Sabtu, 02 Juli 2011

Israk-Mikraj, Sholat dan Kejujuiran

KEBETULAN awal Juli 2011 ini berbarengan dengan akhir bulan Rajab (Hijryah), peringatan Israk Mikraj yang fenomenal itu. Bagi umat Islam peristiwa Israk-Mikraj tidak lagi perosalan mempermasalahkan kebenaran –lahir– kejadiannya: benarkah ia terjadi secara lahir atau tidak. Hal itu diserahkan ke keyakinan masing-masing walaupun penafsiran ‘abdihi’ dalam surah Bani Israil itu diartikan jasmani dan rohani.

Satu kesepakatan bahwa dalam peristiwa Israk-Mikraj itulah perintah sholat yang merupakan dasar umat Islam menyatakan dirinya berada dalam keyakinan Islam itu sendiri, tidak lagi ada ketidaksepahaman di sini. Dari lima pilar keislaman seseorang, dan sholat pun dijadikan tiangnya kompak diyakini bahwa pilar utama itu memang diperoleh Nabi pada peristiwa Israk-Mikraj itu. Artinya sholat yang memang menjadi penopang apakah keislaman seseorang memang ada pada dirinya atau tidak itu, dijemput Nabi langsung ke Tuhan dalam peristiwa Israk-Mikraj.

Persoalan yang ingin saya kemukakan pada momen umat Islam memperingati Israk-Mikraj tahun ini adalah bagaimana sholat yang pemerolehannya begitu fenomenal, sudahkah dia menjadi pilar hidup kita berlaku sebagaimana pesan yang terkandung dalam sholat itu? Sederhananya, buat kita yang sudah menjadikana sholat sebagai bagian kewajiban hidup, dapatkah sholat mempengaruhi tindak-tanduk kita dalam hidup dan kehidupan ini?

Dalam kejadian pelanggaran hukum oleh seseorang (muslim) yang sehari-hari mengerjakan sholat, misalnya akan timbul pertanyaan pada diri masing-masing itu, apakah aplikasi sholat lima kali sehari itu tidak mampu meluruskan cara berpikir, cara bertindak dan cara berprilaku? Nyatanya begitu banyak diantara orang-orang yang sholat melakukan pelanggaran hukum dalam kehidupan sehari-harinya. Padahal dalam sholat nyata ikrar yang ditekadkan bahwa segala hidup, mati dan tindak-tanduk adalah atas norma dan ketentuan Tuhan. Wamahyaaya wamamaati lillahi mrobbil ‘aalamiin.

Nah kalau kita sudah bertekad mengikuti Tuhan dan Tuhan pun sudah nyata menyuruh (mewajibkan) berbuat lurus dalam tindak-tanduk mengapa juga ada yang di dalam kehidupan melakukan pelanggaran hukum yang nyata-nyata melawan norma Tuhan? Itulah barangkali ‘ulang-pikir’ yang mesti ditekankan kepada setiap diri masing-masing berbarengan dengan peringatan Israk-Mikraj tahun ini.

Jangan sampai tiap tahun peringatan hari bersejarah ini tidak sama sekali memberi makna kepada kita. Tidak pernah para ustaz lupa mengingatkan kalau inti peringatan Israk-Mikraj ini adalah penjemputan kewajiban sholat buat umat Islam. Dan sholat itu sendiri adalah kunci dari segala kunci keberagamaan seseorang yang akan menyelamatkan manusia jika mematuhi (melaksanakan) dan membuktikan (aplikasi kebenaran) dalam kehidupan. Artinya, sholatlah kelak yang akan menjadi ukuran amal ibadah lain di hadapan Tuhan.

Untuk itu rasanya tidak berlebihan kembali diingatkan kepada semua (termasuk kepada penulis) bahwa sholat yang dijemput jauh-jauh oleh Rasul itu jangan sampai tak berguna. Fungsi utama untuk memupuk dan membuktikan kebenaran dan kejujuran kita dalam hidup hendaknya mampu dibuktikan. Semoga.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman