Sabtu, 23 Oktober 2010

Pendidikan (Tak) Bernilai


KESALAHKAPRAHAN pandangan tentang mutu pendidikan yang diukur dengan nilai-nilai angka perolehan peserta didik dalam suatu ulangan atau ujian telah menyebabkan kekeliruan yang sangat fatal tentang pendidikan itu sendiri. Berebut dan berlomba meningkatkan mutu pendidikan dengan berlomba menciptakan para peserta didik yang bernilai angka tinggi dalam setiap ujian tidak saja telah merusak sasaran pendidikan, akan tetapi juga telah mengekang guru dan peserta didik untuk sekadar memburu nilai tinggi dalam bentuk angka-angka.

Saban tahun ketika ujian akhir –seumpama Ujian Nsional atau Ujian Kenaikan Kelas– akan datang, saban tahun pula sekolah membuat program pembelajaran instan yang sekadar memperoleh nilai setara atau di atas nilai minimal yang telah ditentukan Pemerintah sebagai kriteria kelulusan. Kepala Sekolah, guru dan para siswa bahkan orang tua disibukkan oleh target nilai yang telah ditentukan.
Jika sekolah sebagai ujung tombak penyelenggaraan pendidikan hanya berpikir tentang cara-cara memperoleh nilai mata pelajaran tapi tidak lagi memikirkan apakah peserta didiknya benar-benar telah memiliki kompetensi komplit (akademis dan non akademis) sebagai bekal setelah tamat, di sinilah masalah besar akan menimpa pendidikan. Nilai saja tentu tidak cukup selain sekadar mencari nilai akan cenderung melakukan apa saja demi perolehan nilai. Artinya akan ada masalah.

Teoritis, tujuan dan fungsi pendidikan nasional adalah untuk membuat berkembangnya kemampuan dan terbentuknya watak kebangsaan yang berperadaban dan bermartabat bagi peserta didik. Lebih detail, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (visi Pendidikan Nasional). Sekali lagi, ini teoritis yang seharusnya aplikatif dalam kenyataan hidup setelah tamat.
Nah, akan mungkinkah perburuan nilai angka dalam ujian menjadikan peserta didik sebagaimana harapan itu?  Jawabnya tentu tidak. Tidaklah menjadi terlalu penting nilai angka setiap mata pelajaran dalam setiap ujian harus tinggi atau rendah bilamana sekolah (Kepala Sekolah dan guru) tidak berhasil mewujudkan sasaran pendidikan dalam praktek kehidupan di tengah masyrakat sebagaimana tuntutan teoritis itu. Hasil akhir (output) itulah sesungguhnya yang harus diutamakan.
Jika tesis ini dapat diaminkan maka tampaknya pendidikan dengan orientasi nilai seperti di atas menjadi tidak lebih penting dari pada pendidikan tak bernilai asalkan praktik hidup peserta didik tercermin dalam bentuk harapan-harapan tadi. Artinya, kalaupun nilai-nilai dengan angka-angka tidak diutamakan tapi penekananya pada praktek kehidupan sesuai kompetensi yang diraih di sekolah, bermakna pendidikan tak bernilai seperti ini jauh lebih baik. Bahwa nilai juga penting sebagai indikator keberhasilan dalam bentuk angka-angka, bagus-bagus saja asalah tidak sekadar pendidikan untuk nilai saja. Wallahu a’lam.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan

Halaman