMS itu ke HP saya. Pak Iwan memang salah seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, sekolah yang saya pimpin sejak awal tahun 2008 lalu. Untuk itu dia memang harus minta izin jika tidak bisa melaksanakan tugas. Itu kewajiban seorang guru.
Sore Jumat, ketika saya beritahu kalau isteri Pak Iwan sedang di rumah sakit, isteri saya yang begitu sehat wal’afiyat langsung mengingatkan dan mengajak saya melihatnya malam itu juga. Dia selalu tidak mau menunda-nunda menjenguk orang sakit. Makanya kami pergi malam itu ke rumah sakit: membezuk isteri Pak Iwan. Masih terngiang di telinga saya bagaimana isteri saya bergurau dengan isteri Pak Iwan yang tengah terbaring dengan tali infus di tangan. “Awak terlalu capek tuh, Tuhan marah dan disuruh istirahat je,” kata isteri saya dengan nada bergurau. Itulah cara dia barangkali menghibur sehabatnya yang tengah sakit. Ibu Pak Iwan adalah anggota Dharmawanita SMA 3 Karimun yang isteri saya adalah ketuanya.
Selama ini memang sudah menjadi kebiasaan isteri saya. Kalau dia mendengar ada teman-temannya di rumah sakit, atau sedang sakit di rumah, dia pasti akan mengajak saya untuk melihatnya. Begitu pula jika ada berita kematian, dia akan meninggalkan pekerjaan lain atau mengatur pekerjaannya untuk dapat melihat orang-orang yang sudah menghadap Tuhan itu. Kami selalu berdua pergi menjenguk orang-orang sakit atau orang-orang yang telah berpulang ke rahmatullah. Begitu pula untuk pergi menyelesaikan berbagai hal kami juga selalu berdua.
Orang-orang di Karimun, kota tempat kami bermastautin dalam sembilan tahun terakhir bahkan menyebut kami,” Kalau ada Pak Rasyid, pasti ada Ibu.” Saya tidak keberatan dicap dengan kalimat seperti itu. Saya mencintai dia. Dan selalu berduaan, adalah salah satu cara oleh saya untuk membuktikan saling cinta itu. Dialah yang mengisi lahir dan batin saya selama ini.  Saya bangga disebuat selalu berduaan kemana-mana. Bahkan ketika saya memotong rambut pun dia ikut dengan saya. Dia akan duduk menanti saya di tempat cukur rambut itu.
Untuk hal ini saya harus jujur bahwa saya dan isteri saya memang senantiasa pergi berdua. Termasuk untuk bepergian lainnya kami terus berdua. Pergi ke undangan pesta pernikahan, kami berdua. Berjalan sore atau kapan saja sekedar ‘makan angin’ kami tetap berdua. Bepergian ke luar –daerah-- Karimun, jika bukan urusan dinas –karena tugas—dia juga akan saya bawa bersama. Ke Malaysia, ke Batam, ke Pekanbaru atau ke mana saja; jika sekedar untuk berjalan-jalan dia pasti akan bersama saya. Tidak akan pernah saya tinggalkan dia. Begitulah cara kami membangun cinta kami berdua. Dari awal membina rumah tangga begitulah adanya.
Bahkan ketika kami berkesempatan menunaikan ibadah haji pada musim haji 1427 H (Tahun Masehi 2006/ 2007) kami merasakan betul berbahagianya hidup berdua. Di Madinah, awal mula sampai di Tanah Suci, ketika kloter (kelompok terbang) haji kami melaksanakan sholat arbain selama delapan hari, Selasa (12/ 12/ 2006) sampai Selasa (19/ 12/ 2006) tidak pernah satu hari pun kami berpisah dari rumah ke masjid atau sebaliknya. Hanya karena sholat harus berpisah di masjid Nabawi itu barulah kami berpisah selama dalam masjid. Dan sesudah sholat atau ketika melaksanakan ziarah ke raudhoh, ke maqom baqi ‘ atau ke tempat-tempat bersejarah lainnya kami tetap berdua bersama kawan-kawan lain.
Begitu pula ketika berada di Tanah Suci Mekkah kurang lebih satu bulan (20/12/2006 hingga 17/01/2007) menanti datangnya wukuf dan pasca wukuf di Arafah. Selama musim haji, di Masjid Al-Haram jamaah laki-laki dan perempuan memang tidak ada hijab (pembatas) saf seperti di Nabawi. Maka saya dan isteri bukan hanya di sepanjang jalan menuju masjid atau menuju rumah pemondokan saja kami selalu tidak terpisahkan, di dalam masjid pun kami mencari tempat yang tidak terlalu jauh. Saya akan mencari saf yang sama dengan saf dia. Dia akan mengambil ujung saf sebelah kanan wanita sementara saya mengambil ujung saf di sebelah kiri laki-laki. Dengan demikian kami akan tetap berdekatan (dalam satu shaf yang sama) walaupun dalam masjid sekalipun. Itu pengalaman manis yang tidak akan pernah terlupakan dan tidak akan pernah juga akan terulang lagi bersamanya.
Berjalan dari masjid ke rumah pemondokan bahkan kami berpegangan tangan. Terkadang kami diejek –bergurau-- oleh sesama jamaah satu regu karena seolah-olah tidak pernah lepasnya tangan kami. Ah jika itu saya bayangkan, betapa nikmat dan berbahagianya hidup rukun dalam rumah tangga. Dia benar-benar isteri sejati yang pantas untuk diteladani.
Saya sesungguhnya tidak ingin berlebihan memberi predikat teladan kepada isteri saya, Hj. Rajimawati binti Abdul Mutolib, anak perempuan terbungsu pasangan H. Abdul Mutolib dan Hj. Ramnah. Tapi itulah yang tepat harus saya berikan untuknya. Seperempat abad kami bersama, saya tahu dan mengerti betul karakter dan jiwanya. Saya merasakan langsung bagaimana dia menajalankan peran seorang isteri, ibu dari anak-anak saya. Begitu pula perannya di luar rumah sebagai masyarakat atau sebagai anggota Dharmawanita dan PKK.
Dalam 24 tahun sejak anak pertama kami, Rizky Febrinna (Kiky) lahir pada 3 Februari 1987 di Tanjungbatu Kundur dan anak saya yang kedua, Fahry Errizik (Ery) juga lahir di Tanjungbatu pada 29 November1988 hingga anak saya yang ketiga Syarfi Razky (Opy) yang lahir di Moro pada 20 Oktober 1994 dia tidak pernah mengeluh dalam mengasuh, merawat dan memelihara mereka. Dia begitu tabah dan cekatan mengurus anak-anak saya. Hanya sekali-sekali saja saya harus dan dapat membantunya. Selebihnya dialah yang mengasuh, membesarkan dan mendidiknya menjelang sampai waktunya masuk TK atau masuk sekolah.
Sebelum kami punya anak, pada awal saya dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri Tanjungbatu Kundur –pada tahun 1986-- yang memerlukan waktu saya hampir seharian di sekolah dia tetap tabah sendirian di rumah. Apalagi ketika sekolah ini membuka kelas siang (double shiff) karena tidak cukup ruang kelas dan saya ditunjuk menjadi Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, saya benar-benar tenggelam seharian di sekolah. Saya hanya berkesempatan pulang siang sebentar untuk makan. Selebihnya saya harus ke sekolah lagi. Saya tahu, waktu itu sesungguhnya dia sangat memerlukan teman karena sudah dalam keadaan hamil anak saya yang pertama.
Hanya dua bulan menjelang kami mempunyai anak pertama di awal 1987 itu, dia hanya dan dapat ditemani emaknya, Ibu Ramnah, mertua saya. Dia datang ke Tanjungbatu dari Pekanbaru karena isteri saya itu akan melahirkan. Isteri saya tidak mau pulang ke Pekanbaru, ke tempat kedua orang tuanya untuk melahirkan. Dia berperinsip, “Di mana ada suami di situlah melahirkan.” Sungguh perinsip yang sangat menghargai utuhnya rumah tangga. Padahal waktu itu, beberapa –guru-- teman saya yang dari Pekanbaru, jika akan melahirkan, dia akan kembali ke Pekanbaru untuk melahirkan. Tapi isteri saya tetap di Tanjungbatu, tempat saya bertugas. Ketiga anak kami memang lahir di mana saya bertugas. Dia memang tidak mau melahirkan ke Pekanbaru, misalnya, tempat kedua orang tuanya berada hnaya untuk sekedar menyenangkan diri sendiri.
Kesan lain yang tidak mungkin saya lupakan betapa berat dan tingginya tanggung jawab isteri saya ini adalah ketika anak-anak saya (waktu itu baru dua orang) sudah mendekati masa-masa sekolah. Kiky yang tua sudah minta sekolah meskipun umurnya baru 4 tahun waktu itu. Melihat temannya –tinggal-- di sebelah rumah kami pergi ke sekolah tiap pagi, dia pun minta sekolah juga. Setiap pagi sehabis mandi, Kiky akan berdiri dengan pakaian yang sudah rapi melihat teman bermainnya pergi sekolah. Itulah sebabnya dia juga minta sekolah.
Akhirnya kami sepakat mengantarkannya ke TK Pertiwi yang berlokasi di sekitar belakang Kantor Pos Tanjungbatu. Jarak rumah kami –di Tanjungsari-- ke sekolah itu cukup jauh. Tidak bisa ditempuh berjalan kaki. Saya tidak ada waktu untuk mengantar anak saya ke TK itu karena pagi-pagi saya biasanya sudah ke sekolah. Saya wajib ke sekolah lebih awal karena tanggung jawab tugas yang diamanahkan Kepala Sekolah, Pak Supardjo Suk, BA waktu itu. Jadi, isteri saya itulah yang harus mengurus kedua anak-anak saya pergi dan pulang sekolah.
Saya ingat betul, dialah yang sambil berbelanja pergi mengantar dan menjemput anak saya ke TK. Yang bungsu, Ery didudukkan di bagian depan –keranjang besi-- sepeda sanki yang saya beli di rombengan (Sawang) sementara kakaknya Kiky duduk di belakang. Sepeda itulah yang ada dan didayung isteri saya setiap pagi mengantar dan menjemput anak saya ke sekolah. Ah, sayang… kau memang wanita sejati yang sangat mengerti suami yang masih susah hidupnya. Tidak berlebihan disebut isteri teladan.
Tapi Sabtu malam ini dia sudah tiada.  Dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun kepada saya. Hanya kebahagiaan berumah tangga sajalah yang saya rasakan bersamanya menjelang kejadian ini. Bahkan Jumat malam itu dia pun masih menunaikan tugasnya sebagai isteri sejati melayani suami. Adakah kebahagiaan itu sebagai tanda-tanda akan datangnya ujian ini? Hanya Allah yang Maha Tahu. Yang saya tahu, Sabtu kelabu itu telah menjadi garis batas terenggutnya nyawa isteri saya dari dekapan saya. Saya masih tertegun memandangnya terbaring kaku di meja itu.
Saya minta Pak Iwan menyampaikan berita duka ini kepada siapa saja. HP saya masih dijemput anak saya ketika itu. Bersama anak Pak Iwan (menggunakan motor) dia pulang ke rumah untuk menjemput HP. Karena panik dan ingin cepat ke rumah sakit (saat dia dia tiba-tiba sesak dan susah bernafas sehabis sholat magrib) itu dua HP saya dan satu HP isteri saya tidak sempat terbawa.
Saya melihat Pak Iwan sangat sedih setiap menelpon seseorang, menyampaikan berita duka ini. Saya ingatkan Pak Iwan untuk menyampaikan terlebih dahulu ke guru-guru SMA Negeri 3 Karimun atau kepada siapa saja yang dia ingat. Kata Pak Iawan, semua orang yang dia hubungi seolah tidak mau percaya berita kematian itu. Saya percaya kalau orang-orang itu memang tidak akan mudah percaya isteri saya telah tiada. Dua-tiga hari lalu, malam semalam, bahkan sorenya ketika saya naik mobil pulang dari dokter Awang Lim, orang masih menganggap isteri saya sehat-sehat saja di samping saya duduk menyetir mobil.
Setiap orang yang diberi tahu oleh Pak Iwan, mereka terkejut. Mereka seperti tidak percaya dengan berita yang disampaikan. Berulang-ulang diyakinkan barulah mereka mau percaya. Bahkan ada yang langsung datang ke RSUD terlebih dahulu, baru mau percaya kalau isteri saya telah tiada. Begitulah kejadian itu begitu mendadak datangnya. Saya sendiri serasa bermimpi. Pikiran saya serasa melayang entah kemana. Saya tidak menduga dan tidak bisa percaya. Dia sama sekali tidak memberi tanda-tanda kalau dia akan meninggalkan saya secepat itu untuk selamanya.
Begitu mendadaknya sampai semua orang seperti tidak bisa mempercayainya. Ibu Zaita, tetangga sebelah rumah saya yang juga sama sekali tidak tahu keadaan isteri saya, mendadak meraung-raung di ruang UGD itu sejurus dia sampai di rumah sakit. Dia terkejut diberi tahu oleh anak saya Ery (Fahry Errizik) lewat telpon dari Tanjungpinang. Ery, beberapa menit sebelumnya memang diberitahu oleh anak saya Opy menggunakan HP saya kalau mamanya mendadak sakit sekitar pukul 19.00 itu. Namun sebelum sempat dijelaskan keadaan mama secara detail HP diputus karena kami harus melarikan mamanya itu ke rumah sakit.
Jadi dalam penasarannya itu dia mencoba menghubungi Ibu Zaita tentang kondisi mamanya. Dan Ibu Zaita sendiri yang sama sekali tidak tahu mencoba menelpon ke HP saya dan isteri saya juga tidak ada jawaban.  Akhirnya dia pergi ke rumah sakit dan menemukan isteri saya sudah terbaring diam. Maka pecahlah tangisnya yang begitu menyedihkan. Dia seperti meraung-raung sambil memukul-mukul punggung saya. “Bapak, ngapa Bapak tak beri tahu…Bapak, ngapa Bapak tak beritahu… Mengapa Ibu…mengapa Ibu,” berulang-ulang dia bertanaya sambil memeluk dan memukul-mukul punggung saya.
Dia terus memeluk saya sambil menangis dan tetap memukul saya. Saya tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa lagi. Lidah saya seperti terkunci. Pikiran saya serasa begitu kosong. “Mimpikah saya?”. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibu Zaita itu. Dia sangat shok dan terpukul tidak akan bisa lagi melihat orang yang selama ini sudah dianggapnya sebagai ibunya. Dia bukan saja tinggal berdampingan rumah tapi keluarganya dan keluarga saya sudah serasa satu keluarga.
Dia tidak pernah tahu dan tidak pernah membayangkan kisah tragis itu. Bahkan magrib itu dia masih pergi bersama suami. Dia memang tidak diberi tahu kalau sore tadi sebenarnya isteri saya sudah mengalami sakit mendadak yang seharusnya dia tahu. Tapi itu sudah berlalu, dia sama sekali tidak memperoleh informasi sama sekali. Dan ketika kami buru-buru dan memekik memberi tahunya, dia tidak ada di rumah. Sampai akhirnya dia hanya tahu, isteri saya telah tiada.
Hampir setengah jam mayat isteri saya di rumah sakit sejak perawat memberi penjelasan tadi. Setelah diberi surat keterangan, sebuah ambulance telah menunggu di halaman belakang RSUD. Saya, anak saya yang tua dan Ibu Zaita ikut bersama janazah isteri saya. Kami bersama di dalam ambulance itu akan menuju ke rumah tempat tinggal saya, tempat tinggal isteri saya dan anak-anak saya sejak tujuh tahun lalu.***

1 komentar:

  1. bapak... suami yang hebat, alhamdulillah, ingin saya banyak belajar dari bapak. salam dari jauh... di depok

    BalasHapus

Silakan

Halaman