Rabu, 28 Maret 2012

Bahtera Cinta Berlayar Sudah (3)

Kisah ke-3 Misteri Penyebab Kematian
DALAM perjalanan dari RSUD ke rumah, saya tidak bisa bicara apa-apa. Pikiran saya benar-benar kosong. Saya bahkan seperti tidak mendengar raungan sirene ambulance yang membawa mayat isteri saya malam itu. Mata saya mencoba terus menatap keranda besi berisi mayat isteri saya. Besi keranda itu tidak pernah saya lepaskan selama dalam perjalanan. Berapa lama  waktu perjalanan itu saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, mobil ambulance itu kini sudah sampai di rumah saya, rumah No 82 Jalan Sakura Indah, RT 01 RW 09 Wonosari, Baran, Meral.
Rumah yang sudah kami huni sejak tahun 2004 lalu, kini akan dia tinggalkan bersama kami yang dia tinggalkan. Di rumah inilah kami melanjutkan memadu kasih setelah berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Selama 26 tahun hidup bersama (di Kundur, Moro dan Karimun: tiga kecamatan sebelum pemekaran) inilah rumah sendiri yang baru tujuh tahun terakhir mampu kami miliki. Tidak menyewa lagi. Selama ini kami hanya menyewa dari satu rumah ke rumah lain sesuai tempat di mana saya bertugas. Pernah pula kami tinggal di perumahan sekolah yang sangat sederhana: rumah papan bekas tempat tinggal tukang yang membangun sekolah. Kini baru kami memiliki rumah sendiri. Ah, terlalu singkat dia menempati rumah pribadi yang kami cintai ini.
Di Pekanbaru, sebenarnya kami mempunyai rumah sendiri yang dibangun berangsur selama hampir sepuluh tahun ketika saya amasih bertugas di Tanjungbatu. Rumah itu pada awalnya (tahun 1986-an) saya bangun untuk  persiapan kalau-kalau saya dimutasi ke daratan sana. Kebetulan isteri saya mendapatkan jatah tanah dari orang tuanya untuk membangun sebuah rumah. Rumah itu sejak awal hanya satu minggu saja kami menghuninya. Selebihnya disewakan kepada siapa saja. Sewa rumah itu pula yang kami pakai untuk menyewa rumah di Moro dan Karimun selama kami belum mempunyai rumah sendiri. Baru pada tahun 2004 itulah kami memiliki rumah sendiri di sini.
Di rumah, kerumunan manusia sudah menanti jenazah isteri saya. Sangat banyak saya lihat. Begitu ramainya orang-orang yang datang dan menanti kedatangan jenazah, tak ubahnya sebuah pesta. Tapi ini adalah pesta dengan wajah-wajah duka. Lampu-lampu rumah yang sebelumnya tidak menyala ketika kami bergegas ke rumah sakit, sudah dinyalakan oleh para tetangga dan kerabat yang kebetulan sudah duluan ke rumah sebelum jenazah tiba. Di halaman bagian bawah, orang-orang kampung Wonosari secara bergotong royong memasang tenda. Itu adalah tenda duka menyambut isteri saya yang telah tiada.
Mobil ambulance langsung berhenti di halaman bagian atas. Pintu ambulance dibuka untuk memindahkan jenazah ke dalam rumah. Dengan lutut yang terasa begitu berat dan lemah saya mengikuti mayat isteri saya yang diangkat ke dalam rumah oleh beberapa orang lelaki. Ya Allah, betapa beratnya kaki saya melangkah. Hanya beberapa langkah dari mobil ke dalam rumah. Tapi sungguh berat dan jauh rasanya. Tidak mampu rasanya saya melangkahkan kaki saya.
Tikar dan permadani yang biasanya dibentangkan untuk acara-acara kenduri atau acara-acara khusus lainnya oleh isteri saya, kini sudah terbentang rapi untuk menanti isteri saya sendiri yang sudah pergi. Sebuah kasur juga sudah terbentang di situ. Di kasur kapuk itulah isteri saya diletakkan. Itulah kasur kapuk ukuran sedang satu-satunya yang kami miliki selama ini. Kain panjang yang beberapa tahun belakangan dibelinya beberapa lembar, kini juga dikeluarkan untuk penutup mayatnya. Kain-kain panjang itu sudah selalu dibawanya ke tempat-tempat mayat lain. Kini dia sendiri pula yang menjadikannya sebagai selimut.
Kesedihan ini kian menjadi. Mata dan wajah-wajah memelas sedih dari para pelayat menatap lurus ke jenazah isteri saya yang terbentang di atas kasur di ruang depan rumah. Bagi saya, mata dan wajah-wajah itu terasa menambah berat rasa sedih dan duka saya. Setiap orang yang memandang isteri saya adalah orang-orang berwajah sedih dan duka dan menambah sedihnya hati saya. Sama sekali saya tidak bercerita kepada mereka yang bertanya, mengapa isteri saya pergi begitu cepatnya. Apa sebenarnya penyakit yang merenggut nyawa isteri saya. Oh Tuhan, mengapa begitu cepatnya dia Kau ambil dari pangkuan saya.
Dalam kesedihan seperti ini, terngiang kembali di telinga dan terbayang di mata saya bagaimana kronologis kejadian yang dialami  isteri saya sejak pukul 15.30 petang hingga dia saya larikan ke rumah sakit malamnya. Bagaimana saya sudah membawanya ke rumah sakit dokter praktek ‘Sayang Ibu’ dan ditangani seorang dokter yang cukup terkenal di situ. Dokter itu juga yang menjelaskan kepada saya kalau isteri saya menurutnya tidak mempunyai (mengidap) penyakit yang mengkhawatirkan ketika saya jelaskan kepadanya tentang kemungkinan isteri saya terkena penyakit jantung atau penyakit lain sore itu. Tapi dokter itu kokoh mengatakan kalau isteri saya tidak ada masalah yang berat. “Pak guru tak usah risau,” begitu dia meyakinkan saya. “Ibu hanya sedikit gangguan lambung.”
Saya pun tidak berpikir dan juga tidak disarnkan untuk membawanya ke rumah sakit atau ke dokter lain sesuai yang dijelaskan dokter itu. “Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung. Tensi ibu juga bagus.” Berulang-ulang kalimat yang diucapkan dokter itu mengisi lamunan saya. Obat yang dia beri pun sudah diminum sesuai petunjuknya. Katanya isteri saya hanya bermasalah sedikit pada lambungnya. Saya yakin dengan kata-katanya. Saya pun membawanya ke rumah setelah selesai berobat sore itu. Apalagi isteri saya juga tidak mengeluh apa-apa, kecuali dia menyatakan begitu penatnya badannya. Dia minta segera pulang karena ingin dipijit-pijit badannya.
Ketika akan pulang dari dokter Awang Lim itu saya menawarkan kepadanya untuk berjalan sore dengan mobil itu. Seperti biasa, saya ingin berjalan-jalan bersamanya. Tapi dia menggeleng. Dia tetap minta pulang ke rumah saja. Istirahat di rumah saja, katanya. Itulah sebabnya kami pulang ke rumah. Sampai saat itu, sedikitpun saya tidak mempunyai firasat apapun tentang dia. Saya hanya berpikir dia ingin istirahat saja ke rumah memulihkan gangguan kesehatan yang dijelaskan dokter tadi.
“Ibu tidak apa-apa. Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung. Tensi juga bagus,” berulang-ulang terus kalimat yang diucapkan Dokter Awang Lim itu kembali menusuk telinga saya. Karena diagnosa dia juga saya tidak merasa perlu membawa isteri saya ke rumah sakit lain. Ah, tapi kini ternyata  begini jadinya. Semuanya terjadi begitu cepat. Benarkah dia tidak sedang menderita penyakit yang menakutkan itu, penyakit jantung atau yang lainnya? Benarkah dia hanya bermasalah pada lambung?
Saya memang hanya menduga bahwa ‘masalah lambung’ yang disebut dokter itu adalah masalah mag. Dokter itu memastikan isteri saya tidak mungkin kena serangan jantung. Lalu apakah mag itu yang merenggut nyawa isteri saya? Atau apakah karena pengaruh obat yang diberikannya? Ada pula yang menyebut-nyebut jika dosis obat dari dokter keturunan ini sering berdosis tinggi. Atau adakah penyakit mag itu juga berkaitan dengan puasa Kamis –dua hari sebelum kejadian-- yang dia lakukan? Atau juga kemungkinan karena isteri saya itu memakan kue pulut malam Sabtu itu? Ah, tidak satupun jawaban yang dapat saya berikan. Orang-orang lebih suka menyebut isteri saya begitu mudah perginya. Orang-orang menyebut isteri saya pergi dengan tidak mengalami kesulitan apapun. Tidak menyusahkan. Apakah itu pertanda dia pergi dengan predikat ‘husnul-khotimah’? Ya Allah, hanya Engkau yang tahu rahasia di balik itu semua.
Bagi saya, penyebab kematiannya itu tetaplah sebuah misteri. Seharusnya saya tahu dan mengerti apa sesungguhnya secara medis yang merenggut nyawa isteri saya. Tidakkah keteledoran dokter yang tidak menginfus atau menginjeksi isteri saya yang sebelumnya sudah saya laporkan bahwa dia habis muntah? Tidakkah karena keteledoran dokter itu karena tidak juga merujukkan isteri saya ke rumah sakit lain yang lebih besar? Atau apakah karena saya yang lalai karena tidak berinisiatif saja membawanya ke rumah sakita atau ke dokter lain sebagai pembanding? Ya Tuhan, begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat saya jawab. Penyebab kematiannya benar-benar misteri yang tidak mudah saya menjawabnya. Mata saya tidak bisa lepas dari wajah tertutup kain panjang di samping saya itu. Berpikir begitu, hanya air mata saya saja yang terus mengalir membasahi mata dan pipi saya. Saya serasa hanya bermimpi.
Para pelayat kian memenuhi ruangan rumah saya. Kini bukan hanya ruang depan (tempat mayat terbentang diam) yang dijejali pelayat tapi ruangan tengah dan bagian belakang juga sudah dipadati orang. Di ruang depan secara spontan para pelayat membaca surah Yasin. Ada yang membaca secara bersama, serentak dan ada pula yang membaca sendiri-sendiri. Saya mencoba setabah mungkin sambil juga membaca alquran. Saya juga tidak berhenti berdoa seperti mereka yang berdoa. Kehancuran perasaan ini harus saya terima walaupun tidak juga bisa rasanya.
Pada waktu seperti itu, dua HP saya terus-menerus berdering. Terkadang saya jawab langsung terkadang saya biarkan dia berbunyi begitu saja. Terkadang saya tidak sanggup menjawabnya. Terkadang untuk beberapa orang saya mencoba langsung menelpon untuk memberitahukan kejadian ini walaupun saya harus terisak menahan tangis menjelaskannya. Kakak kandung isteri saya, Kak Maimunah adalah oang yang beberapa kali saya telpon, baru dapat menyampaikan informasi ini. Anak saya, Ery juga orang yang saya telpon kembali setelah tadi di rumah sakit saya memberi tahu kematian mamanya. Ketika masih di UGD saya memang telah memberi tahu anak saya Ery yang di Tanjungpinang itu. Saat itu dia menangis histeris hampir setengah jam di telpon. Saya tahu dia sangat terpukul dengan informasi dari saya. Kini dia, bersama dua anak saya lainnya sudah ditinggal pergi mamanya untuk selamanya. Mereka sudah kehilangan mamanya.
Waktu terus merangkak. Saya tidak menduga kalau hari sudah larut malam. Orang-orang masih ramai di dalam dan di luar rumah. Pukul 01.30 (Minggu, 17 April) saya mencoba membaringkan badan saya yang  letih di sebelah isteri saya yang terbaring kaku. Ya Allah, ini adalah malam terakhir saya akan berbaring di samping isteri saya. Besok kami pasti akan berpisah, ya Allah. Tabahkanlah ya Rab hati dan jiwa saya. Tahankanlah ya Rab, tangis dan isak saya. Saya juga menyuruh anak saya, Kiky untuk beristirahat membaringkan badan di samping sebelah mamanya. Saya tahu dia pasti juga letih dan sangat menderita. Dialah yang sedari sore hari tahu persis keadaan mamanya. Mata anak sulung saya itu sudah sembab karena menangis berulang-ulang sedari sore.
Malam terus bergerak. Mata saya ternyata tidak bisa tertidur walaupun saya coba memejamkannya. Suara-suara orang yang melayat dan ikut menunggu isteri saya juga kian berkurang. Beberapa suara masih terdengar di luar sana. Di dalam rumah, ada yang mencoba memejamkan mata sambil duduk dan menyandarkan punggung ke dinding rumah ada yang diam begitu saja. Saya sendiri sambil menelentang menatap palavon ruang depan itu sambil berusaha memejamkan mata. Tapi tetap tidak mudah dan tidak bisa. Mata saya terasa pedih tapi tetap tidak bisa tertidur. Beberapa kali menjelang pagi itu saya menelpon Kak Mai yang dari pukul 02.30 dini hari itu sudah berangkat menuju Dumai dari Pekanbaru. Besok dia akan berangkat menggunakan kapal fery menuju Tanjungbalai Karimun. Saya yang menyuruhnya lewat Dumai agar besok dapat melihat adiknya, isteri saya untuk terakhir kali. Itu adalah permintaannya lewat telpon. Dia minta ditunggu sebelum dikebumikan.
Pukul 04.10 saya duduk. Kembali saya menatap isteri saya yang terbaring diam itu. Saya buka lagi wajahnya yang ditutup kain. Saya menciumnya pelan.sambil berusaha menahan tangis dan air mata. Saya rapikan selendang penutup rambutnya. Saya tahu dia tidak ikhlas jika rambutnya itu terbuka begitu saja. Dia adalah orang yang sangat ketat menutup rambut semasa hidupnya. Dia tak ingin rambutnya terlihat oleh yang bukan muhrimnya.
Saya tidak tahu apakah saya dapat menidurkan mata saya atau tidak. Karena sebentar lagi akan datang waktu sholat subuh, saya pergi berwudhuk. Saya sholat sunat ke kamar sebentar menjelang masuknya waktu subuh. Pagi ini saya tidak ke masjid untuk berjamaah subuh sebagaimana biasanya. Saya sholat di rumaah saja. Lalu kembali duduk di samping isteri saya. Saya mengambil alquran dan membacanya kembali seperti awal dia terbaring malam tadi. Hanya yang kuat saya lakukan sebagai penguat pikiran, mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya.
Pagi selepas subuh para pelayat mulai berdatangan kembali. Saya ingat, jamaah sholat subuh dari Masjid Agung adalah rombongan pertama yang datang bertakziyah, Minggu (Ahad) sepagi itu. Ada tujuh atau delapan orang yang datang dalam rombongan itu. Mereka masih mengenakan gamis pakaian sholat subuh mereka. Mereka membacakan surah Yasin serta doa-doa untuk almarhumah. Sungguh terharu saya, masih gelapnya suasana subuh, para takziyyin sudah berdatangan. Ya Allah, berilah mereka pahala atas bacaan Al-quran dan kalimah-kalimah thoyyibah yang telah mereka bacakan untuk isteri saya.
Lama juga rombongan Al-Ustaz Zulfan Batubara –imam masjid Agung Karimun-- itu berada di rumah duka, subuh itu. Walaupun tidak banyak bicara yang terucapkan namun mereka telah memberikan kesejukan di pagi subuh itu. Semakin pagi para pelayat semakin ramai memenuhi rumah. Seperti malam tadi, pagi ini begitu ramainya para pelayat memberikan kunjungan terakhirnya. Saya tahu itu adalah bukti bahwa almarhumah memang orang yang banyak memberi kesan yang baik bagi orang lain. Kebiasaannya melayat orang meninggal bersama saya, membezuk orang sakit serta pergaulannya yang baik dengan semua orang telah membuat banyak orang terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba menimpanya. Saya menduga itulah alasan utama para pelayat datang menjenguknya.
Menjelang siang, orang-orang yang datang kian ramai dan silih berganti memasuki rumah. Tidak saja masyarakat umum yang datang dari jauh –dari Pulau Kundur dan Pulau Moro—saya juga melihat cukup banyak para pejabat pemerintahan yang datang memberikan doa. Diantara mereka saya melihat ada Wakil Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq, ada juga Pak Sekda H. Anwar Hasyim, Ketua DPRD Karimun, H. Raja Bakhtiar serta banyak pejabat lainnya. Saya tahu Pak Bupati memang sedang tidak berada di tempat. Dia tengah melaksanakan umroh ke Tanah Suci. Tapi Pak Wabup membisikkan salam Pak Bupati sambil meminta saya untuk tabah. Terima kasih, semoga Allah membalas keikhlasan untuk hadir di rumah saya. Hanya itu yang dapat ucapkan dalam hati saya.
Saya percaya, ramainya pelayat dari malam hingga siang dan menjelang mayatnya dibawa ke masjid hingga sampai ke pekuburan adalah karena izin Allah. Itu pertanda betapa luasnya silaturrohim almarhumah selama hidupnya. Kalau saja saya dapat mengatakan kepadanya betapa banyaknya orang memberikan doa dan kunjungan kepadanya tentu dia akan terharu. Dia benar-benar menerima balasan hubungan baiknya dengan banyak orang.
Dia memang mencontoh pelajaran dari almarhum ayahandanya, H. Abdul Mutolib. Orang tua kandungnya itu telah memberikan pelajaran berharga kepada anaknya, isteri saya. Bapaknya pernah berpesan, “Jika kita ingin orang ramai datang ketika kita meninggal dunia, selalulah datang dan melayat ke orang-orang yang lebih dulu meninggalkan kita”. Itu pesan yang menjadi pegangannya. Dan ketika ayahandanya itu wafat dalam usia 72 tahun pada 3 Februari 2002 silam, sungguh begitu tumpah-ruahnya manusia melayatnya. Sebagai pensiunan pegawai Pos dan Giro seungguhnya dia tidaklah orang yang terkenal dan populer. Namun sebagai masyarakat, dia sangat dikenal oleh warga.
Pesan itu benar-benar diamalkan oleh isteri saya selama ini. Setiap kali dia tahu ada orang meninggal, dia akan ikut bersama saya atau akan mengajak saya jika saya tidak tahu. Bahkan dalam empat tahun terakhir, dia selalu membawa mukena (telekung) untuk dapat ikut sholat jenazah bersama kapan dan dimanapun pada saat kami bertakziyah. Dia selalu akan ikut menyolatkan jenazah walaupun hanya dia sendiri kaum wanita yang akan ikut sholat.
Saat ini dia benar-benar menerima balasan kebaikannya selama ini walaupun dia masih berada di dunia. Tumpah-ruahnya manusia sejak malam tadi hingga pagi menjelang siang ini, itulah pertanda harmonisnya hubungan pergaulannya dengan orang lain. Saya sejatinya ikut haru dan gembira menyaksikan itu semua. Tapi perasaan sedih disebabkan begitu cepatnya dia pergi tidak mudah saya menerimanya. Dia pergi, walaupun dengan mudah dan tenang, tapi begitu berat dan dukanya buat saya. Sabar memang tidak semudah bicara. Mudah mengatakan tapi begitu berat dirasakan.
Satu hal yang terus-menerus menyenak perasaan saya adalah misteri penyebab kematiannya itu. Kesabaran saya benar-benar diuji oleh misteri itu. Saya begitu menyesal menngapa saya tidak mampu dan tidak berhasil menyelamatkan nyawanya. Saya merasa belum saatnya dia pergi. Anak saya membutuhkan dia sebagai figur ibu penyabar. Ibu yang gigih, sederhana, lembut dan menyenangkan. Umurnya juga masih sangat muda menurut perasaan saya. Tapi itu rupanya tidak menjadi alangan oleh Allah. Allah benar dengan segala kekuasaan-Nya.
Sebentar lagi dia akan dimandikan, segala persiapan sudah dilaksanakan. Namun misteri itu tetap saja menjadi tanda tanya saya. Oh Tuhan, seketat itukah rahasia kematian untuk setiap insan? Tidak adakah jawaban yang akan menenangkan hati saya secara medis: mengapa dia pergi begitu cepat? Hanya Dia jua yang akan mampu menjelaskannya. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan