Kamis, 21 April 2011

Sore Sabtu Kelabu (1)

TIDAK pernah ada tanda-tanda yang dapat saya tafsirkan bahwa pada hari Sabtu (16/04) lalu, sekitar pukul 19.15 akan saya hadapi ujian maha berat: berpulangnya ke rahmatullah isteri tercinta saya, Hj. Rajimawati. Sampai pukul 15.30 sore Sabtu itu dia tidak ada keluhan sakit. Selama ini juga tidak ada riwayat sakit yang membuatnya harus dirawat khusus kecuali ketika melahirkan anak-anak saya. Ah, sungguh berat. Tidak pernah saya bayangkan itu.

Maaf, saya sesungguhnya tidak tega menulis kisah tragis ini. Hati dan seluruh tubuh saya terasa pedih dan perih setiap kali memikirkannya. Sudah enam hari saya berusaha membungkus duka ini. Tapi akhirnya saya tulis juga di ruangan ini. Ada banyak kisah teladan yang semoga ada guna untuk pembaca. Itulah dorongan utama, menuntun saya menulisanya. Dia adalah figur teladan anak-anak saya; termasuk buat saya.

Dalam 25 (dua puluh lima) tahun pernikahan kami begitu banyak yang dapat saya petik dari wanita ini. Tapi satu hal yang perlu saya katakan, dia adalah wanita tegar yang teramat patuh buat saya. Ketegaran itu tidak hanya pada mentalnya yang kuat dan tenang hidup bersama saya yang hanya seorang guru dengan penghasilan bermula dari Rp 28.000 (dua puluh delapan ribu rupiah) pada tahun 1985, awal saya menjadi pegawai negeri. Tapi ketegarannya juga tampak pada pisiknya yang senantiasa sehat dan kuat.

Sesungguhnya dia bekerja penuh demi saya dan anak-anak kami. Kami memang tidak mempunyai pembantu rumah tangga mendampinginya. Pada awal membangun bahtera rumah tangga jelas kami tidak sanggup membayar pembantu. Tapi pada saat kehidupan sudah sedikit mapan, dia tetap memutuskan untuk tidak didampingi pembantu dalam tugas-tugas rumah tangga. Dia adalah ibu rumah tangga yang utuh.

Di awal kami bersama itu bahkan dia 'nyambi' membuat kue --bakwan-- dan membuat es bungkus untuk penambah penghasilan saya yang teramat kecil. Biar begitu badannya tetap sehat. Kami tetap bisa ikut berbagai kegiatan olahraga terutama senam dan berjalan minggu pagi. Itulah yang saya tahu tentang sangat sehatnya pisik dia. Sampai datangnya musibah sore Sabtu itu, dia tetap sehat-sehat saja.

Dalam 16 tahun terakhir sejak dia melahirkan anak saya yang bungsu (saat ini sudah di SMA) rasanya tidak pernah dia sakit yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit. Jika terserang filek atau flu, itu tidak terlalu lama memulihkannya. Tidak selalu harus ke dokter untuk menyembuhkannya.

Sampai datangnya musibah sore Sabtu, lima hari lalu itu. Dia tiba-tiba saja kesulitan bernafas. Menurut anak saya yang sulung, yang menyaksikan langsung mamanya tiba-tiba kesulitan bernafas tanpa sebab yang dipahami anak saya. Sebelumnya --hari itu-- dia hanya mengeluh penat karena katanya dia habis mencuci pakaian. Bagi saya, letih seperti itu usdah selalu dia rasakan dan selalu pula dia ceritakan kepada saya. Jika dia minta urut kepada anak-anaknya atau kepada saya, toh itu akan pulih kembali.

Tapi sore itu dia benar-benar seperti menderita tiba-tiba. Setelah terus-menerus dipijit anak saya punggungnya dan diberi minuman bergula yang hangat, akhirnya dia muntah. Ketika saya tiba di rumah dan menyaksikan langsung setelah sebelumnya saya ditelpon karena saya kebetulan di luar rumah, saya melihat dia sangat lemah. Badannya berkeringat dingin.

Saya lap keringatnya dengan kain setengah basah sambil membersihkan mukanya yang juga berkeringat. Saya merasa dia sedikit agak tenang saat itu. Kata anak saya, mamanya baru saja bisa bernafas dengan tenang setelah muntahnya itu keluar begitu banyak. Tadinya sungguh mengkhawatirkan. Bahkan menurut anak saya dia seperti menyaksikan orang berjuang dalam sakratulmaut. Anak saya memang menangis pada saat dia menelpon saya, sebelum saya sampai di rumah dua puluh menit kemudian.

Sehabis sedikit tenang itu, saya tanya, apakah dia bisa sholat asar. Dia jawab bisa. Lalu saya ajak ke kamar dengan memapahnya. Di kamar dia sholat setelah berwudhuk. Sungguh saya merasa sedikit tenang melihat dia bisa sholat walaupun saya suruh dia sholat dengan cara duduk. Islam memang membolehkan orang sakit melaksanakan sholat dengan duduk jika tidak mampu berdiri.

Selanjutnya dia saya ajak ke rumah sakit. Hanya karena sore, dia minta ke dokter praktek saja. Lalu saya bawa ke tempat praktek Dokter Awang Lim, seorang dokter senior yang cukup terkenal di Karimun. Dokter 'keturunan' ini juga sudah menjadi langganan kami berobat kalau mengalami persoalan kesehatan yang agak berat. Sekali-sekali juga ke dokter lain.

Saya laporkan ke Dokter Awang Lim kronologis penderitaan isteri saya seperti diceritakan anak saya. Saya khawatir dia sakit jantung karena dia selalu menekan bagian dadanya. Saya juga katakan kalau dia habis muntah yang cukup banyak.
Tapi hasil diagnosa dokter itu tikdak menyebutkan penyakit yang mengkhawatirkan isteri saya. Katanya tidak ada riwayat penyakit jantung. "Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung," jelasnya. Tapi saya melihat dia hanya membuat kesimpulan berdasarkan data-data lama ibu yang memang selalu berobat ke klini Sayang Ibu, milik dokter itu.

Dokter Awang Lim juga menjelaskan kalau tensi darah ibu juga bagus. Dia hanya menyebut kalau ibu mengalami masalah lambung. Akhirnya dia hanya memberi obat yang katanya harus dimakan sebelum makan nasi. Kamipun kembali ke rumah karena sudah merasa lega berdasarkan pebnjelasan dokter ini. Ah, saya merasa tertipu oleh kata-kata dokter yang dengan percaya diri menjelaskan penyakit isteri saya yang tidak berbahaya.

Sampai di rumah isteri saya berbaring di kasur. Dia minta dipijit-pijit badannyan yang katanya sangat penat. "Seluruh persendian saya pegal-pegal. Tolong dipijit," pintanya kepada saya. Saya dan anak saya masih tampak shok dan berusaha menahan tangis, terus memijit-mijit bagian yang sakit isteri saya.

Ketika dia minta dicarikan tukan pijit khusus, anak saya pergi mencarinya. Setelah dipijit oleh Ibu itu dia tampak semakin lega. Katanya badannya sudah lebih mendingan. Bahkan isteri saya mengeluarkan angin (kentut) yang membuat kami bertiga tersenyum geli dan masih sempat kami bergurau dengan gas berbauk itu. Ah, ternyata ini juga telah menipu saya.

Ketika dia mendengar kumandang azan magrib, dia mengingatkan saya. "Bang, itu sudah azan," katanya. Saya pun paham kalau dia memang sangat taat melaksanakan ibadah sholat. Setiap kali masuk waktu sholat dia pasti akian berhenti beraktifitas apa saja. Dia akan bergegas pergi sholat. Termasuk sore Sabtu itu.

Saya tanya, apakah boleh sholat ke masjid seperti biasanya saya memang sholat berjamaah ke masjid, dia membolehkan. Dia mengatakan sholat di rumah. Saya pun tetap merasa tidak ada kekhawatiran terhadap penyakit yang tengah dialaminya. Di masjid saya juga tidak punya firasat apa-apa.

Sampai di rumah sehabis sholat magrib di masjid, saya lihat dia sedang terbaring di kasur, kamar kami selama ini. Saya tanya apakah sudah sholat, dia menjawab sudah. Anak saya membantunya ke kamar mandi --di kamar tidur-- untuk berwudhuk. Saat dia baring itu, dia kembali minta urut badannya yang masih penat. Dia tidur memiringkan badannya, minta dipijitkan bagian punggungnya. Sayapun berbaring sambil memiringkan badan saya ke arahnya. Saya hyanya berhadapan dengan punggungnya. Wajahnya mengarah ke dinding.

Ada beberapa menit saya memijit-mijit bagian punggungnya. Saya tidak mendengar dia mengeluh waktu itu. Dia tidak juga mengatakan apa-apa saat itu. Ternyata ini juga dugaan dan penilaian saya yang salah. Karena beberpa saat berikutnya, ketika dia tiba-tiba membalikkan badan ke arah saya (menelentang) saya melihat mukanya yang pucat. Dia seperti tidak dapat bernafas. Suaranya tidak keluar tapi dia kelihatan mengerang.

Anak saya yang sedari tadi memijit bagian kaki, terperanjat dan secara reflek menagis sambil memekik memanggil mamanya. Dia langsung ingat pengalamannya sendiri tiga jam sebelumnya. Anak saya yang bungsu, yang saat itu asyik main laptop di kamar itu, ikut membantu saya dan anak saya yang sungguh dalam keadaan panik. Kami bertiga berusaha membantu dengan mendudukkannya. Mengurut punggung dan bahunya. Tapi dia seperti tidak bereaksi.

Akhirnya kami bertiga mengangkatnya. Sungguh terasa berat. Badan sesehat itu ternyata cukup berat buat kami bertiga yang dalam keadaan panik itu. Setelah berhasil membawa ke dalam mobil, saya memacu mobil dengan kencang sekali untuk menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karimun. Hanya dalam sepuluh menit mobil kami sampai di parkir UGD RSUD.

Penanganan yang terasa begitu lambat oleh para perawat di UGD itu membuat saya ingin memekik. Tapi saya mencoba menahan tangis. Saya tetap berdoa, semoga isteri saya bisa selamat. Namun apa mau dikata, kata perawat yang menangani, isteri saya telah pergi beberapa menit sebelum sampai ke rumah sakit daerah itu. Tangis saya benar-benar pecah bersamaan tangis anak-anak saya yang saling berpelukan. Sore Sabtu yang benar-benar kelabu dalam hidup saya. (akan saya sambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan