Minggu, 26 Februari 2012

BAHTERA CINTA BERLAYAR SUDAH

Kisah Nyata Kepergian Isteri Tercinta
Kisah Pertama: Sore Sabtu Kelabu

TIDAK pernah ada tanda-tanda yang dapat saya tafsirkan bahwa pada hari Sabtu (16/04/11) itu, sekitar pukul 19.15 WIB akan saya hadapi ujian maha berat seumur hidup saya, 54 tahun: berpulangnya ke rahmatullah isteri tercinta yang teramat disayang, isteri teladan, Hj. Rajimawati binti H. Abdul Mutalib. Sampai pukul 15.15 sore Sabtu itu, yang saya tahu, dia tidak ada keluhan sakit yang mengkhawatirkan sedikitpun. Tidak ada keluhan sakit apapun yang dia sampaikan kepada saya. Selama ini juga tidak ada riwayat sakit yang membuatnya harus dirawat khusus kecuali ketika melahirkan anak-anak saya. Ah, sungguh berat cobaan ini. Tidak pernah saya bayangkan.
Ssesungguhnya saya tidak tega menuliskan kisah tragis, petang menjelang malam itu. Hati dan seluruh tubuh saya terasa pedih dan perih setiap kali mengingat dan memikirkannya. Sudah enam hari –ketika  coretan awal tulisan ini dimulai-- saya berusaha membungkus duka ini dengan sekuat hati dan jiwa. Saya masih serasa bermimpi. Saya benar-benar sedih menerimanya. Rasanya hancur segala pertahanan jiwa dan semangat yang terbangun selama ini.
Tapi akhirnya saya tulis juga di sini. Dengan linangan air mata dan isak-sedu tangis yang tertahan, saya berusaha merangkai kata. Ada banyak kisah teladan yang semoga ada gunanya untuk siapa saja. Itulah dorongan utama, menuntun pikiran dan tangan saya menuliskannya. Dia adalah figur teladan anak-anak saya; termasuk buat saya. Semoga juga bisa buat siapa saja. Dia adalah sahabat, saudara, dan tetangga bagi siapa saja: jauh ataupun dekat.
Dalam 25 (dua puluh lima) tahun pernikahan kami, begitu banyak nilai yang dapat saya petik dari wanita sederhana ini. Tapi satu hal yang perlu saya katakan, dia adalah wanita tegar yang teramat patuh buat saya. Ketaatannya tidak berbelah bagi. Sementara ketegarannya sangat saya kagumi. Ketegaran itu tidak hanya pada mentalnya yang kuat dan tenang hidup bersama saya yang hanya seorang guru dengan penghasilan bermula dari Rp 28.000 (dua puluh delapan ribu rupiah) pada tahun 1985, awal saya menjadi pegawai negeri. Tapi ketegarannya juga tampak pada pisiknya yang senantiasa sehat dan kuat. Tidak pernah ada keluhan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mengurus rumah tangga. Dan dalam usia begitu muda, berpisah jauh dari kedua orang tua. Orang tua tinggal di Pekanbaru sementara dia bersama saya yang bertugas di rantau, di sebuah pulau nun jauh dari kota Provinsi Riau, Tanjungbatu Kundur.
Sesungguhnya dia bekerja penuh waktu demi saya dan anak-anak kami. Kami tidak mempunyai pembantu rumah tangga mendampinginya mengurus kerja-kerja rumah tangga. Pada awal membangun bahtera  rumah tangga jelas kami tidak sanggup membayar pembantu. Itu adalah masa-masa sulit dan menyedihkan dalam ekonomi seorang guru. Waktu itu, guru hanyalah profesi ‘pelarian’ bagi setiap orang di negeri ini. Dengan gaji dan penghasilan sangat rendah dibandingkan profesi lain, menjadi guru memang bukan pilihan saat itu. Ah, hidup rumah tangga kami memang teramat sulit waktu itu. Segalanya harus dikerjakan sendiri oleh seorang isteri seperti dia. Sungguh tidak sebanding, usianya yang teramat muda dengan tanggung jawab keluarga yang begitu berat. Kesulitan ekonomi membuat segalanya harus dikerjakan sendiri.
Dan pada saat kehidupan sudah sedikit mapan pun, dia tetap memutuskan untuk tidak didampingi pembantu dalam tugas-tugas rumah tangga. Dia adalah ibu rumah tangga yang utuh. Kebiasaan dalam waktu lama mengurus suami dan anak-anak secara mandiri telah menempa pisik dan mentalnya untuk tidak suka bergantung kepada orang lain. Dia mampu mengatur semua pekerjaan yang sesungguhnya sangat berat buat seorang wanita. Sepenuhnya dia ibu rumah tangga yang utuh.
Bahkan untuk mencuci pakaian pun dia tidak tergantung kepada mesin cuci. Dia lebih yakin kebersihan cuciannya akan lebih baik dikerjakan dengan tangan sendiri dari pada menggunakan mesin cuci. Itulah perinsipnya yang terkadang mengherankan. Sampai akhir hayatnya, dia bertahan dengan perinsip itu. Padahal dia pasti mampu membeli mesin cuci tersebut.  Dia adalah isteri sederhana. Kami memang sangat sederhana dan tertempa hidup dalam kesederhanaan. Apalagi jika diingat hidup susah di awal berumah tangga.
Di awal kami bersama –tahun 1986-1990 di Tanjungbatu Kundur-- itu bahkan dia 'nyambi' membuat kue --bakwan-- dan membuat es bungkus untuk penambah penghasilan saya yang teramat kecil. Biar begitu badannya tetap sehat. Kami tetap bisa ikut berbagai kegiatan olahraga terutama senam dan berjalan minggu pagi. Itulah yang saya tahu tentang sangat sehatnya pisik dia.
Pernah suatu kali dia harus dirawat di rumah sakit, diinfus dan diinapkan di Puskesmas Tanjungbatu. Itulah satu-satunya dia menderita sakit yang harus dirawat di rumah sakit. Saat itu baru saja kami dikaruniai anak kedua. Dalam usia kurang lebih satu tahun anak kedua kami, dia terkena penyakit mag. Menurut dokter, magnya agak berat dan harus dirawat di rumah sakit. Hanya itu yang saya tahu dia menderita sakit. Kejadian tahun 1989 itu tidak pernah lagi dialaminya sampai puluhan tahun berikutnya.
Sampai datangnya musibah sore Sabtu itu, dia tetap sehat-sehat saja. Saya tidak pernah menduga, keluhan sakit ulu hatinya yang membuatnya juga muntah menjelang waktu Asar hari Sabtu itu adalah sakit yang memisahkan saya dengannya malam menjelang Isya’. Keluhan sore itu pun sudah diperiksa dan diatasi oleh seorang dokter yang sudah menjadi langganan kami. Justeru hasil diagnosa dokter itu jualah yang membuat saya sama sekali tidak menduga kejadian malam, akhir dari kebersamaan saya dan dia.
Dalam 16 tahun terakhir sejak dia melahirkan anak saya yang bungsu, ketika kami sudah di Moro karena saya dimutasi ke SMA Negeri 1 Moro rasanya dan seingat saya tidak pernah dia sakit yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit. Jika terserang filek atau flu, itu tidaklah terlalu lama memulihkannya. Tidak selalu harus ke dokter untuk menyembuhkannya. Hanya pada saat melahirkan anak terakhir itulah dia mengalami trauma sakit yang amat berat. Saya tahu kalau melahirkan anak kami yang ketiga itu memang begitu berat perjuangan yang dialuinya. Sampai dia mengatakan kalau dia sudah serasa tidak hidup lagi setelah merlahirkan itu.
Itulah terakhir dia mengalami penderitaan berat. Sakit melahirkan yang dialaminya sebanyak tiga kali, peristiwa kelahiran 1994 itu adalah yang teramat berat dia rasakan. Selepas peristiwa itu sampai datangnya kejadian sore Sabtu kelabu itu, dia sehat-sehat saja. Saya serasa tertipu oleh kejadian sore yang ternyata membawa ajalnya.
Sore menjelang Asar Sabtu itu, saya kebetulan sedang tidak di rumah karena kebetulan pergi mencuci mobil mengingat kami sudah berjanji akan keluar Sabtu Malam (malam Minggu) itu, tiba-tiba saja anak saya Kiky menelpon saya. Saya masih di simpang Lampu Merah Sungai Lakam saat dia menelpon itu. Katanya, “Mama tiba-tiba saja seperti kesulitan bernafas, Pa. Cepatlah pulang!”. Saat itu kurang lebih pukul tiga sore. Menurut anak saya yang sulung, yang menyaksikan langsung, mamanya tiba-tiba saja kesulitan bernafas tanpa sebab yang dipahami anak saya. Sebelumnya --hari itu-- dia hanya mengeluh penat karena katanya dia habis mencuci pakaian pagi harinya.
Bagi saya, penat seperti itu sudah selalu dia rasakan dan selalu pula dia ceritakan kepada saya. Jika dia minta urut kepada anak-anaknya atau kepada saya, toh itu akan pulih kembali. Tidak hanya karena mencuci pakaian tapi bila dia berlebihan mengurus rumah (menyapu halaman atau menyiangi rumput di halaman) dia suka mengatakan penat dan minta pijit kepada saya. Dan itu adalah hal biasa yang justeru kami rasakan sebagai bagian kebahagiaan kami selama ini. Kami saling mengurut/ memijit badan atau memijit kaki jika masing-masing merasa penat. Bahkan dalam manjanya, dia selalu minta digosok-gosok punggungnya hingga dia tertidur di samping saya. Hampir saban malam, sambil bergurau dia minta digosokkan punggungnya. Kalau sudah tertidur, terkadang saya duduk lagi untuk bekerja: menulis, main internet atau tugas-tugas lain yang dapat saya kerjakan menjelang mata saya mengantuk.
Tapi sore itu dia benar-benar seperti menderita tiba-tiba. Setelah terus-menerus dipijit anak saya punggungnya dan diberi minuman bergula yang hangat, akhirnya dia muntah. Ketika saya sampai di rumah dan menyaksikan langsung, saya melihat dia sangat lemah. Saya bingung karena tadi saya tinggalkan tidak ada tanda-tanda dia menderita sakit. Kini dia tampak lemah. Badannya berkeringat dingin.
Saya berusaha tenang. Saya duduk bersimpuh berhadapan dengannya. Saya memandang wajahnya. Dia memang seperti menderita sekali. Saya lap keringatnya dengan kain setengah basah sambil membersihkan mukanya yang juga berkeringat. Saya merasa dia sedikit agak tenang saat itu. Kata anak saya, mamanya baru saja bisa bernafas dengan tenang setelah muntahnya itu keluar begitu banyak.
Tadinya sungguh mengkhawatirkan, kata anak saya. Bahkan menurut anak saya dia seperti menyaksikan orang berjuang dalam sakratulmaut. Anak saya memang menangis pada saat dia menelpon saya, sebelum saya sampai di rumah dua puluh menit kemudian. Saya memberinya air hangat suam-suam. Dia minum hanya sedikit. Dalam pikiran saya, dia harus segera saya bawa berobat.
Dalam kegalauan yang saya coba untuk tetap tenang, saya tanya apakah dia sudah sholat a\Asar. “Mama sudah sholat?” Dia jawab, “Belum.” Suaranya tidak terlalu kuat sambil menggelengkan kepala.
Sehabis sedikit tenang itu, saya tanya, apakah dia bisa sholat Asar karena saya lihat jam dinding di ruang tangah itu sudah pukul 15.45. Dia jawab, bisa dengan menganggukan kepala. Bahkan dia langsung berdiri. Lalu saya ajak dia ke kamar dengan memapahnya. Jalannya memang terasa lemah namun masih lancar melangkah sendiri. Dia bisa berjalan sendiri. Di kamar dia sholat setelah berwudhuk. Sungguh saya merasa sedikit tenang melihat dia bisa sholat walaupun saya suruh dia sholat dengan cara duduk. Islam memang membolehkan orang sakit melaksanakan sholat dengan duduk jika tidak mampu berdiri. Ada sedikit rasa lega di hati saya ketika saya menyaksikannya sholat sebagaimana biasa.
Waktu itu dia saya suruh sholat duluan. Saya sengaja tidak sholat bersama karena khawatir terjadi apa-apa. Apalagi sebelumnya dia masih mau sholat berdiri. Saya takut jika dia sholat berdiri, dia bisa terjatuh. Itu bisa menimbulkan masalah lain. Sehabis dia sholat baru saya melaksanakan pula sholat sendiri. Sholat saya mungkin tidak begitu khusyu’ karena ingin cepat membawanya berobat.
Selama saya sholat, dia menunggu sambil merebahkan badannya di atas kasur. Dan sehabis sholat dia minta ambilkan pakaian dari dalam lemari. Dia minta ganti bajunya dengan daster kuning.
Selanjutnya dia saya ajak ke rumah sakit. Maksud saya akan membawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karimun. Hanya karena sore, dia minta ke dokter praktek saja. Lalu saya bawa ke tempat praktek Dokter Awang Lim, seorang dokter senior yang cukup terkenal di Karimun. Dokter 'keturunan' ini juga sudah menjadi langganan kami berobat kalau mengalami persoalan kesehatan yang agak berat selama ini. Sekali-sekali juga ke dokter lain seperti ke Dokter Zufri Taufiq.
Saya laporkan ke Dokter Awang Lim kronologis penderitaan isteri saya seperti diceritakan anak saya. Saya khawatir dia sakit jantung karena dia selalu menekan bagian dadanya, kata anak saya. Saya juga katakan kalau dia habis muntah yang cukup banyak sebelum datang ke rumah sakit ini. Saya minta dokter memeriksanya dengan baik dan teliti. Saya tidak ingin terjadi apa-apa pada isteri saya.Tapi hasil diagnosa dokter itu tidak menyebutkan penyakit yang mengkhawatirkan isteri saya. Katanya isteri saya tidak ada riwayat penyakit jantung. "Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung, Pak Guru" jelasnya. Tapi saya melihat dia hanya membuat kesimpulan berdasarkan data-data lama ibu yang memang selalu berobat ke klinik Sayang Ibu, miliknya itu.
Dokter Awang Lim juga menjelaskan kalau tensi darah ibu juga bagus. “Tensi Ibu juga bagus. Tak ada apa-apa, Pak Guru,” saya ingat kata-kata dokter itu. Dia hanya menyebut kalau isteri saya hanya sedikit  mengalami masalah lambung. Akhirnya dia hanya memberi obat yang katanya harus dimakan sebelum makan nasi. Kami pun kembali ke rumah karena sudah merasa lega berdasarkan penjelasan dokter ini. Ah, saya merasa tertipu oleh kata-kata dokter yang dengan percaya diri menjelaskan penyakit isteri saya yang tidak berbahaya.
Sampai di rumah isteri saya berbaring di kasur. Dia minta dipijit-pijit badannya yang katanya sangat penat. "Seluruh persendian saya pegal-pegal. Tolong dipijit," pintanya kepada saya. Saya dan anak saya masih tampak shok dan berusaha menahan tangis, terus memijit-mijit bagian yang sakit isteri saya.
Ketika dia minta dicarikan tukang pijit khusus, anak saya pergi mencarinya. Setelah dipijit oleh Ibu itu dia tampak semakin lega. Katanya badannya sudah lebih mendingan. Bahkan isteri saya mengeluarkan angin (kentut) yang membuat kami bertiga tersenyum geli dan masih sempat kami bergurau dengan gas berbau itu. Ah, ternyata gurauan ini juga telah menipu saya. Itu juga gurauan terakhir saya dengannya. Saya merasa isteri saya tidak apa-apa lagi waktu itu. Saya merasa tidak ada yang harus khawatirkan.
Ketika dia mendengar kumandang azan Magrib, dia mengingatkan saya. "Bang, itu sudah azan," katanya. Saya pun paham kalau dia memang sangat taat melaksanakan ibadah sholat di awal waktu. Setiap kali masuk waktu sholat dia pasti akan berhenti beraktifitas apa saja. Dia akan bergegas pergi sholat. Termasuk sore Sabtu itu.
Saya tanya, apakah boleh sholat ke masjid seperti biasanya saya memang sholat berjamaah ke masjid, dia membolehkan. Dia mengatakan akan sholat di rumah. Saya pun tetap merasa tidak ada kekhawatiran terhadap penyakit yang tengah dialaminya. Di masjid saya juga tidak punya firasat apa-apa. Saya sholat sebagaimana biasa, berdoa ikut imam sebagaimana biasa bahkan saya masih sempat sholat sunat ba’da Magrib sebagaimana biasa. Saya memang sama sekali tidak punya firasat apapun tentang isteri saya.
Sampai di rumah sehabis sholat Magrib di masjid, saya lihat dia sedang terbaring di kasur, kamar kami selama ini. Saya tanya apakah sudah sholat, dia menjawab sudah. Anak saya membantunya ke kamar mandi --di kamar tidur-- untuk berwudhuk. Saat dia baring itu, dia kembali minta urut badannya yang masih penat. Katanya bagian punggungnya terasa sakit dan penat. Dia tidur memiringkan badannya, minta dipijitkan bagian punggungnya. Sayapun berbaring sambil memiringkan badan saya ke arahnya. Saya hanya berhadapan dengan punggungnya sementara dia menghadap kea rah lemari palstik, di sebelah kiri kasur kami.
Ada beberapa menit saya memijit-mijit bagian punggungnya. Saya tidak mendengar dia mengeluh waktu itu. Dia tidak juga mengatakan apa-apa saat itu. Ternyata ini juga dugaan dan penilaian saya yang salah. Karena beberapa mednit berikutnya, ketika dia tiba-tiba membalikkan badan ke arah saya (menelentang) saya melihat mukanya yang pucat. Dia seperti kesulitan dan tidak dapat bernafas. Suaranya tidak keluar tapi dia kelihatan mengerang. Saya melihat matanya terpejam.
Anak saya yang sedari tadi memijit bagian kaki, terperanjat dan secara reflek menagis sambil memekik memanggil mamanya. Mama, mamaa, mamaa, berulang-ulangf dia memanggil begitu. Dia mungkin langsung ingat pengalamannya sendiri tiga jam sebelumnya. Anak saya yang bungsu, yang saat itu asyik main laptop di kamar itu, terkejut dan langsung ikut membantu. Saya dan anak-anak saya yang ada dalam kamar bersama, sungguh dalam keadaan panik. Kami bertiga berusaha membantu dengan mendudukkannya. Mengurut punggung dan bahunya. Tapi dia seperti tidak bereaksi.
Saya masih sempat menyuruh Opy, anak saya yangn bungsu itu menlepon abangnya,
Ery yang berada di Tanjungpinang. Dalam kepanikan seperti itu juga saya minta dia menghyubungi Pak Imam Ridwan yang rumahnya tidaki seberapa jauh.
Tapi tidak lama dia sudah kembali.
Akhirnya kami bertiga mengangkatnya. Sungguh terasa berat. Badan sesehat itu jelas cukup berat buat kami bertiga yang dalam keadaan panik itu. Setelah berhasil membawa ke dalam mobil, saya memacu mobil dengan kencang sekali untuk menuju RSUD Karimun. Hanya dalam perkiraan sepuluh menit mobil kami sampai di parkir UGD RSUD.
Saya memekik memberi tahu beberapa petugas yang datang menyongsong mobil kami. Mereka membawa kereta dorong untuk menyambut isteri saya yang tidak juga siuman sejak dari rumah tadi. Saya minta secepatnya isteri saya ditangani. Tapi, ya Tuhan begitu terasa lambannya oleh saya mereka mengurus dan menolong isteri saya.
Penanganan yang terasa begitu lamban oleh para perawat di UGD itu membuat saya ingin memekik lagi rasanya. Tapi saya mencoba menahan tangis. Saya tetap berdoa, semoga isteri saya bisa selamat. Semoga dia siuman kembali. Saya merasa dia pasti akan siuman kembali. Hanya itu yang ada dalam pikiran dan harapan saya. Berulang-ulang saya berdoa dan mengucapkan asma Allah. Ya Allah, selamatkan dia. Ya Allah selamatkanlah dia. Berulang-ulang saya mengucapkannya sambail menyebut nama-Nya.
Namun apa mau dikata, menurut perawat yang menangani, isteri saya mungkin telah ‘pergi’ beberapa menit sebelum sampai ke rumah sakit itu. Tangis saya benar-benar pecah bersamaan tangis anak-anak saya yang saling berpelukan. Saya, anak-anak saya tersedu menahan pilu. Sore Sabtu kelabu yang benar-benar pilu dalam hidup saya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan