Jumat, 24 Februari 2012

Jujur Buat Hancur atau Mujur?

JUDUL berupa pertanyaan itu barangkali terlalu berlebihan. Sikap baik kok hasilnya jelek? Itu aneh, terasa. Selama ini yang benar dan diajarkan adalah, "Jujur Membawa Mujur". Tapi realita empiris saat ini memang lebih banyak seperti tesis judul itu.

Lihat saja kasus-kasus korupsi yang jalan ceritanya kita ikuti lewat 'drama' sidang-sidang yang digelar di pengadilan tipikor. Baik terdakwa maupun saksi selalu diragukan kebenaran ucapannya oleh masyarakat. Padahal itu akan menjadi fakta persidangan. Masyarakat tidak bisa percaya dengan keterangan yang diberikan di depan persidangan. Apalagi pihak 'lawan' dalam sidang. Pasti menolak mentah-mentah keterngan-keterangan itu. Dan bisa menjadi kasus baru: sebagai kesaksian palsu.

Enggelina Sondakh yang bersaksi di sidang kasus Nazarudin, misalnya memberi keterangan 'tidak tahu', 'tidak ada' dan atau 'tidak mengerti' terhadap keterngan yang oleh beberapa saksi sebelumnya sudah dijelaskan dan dianggap akurat. Pertanyaan majelis hakim, penuntut umum dan pembela terdakwa, oleh Enji (begitu orang terdengar menyebut namanya) dijawab begitu saja. Maksudnya, dia menjawab tak tahu terhadap apa yang oleh orang lain dianggap tahu. Bohongkah dia?

Dan ketika Muhaimin dan Andi Mallarangeng (keduanya menteri) memberi keterngan sebagai saksi di sidang --kasus-- yang sama, lagi-lagi orang seperti tidak dapat menerima dan tak dapat percaya atas jawaban-jawaban kedua menteri itu. Sepertinya orang juga menganggap itu tidak jujur.
Sebenarnya bagi kita bukan kesaksian --jujur tak jujur-- di sidang tipikor itu yang mesti menjadi perhatian. Kebenaran dan kejujuran yang sengaja dipermainkan itulah yang membuat risau kita. Hampir di semua proses peradilan di negeri ini melahirkan 'ketidakjujuran'. Jika bukan terdakwa yang tak jujur, boleh jadi jaksa. Bisa pula penasehat hukum bahkan hakimnya. Itu yang kita lihat.

Sulitnya mencari dan memutus keadilan di peradilan Indonesia memang menjadi fenomena tersendiri. Antasari yang sudah mempunyai kekuatan hukum terhadap kasus yang dituduhkan kepadanya, menimbulkan polemik berkepanjangan. Dari dugaan polisi dan jaksa 'menggelapkan fakta' hingga tuduhan peradilan sesat.
Seberapa susahkah sebenarnya melaksanakan kejujuran dalam kehidupan oleh bangsa kita? Apakah benar orang yang mau jujur hidupnya akan hancur? Pertanyaan yang cukup pelik.

Seharusnya kebenaran dan kejujuran yang merupakan pondasi dari kehidupan itu sedndiri, tidak boleh diselewengkan pemahaman dan penerapannya. Mestinya manusia bertahan dengan kebenaran dan kejujuran. Itulah sesungguhnya yang membedakan manusia --sebagai makhluk termulia-- dengan makhluk-Nya yang lain.

Jika oleh kepentingan sesaat ada kecendrungan memalsukan kebenaran dan kejujuran, seharusnya itu menjadi tantangan dan ujian buat yang masih berhati bersih. Yang berhati jujur dan tafakkur tak harus kendur. Bertahan untuk terus meluruskan kekeliruan ini. Dari mana? Ya tentu dari diri sendiri dan dimulai sejak saat juga.
Di sekolah, perang melawan ketidakjujuran sesungguhnya lebih baik dan akan berefek besar dan luas. Tidak saja kepada peserta didik, bahkan untuk pendidik dan tenaga kependidikan pun perjuangan melawan ketidak jujuran ini diperlukan. Bukankah di sekolah juga banyak kecurangan terutama dalam ujian dan pemberian nilai?

Jika langkah-langkah itu tidak diambil maka penyesalan akan semakin besar menanti kita. Benarlah dugaan orang bahwa kejujuran memang akan membawa kehancuran bukan kemujuran (keberuntungan) sebagaimana guru-guru menerangkan. Mau? Wallohu a'lam.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman