Jumat, 04 Februari 2011

Kalau Tak Jujur, Akan Hancur

BANYAKNYA para koruptor yang ketahuan dan tertangkap dalam satu dekade belakangan, tidak berarti di waktu-waktu lalu tidak ada korupsi di negeri ini. Meski masih ada yang sinis menyebut dewasa ini memang begitu banyaknya perbuatan penyalahgunaan kekuasaan yang mengarah ke korupsi, kolusi dan nepotisme, dan seolah-olah sebelumnya tidak ada, itu adalah pandangan yang sangat keliru.

Ternyata, setelah diamat-amati dan ditelusuri --paling tidak seperti yang terbaca di media-- justeru kebanyakan kasus-kasus korupsi dewasa ini, itu sebagai penguat dugaan bahwa kelakuan dan tindakan tak terpuji itu memang sudah marak sejak dulu, jauh sebelum para koruptor itu tertangkap. Tanyalah ke orang-orang tua kita yang masih hidup dan sudah merasakan hidup lama, pasti setuju itu.

Perbuatan terkutuk ini semua memang tidak terlepas dari orang-orang yang sebelumnya. Hanya saja, dulu --khususnya di era kokohnya Orde Baru-- memang tidak atau belum diketahui oleh publik. Kita rakyat ini tidak sungguh punya akses sedikitpun untuk tahu kebobrokan yang terus-menerus disimpan rezim saat itu. Rasan-rasanya seperti tidak ada yang berbuat dosa.

Bahwa kejahatan atau kesalahan itu tidak tampak atau belum terungkap, bukanlah karena tidak ada. Bukan juga karena sama sekali tidak ada yang tahu. Pasti ada yang tahu dan mungkin melihatnya. Hanya saja respon masyarakat belumlah akan sama dengan cara masyarakat saat ini meresponnya.

Jelas, itu memang alamnya berbeda. Pemerintahnya sangat berbeda. Walau Pemilu (Pemilihan Umum) berjalan seolah-olah lancar-lancar dan sukses-sukses saja tapi partainya saat itu hanya lambang kekuasaan saja. Tiga partai yang bertanding di setiap Pemilu sesungguhnya hanya satu partai yang dipaksa untuk diikuti. Artinya demokrasi milik rakay itu tidak ada. Yang ada hanya demokrasi milik penguasa. Dan yang berkuasa pun kita tahu. Dari presiden sampai gubernur, bupati bahkan nyaris sampai ke RT- RW adalah angkatan atau siapa saja yang loyal ke central kekuasaan. Tentu tidak mungkin rakyat dapat tahu apa kebobrokan mereka. Sekali lagi, kita merasa tiada dosa para pejabat kita.

Kalau sekarang, konsekuensi keterbukaan, orang cenderung lebih mudah mengetahui dan mencari tahu para pencoleng seperti koruptor itu. Koruptor atau siapa saja yang dulu terbiasa melanggar hukum dan sekarang masih juga malakukannya --karena mungkin sudah ketagihan-- jelas itu akan mudah diketahui publik. Sangat jauh berbeda dengan situasi masa lalu.

Era reformasi memang telah menelanjangkan negeri ini. Tidak mudah lagi bersembunyi kalau kelakuan tidak terpuji. Tidak enteng lagi untuk berpura-pura mulia padahal kelakuannya celaka. Itulah yang kita saksikan saat ini: banyaknya penjahat bangsa yang ternyata sudah lama mengkhianati bangsa sendiri. Artinya bukan penjahat yang tiba-tiba ada di zaman reformasi. Dan buat pelakunya sendiri, perbuatan itu pun bukan perbuatan yang tiba-tiba. Prosesnya juga berlangsung dalam setiap diri seseorang.

Jika para koruptor dan atau para mafia hukum yang dewasa ini begitu ramai terungkap, itu sesungguhnya adalah buah karya yang mereka tanam sudah sejak lama. Bukan saja praktik-praktik busuk yang kasat mata dapat terlihat dalam tindakan dan perbuatan sejak lama itu datangnya tiba-tiba, akan tetapi kelakuan busuk itu sesungguhnya sudah terpraktikkan dalam pikiran dan perkataan. Artinya, dalam tahap awal, perbuatan dan tindakan melawan hukum itu bermula dari pikiran dan perkataan yang juga melawan hukum alias bicara tidak benar.

Dari pikiran dan perkataan yang pura-pura benar tapi sesungguhnya tidak benar itulah bermulanya perbuatan dan tindakan yang tidak benar semacam korupsi itu. Apapun perbuatan atau tindakan melawan hukum yang dilakukan biasanya memang bermula dari pikiran dan kebiasaan perkataan yang tidak benar. Jadi, mulut pendusta akan mengiring si pendustanya untuk berbuat dan bertindak dusta (baca: melawan hukum) juga.

Kalau demikian, maka ketidakjujuran dalam ucapan merupakan kunci dan penyebab utama dari perbuatan dan tindakan tak jujur lainnya. Kata orang bijak, "Sekali orang berdusta maka untuk selanjutnya orang itu akan berdusta dan terus-menerus akan berdusta." Jika dusta perkataan sudah menjadi kebiasaan (karakter) maka dusta perbuatan akan melengkapi kehidupannya. Di situlah perbuatan melawan hukum dalam bentuk apapun serasa tidak laqi merasa melakukan pelanggaran hukum itu sendiri. Alah bisa memang karena biasa.

Jadi, perbuatan korupsi, kolusi dan sejenisnya yang secara terus-menerus dilakukan, oleh si pelakunya tidak lagi serasa melakukan perbuatan salah. Apalagi perbuatan itu terus-menerus dapat juga ditutup. Tidak hanya tertutup oleh strategi pribadi tapi juga dapat tertutup oleh sistem yang diciptakan oleh penguasa itu sendiri. Maka berlangsunglah perbuatan jahat itu dalam waktu yang begitu lama. Dan dalam waktu lama pula bangsa dan negara akan sengsara bersama rakyat yang tentu juga akan sengsara: miskin, bodoh dan jadi pengangguran. Lalu sampai kapan ketidakjujuran terus-menerus dipelihara?

Kalau saja semua kehancuran yang kita saksikan dialami oleh orang-orang yang tadinya begitu super, begitu digdaya dan seperti tidak akan pernah hancur (Musolini, Hitler, Marcos, Suharto, dan entah siapa lagi nanti) dengan bertumpu pada ketidakjujuran, dapat kita petik hikmahnya maka tentulah segala kebohongan dan ketidak-adilan itu akan sama-sama kita mengikisnya. Sudah saatnya disatukan perkataan dengan perbuatan: semuanya bisa hancur jika tidak juga mau jujur. Wallohu a'lam.*** Salam sayang penuh hormat buat sesama guru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman